BAB 13

1313 Kata
“Mbak Nia, jangan menangis. Hapus air matamu. Tak perlu menangisi orang seperti Agam. Tunjukkan bahwa kamu kuat. Jangan khawatir, aku berada di pihakmu.” Masih berlinang air mata, kutatap pria yang baru satu jam kukenal ini. “Aku sudah tahu perihal rumah tanggamu. Meski yang kudengar hanya dari pihak Agam dan aku tidak tahu yang ia katakan itu benar atau tidak. Yang jelas, aku tidak suka kelakuannya. Dia selalu mengumbar kekurangan istri di depan teman-teman. Entah yang dikatakan benar atau tidak, yang pasti sikapnya itu sangat buruk. Terlebih ia seorang pendidik.” Aku terdiam, mendengarkan setiap kata yang diucapkan Pak Irsya. “Aku tidak dekat dengan Agam. Hanya seminggu sekali kami bersama di gor bulu tangkis atau saat ada kegiatan KKG. Kami jarang sekali berbincang, tapi aku sering mendengarnya berbicara. Di kalangan kami, ia termasuk orang yang suka bercanda. Dan yang tidak kusukai, ia selalu menjadikanmu sebagai bahan lelucon saat bergurau.” Aku mengerutkan kening, tak paham ucapannya. Pak Irsya seperti mengerti, ia lanjut bercerita. “Sekarang, pulanglah. Hapus air matamu. Jangan sampai suami kamu tahu bahwa kita bersama. Balas sampai dia menyesal telah menyakiti kamu. Aku akan ke toilet. Tagihan ini biar aku yang bayar. Bersihkan air matamu. Agar kamu terlihat cantik di hadapan mereka berdua. Kamu paham, Nia?” Aku mengangguk. Pak Irsya segera berdiri dan hendak pergi. “Kita bisa bicarakan ini lain kali, di tempat lain. Senang bertemu denganmu, Nia.” Selesai berkata seperti itu, ia berlalu. Aku segera menghapus bekas air mata. Kupoles bedak dan lipstik. Sekali lagi, aku meneliti riasan wajah. Benar kata Pak Irsya, aku harus terlihat cantik di hadapan mereka. Melangkah keluar dari kedai bakso, kutolehkan wajah mencari ayah dari anak-anakku. Aku harus bertemu dengannya. Mendengar bahwa diriku sering sekali dijelek-jelekkan di hadapan umum, telingaku memanas. Hati ini begitu membencinya. Rasa cinta yang susah payah kuhilangkan selama sebulan, sukses lenyap tak bersisa pada detik ini juga. Akhirnya kutemukan Agam. Tepat sekali, ia berkerumun di depan mobilku, bersama kawan-kawannya berbincang di bawah pohon. Kulihat wanita itu juga berada di sana. Duduk berdampingan. Manis sekali. Mempercepat langkah—sembari menetralisir degup yang tak karuan—bukanlah sesuatu yang mudah. Rasa marah ingin mencabik-cabik tubuhnya sangat besar. Namun, sekali lagi menguatkan hati. Hari ini, akan kupermalukan dia secara elegan. “Agam sama Anti makin lengket aja,” goda salah satu rekannya. “Biasa lihat istrinya yang bureng, sih. Sama yang bohay gini, jadi betah, Gam?” sahut rekan yang lain. Kuperkirakan jumlah mereka ada sepuluhan orang, makanya rame. Mulut lelaki-lelak ini berbahaya juga. Lihai sekali dalam menghinaku. Mungkin karena aku terlalu sering jadi bahan ejekan. “Ya, beda. Kalau di rumah berdirinya susah. Gak ada gairah.” Tawa terdengar menggelegar dari mulut-mulut kotor itu. Ya, kotor, bila mereka bermulut bersih, tentunya memilih menjauh dari Agam. Kuhampiri mereka yang tengah tertawa terbahak-bahak. “Apa kata Anda, Pak Guru? Saya bureng? Betulkah? Sekarang, silahkan Anda lihat apakah saya sejelek perempuan yang Agam katakan di hadapan kalian.” Seketika mereka terdiam. Semua mata memandang ke arahku dengan penuh kekagetan. Wajah Agam seketika memucat. Kulirik wanita di sampingnya menunduk. “Kalau kemarin-kemarin aku terlihat jelek, bureng, kucel, bikin anu-mu tidak berdiri, jangan salahkan aku, dong, Gam. Coba kamu pikir, nafkah lima belas ribu yang kamu beri dalam sehari, cukup buat makan atau tidak? Ayo jawab!” sengitku. Ia masih tidak berkutik sama sekali. “Alasan gajimu cuma sedikit itu untuk menyiksaku, ya? Kamu membiarkan membanting tulang sendiri, menghidupi anak-anak, juga untuk memberimu makan. Padahal, sebenarnya uang itu kamu habiskan di luar rumah untuk piknik dengan keluargamu, untuk senang-senang bersama saudara-saudaramu, untuk membelikan mainan mahal keponakan kamu, serta buat makan enak dengan gundik kamu ini!” Sengaja kutinggikan suaraku, agar semua orang berkumpul ke sini. Barangkali banyak teman-teman Agam di antara mereka. Biar ia malu sekalian. “Sebulan lebih kamu pergi tidak kasih uang untuk anak-anakmu, tidak menanyakan kabar mereka, tapi aku malah jauh lebih baik keadaannya. Tas bermerk, jam tangan mahal, gelang emas, baju mahal, semuanya bisa kubeli. Jadi, kenapa kemarin aku