"Udah cocok jadi ibu kamu, All," celetuk suara bariton seorang pria membuat Allegra tertawa. Dia tidak menyahuti ucapan pria itu, tangannya justru sibuk mengelus rambut lembut batita dihadapannya.
Allegra tersenyum gemas kala melihat wajah serius bocah itu yang tengah asik memainkan lego dengan tangan kecilnya yang turut aktif dalam menyusun lego tersebut menjadi bangunan memanjang ke atas.
"Pintar banget sih, kamu," puji Allegra seraya mencium pipi batita bernama lengkap Vazelio Savier Atmaja yang membuat si empu langsung mengalihkan perhatiannya dan menatap Allegra dengan mata bulatnya yang lucu. Batita itu tersenyum, menampilkan giginya yang kecil nan putih lalu kembali fokus pada kesibukannya semula.
Saat ini Allegra tengah berada di kediaman salah satu sahabat Keenan yang juga merupakan mantan kekasihnya dulu. Siapa lagi kalau bukan Sean Savero Atmaja. Setelah menghubungi pria itu yang mengatakan kalau dirinya sedang berada di rumah. Tanpa banyak kata, Allegra langsung mengemudikan mobilnya menuju kediaman elit milik Sean. Dan sekarang, di sinilah dia berada. Duduk di sebuah karpet bulu yang luar biasa lembutnya dengan memandangi anak laki-laki berusia 3 tahun yang tak lain adalah putra tunggal Sean dengan sang istri, Zelena Danier Atmaja.
Walau Allegra dan Sean adalah mantan kekasih, namun status itu tak membuat mereka canggung ketika bertemu. Justru sebaliknya, mereka sangat dekat layaknya dua saudara kandung yang saling menyayangi.
Menurut Sean maupun Allegra, semua kisah mereka yang terjadi sebelumnya hanya masa lalu yang sudah berlalu. Tak perlu dipikirkan lagi, karena mereka sudah memiliki jalannya masing-masing.
Begitu pun dengan Zelena. Dia sama sekali tak cemburu melihat kedekatan suaminya dan Allegra. Bagi perempuan itu, Allegra adalah sosok malaikat yang telah membuat hidupnya berubah.
Karena bagaimanapun, Allegra merupakan orang yang sangat berperan penting dalam keuntuhan rumah tangga Zelena dulu. Membuat ikatan pernikahan yang awalnya tak dilandasi cinta bisa bertahan sampai sekarang. Allegra begitu baik pada Zelena. Dia juga yang meyakinkan kedua orang tua Sean terutama mamanya yang pada saat itu menentang keras pernikahan mereka.
Bahkan, perempuan itu nyaris dilecehkan oleh seseorang di masa lalu untuk menyelematkan nyawanya yang pada saat itu tengah mengandung buah hatinya dengan Sean. Jadi, tak ada alasan khusus untuk Zelena merasa cemburu pada Allegra yang nyatanya sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.
"Walna?" ucap suara itu membuat Allegra mengalihkan perhatiannya dan mendapati Lio yang tengah memandang dirinya sembari menunjukkan sebuah lego berwarna biru.
Allegra tersenyum, "Coba Lio yang tebak itu warna apa?" alih-alih menjawab, dia justru melemparkan pertanyaan untuk mengasah kemampuan bocah 3 tahun itu.
"Iyo?" Allegra mengangguk saat Lio menujuk dirinya sendiri.
"Ijau?" tebaknya polos.
Allegra menggeleng lalu tersenyum, "Coba tanya sama Papa."
Lio mengangguk lucu. Dia bangkit untuk menghampiri ayahnya yang tengah duduk di sebuah sofa yang tak jauh dari tempatnya.
"Pa, ini walna apa?" Diperlihatkan lego itu pada Sean setelah Lio sampai di hadapan pria itu.
"Lio tau langit warnanya apa?" Sean bertanya sambil mengangkat tubuh Lio dan mendudukkan di atas pangkuannya.
Allegra tersenyum melihat interaksi Sean dan Lio. Dia mengamati tanpa mau ikut campur dalam obrolan menyenangkan antara ayah dan anak itu. Tanpa sadar, dia mengelus perutnya yang hanya berisi sisa makanan. Sembari membayangkan betapa menyenangkan pasti melihat interaksi seperti itu setiap hari di rumahnya.
