PILIHAN TERBAIK

1657 Kata
“Kamu kok baru pulang, si, Ren? Nak Aryo udah nungguin kamu dari tadi ini loh.”   Karenina yang sebenarnya sedang merasa lelah, hanya melempar senyum tipis pada laki-laki yang kini duduk di depan mamanya. Namanya Aryo, laki-laki yang selama beberapa bulan ini dekat dengannya, dan dalam hitungan hari, akan segera menjadi suaminya.   “Maaf, tadi aku nunggu temen ganti shif-nya datang dulu,” ujar wanita itu sembari duduk di samping mamanya.   Aryo memberikan senyum maklum sembari mengangguk, “Nggak papa, nanti kalau udah nikah, kamu berhenti kerja aja, ya?” pinta laki-laki itu dengan senyum menawan, yang mampu membuat para gadis meleleh karena ketampanannya memang tidak lagi perlu diragukan. Namun, entah mengapa tidak ada getar apa pun yang Karenina rasakan. Bahkan jika boleh, ia ingin menghentikan rencana pernikahan ini, tapi—   “Nin.” Gadis itu tersentak, baru sadar jika sedari tadi ia melamun.   “Ma-maaf,” ujar Karenina sedikit tergagap, lagi-lagi Aryo hanya mengembangkan senyum. Sebuah senyuman yang entah mengapa membuat Karenina merasa risi. Bagaimana ia bisa menjalani rumah tangga dengan laki-laki yang tidak ia sukai?   “Jadi aku ke sini buat nunjukin ini ke kamu.” Aryo bangkit dari tempat duduknya, lalu memilih untuk mendekat ke arah Karenina yang mendadak kaku. Wanita itu sendiri tidak mengerti dengan reaksi tubuhnya yang seakan enggan bersentuhan sama sekali dengan Aryo. Ada rasa tidak nyaman yang sering menyelubungi hatinya. Andai saja bisa, Karenina benar-benar ingin menghentikan semua ini.   Tapi ia tidak mungkin mempermalukan mamanya yang terlihat bahagia saat sosok Aryo, laki-laki pendatang baru yang menjadi incaran warga tiba-tiba melamar dirinya. Yah, Aryo adalah seorang warga baru di kampung tempat tinggal Karenina saat ini. Selama kehadiran laki-laki itu, banyak sekali para ibu yang menginginkan sosok Aryo untuk melamar anak gadisnya, tidak terkecuali mama Karenina. Pembawaan Aryo yang ramah, serta mudah bergaul dengan siapapun tanpa memilih, langsung membuat laki-laki itu dijadikan sebagai menantu idaman oleh banyak orang. Apalagi pekerjaan Aryo sebagai manager pabrik yang dianggap ‘wah’ oleh para warga, menambah nilai plus untuk laki-laki itu. Namun, sayang semua pesona itu sama sekali tidak mampu membuat luluh hati seorang Karenina. Akan tetapi saat tiba-tiba pagi itu Aryo datang ke rumah untuk melamar, tentu saja Karenina tidak bisa menjawab tidak., karena saat itu semua kendali ada di tangan mama-nya.   “Kita ini hidup serba susah, nantinya juga yang bakalan seneng kalau udah jadi istri Aryo itu siapa? Kamu juga, kan? Memangnya kamu nggak kepengin hidup kayak dulu lagi?” Itulah kalimat yang mamanya katakan, saat Karenina berusaha menyuarakan pendapatnya.   “Ren, papamu juga kalau masih hidup pasti akan sangat setuju dengan Nak Aryo. Dia baik, ramah, kerjaannya juga udah tetap. Mama cuma pengin lihat kamu hidup bahagia seperti dulu, Nak.” Jika sudah seperti itu, Karenina tidak lagi bisa bersuara. Apalagi mamanya mulai mengeluarkan air mata andalannya.   Yah, dan akhirnya Karenina hanya bisa mengangguk, dan menjalankan apa yang sudah terjadi. Hidupnya memang sudah terasa mati semenjak ia kehilangan banyak hal. Kemewahan, teman, saudara, bahkan yang terakhir Tuhan sudah merenggut sosok papanya. Dan kini, mungkin Tuhan secara perlahan sedang mengembalikan satu per satu yang hilang itu. Meski tidak ada kebahagiaan yang Karenina rasakan.   “Kamu suka yang mana? Nanti tinggal dipasin aja ukurannya.” Nyawa Karenina seolah kembali saat itu juga. Lagi-lagi ia termenung dan melupakan keberadaan Aryo yang kini sudah duduk di sampingnya sembari mengulurkan ponsel keluaran terbaru. Sebelum menjawab, wanita itu melirik ke tempat mamanya tadi duduk, tetapi wanita itu sudah tidak ada.   “Mama kamu ke kamar mandi katanya,” jelas Aryo yang seperti tahu isi pikiran Karenina. Wanita itu hanya mengangguk, lalu berpura-pura antusias pada layar ponsel di tangan Aryo. Ada foto kebaya di sana, dan tadi Aryo sedang menanyakan pendapatnya, kan?   “Aku suka yang ini,” tunjuk wanita itu pada kebaya modern berwarna abu gelap. Entah mengapa semenjak hidupnya tidak lagi bergelimang harta, ia lebih menyukai warna gelap. Hitam, abu, padahal toska dan peach adalah warna kesukaannya dulu.   “Tapi mama kamu bilang kamu suka warna ini?” Aryo menunjuk kebaya berwarna peach yang memang terlihat cantik. Namun, entah mengapa Karenina merasa ia tidak cocok lagi mengenakan warna-warna seperti itu. Hidupnya sudah tidak lagi seindah warna itu kini.   “Tapi menurutku bagus yang ini, nggak terlalu mewah. Aku suka yang sederhana,” ujar Karenina mencoba mengabaikan jeritan di kepalanya yang menggemakan banyak hal.   “Kamu, yakin?” tanya Aryo dengan kernyitan sangsi. Seperti bisa membaca kegamangan yang kini Karenina tampilkan di raut wajah yang coba wanita itu sembunyikan.   Karenina hanya mengangguk, lalu melempar pandang ke mana pun yang penting tidak ke wajah Aryo. Karena terakhir kali ia membalas tatapan laki-laki ini, sesuatu diluar kendali nyaris terjadi pada mereka. Tentu saja bukan Karenina yang memulai, tapi Aryo yang sedikit memaksa untuk menciumnya. Namun, wanita itu bersyukur tidak terjadi apa pun karena saat itu memang ada mamanya di rumah. Tidak tahu jika di lain tempat. Hal itu juga yang sebenarnya membuat Karenina sering merasa gamang. Entah mengapa, hati kecilnya seolah berteriak dan mengatakan jika Aryo ini bukan laki-laki baik. Seperti ada sesuatu yang selalu laki-laki ini sembunyikan.   “Ya sudah, besok kamu ikut ke tempat Mbak Ira. Kita selesaikan semuanya, ya. Soalnya minggu depan aku harus ke luar kota.” Mbak Ira yang dimaksud adalah orang yang akan membantu mereka dalam menangani segala sesuatu yang berhubungan dengan dekorasi dan segala macam. Rencananya juga, pesta pernikahan mereka akan digelar di sebuah gedung agar mama Karenina tidak terlalu repot nantinya.   *   Pemandangan hijau serta pegunungan adalah hal yang selalu menemani hari Karenina selama beberapa tahun belakangan ini. Udara dingin menyambut setiap pagi yang ia lalui. Sejak papanya meninggal tujuh tahun yang lalu, Karenina dan mamanya pindah ke kota ini. Kota kecil di kaki Gunung Sumbing, tempat lahir sang mama. Terkadang, ada rindu yang mencuat pada kehidupan masa lalunya. Hiruk pikuk kota Jakarta serta panasnya adalah tempat Karenina besar, dan tentu saja ia tidak akan melupakan tempat itu begitu saja. Namun, saat mengingat segala kepalsuan yang dulu ia miliki, rasanya hidup yang sekarang ia jalani seharusnya menjadi yang terbaik.   “Kok belum nyebar undangan, Mbak?” Pertanyaan itu menyentak lamunan Karenina yang sedang mengamati awan putih di atas langit. Pagi ini sangat cerah, bahkan matahari sudah menampakkan sinarnya tanpa malu.   “Kan masih sebulanan lagi, Sis,” jawab Karenina dengan senyum tipis yang tidak sampai ke matanya. Siapapun yang peka, pasti akan tahu jika sebenarnya pernikahan ini bukanlah hal yang Karenina inginkan. Dan Siska, sepertinya adalah salah satu teman yang memiliki kepekaan tinggi.   Gadis yang sudah dua tahun belakangan ini menjadi teman Karenina, sekaligus rekan kerja di minimarket itu beringsut mendekat. “Aku boleh nanya nggak, Mbak?” tanyanya dengan tatapan menyelidik, bahkan Karenina harus terlihat salah tingkah.   “Tanya apa?” tanya Karenina balik sembari menyibukkan diri dengan laporan bulanan yang sudah ia periksa beberapa kali.   “Kalau aku lihat, kenapa Mbak Nina seperti nggak bahagia dengan pernikahan ini?” Saat itu juga tubuh Karenina menegang, dan dengan gerak kaku wanita itu menoleh. Ada tatapan simpati yang kini Siska tunjukkan. Hal tulus yang tidak pernah Karenina dapat dari seorang teman. Tidak ada raut menghakimi, dan itu selalu bisa membuat pertahanan Karenina lemah.   “Mau aku bahagia atau enggak, ini sudah keputusan yang terbaik kan, Sis?” Siska tidak tahu itu jenis kalimat pertanyaan atau pernyataan. Tapi yang ia lihat, ada kegamangan besar yang kini mata Karenina tunjukkan.   “Katanya, kalau udah mendekati hari H kan memang suka kayak gini, kan? Ada ragu gitu,” imbuh Karenina sembari menunjukkan senyum tipis yang malah terlihat penuh akan keterpaksaan.   Siska menarik pandang sembari menghembus napasnya, lalu gadis itu kembali menatap Karenina sembari berkata, “Tapi yang aku lihat Mbak Nina itu seperti terpaksa ngejalanin ini semua.”   Sebenarnya sudah lama Siska memendam argumennya ini. Ia merasa tidak enak jika harus mencampuri urusan orang lain. Namun, saat sekarang Karenina sendiri yang membuka jalan untuk mereka membahas hal pribadi wanita itu, akhirnya Siska memutuskan untuk menyuarakan pendapatnya. Dan jika memang benar apa yang ia duga, setidaknya masih ada waktu untuk ‘menyelamatkan’ wanita yang dua tahun lebih dewasa di atasnya ini.   Karenina tampak menghela napas, membuat Siska merasa yakin jika dugaannya benar. “Lebih baik malu sekarang, dari pada Mbak Nina nggak bahagia seumur hidup,” lanjut Siska.   Ia tahu resiko apa yang akan Karenina tanggung jika membatalkan pernikahan begitu saja. Cibiran dan olokkan warga, bahkan mungkin sumpah serapah akan terdengar. Mereka tinggal di perkampungan, di mana satu berita kecil akan langsung tersebar. Apalagi semacam pembatalan pernikahan oleh seorang wanita. Hal itu akan menjadi gosip hangat yang mungkin tidak mudah hilang. Tetapi jika dibandingkan dengan resiko tidak bahagia seumur hidup, rasanya itu lebih baik.   Namun, gelengan yang Karenina tunjukkan membuat Siska merasa makin prihatin. “Aku nggak bisa membuat mama malu, Sis. Dia udah cukup tertekan dengan hidup yang ia jalani selama ini. Dan pernikahan ini, adalah hal yang membuat mama bisa tersenyum lagi.”   Siska sudah siap membantah, tapi urung ia lakukan saat mengingat kembali cerita kehidupan Karenina. Seorang gadis kaya yang langsung jatuh miskin dan terpaksa hidup susah di pedesaan. Dulu banyak yang bilang jika wanita ini dan mamanya adalah orang yang sombong. Itu kenapa mereka jarang sekali menginjakkan kaki di kota asal mama Karenina ini berasal. Jika pulang kampung pun, mereka tidak mau berbaur dengan tetangga. Tidak pernah menjawab saat ditegur.   Dan saat pada akhirnya sepasang anak dan ibu ini pulang dengan kondisi tidak lagi memiliki apa-apa, maka tidak heran banyak sekali cibiran yang datang.  Tidak sedikit yang menatap sinis, bahkan mengatakan jika semua yang mereka dapat itu adalah karma. Azab dari Tuhan atas perilaku tidak menyenangkan yang sering mereka lakukan dulu. Tapi bukan itu yang seharusnya kini Siska pikirkan. Maka setelah berperang dengan batinnya, gadis itu hanya mengusap pelan bahu Karenina untuk memberi semangat.   “Aku cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk Mbak Nina. Semoga calon suami Mbak ini memang pilihan terbaik yang dikirim oleh Tuhan,” ujar Siska tulus, yang segera dibalas senyuman oleh Karenina. Dan selanjutnya keduanya mulai membuka minimarket saat jam sudah menunjuk angka sembilan. ^__^__^__^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN