“Ya udah, mendingan nggak usah jadi lah, dari pada aku dianggap kayak tukang ojek.” Karenina hanya bisa meringis saat mendengar gerutuan dari seberang. Alfa baru saja menghubunginya melalui telepon, dan mengabarkan jika sebentar lagi laki-laki itu akan menjemput Karenina di rumah. Sementara Karenina yang mendapat kabar itu, malah menolak apa yang sudah Alfa rencanakan. Ia malah meminta Alfa untuk menunggunya di tempat biasa. Wajar jika Alfa marah, karena Karenina memang sedikit keterlaluan kali ini. “Jadi gimana?” tanya Alfa dengan nada jengkel yang sengaja tidak disembunyikan. Ia memang ingin Karenina tahu jika dirinya sedang benar-benar marah. “Aku balik Semarang sekarang kalau memang nggak jadi pergi. Mungkin bulan depan baru ke sini lagi,” imbuh laki-laki itu yang seketika mem

