Menyembuhkan sebuah luka tak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih, selain rasa sakit yang kudapat, aku juga harus menghibur kedua anak yang merasakan kehilangan sosok ayah. Dengan kepergian Mas Agam, aku jadi yakin bahwa kami benar-benar tidak memiliki tempat dalam ruang hatinya.
Perlahan menata hati, menerima sebuah takdir bahwa kini aku sendiri. Merawat anak-anak, tanpa sosok suami di sampingku. Kedua mainan yang dibeli Mas Agam masih teronggok rapi dan terbungkus plastik di atas meja. Kusingkirkan benda yang telah menggoreskan sejuta luka di hati kedua anakku. Rencananya akan kuberikan pada anak salah satu pegawaiku.
Sebulan sudah Mas Agam pergi meninggalkan kami. Aku sudah siap bila suatu hari nanti ada surat gugatan cerai yang ia kirim. Sedangkan aku sendiri tak ingin repot bila harus mengurus perceraian tersebut. Namun, sampai saat ini, belum ada pembicaraan menuju ke sana dari pihak Mas Agam.
Saat ini, kami mulai terbiasa hidup bertiga. Sedikit demi sedikit, kuberi pengertian pada Dinta dan Danis, bahwa mereka harus menerima kepergian sang ayah. Meski kutahu, ada luka yang menganga, ada sorot sedih di mata kedua buah hatiku. Namun, lambat laun anak-anak ini mulai bahwa bahwa takdir dari Sang Kuasa harus dijalani dengan ikhlas.
Saat ini, aku sudah bisa mengendarai mobil. Usahaku berkembang dengan pesat, terutama untuk produk kecantikannya. Sebulan ini, aku mendapatkan keuntungan dua puluh juta. Bila dihitung dengan usaha keripik, maka aku bisa meraup keuntungan lima puluh juta tiap bulannya. Bahkan, saat ini usahaku bukan hanya keripik. Kerupuk yang digoreng pasir dan diberi bumbu juga menjadi produk unggulan dari pabrikku.
Hari ini, aku ada janji untuk menemui seseorang yang memiliki rumah makan. Kami saling kenal lewat akun biru. Ia ingin mengadakan kerjasama. Sepertinya teman dunia mayaku ini ingin aku mengirim kerupuk ke rumah makannya.
Kami akan bertemu di sebuah warung bakso yang terkenal. Hanya saja, warung tersebut berada di jalan arah kecamatan tempat suamiku mengajar.
Ia pernah bercerita sering nongkrong bersama kawan-kawannya di situ. Seringkali memuji betapa lezat rasa bakso di tempat lesehan itu. Aku hanya bisa menahan air libur saat mendengarkan. Kami jelas belum pernah diajak serta. Entahlah, betapa bodoh diri ini, yang sama sekali tak memiliki keberanian untuk meminta.
[Aku sudah berada di lokasi, Mbak]
Pesan baru aku terima, dari lelaki yang akan kutemui.
Sebelum masuk, kurapikan jilbab dan memoles kembali bibir ini dengan lipstik nude kesukaanku. Kusapukan sedikit blush-on pada pipi agar terlihat merona.
Bukan maksud untuk menggoda, sebagai orang yang berkecimpung pada dunia kecantikan, penampilanku harus selalu menarik. Supaya orang juga semakin tertarik membeli apa yang aku jual. Selain itu, ini untuk mengobati luka hati. Dengan memanjakan tubuh sendiri, aku jadi merasa sedikit puas atas hasil kerja yang kutuai.
Area parkir terlihat ramai dengan kendaraan. Orang-orang dengan seragam pemerintah terlihat lalu lalang. Maklum, ini jam makan siang. Seketika ada rasa gelisah yang menyusup dalam d**a. Bukankah pada waktu seperti ini saatnya Mas Agam pulang? Jangan-jangan, ia berada di situ juga?
Napas kuhembuskan perlahan demi menetralisir detak jantung. Sekali lagi, kuperhatikan riasan wajah pada kaca dalam mobil. Netraku memindai busana yang melekat di tubuh kukenakan siang ini. Kulot hitam dengan atasan kaus hitam pula, kupadukan dengan outer warna putih, hampir sepanjang mata kaki. Jilbab berwarna dusty pink. Aku juga memakai high heels. Cukup berkelas, menurutku.
Turun dari mobil putih, aku melangkah menuju tempat yang sudah diberitahukan lewat pesan tadi. Warung ini lesehan. Terdapat sekat pemisah setinggi satu meter antara satu meja dengan meja yang lain, sehingga pengunjung tetap memiliki privasi. Tempat duduk Pak Irsya berada di ujung warung ini. Sehingga untuk sampai ke sana, aku harus melewati meja-meja yang berjejer terlebih dahulu.
Saat melintas, sekilas kudengar sebuah obrolan dari pengunjung yang sedang makan siang. Mereka sekelompok pria berseragam.
“Eh, Agam ke mana tadi? Jemput si dia lagi, ya?” tanya seseorang di antara mereka.
Aku pura-pura berjongkok membenarkan sepatuku, demi mendengar obrolan orang-orang ini.
“Iya, lah. Ke mana lagi? Itu anak nekat. Denger-denger, dia udah gak pulang ke rumah istrinya. “
“Kasihan istri dan anaknya, ya. Agam itu tidak pandai bersyukur. Udah hidup punya keluarga tenang, malah bertingkah.”
Dada ini panas mendengar obrolan mereka. Aku segera bangkit kembali menuju tempat Pak Irsya berada.
Kulepas sepatu, lalu naik ke tempat di mana meja lesehan yang dipesan Pak Irsya. Kami saling senyum saat bersitatap. Beliau menangkupkan kedua tangannya di depan d**a.
Sebetulnya, ia masih muda, mungkin selisih dua tahun di atas Mas Agam. Namun, karena kedudukannya sebagai kepala sekolah, jadi aku segan bila harus memanggil dengan sebutan mas.
“Sudah lama menunggu, ya, Pak? Maaf,” ucapku, membuka percakapan.
Setelahnya, mengalir begitu saja. Beliau orang yang supel dan enak diajak ngobrol. Sehingga aku tak merasa canggung ataupun malu. Rencana kerjasama akhirnya telah disepakati. Selesai membicarakan itu, kami saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Hal yang umum, tentunya, bukan sesuatu yang privasi.
Dari sinilah aku tahu bahwa Pak Irsya adalah seorang duda. Menikah sebanyak tiga kali, tetapi selalu ditinggal istri karena alasan mandul. Aku harus bersyukur, setidaknya aku memiliki dua malaikat kecil sebagai pelipur laraku. Sedangkan lelaki tampan di depanku ini, meskipun memiliki pangkat dan uang yang banyak, beliau merasa kesepian. Terlihat raut wajah sedih, manakala aku menceritakan Dinta dan Danis.
Pak Irsya bukan asli warga sini. Beliau berasal dari kabupaten di ujung timur Jawa Tengah, tetapi lolos mengikuti seleksi tes CPNS di daerahku. Pantas begitu kesepian, hidup tanpa sanak saudara.
Tibalah saatnya, Pak Irsya bertanya tentang suamiku. “Suami Mbak Nia, kerja di mana? Sudah izin waktu mau menemui saya?”
Aku terdiam mendengar pertanyaan lelaki yang baru bertemu ini. Bingung mau jawab apa. Ia sudah bercerita tentang statusnya, sementara aku baru ditanya suami kerja di mana pun hanya diam.
Bukan tanpa alasan. Ternyata, unit kerja Pak Irsya berada di satu kecamatan dengan Mas Agam. Haruskah aku menceritakan suamiku pada orang yang baru kenal? Bahkan mungkin, beliau sudah hafal dengan suamiku. Bila segerombolan pria tadi—yang obrolannya tertangkap telingaku—mengetahui keadaan rumah tanggaku saat ini, bukan tidak mungkin Pak Irsya-pun tahu.
“Mbak Nia, kok diam? Saya tidak boleh tahu suami Mbak Nia?” tanyanya, menyadarkanku dari lamunan.
“Kami sedang tidak bersama, Pak. Suami saya pulang ke rumah orang tuanya. Karena sesuatu hal.”
“Orang mana?” tanyanya lagi.
Tiba-tiba, dari tempat duduk—ruang terbuka—aku melihat ke arah parkir. Kulihat sosok yang begitu kukenal. Ia tengah bersama seorang wanita yang sama-sama berpakaian seragam. Terlihat bahagia, tak selayaknya orang yang sedang memiliki masalah dengan keluarganya. Ia bahkan mengulurkan tangan demi membawakan jaket wanita tersebut.
Netraku memanas, perlahan bulir bening jatuh membasahi pipi.
Aku tak mengamati jelas, tetapi sepertinya Pak Irsyad menoleh ke arah objek yang kupandangi.
“Mbak Nia, istrinya Agam?”
Refleks kepalaku mengangguk. Kutundukkan kepala, supaya pria di depanku tak melihat aku yang menangis.
“Sabar, ya, Mbak,” ucapnya kemudian.