tidak cantik? Karena siapa?” Saat berkata demikian, kuperlihatkan barang-barang mahal yang aku pakai. Wanita bernama Anti itu terlihat pucat, jelas menahan malu. Seketika, kawan-kawannya tadi terlihat menepi. Kudekati tubuh Agam yang duduk mematung pada kursi panjang. Kupegang erat rahangnya agar wajah kami berhadapan. “Kamu lihat aku? Istri yang kamu nafkahi lima belas ribu sehari, istri yang tidak pernah kamu ajak pergi, istri yang selalu kamu suruh makan dengan ikan asin sama sambal hijau. Lihat aku! Tanpamu aku lebih cantik, bukan?” Aku tersenyum mengejek. “Jangan menuntut, apalagi sampai kamu menjelekkan istrimu karena penampilannya, sedangkan kamu sendiri tidak pernah memberi nafkah yang layak!” Kuhempaskan wajah lelaki—yang telah menikahiku selama delapan tahun itu—dengan kasar. Kedua netranya terlihat berkaca-kaca. Sekarang kulanjutkan pada wanita di sampingnya. Kupegang pula rahangnya tetapi tak sekasar pada Agam. Aku masih berpikir jika ini bisa dilaporkan atas tindak kekerasan. “Kamu seorang pegawai, bukan? Enak diajak makan terus sama Agam? Di mana harga dirimu, hah? Dengan bangga jalan dengan suami orang, berkumpul di tempat umum seperti ini, sambil tersenyum mendengar orang-orang mengejekku? Bila kamu hebat, coba cari lelaki kaya. Jangan orang seperti Agam, yang menelantarkan anak istri demi keluarga dan saudara-saudaranya!” Entah ia seorang wanita penurut, atau karena kaget tiba-tiba mengalami kejadian tak terduga, ia hanya diam, tak menanggapi. “Dan kalian, Para Abdi Negara yang Terhormat!” Kali ini tatapanku beralih pada segerombol pria berseragam yang berdiri tak jauh dariku. “Pantaskah bila manusia mulia di negara ini, seperti kalian, mengolok-olok seseorang yang sama sekali belum pernah kalian kenal? Coba bayangkan bila itu adik kalian, bila itu anggota keluarga kalian! Jangan suka mencampuri sesuatu yang belum kalian tahu permasalahannya. Camkan itu!” Puas! Itu yang kurasakan. Sekian lama Agam menyakitiku—tidak hanya soal nafkah tapi juga harga diriku—hari ini aku memiliki kesempatan untuk mempermalukan dia di hadapan umum. “Kutunggu surat ceraimu! Dan siapkan uang banyak untuk mengganti nafkah tak layak yang kamu berikan padaku,” tegasku pada Agam. Aku segera berlalu dari hadapan mereka. Kulihat, Pak Irsya berdiri jauh, tersenyum ke arahku. Namun, tak kubalas karena kami sudah sepakat untuk pura-pura tidak kenal. Tiba-tiba, Agam berdiri, mengejar dan menangkap lenganku. “Nia, maafkan aku. Kita bicarakan ini baik-baik,” pintanya, dengan raut memelas. “Sudah terlambat!” jawabku, penuh penekanan. Lalu, aku melirik Anti. “Dan kamu, Wanita Gundik! Siapkan jamu agar Agam bisa berdiri, biar kamu puas. Asal kamu tahu, keperkasaannya itu karena aku sering membuatkan jamu. Ternyata, kamu yang menikmatinya.” Aku meludah ke tanah yang kosong. Sebagai bentuk penghinaan terhadap mereka berdua. Kulangkahkan kaki menuju mobil. Sesaat, aku menoleh, melihat seorang pemuda merekam kejadian tadi dengan gawainya. Saat kuhampiri, ia mundur ketakutan. “Tak mengapa, viralkan saja. Aku izinkan kamu menyebarkannya lewat media sosial. Biar semua orang tahu kelakuan Agam. Terutama, mereka yang ikut-ikutan mengolok-olok aku. Aku tidak akan malu, karena aku bukan abdi negara.” Agam tetap mengikutiku, sembari memanggil-manggil namaku. “Dek. Dek.” “Jangan panggil aku begitu! Aku muak mendengarnya.” Kubuka pintu mobil dan melihat mainan yang dibelikan Agam teronggok di sana. Masih terbungkus plastik dengan rapi. Niat hati memberi pada anak pekerjaku, aku malah lupa. Mungkin, memang harus kukembalikan pada pemiliknya. Mengambil kedua benda itu, dan melemparkan pada tubuh Agam. Ia meringis, kesakitan. “Berikan itu pada Aira-mu. Anakku tidak sudi diberikan hadiah murahan.” Setelahnya, aku duduk di kursi kemudi. Agam tampak terpana melihatku yang mengendarai mobil bagus. Segera kuulurkan uang lima puluh ribu pada tukang parkir. “Kembaliannya buat Bapak saja.” “Terima kasih, Neng,” jawab beliau dengan raut muka bahagia. Kulajukan mobil perlahan, meninggalkan tempat yang telah menorehkan kenangan memalukan pada Agam. Di jalan yang sepi, kutepikan mobil, menelungkupkan kepala pada kemudi dan menangis. Bagaimanapun, aku sakit dengan apa yang terjadi hari ini. Tak lama, sebuah pesan dari Pak Irsya masuk. [Hati-hati nyetirnya. Kalau sudah sampai, kabari aku.] [Iya.] Balasku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN