“Nia, maafkan aku.” “Tidak semudah itu, Mas ” jawabku sambil menghempas kasar pegangan pada lengan. Aku menghapus air mata yang mulai mengembun di pelupuk sambil berjalan menuju ruang tamu. Aku akan pamit saja. Kurasa, pertemuan di rumah ini tidak ada manfaatnya sama sekali. “Saya pamit, Pak. Mohon maaf sudah menimbulkan kekacauan di rumah Anda.” “Bu Agam, saya ....” Terasa muak mendengar nama itu untuk memanggilku, aku langsung berucap, “Tolong, jangan panggil saya dengan nama itu. Sebagai orang yang berpengalaman, seharusnya Anda memahami perasaan saya saat ini.” Aku menatap tajam pada pria yang paling disegani di ruangan ini. “Maaf, Bu Nia. Saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin lebih menghormati Bu Nia saja,” kilahnya. “Hormati perasaan saya, Pak. Bukan panggilan pada sebuah

