Aku masih sibuk menatap gawai. Tak ada niat maupun keinginan untuk melirik—apalagi menyapa—Mas Agam.
“Kakak, Adek, ayah belikan oleh-oleh.”
Hingga keluar sebuah ucapan dari mulut suamiku yang membuat hati penasaran, akhirnya aku menoleh. Hanya sekadar ingin melihat seperti apa barang yang dengan bangga ia bawa untuk kedua buah hatinya. Naluri jahatku seketika menyuruh untuk tertawa, demi melihat dua buah benda yang ia tenteng sebagai pelipur lara makhluk tak berdosa di depannya.
Tawa yang hampir meledak berhasil kutahan. Lagi, dua kakak beradik yang basah kuyup terkena air hanya diam tanpa menjawab sapaan ayah mereka. Diperhatikannya sebuah boneka Hello Kitty kecil serta truk mainan plastik berukuran sedang. Merasa tidak tertarik dengan buah tangan yang dibawa oleh seseorang—yang telah menorehkan rasa kecewa itu—mereka kembali pada aktivitas bermain air di kolam renang plastik yang baru aku belikan. Netraku kembali fokus pada layar HP. Senyum kemenangan terukir indah di bibir yang telah dipoles lipstik mahal berwarna nude ini.
“Dek.” Sapaan Mas Agam beralih padaku.
Aku menoleh lagi, demi melihat seperti apa ekspresi pasca diacuhkan kedua buah hatinya. Ternyata ia tengah memperhatikan dua kendaraan mini yang terparkir cantik di halaman. Aku paham raut muka itu, penuh pertanyaan.
Ia akan sangat terkejutnya bila tahu, seharian ini aku telah menghabiskan uang sepuluh juta di pasar, tadi. Ia pasti mengira, uang tersebut diambil dari ATM tabungan uang sertifikasi. Uang sisa, lebih tepatnya.
“Ya?” jawabku dengan lembut, sembari berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan d**a.
Tak ada raut marah kutunjukkan sekalipun dalam tubuh ini, letupan emosi seolah mendorong untuk memaki bahkan mencakar-cakar tubuh kekar itu. Namun, aku akan menahan gejolak demi bersikap elegan saat di depannya.
“Kamu yang membeli semua itu?”
“Iya,” sahutku dengan tenang, sambil menghampiri Dinta dan Danis. Menggoda kedua bocah ini dengan menggelitiki tubuh mereka secara bergantian.
Sengaja, agar Mas Agam benar-benar merasa diabaikan di sini. Terlihat ia duduk di kursi, yang kududuki tadi. Mainan untuk anak-anak ia letakkan di meja. Sorot matanya tak lepas dari mereka berdua.
Tak ingin berlama-lama bersama dengan lelaki pembohong, segera kumandikan kedua anakku yang sudah kedinginan. Setelah berganti pakaian, mereka berlari menuju mainan baru.
Bapak tiba-tiba datang dari arah depan. Sepertinya, hendak melanjutkan mengajari cucu-cucunya mengendarai kendaraan mini. Melihat Mas Agam, bapak hanya menoleh sekilas, lalu bersikap tak acuh. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, bila berjumpa, pasti bincang-bincang lebih dulu.
“Belum mulai mengemas pesanan, Nia?”
“Sebentar lagi, Pak,” sahutku, yang paham kemana arah pembicaraan beliau. Ingin agar aku segera berlalu dari hadapan pria yang telah tega terhadap kami.
Setelahnya, mereka bertiga berlalu pergi. Aku segera masuk rumah. Mas Agam mengikutiku. Ia kemudian merebahkan diri di sofa ruang tamu.
”Dek, habis uang berapa untuk beli mainan?”
Dugaanku tepat, bukan?
“Bukan urusan kamu, Mas. Yang penting tak kugunakan sepeserpun uang sisa sertifikasi yang kamu transfer.”
Ia bangkit demi mendengar jawabanku. Ia juga melihat dan memindai penampilanku dari atas sampai bawah. Namun, tak kuhiraukan. Aku segera beranjak ke dapur.
Sebagai istri yang baik, tentunya harus menyiapkan makan siang untuknya. Menu favorit yang selalu ia bangga-banggakan setelah menikah adalah sayur bening, ikan asin dan sambel tentara—sambal dari cabai mentah berwarna hijau. Sekarang baru paham, itu akal-akalan saja agar aku tidak membeli lauk yang bergizi.
Mas Agam, suami tercintaku, sungguh mulia hatimu terhadap keluarga.
Setelah siap di meja makan, aku memanggilnya.
“Cuma ini, Dek?” tanyanya, tanpa malu.
Aku mengangguk saja. “Bukankah itu makanan favoritmu, Mas?” Aku balik bertanya. “Ah iya lupa. Ada lagi, makanan favorit yang lain. Sate!” cetusku dengan penuh semangat. Lalu kembali memasang wajah cemberut. “Sayangnya, kamu selalu menyuruhku menyediakan ini saja. Jadi aku lupa. Maaf, ya, Mas? Lagipula, kan, udah makan enak di rumah ibu selama tiga minggu lebih. Di hotel juga tidak mungkin ada menu receh kayak gini, kan, Mas?”
Mas Agam tidak menyahuti sama sekali. Ia memilih duduk dan mulai makan.
“Menu seperti ini pantasnya tersaji setiap hari di rumahku. Untuk makanan aku dan anak-anakku yang k***********n. Ibarat orang India, kami ini berasal dari kasta Sudra. Jadi makanan yang pantas ya seperti itu tadi. Mainan anak, ya, cukup yang harganya murahan. Beda sekali sama Aira, yang berasal dari kasta Ksatria. Mainan mahal, sering piknik. Nasib Rani sama anaknya emang mujur. Dapat kakak ipar serta pakde kayak kamu, Mas.”
Skak! Seketika ia berhenti mengunyah.
Tugas sebagai istri sudah selesai. Aku segera berlalu pergi ke rumah ibu untuk mengemas pengiriman hari ini, tanpa pamit pada Mas Agam. Saat melewati teras, aku baru sadar, dua bungkus mainan masih terkemas rapi di atas meja, tanpa tersentuh. Senyum sinis terukir di bibirku.
***
Pengiriman hari ini telah selesai. Kurir juga sudah mengambil barang ke rumah ibu. Anak-anak tertidur di sini juga. Aku malas pulang, ada Mas Agam. Namun, aku juga perlu mandi dan berganti baju. Sembari menimbang keputusan—pulang atau tetap di sini—aku iseng melihat story di aplikasi hijau. Jariku berhenti pada sebuah unggahan seseorang. Rani, ibu Aira. Tumben buat story. Atau selama ini disembunyikan dariku?
Nangis, ditinggal pulang Pakde. Efek terlalu dimanja. Biasanya jam segini diajak jalan-jalan.
Apa kabar anak-anakku yang ditinggal tiga minggu? Jari ini ingin bermain perasaan dengannya. Segera kupencet tombol balas.
[Anak kesayangan.]
[Iya Mbak. Nangis terus gara-gara ditinggal.]
[Kalau ada Mas Agam aku gak capek jagain Aira]
Rani membalas.
[Terus, Mas Agam yang ninggal anak-anak gitu?]
Balasku dengan perasaan sengit.
[Gak gitu maksud aku, Mbak.]
[Anakku sering ditinggal, Ran. Tiga minggu, malah. Sekarang biar ketemu sama ayahnya.]
[Iya, Mbak.]
Apa? ‘Iya’? Bukan maaf?
Kutarik napas panjang. Pesan terakhir Rani tidak aku balas. Hanya menambah sesak rasa ini. Akhirnya, kuputuskan untuk pulang saja. Dan saat hendak melangkah, anak-anak terbangun. Mereka ikut pulang karena hari sudah sore.
***
Selepas mengaji, Dinta dan Danis menonton televisi. Ayah mereka mendekat. Awalnya cuek, lama-lama mereka luluh juga. Celoteh riang terdengar dari mulut kecil Danis. Terlihat sekali anak ini merindukan ayahnya. Dia menceritakan segala hal yang dialami saat ayahnya pergi. Aku mengamati sambil duduk di kursi.
Saat asyik bermain, gawai Mas Agam—yang ia letakkan di meja depanku—menyala. Mode senyap jadi tidak berbunyi. Kontak atas nama bapak memanggil di sana. Aku sengaja tidak memberitahu Mas Agam. Beberapa saat kemudian berhenti. Iseng kupencet ponsel Mas Agam. Fotonya bersama Aira dijadikan foto layar. Hati ini mulai memanas kembali.
Panggilan dari kontak yang sama berbunyi lagi. Saat itulah Mas Agam berjalan hendak mengambil benda pipihnya. Segera diangkat saat tahu siapa yang menelpon dari seberang sana. Segera diangkat telpon tersebut saat ia tahu ada yang memanggil di sana.
"Halo ...." Sepersekian detik, raut mukanya terlihat cemas, mendengar orang di seberang sana berbicara. Aku hanya mengamati tanpa berniat bertanya.
"Iya, Pak. Saya ke sana sekarang. " Hanya itu yang ia katakan. Setelahnya masuk ke dalam kamar mengambil jaket. Bersiap-siap pergi.
"Ayah mau kemana?" tanya Dinta.
"Ayah ke rumah Mbah dulu ya. Aira menangis tidak mau berhenti kalau Ayah tidak kesana. Kalian bobok ya. Ayah pulang besok."
"Tapi Danis pengin bobok sama Ayah," sahut bungsuku dengan raut muka sedih.
"Besok ya, Danis." Selesai berkata demikian, ia segera berlalu pergi. Tak dihiraukan Danis yang mulai terisak Saat di depan pintu menoleh padaku.
"Kamu bisa kan, Dek, menemani mereka. Aku khawatir dengan Aira. " Tanpa menunggu jawabanku, ia berlalu begitu saja.
Kutengok kedua anakku.
Dinta berdiri bersandar di tembok dengan tatapan kosong, sedang adiknya duduk sambil terisak...