BAB 8

1053 Kata
Saat ini, hatiku seperti terbelah menjadi dua. Satu sisi merasakan sakit, sebagian merasa bahagia. Laksana sebuah ruangan dimana separuhnya mendapat cahaya matahari, separuh gelap gulita. Rasanya sakit melihat yang suami lakukan bersama keluarganya di belakangku. Namun, ada bahagia kala mengingat bisnis yang kujalani berapa hari ini berkembang pesat. Ini adalah jalan hidup. Kita hanya tinggal menjalani dengan ikhlas. “Bu, pulang,” rengek si Sulung. Aku tersenyum seraya mengangguk. Kami bertiga bersiap keluar rumah saat Mbak Eka tiba-tiba datang lagi. Entah mengapa, ia suka menghilang, kemudian muncul lagi. “Agam, gak usah ikut. Sedang hujan, nanti kamu masuk angin. Kamu ini tubuhnya ringkih. Harus jaga diri,” ucapnya, tetap dengan nada sinis. Aku paham maksudmu, Mbak. Lalu, aku menyahut, “Tenang saja, Mbak. Mas Agam akan tetap di sini, sampai Aira merasa bosan.” “Gak usah bawa-bawa anak kecil kalau marah.” Eh, dia menasihatiku. “Siapa yang marah, Mbak? Bukankah Mbak Eka yang suka marah sama aku?” elakku sambil berlalu. “Ini, oleh-olehnya dibawa Dinta. Buat cemilan di rumah,” ucap ibu mertua sembari membawa sebungkus plastik hitam. “Tidak usah, Bu. Mereka sudah kenyang makan hati.” Wajah beliau terlihat merah.Entah malu atau marah. Mas Agam mengikutiku. Kedua netranya menatap kami dengan berkaca-kaca saat aku sudah siap menaiki motor. Dari samping rumah, muncul seseorang yang tidak aku kenal, langsung menghampiri Mbak Eka dan Rani yang tengah makan rujak bersama. Heran, cuaca hujan makan rujak. Sepertinya dia adalah warga sini yang sudah lama merantau. “Ini istrinya Iyan, ya? Wah, bener kata ibu bapakmu, Ka. Dia cantik sekali. Waktu ketemu di hajatan saudaraku dulu,mereka cerita, memuji menantu barunya. Ternyata benar, cantik sekali.” “Alhamdulillah, Wak. Iyan dapat istri idaman. Cantik, nurut lagi. Kami sangat menyayanginya. Ya, gitu jadi istri. Harus nurut sama suami, sama keluarga suami juga, biar gak ditinggal. Mau makan apa kalau gak ada suami? Iya, kan, Wak?” Mbak Eka, selalu berusaha menyakitiku dengan kata-katanya. Namun, tak kuhiraukan. Segera kupakaikan mantel pada Dinta dan Danis. Melihat wajah mereka berdua, naluri keibuanku sungguh tersayat-sayat. “Pakde, gendong.” Kulirik Aira yang merengek manja pada ayah anak-anakku. “Nanti jadi mandi bola ke mal, kan?” tanyanya kemudian, setelah berada di gendongan Mas Agam. “Nanti uang sertifikasi mas transfer, ya, Dek? Besok mas beliin oleh-oleh buat anak-anak,” ucap suamiku, tanpa menjawab pertanyaan Aira. “Uang sisa, maksudnya? Gak usah, Mas. Habiskan saja sekalian. Barangkali banyak tempat wisata yang kalian belum kunjungi. Biar aku tidak merasa bersalah pada keluargamu, karena selama ini makan seluruh penghasilan kamu.” Sengaja bicara dengan suara keras supaya Mbak Eka mendengar. Selesai berkata demikian, kutinggalkan rumah bercat kuning daging dengan perasaan yang campur aduk. Kuminta Dinta untuk mendekap erat tubuhku. Sedangkan Danis duduk di depan menggunakan kursi. Dan kini, air mata yang susah payah kutahan, menganak bagai gerimis yang mulai turun kembali. Aku akan mengingat setiap kata pedas yang keluar dari mulut Mbak Eka. Juga perilaku pilih kasihmu terhadap Aira, Mas. Bila kau hanya menyakitiku, kuterima karena istri hanyalah orang lain bagimu. Namun, terhadap darah dagingmu, aku tak akan pernah bisa melupakan sakit ini. *** Aku memilih pulang ke rumah ibu supaya Danis dan Dinta tidak larut dalam kesedihan. Di rumah ibu lebih ramai. Pasti mereka terhibur bila bermain dengan tante dan mbah kakungnya. Nyatanya, aku salah. Kedua anakku malah menangis sesenggukan di kursi ruang tamu. Fani bergegas memeluk dan menenangkan Dinta, sedangkan bapak menggendong Danis. Ibu langsung memberondong dengan banyak pertanyaan. Akhirnya di depan bapak, ibu serta Fani, kuceritakan semua yang terjadi di rumah itu. Di luar dugaan, bapak—yang biasanya bersikap bijaksana—kali ini terlihat menahan amarah. Kedua bola mata itu memerah. Rahangnya terlihat mengeras. “Nia, selama ini bapak berusaha untuk tidak ikut campur urusan kalian. Meski sebenarnya, bapak merasa janggal dengan sikap Agam yang seringkali tidak pulang. Naluri lelaki bapak menangkap ada sesuatu yang tidak beres. Bapak masih bisa menoleransi hal itu. Tapi, tidak untuk kali ini. Tidak semudah itu pula bapak menyuruh kamu berpisah sama Agam. Itu mendahului ketentuan Allah. Hanya saja, untuk sementara waktu, kita harus memberi pelajaran pada pria itu. Supaya ia sadar, bagaimana harusnya bersikap terhadap keluarga. Terlebih ia seorang pendidik, seharusnya memberi contoh yang baik.” Terdengar intonasi bapak bergetar. Aku tahu, beliau tengah berusaha meredam emosi. Mengatur napas yang mulai tersengal, bapak kembali melanjutkan bicaranya. Sementara kami semua terdiam. “Kembangkan bisnis kamu saat ini, Nia. Bapak dengar, ada cafe yang mengajak kerjasama. Juga bisnis produk kecantikan. Bapak akan mendukung sepenuhnya. Fokuslah! Biar bapak yang urus kedua anakmu. Perbaiki penampilan kamu. Bapak masih punya simpanan hasil jual sapi tahun lalu. Akan bapak belikan mobil. Kalian berdua boleh berlatih mengendarai.” Bapak menatapku dan Fani secara bergantian, lalu kembali fokus padaku. “Buatlah suami dan keluarga mertuamu bertekuk lutut padamu. Selebihnya, urusan jodoh, biar Allah yang menentukan.” Selepas berkata demikian, Bapak berlalu pergi mengajak serta kedua anakku. Sedangkan aku kembali ke rumah. *** Sembari merebahkan diri di kamar, kuhubungi pihak kafe. Mereka meminta keripik dikirim tiap seminggu sekali. Di luar dugaan, manajer kafe langsung mentransfer uang untuk barang yang akan dibeli satu bulan ke depan. Ucapan syukur selalu terucap dari mulut ini. Subhanallah. Walhamdulillah. Allah telah menunjukkan jalan kemudahan untukku. Kuhitung untung bersih mendapatkan dua belas juta. Uang tersebut langsung kutransfer pada Afifah lewat SMS banking, ditambah keuntungan yang sudah kudapat selama dua minggu. Jadi, aku tak berhutang padanya. Untuk selanjutnya, aku mengatur strategi pembalasan pada Mas Agam bila ia pulang. Rumah mbahku—yang sudah meninggal—masih kosong. Berjarak dua rumah dari rumah ibu. Harusnya itu menjadi bagian adik ibu. Namun, beliau sudah sukses hidup di kampung istrinya, di kabupaten tetangga. Mas Agam tidak boleh tahu dulu perihal segala bisnis yang kujalani. Oleh karenanya, proses pembuatan keripik akan kulakukan di rumah Almarhum Mbah. Bila suatu hari ia tahu, akan kukatakan itu milik teman. Toh, ia memang tidak pernah mau tahu dengan dunia pergaulanku. Tak perlu turun tangan sendiri, karena para pekerja siap memindahkan semua barang ke tempat baru. Mereka orang-orang yang layak diandalkan. Fani juga sudah kuminta membuatkan akun di aplikasi jual beli nomor satu di Indonesia. Ia juga yang akan memegang aku f*******: serta i********: untuk mempromosikan. Sedangkan untuk nomor WA yang dicantumkan adalah milikku. Sehingga pelanggan yang membeli langsung berhubungan denganku. Mas Agam, istri yang tak kau nafkahi secara layak ini, akan menjadi wanita sukses.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN