PELAKOR

1617 Kata
Karenina sering mendengar jika kecemasan mendekati hari pernikahan itu memang sering terjadi. Tetapi Karenina yakin, kecemasan itu pasti dibumbui oleh kebahagiaan. Sedangkan apa yang ia rasakan kini malah lebih ke rasa takut. Takut jika apa yang telah ia pilih kini bukanlah yang terbaik. Takut jika pada akhirnya nanti ia menyesal dan tidak lagi ada jalan untuk kembali.   Aryo tidak pernah terlihat marah, dan malah terkesan selalu baik padanya. Entah mengapa itu malah menjadikan ketakutan pada hatinya makin bertambah. Laki-laki itu seolah tengah menyembunyikan sifat aslinya. Karenina takut jika bukan seperti itulah Aryo yang sebenarnya. Harusnya dulu ia menolak saja lamaran ini. Mungkin akan ada cibiran, tapi paling itu hanya berlangsung beberapa waktu. Dan seandainya mamanya marah pun tidak akan lebih dari dua bulan. Tapi— Karenina hanya bisa mendesah pasrah saat melihat kalender yang sudah menunjukkan pertengahan bulan. Itu artinya, pernikahannya dan Aryo akan dilaksanakan satu minggu lagi.   “Ren.” Kepala sang mama menyembul di balik pintu cokelat yang jauh dari kata mewah. Hal yang dulu dipandang miris oleh Karenina saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah peninggalan orang tua mamanya ini. Bahkan dulu Karenina sering menangis sendiri di kamar kecil yang tidak ada setengahnya dari kamarnya di Jakarta.   “Masuk, Ma!” Karenina yang sejak tadi merebahkan diri di kasur segera duduk. Mamanya pun melangkah masuk dan duduk bersisihan dengan putri semata wayangnya.   “Mama nggak nyangka hari itu akan segera tiba,” ujar Nirma, seraya mengusap lembut rambut panjang sang putri yang tidak lagi selembut dulu. Jangankan perawatan salon, bisa makan dengan layak setiap hari saja sudah harus mereka syukuri.   Karenina yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis. Andaikan bisa, ia ingin merengek pada sang mama untuk membatalkan pernikahan ini. Tapi tidak sepatah bantahan pun bisa keluar dari bibirnya. Karenina yang mudah menyuarakan rasa tidak sukanya sudah menghilang. Digantikan dengan Karenina yang lebih memilih hancur daripada melihat sang mama menderita.   “Papa kamu pasti bahagia di atas sana.” Mamanya mengucapkan itu sembari mendongak ke atas, seolah di sana suaminya memang tengah melihat apa yang tengah terjadi di sini. Karenina yang akhirnya ikut mendongak, hanya bisa berharap semoga apa yang ia pilih memang lah jalan yang benar. Dan jika memang bukan, semoga Tuhan mau mencarikan jalan lain yang lebih mudah.   *   Hari itu berjalan seperti biasa. Karenina masih bekerja di One Mart. Minimarket tempatnya mencari penghasilan. Di zaman sekarang, mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Apalagi dengan ijazah yang ia miliki. Bisa masuk ke minimarket ini pun, karena bantuan dari tetangganya.   Hari ini adalah hari terakhir Karenina masuk kerja, karena mulai besok ia sudah harus dipingit. Tradisi yang tidak bisa Karenina tinggalkan. Tapi setelah menikah, ia tidak akan langsung keluar, karena masih ada beberapa hal yang harus ia selesaikan dengan pemilik minimarket ini. Dan setelah mendiskusikan dengan Aryo tentang itu, Karenina bersyukur karena laki-laki itu mau mengerti keputusannya untuk menuntaskan pekerjaan ini sampai akhir bulan.   “Mana yang namanya Karenina?” Seorang wanita berusia tiga puluhan tiba-tiba masuk dengan wajah marah. Karenina yang merasa tidak mengenal wanita itu, dan juga merasa tidak memiliki masalah apa pun segera mengangkat tangannya.   “Saya, Mbak. Ada—“   “Dasar pelakor!” teriak wanita itu lantang. Beruntung One Mart sedang sepi karena waktu juga masih menunjuk angka sepuluh.   Karenina melebarkan mata mendengar tuduhan itu. Baru akan membuka mulut untuk membela diri, wanita itu tiba-tiba berteriak sembari berjalan mendekat. “Kamu tahu siapa Aryo?”   Karenina kali ini mengerutkan kening, lalu beringsut mundur saat wanita itu seperti ingin menariknya. Untung ada meja kasir yang menghalangi mereka. Siska dan Adi yang kebetulan saat itu ada di sana segera mendekat.   “Dia itu suami saya!” teriak wanita itu lagi sebelum ketiga orang yang kini berdiri di depannya menyuarakan apa pun. Tentu saja teriakan itu membuat ketiganya melebarkan mata. Siska dan Adi sontak menatap Karenina yang tampak syok.   “Kamu itu masih muda, kenapa harus merebut suami orang!” Suara itu masih lantang, namun Karenina bisa melihat kepedihan di mata wanita itu.   “Emm, maaf Ibu, lebih baik duduk dulu. Kita bicarakan ini baik-baik.” Siska segera menarik satu kursi untuk wanita itu duduk.   “Teman kami belum tentu salah. Ibu juga harus memberinya kesempatan untuk menjelaskan.” Adi ikut bersuara saat melihat wanita itu seperti ingin menerjang Karenina.   “Mana ada pelakor mau ngaku!” tuduh wanita itu sembari menghempaskan bokongnya pada kursi. Kemarahan masih tercetak jelas.   Sementara Karenina yang masih syok tidak mampu mengatakan apa pun.   “Tolong Ibu jangan teriak-teriak. Kita dengarkan penjelasan satu sama lain.” Adi kembali menengahi, sementara Siska berinisiatif untuk mengganti tanda open di pintu menjadi close. Nanti dia bisa menjelaskan pada Pak Wahid soal ini.   “Mbak Nina juga duduk,” pinta Siska saat sadar jika tubuh Karenina kini bergetar. Tidak hanya syok, tapi Karenina juga merasakan banyak hal tidak menyenangkan di hatinya kini.   “Jadi silahkan, Ibu jelaskan apa maksud Ibu tadi dengan mengatakan jika Aryo itu suami Ibu.” Adi memulai mediasi ini sebagai penengah. Wanita itu pun sudah lebih tenang setelah Siska memberikannya sebotol air mineral, dan menenggaknya setengah.   Bukannya langsung menjawab, wanita itu malah merogoh tasnya, lalu mengeluarkan ponsel dan menyodorkan pada ketiga orang yang kini ada di hadapannya. “Ini Aryo suami saya,” jelas wanita itu sebelum memulai penjelasannya lebih lanjut.   Karenina memilih diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sungguh, dalam mimpi pun dia tidak pernah terpikirkan untuk merebut suami orang. Sementara Siska dan Adi yang juga sudah mengenal Aryo hanya melebarkan mata, lalu segera mengusap lengan Karenina yang nyatanya juga korban. Mereka yakin jika Karenina tidak tahu menahu soal ini.   “Pantesan aja dia itu jarang banget pulang beberapa waktu ini. Setiap kali saya minta diajak ke tempat kerjanya, selalu saja ada alasan. Dan kemarin saya nekat ngikutin dia, dan benar saja kecurigaan saya terbukti,” jelas wanita itu sembari mengusap air matanya yang berjatuhan.   “Saya kaget bukan main saat mendengar kabar ternyata di sini dia memiliki kekasih dan malah mau menikah.” Wanita itu melirik sengit Karenina yang saat ini menunjukkan wajah mendung. Ada malu, dan juga perasaan sakit hati yang kini terpancar dari matanya.   “Dan pas saya cari tahu, ternyata pacarnya cantik kayak gini. Mbak bisa kan cari laki-laki lain? Kenapa—“   “Saya nggak pernah tahu kalau Mas Aryo udah berkeluarga. Dia selalu bilang kalau keluarganya udah nggak ada, dan sekarang hidup sendiri. Kalau saya tahu, nggak mungkin saya nerima lamarannya Mas Aryo. Saya juga wanita, Mbak.” Tentu saja Karenina tidak rela dirinya dituduh yang tidak-tidak, . “Kenapa kamu nggak berusaha nyari tahu? Kenapa kamu percaya aja sama omongan orang yang baru kamu kenal? Gimana kalau saya nggak mutusin buat cari tahu, dan akhirnya kalian menikah?”   Karenina yang tercekat tidak mampu berkata-kata. Yah, dia sadar di sini ia juga memiliki andil atas apa yang terjadi. Seharusnya, ia memang lebih berhati-hati dan tidak dengan mudah mengambil keputusan. Apalagi ia menginginkan pernikahan sekali seumur hidup.   “Ya sudahlah, Bu. Di sini kan kalian sama-sama korban. Kasian Mbak Ninanya kalau dipojokkan seperti ini. Mau nggak mau yang patut disalahkan itu ya suami Ibu.” Siska yang tidak tega melihat Karenina terus disudutkan akhirnya bersuara.   Dan setelah berembuk dengan suasana yang lebih dingin akhirnya wanita itu mau memaafkan Karenina. Lalu keduanya sepakat untuk berbicara langsung pada Aryo.   *   Nirma sangat syok saat putrinya pulang, dan menjelaskan apa yang terjadi. Dengan  air mata yang berderai, wanita itu meminta maaf pada istri Aryo dan tentu juga pada putri semata wayangnya. Ia menyesal karena mengabaikan perasaan Karenina yang sebenarnya ia tahu tidak menghendaki pernikahan ini.   “Maafin Mama, Sayang. Mama egois,” ujar Nirma sembari memeluk tubuh sang anak.   Karenina menghela napas pendek, mengusap pundak mamanya, lalu berkata, “Nggak apa-apa, Ma. Kita jadikan ini pelajaran. Mungkin memang harus begini jalannya.”   “Ya Allah, untung saja kalian belum menikah, kalau sudah—“ Kata-kata itu terhenti oleh tangis yang kian meraung. Sebagai seorang ibu ia merasa sangat gagal, karena hampir saja menjerumuskan anaknya pada jurang kesengsaraan.   Karenina masih terus mengusap punggung sang ibu sembari membaca pesan yang masuk ke dalam ponsel-nya. Saat ternyata pesan itu adalah dari Aryo, maka kepalanya segera berputar pada sosok istri Aryo yang kini terlihat melamun. Wanita itu pasti sedang dalam keadaan hancur.   “Mbak, Mas Aryonya sebentar lagi datang,” ujar Karenina yang diangguki oleh istri Aryo. Dan sesuai rencana yang sudah mereka susun, wanita itu pun segera bersembunyi di kamar Karenina.   Tidak berapa lama, sosok Aryo datang dengan senyuman menawannya seperti biasa. Tapi seperti biasa pula, tidak ada getar di hati Karenina. Malah perasaan biasa itu, kini bercampur dengan  amarah. Jika sesuai rencana, seharusnya mereka mengobrol dulu sebentar, dan Karenina memancing Aryo untuk berkata jujur. Tapi sayang semuanya berantakan saat Nirma beringsut mendekat dan langsung menampar wajah laki-laki itu.   “Ibu?” Aryo tentu saja terkejut dengan serangan mendadak itu. Sementara Karenina hanya meringis melihat wajah Aryo yang memerah.   “Dasar laki-laki kurang ajar! Satu istri kurang, hah? Berani-beraninya mempermainkan anak saya!” Karenina makin meringis malu saat para tetangga mulai berduyun-duyun mendekat ke rumah kecil mereka.   “Maaf Ibu, jangan asal bicara. Maksud—“ Ucapan Aryo terhenti, berganti dengan tatapan terkejut saat sosok istrinya tiba-tiba saja keluar dari dalam kamar Karenina.   “Coba kamu mau ngomong apa? Aku mau dengar,” tantang wanita itu dengan sikap yang lebih tenang. Meski terlihat pancaran kemarahan, tapi wanita itu bisa mengendalikan diri dengan baik.   “Da-dania, kamu?” Wajah Aryo tampak memerah saat itu juga. Ia tidak pernah menyangka jika hari seperti ini akan tiba.   “Kenapa, Mas? Mau ngomong apa kamu?”   Aryo tampak tergagap. Wajahnya sudah merah padam menahan malu. Dan tanpa mengatakan apapun, laki-laki itu pergi begitu saja. Menyisakan dengung dari warga yang berbisik-bisik. Ada juga yang menyorakinya dengan kata-kata tidak pantas. ^___^  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN