Seminggu sudah berlalu, Mas Agam belum juga pulang. Pun tidak menghubungi. Usahaku berjalan lancar sesuai harapan. Aku tidak merasa kesulitan membagi waktu. Pagi berangkat mengajar, pulangnya mengemas pesanan produk NS Glowing serta untuk dikirim ke pembeli. Fani termasuk pandai memasarkan produk ini. Sehingga mengalami kenaikan konsumen dalam waktu yang terbilang sangat singkat. Aku tidak melayani COD karena masih belajar membagi waktu. Kurir akan datang setelah dihubungi untuk mengambil ke rumah.
Pabrik keripik sudah aku percayakan pada Anis. Gadis lulusan SMP itu memang bisa diandalkan untuk mengurus segala hal. Mulai dari proses pengemasan sampai pengiriman.
Bapak juga sudah membeli mobil. Beliaulah yang mengantar keripik ke toko dan kafe. Untungnya, mbah kakung Dinta dan Danis ini punya keahlian menyetir, karena dulu pernah bekerja menjadi sopir pribadi seorang pengusaha di ibu kota. Laki-laki yang telah merawatku sejak kecil itu, seolah mendukung sepenuhnya apa yang kulakukan saat ini.
Urusan kantin sekolah, sepertinya harus aku berikan pada orang lain yang lebih membutuhkan. Ada rasa haru yang bercampur sedih, kala memikirkan akan menyerahkan kantin tersebut. Bagaimanapun juga, tempat dan usaha itu telah menopang hidupku selama menikah dengan Mas Agam, menjadi saksi hidup segala suka duka yang kujalani.
Rasa malu kusingkirkan, gengsi aku tanggalkan demi sejumlah rupiah. Tak jarang, suara-suara sumbang serta cibiran terlontar dari mulut tetangga maupun wali murid. Ada yang mengatakan serakah, ada yang menghina dibungkus kalimat empati, dan banyak pula yang memandang dengan tatapan mengejek, kala pagi hari diri ini harus mengangkat berbagai macam makanan dan es lilin dari rumah. Mengingat itu semua membuat luka—sementara enyah dari pikiran—kembali hadir.
Aku dengan segala perjuanganku, berbanding terbalik dengan kehidupan Mas Agam di rumah orang tuanya.
“Lumayan, ya, Mbak Nia, buat jajan anak,” ucap seorang ibu suatu pagi, terdengar sopan.
“Salut sama Mbak Nia, tidak gengsi meski suaminya PNS.” Sering kalimat seperti itu dilontarkan beberapa tetangga.
“Serakah itu, Mbak Nia. Biar orang lain yang jualan. Kan Mbak Nia kaum bergaji.” Ucapan seperti ini lebih banyak ditanggapi dengan senyuman.
“Namanya masih kekurangan, ya, Mbak Nia. Apa aja, yang penting halal. Kalau Mbak Nia banyak uang, pasti malas jualan. Malu-maluin.” Yang ini sukses membuat aku menangis setelah sendirian tak ada orang.
Kutarik napas panjang. Untuk menghilangkan sesak di d**a. Itu semua terjadi di hari kemarin. Esok dan seterusnya, aku tidak ingin direndahkan banyak orang lagi. Bukankah untuk merasakan nikmat sembuh, seseorang perlu sakit terlebih dahulu?
***
Pagi ini, aku izin tidak berangkat. Setelah menghitung keadaan uang dalam bisnisku, aku tersenyum bahagia. Bagaimana tidak? Jelas aku sudah mendapat keuntungan pasti di atas dua puluh juta per bulan dari keripik.
Sedangkan produk kecantikan, meski berjalan beberapa hari, separuh modal sudah kembali. Prediksiku, bulan ini bisa meraup untung minimal sepuluh juta. Benar kata Afifah, di kotaku, bahkan kabupaten tetanggaku belum ada yang menjadi member. Sehingga produk ini laris manis di pasaran. Dalam sehari penghasilan rata-rata satu juta. Alhamdulillah, sungguh kemudahan yang Allah berikan.
Kukemasi buku catatan keuangan perusahaan. Tidak berlebihan jika aku menyebutnya perusahaan, bukan? Karena pabrik keripikku sudah mempekerjakan sepuluh orang. Dan saat ini, aku sudah tidak lelah mengurus pekerjaan rumah. Ada orang yang dua hari sekali datang untuk membersihkan dan mencuci pakaian.
Setelah semuanya rapi, gegas diri ini berangkat ke pusat toko mainan terbesar di lingkunganku. Akan aku obati sedikit demi sedikit luka hati kedua anakku terhadap Mas Agam serta Aira, dengan cara membelikan mereka mainan yang mahal.
Di toko ini, aku sudah mendapat barang yang kuinginkan. Aku yakin, mereka akan bahagia melihat kejutan dari ibunya. Sebuah mobil sport mini untuk Danis, sepeda motor matic mini berwarna pink untuk Dinta, serta kolam renang plastik untuk bermain air berdua. Kutelepon sopir angkot untuk membawa barang-barang tersebut.
Aku tak lupa untuk mampir ke toko pakaian. Membeli banyak untuk diriku sendiri, dan beberapa potong untuk Dinta, Danis, ibu serta bapak. Selama ini, anak-anakku sering kubelikan pakaian bagus. Sedangkan aku, paling banyak dua tahun sekali membeli baju. Ah, betapa diri terlalu menyiksa sendiri. Sedang di belahan bumi sana, ada yang bahagia menikmati uang suamiku.
Sebelum pulang, entah mengapa aku ingin mampir ke bank untuk mencetak buku tabungan. Selama ini, aku tak pernah menabung. Mas Agam langsung mentransfer uang dari rekeningnya ke rekeningku yang berbeda bank. Ia hanya menunjukkan bukti transfer.
Setelah semua urusan selesai, aku menaiki kendaraan untuk pulang. Melewati depan toko mainan tadi, tiba-tiba terjadi sedikit macet karena berada di jalan sebelum pertigaan. Saat berhenti—menunggu kendaraan depan berjalan—aku menengok ke dalam toko. Seketika jantungku berdegup, melihat sesosok pria yang sudah beberapa hari tidak pulang berada di sana.
Ia terlihat tengah memilih boneka yang dipajang di lemari etalase yang sengaja diletakkan ada bagian depan. Aku tahu boneka yang dipajang di sana harganya masih standar. Setelahnya, ia terlihat berjalan menuju kumpulan mobil-mobilan plastik yang tadi kulihat paling mahal harganya lima puluh ribu. Hatiku mendecih. Semurah itukah harga anak-anakku di matanya? Kulajukan motor perlahan dengan perasaan kesal.
Sampai rumah, kulihat Danis dan Dinta yang kegirangan tengah mencoba mainan baru mereka. Rupanya, sopir tadi langsung mengantarkan ke sini. Mereka belajar mengendarai kendaraan mini tersebut bersama bapak. Melangkah masuk rumah, kuletakkan semua baju di lemari. Segera mandi, memakai baju baru dan berhias diri.
Melihat pantulan diri pada cermin, bibir ini tersungging. Setiap wanita bisa cantik, asalkan ada dana untuk itu. Kusemprotkan parfum yang kuambil dari etalase krim yang sengaja kutaruh di rumah ibu. Wangi yang mahal. Setelahnya aku keluar rumah, kuberikan baju ibu serta bapak, pada lelaki tua yang tengah bermain. Sengaja, untuk mengusir bapak dari rumah, karena kutahu sebentar lagi Mas Agam pulang. Akan kulancarkan aksi yang sudah kususun.
Kusuruh kedua anakku mencoba kolam renang plastik yang kuletakkan di teras rumah. Kendaraan mini mereka parkir berjajar di halaman. Saat Mas Agam pulang nanti, akan langsung melihat. Tak lupa kusiapkan baju baru untuk dipakai Dinta dan Danis setelah selesai nanti. Di samping rumah ada kran air. Mereka akan mandi di sana.
Tak berapa lama, suara motor Mas Agam terdengar. Aku duduk cantik di kursi mengawasi anak-anak bermain sambil merekap pesanan masuk. Tak sedikit pun kutolehkan wajah, saat motor yang ia kendarai berhenti.
“Kakak, Adek, ayah pulang,” sapanya.
Sedangkan yang disapa kulihat hanya bergeming, menatap ayah mereka dengan tatapan kecewa.