HANDIKA ALFARIZKY

1553 Kata
Karenina tidak tahu harus merasa lega atau bagaimana untuk menyikapi kasus yang tengah menimpanya ini. Lega karena pernikahan yang tidak ia inginkan, akhirnya batal dengan sendirinya. Atau sedih, karena kisah tidak diinginkan itu berakhir dengan cara yang tidak menyenangkan.   Meski di sini Karenina sebenarnya adalah korban, tapi tetap saja ada pihak-pihak yang menganggapnya bersalah. Mengatakan jika dia yang terlalu ganjen, sehingga tidak mau tahu latar belakang Aryo. Oke, Karenina tidak akan membela diri. Dia memang salah, karena tidak mau mencari tahu soal latar belakang Aryo. Dan untuk suara-suara sumbang lainnya, biarkan waktu yang membungkam mereka. Karena tangan Karenina hanya dua, dan lebih ia gunakan untuk menutup kedua telinga, daripada harus menutup satu per satu mulut orang-orang yang tentu saja tidak akan sanggup ia lakukan.   “Loh, kirain Mbak Nina mau libur. Aku udah hubungin Mas Adi buat gantiin tadi,” ujar Siska saat melihat sosok Karenina sudah berdiri di depan pintu One Mart.   Karenina memberikan senyum tipis. “Ngapain juga libur, malah sumpek aku di rumah. Belum lagi dengerin omongan warga.”   Siska yang mendengar itu hanya meringis, lalu segera membuka pintu One Mart, dan kemudian mengirim pesan pada Adi yang memang hari ini jatahnya mendapat libur.   “Nggak usah didengerin omongan orang, Mbak. Mau kita bener apa enggak, tetep aja ada yang nggak suka.” Karenina yang setuju dengan kalimat itu mengangguk, lalu segera menyalakan komputer untuk siap-siap membuka One Mart.   “Tapi, harusnya Mbak Nina lega, dong, karena acara pernikahannya gagal?” Kali ini Karenina tersenyum lebar, karena lagi-lagi apa yang Siska katakan memang benar. Meski cara berakhirnya hubungannya dengan Aryo bukanlah dengan cara baik, tapi setidaknya Tuhan menyelamatkannya dari sebuah kehancuran. Karenina masih tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika ia benar-benar menikah dengan laki-laki itu.   “Nanti diganti yang lebih baik sama Allah, kan, Mbak.” Karenina yang sedang mengetik password di layar komputer mendadak diam. Ingin mengamini kalimat yang Siska ucapkan, tapi entah mengapa ada rasa yang mengganjal.   Sebenarnya hal ini sudah terpikirkan sejak kemarin. Ia pikir, bersama Aryo adalah akhir dari kegagalan-kegagalan yang pernah ia alami dalam kisah cinta. Yah, walaupun tidak ada cinta di hatinya untuk laki-laki itu, Karenina pikir benih cinta itu nantinya akan hadir beriringan waktu yang berjalan. Tentu saja pemikiran itu jauh sebelum ia tahu jika ternyata mantan calon suaminya itu sudah beristri. Dan fakta itu mau tidak mau mengusik pemikiran Karenina yang nyaris ia lupakan tentang kegagalan.   Sebelum bertemu Aryo, Karenina sudah sering menerima kegagalan. Dan yang membuatnya sering tidak mengerti, kegagalan yang ia jalani adalah seringnya di lima belas hari pertama ia menjalin sebuah hubungan. Banyak jenis alasan yang Karenina terima sebagai akhir dari hubungannya dengan beberapa laki-laki, dari alasan sepele, hingga yang menghilang secara tiba-tiba sudah sering Karenina alami.   “Sis.” Siska yang tengah mencatat barang-barang kosong di rak makanan menoleh dengan alis terangkat.   “Mungkin nggak si, kalau aku ini terkena karma?” tanya Karenina dengan sebuah ringisan masam.   Siska pun beranjak dari tempatnya untuk mendekat ke arah Karenina. “Karma gimana maksudnya?”   “Kamu, masih ingat nggak ceritaku soal, Dika?”   Siska mengangguk, tentu saja ia ingat betul cerita masa lalu Karenina yang pernah menolak laki-laki bernama Dika sebanyak 15 kali.   “Apa, dulu dia sakit hati banget sama aku, ya. Terus karma yang aku lakuin ke dia dulu itu ngikutin sampai sekarang?” Karenina sedikit menggumam dan menerawang jauh saat mengatakan itu.   “Kenapa Mbak Nina bisa mikir ke situ?”   Karenina menggedikkan bahu, “Sebelum sama Mas aryo, aku itu kalau pacaran pasti putus di 15 hari pertama. Ada yang mendadak ngilang, atau mutusin gitu aja tanpa alasan yang jelas.” Wanita itu mengembus napas lirih.   Siska tidak langsung membenarkan atau membantah, wanita itu malah terlihat berpikir. “Memangnya ..., dulu Mbak Nina keterlaluan banget, ya, sama si Dika, Dika itu?”   Karenina mencoba mengingat apa saja yang ia pernah lakukan pada Dika dulu. Dan sepertinya, ada bagian-bagian yang memang cukup keterlaluan. Ia pernah mempermalukan Dika beberapa kali. Niatnya memang supaya pemuda itu berhenti mengejarnya, tapi bukannya berhenti, Dika malah terus saja mengejarnya tanpa tahu malu.   “Jangan mikir yang enggak-enggak, Mbak. Allah pasti tahu kalau Mbak Nina menyesal, dan mungkin Dia sedang menyiapkan jodoh terbaik untuk Mbak Nina.” Siska memilih untuk tidak memperpanjang obrolan, yang ia yakini akan membuat mood Karenina menjadi tidak baik.   “Tapi, kalau karma itu memang ada. Apa yang harus aku lakuin, Sis?”   Siska kembali berpikir, lalu menatap Karenina dengan pandangan ragu. “Ya, kalau Mbak Nina tahu keberadaan si Dika itu, Mbak bisa minta maaf ke dia, mungkin,” ringis gadis itu yang sebenarnya tidak yakin dengan apa yang ia katakan.   Senyuman masam kembali menghiasi wajah Karenina. “Sayangnya aku nggak tahu dia ada di mana.”   Siska ikut menunjukkan sebuah senyuman masam, lalu menepuk pundak Karenina lembut. “Udah nggak usah dipikirin. Nanti kalau libur aku ajak Mbak Nina jalan-jalan, biar nggak stress.” Mau tidak mau Karenina tersenyum saat mendengar kalimat itu. dan di balik kepelikan hidup yang ia hadapi kini, Karenina bersyukur karena Tuhan mengirimkan beberapa orang baik yang tulus mau menjadi temannya. Dan Siska adalah satu dari segelintir orang itu.   *   Siang itu, kabar tidak menyenangkan hadir bersamaan dengan datangnya Pak Wahid, laki-laki pemilik minimarket tempat Karenina bekerja.   “Apa, Pak? Mau dijual?” Siska yang pertama kali menanggapi pemberitahuan yang baru saja Pak Wahid utarakan.   “Iya, karena sayanya mau pindah ke Batam. Dan kemarin, ada yang mau membeli tempat ini,” jelas laki-laki berusia lima puluh tahunan itu. “Tapi sepertinya, One Mart bakalan ditutup, soalnya sama yang beli mau dibangun rumah makan.”   Ketiga orang yang sengaja dikumpulkan itu langsung melebarkan mata. One mart memang bukan minimarket terkenal macam Indo atau pun Alfa, tapi minimarket ini sudah cukup memiliki banyak pelanggan. Dan beberapa bulan belakang ini, omset penjualan meningkat banyak. Jadi, rasanya sangat sayang jika harus ditutup.   “Sayang banget, Pak. One Mart udah mulai dikenal, loh. Bahkan omsetnya naik akhir-akhir ini.” Karenina yang memang dipercaya sebagai pemegang keuangan ikut menimpali.   “Kalau kerja di sini, saya juga bisa nyambi-nyambi kerjaan lain, Pak.” Adi yang juga berprofesi sebagai pedagang macam-macam barang, akhirnya ikut menimpali. Selesai dengan shift One Mart, biasanya dia memang akan menjual apa pun yang sedang tersedia. Bisa motor, burung, sepatu, apapun itu yang halal dan menghasilkan uang.   “Gimana, ya. Saya juga sebenarnya sayang, tapi mau gimana lagi, kalau sudah berpindah tangan saya udah nggak punya wewenang untuk mengatur.”   Ketiga orang itu kembali saling pandang, lalu terlihat berpikir.   “Kalau, kita nemuin orang yang mau beli, boleh?” Karenina yang menyuarakan ide itu. dan dua teman lainnya ikut mengangguk setuju.   “Aduh, gimana ya. Sayanya yang nggak enak nanti,” ujar pak Wahid dengan dahi berkerut-kerut.   “Kita nggak bakalan bawa-bawa nama Bapak, kok.” Siska ikut merayu.   “Nanti coba saya pertimbangkan dulu, ya. Ini juga masih dalam proses kok jual belinya. Dan misalkan tutup, juga nggak mungkin bulan ini. Paling cepat satu bulanan lagi,” jelas laki-laki yang sudah memiliki uban itu membuat ketiga karyawannya hanya bisa mendesah pasrah.   *   “Gimana dong, Mbak. Kalau nggak di one mart, aku mau kerja di mana lagi?” rengek Siska dengan raut sedih. Maklumlah, ia dan Karenina sama-sama hanya memiliki ijazah SMA. Dan dengan usia mereka yang sudah lebih dari duapuluh tahun, sepertinya susah jika mencari pekerjaan lain. Gaji di One mart memang tidak bisa dikatakan besar, tapi pak Wahid sering memberikan mereka bonus jika omset penjualan sedang naik. Itu kenapa ketiganya juga gencar ikut mempromosikan One mart lewat media online.   “Aku juga nggak yakin bakalan dapet kerjaan lain,” pesimis Adi, yang hanya memiliki ijazah SMP. Dan beberapa bulan lagi, ia memiliki rencana untuk melamar kekasihnya.   Karenina yang terus ditodong seperti itu menjadi bingung. Ia pun sebenarnya juga tengah membingungkan hal yang sama. Sebenarnya bisa saja ia melamar pekerjaan di pabrik kayu, lowongan pekerjaan yang paling banyak membutuhkan karyawan. Tapi mamanya tidak pernah mengizinkannya untuk bekerja di tempat seperti itu.   “Aku juga bingung,” desah Karenina sembari mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya.   “Satu-satunya cara cuman nemuin calon pembeli itu, Mbak. Desak pak Wahid,” bujuk Siska dengan wajah memelas. Di antara ketiganya, Karenina memang yang paling dekat dengan pemilik One Mart itu. Selain karena ia yang sering melapor hasil keuangan, juga karena rumah mereka tidak terlalu jauh. Bahkan mamanya dan istri Pak Wahid juga memiliki hubungan baik.   “Oke, deh. Nanti aku coba ngomong lagi, ya. Tapi kalian juga harus siap dengan segala resikonya,” ujar Karenina yang langsung ditanggapi anggukan oleh dua teman lainnya.   Dan sore harinya, Karenina benar-benar mendatangi Pak Wahid. Segala macam alasan ia gunakan agar laki-laki itu luluh. Dan ternyata usahanya tidak sia-sia, meski dengan sedikit berat hati, Pak Wahid memberikan alamat rumah calon pemilik One Mart yang ternyata tinggal di Kota Semarang.   *   Keesokan paginya Karenina pun mendatangi alamat itu bersama dengan Adi, karena memang laki-laki itu yang memiliki kendaraan. Namun, apa yang ia temui di kota itu sungguh tidak pernah Karenina bayangkan sebelumnya. Sosok yang telah menghilang tanpa jejak itu muncul dengan penampilan lain. Bahkan Karenina sempat tidak mengenalinya.   Handika Alfarizky, nama yang Pak Wahid tulis di sebuah kertas beserta alamat tempat tinggal laki-laki itu. Bagaimana bisa ia melupakan nama, yang bertahun-tahun lalu adalah nama yang sering mampir untuk menganggu hari-harinya. Sumber dari segala karma, yang mungkin saja terjadi pada Karenina akhir-akhir ini.  ^___^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN