“Jadi bagaimana?” tanya Alfa saat pada akhirnya Karenina selesai dengan makanan yang tidak bisa wanita itu habiskan. “Kamu nggak sedang main-main kan, Dik?” Entah mengapa Karenina tiba-tiba saja merindukan panggilan itu. Meskipun ia tahu, jika laki-laki di depannya ini bukan lagi Dika yang dulu pernah menggilainya. Alfa tersenyum mendapati wanita ini masih mengingat nama panggilan untuknya dulu. “Jika yang kamu maksud serius itu untuk perasaan yang aku punya, aku sangat serius Karenina.” Wanita itu tersenyum sendu, lalu matanya memilih menatap persawahan yang kini membentang jauh di samping rumah makan. “Tapi aku bukan lagi Karenina yang dulu.” “Buatku kamu tetap sama,” sahut Alfa cepat yang membuat mata Karenina kini terarah ke matanya. Ada banyak keraguan yang sorot mata