"Ante, kata papa ini walnanya bilu," kata Lio yang sudah berada di hadapan Allegra, membuat perempuan itu terperanjat karena sibuk melamun.
"Lio emang anak yang paling pintar," puji Allegra setelah berhasil mengendalikan dirinya.
Setelah itu, dia berjalan menghampiri Sean. Meninggalkan Lio yang kembali bermain dengan para legonya. Ia duduk di samping pria itu dengan mata yang tetap fokus mengamati kegiatan yang dilakukan Lio.
"Are you okay?"
Allegra menoleh dan menatap pria itu heran, "aku?" tanyanya menunjuk diri sendiri. “Emangnya ada apa denganku?”
Terdengar helaan nafas, namun Allegra berpura-pura tak mendengar. Dia mengerti maksud Sean dan itu membuatnya terlihat sangat menyedihkan.
"Jangan denial terus sama perasaanmu saat ini. Aku tahu, kamu pasti sedang kacau karena berita--"
"Aku nggak pernah denial! Kamu nggak tahu apa-apa tentang diriku," sela Allegra cepat. Dia menatap pria itu. Perlahan wajah ramahnya berubah menjadi sorot dingin.
Sean tersenyum mengejek, "Kamu nggak akan datang ke sini dan membatalkan jadwal pemotretanmu jikalau keadaanmu baik-baik saja, Allegra" jawabnya, "Aku tahu. Kamu sangat mencintai pekerjaanmu sebagai model, sampai-sampai kamu selalu menomorsatukan pekerjaan di atas segalanya. Tapi lihat sekarang? Kamu rela me-reschedule jadwal pemotretan dengan alasan mau bertemu Lio. Bukankah aneh?"
Allegra bungkam. Apa yang diucapkan Sean adalah fakta. Dia memang ingin menghindari masalah itu sejenak dan datang ke rumah Sean dengan dalih ingin bertemu Lio.
"Kamu benar," aku supermodel itu pada akhirnya. Dia mengalihkan pandangan, enggan bersitatap dengan mata Sean.
"Aku nggak ngerti lagi sama hubunganmu dan Keenan. Semakin ke sini hubungan kalian terlihat semakin rumit dan abu-abu," ucap Sean, "Kenapa nggak jujur ke keluarga Danawangsa?"
"Nggak semudah itu," jawab Allegra pelan.
"Kalian belum mencobanya."
Allegra tersenyum miris, "karena aku tau bagimana endingnya," dia menghela nafas, "Watak Opa Ganendra, Om Tama juga Om Damian itu sama. Keras. Yang aku takutkan, kalau kami ngomong sejujurnya ke Keluarga Danawangsa. Mereka justru akan misahin kita."
Sean menatap Allegra prihatin. Dia tahu bagaimana perjuangan Allegra dan Keenan hingga bisa bersatu seperti sekarang. Sebab, dia adalah orang yang pernah terlibat dalam hubungan itu.
"Katanya kamu mau nikah?" tanya Sean mengalihkan pembicaraan yang langsung mendapatkan anggukan Allegra, "dan itu dengan lelaki yang belum menyelesaikan kuliahnya?" sekali lagi Allegra mengangguk, "Siapa?"
"El."
Sean berdecak gemas mendengar penuturan singkat perempuan itu, "nama lengkapnya!"
Allegrau terdiam. Mencoba mengingat-ingat nama panjang yang disebutkan oleh calon suaminya, "Elsaka Antariksa Naraga."
"Naraga?"
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Apa kamu pernah dengar nama itu?" Allegra mengerutkan kening. Sejujurnya saat Elsaka menyebutkan nama panjangnya, dia sedikit familiar dengan nama belakangnya.
"Ya, tapi lupa."
"Dia---"
"Silahkan diminum, Allegra," sela suara wanita yang datang dari arah dapur dengan membawa sebuah nampan berisi minuman.
"Terima kasih, Kak," sahut Allegra pada Zelena yang kini sudah bergabung bersama dirinya dan Sean.
"Sepertinya dia sepupunya Geo," Sean meneruskan ucapannya yang tertunda karena kehadiran sang istri.
"Bang Geo?"
"Geo?"
Allegra dan Zelen bertanya secara bersamaan.
"Siapa yang sepupunya Geo?" lanjut wanita berusia 27 itu yang tidak tahu menahu dengan arah pembicaraan mereka.
"Calon suami Allegra, sepertinya dia sepupunya Geo."
"Memang siapa namanya?" tanya Zelen penasaran. Dia mengamati wajah Allegra yang sedikit muram.
"Elsaka Antariksa Naraga," jawab Allegra buka suara.
Mendengar itu, otak Zelen secara cakap langsung menyebutkan nama panjang sahabat suaminya, "Geovano Steven Naraga. Ah, ya benar. Mereka memiliki nama belakang yang sama."
Naraga. Pantas nama itu terdengar tidak asing di telinganya. Ternyata nama belakang tersebut juga dimiliki oleh Geo.
"Terus bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Keenan?" Sean bertanya sesekali mengawasi kegiatan yang dilakukan putranya.
"Akan tetap berjalan," ucap Allegra yang kini menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Melihat keterdiaman sepasang suami-istri itu, dia kembali melanjutkan perkataannya, "tujuan kami menikah salah satunya untuk menutupi hubungan ini dari semua orang yang sudah mulai curiga."
"Apa itu nggak akan menimbulkan masalah baru?" Zelen bertanya sekaligus mengingatkan perempuan itu, "Jangan sampai kamu dapat getah, karena udah hadir di tengah-tengah rumah tangga orang, All."
"Bukan aku yang hadir di rumah tangga mereka, tapi dia yang udah jadi orang ketiga di hubungan kami."
"Aku tau. Tapi jika kalian menikah, maka semuanya akan tampak berbeda. Akan ada batasan-batasan yang nggak boleh kalian lewati," jelas Zelen lalu mengelus bahu Allegra yang telanjang, "Jangan main api, kalau kamu nggak mau terbakar oleh api itu, Allegra."
Allegra terdiam. Mengusap wajahnya frustasi. Dia tahu dan dia akan menerima konsekuensinya, apapun yang terjadi kedepannya.
"Allegra, boleh aku bertanya sesuatu?" Sean berucap dengan hati-hati dan itu membuat Allegra bingung. Tak biasanya pria itu meminta izin terlebih dahulu.
"Maaf bila menganggu privasimu, kamu boleh tidak menjawab, kalau ini membuatmu nggak nyaman," ucap Sean yang semakin membuat Allegra penasaran, "Apa kamu pernah tidur dengan Keenan?"
Allegra terperanjat. Dia menatap Sean lekat. Antara mau menjawab atau tidak. Namun pada akhirnya, dia mengguk ragu.
Sean dan Zelena membulatkan mata. Sudah sejauh itu kah hubungan mereka? "Serius?"
Sekali lagi Allegra mengangguk.
"b******k!" komentar Sean tidak mengaca. Padahal sebelum menikah dengan Zelena, dia, Keenan, Geo dan dua teman mereka lainnya sering sekali keluar masuk klub malam. Hanya untuk berkumpul dan merilekskan diri, bukan yang lainnya.
"Pakai alat kontrasepsi?" kali ini Zelena lah yang bertanya.
Allegra menggeleng, "Nggak.'
"Kenapa kalian nekat? Bagaimana kalau sewaktu-waktu kamu hamil?" ucap Zelen tak habis pikir.
"Nggak akan hamil," saut Allegra singkat.
"Emang salah satu dari kalian ada yang mandul?"
Allegra menggeleng tegas. Enak saja dirinya dan Keenan dituduh tidak bisa punya anak, "Gimana mau hamil kalau nggak pernah masuk?"
"Apa?" Zelen dan Sean kompak menatap Allegra bingung, namun ekspresi itu tak bertahan lama, ketika menyadari maksud ucapan Allegra.
Terdengar hembusan nafas lega dari mulut wanita berusia 27 tahun itu, "Bagus deh. Aku sarankan jangan berbuat diluar batas sebelum kalian menikah, walaupun peluang itu sangat kecil," Sesaat wajah Zelen berubah, "Ketika kalian melakukan itu dan ternyata bukan Keenan lah yang menjadi suamimu. Kamu akan merasakan perasaan bersalah saat orang yang akan menjadi suamimu bukanlah orang pertama yang menyentuhmu," Pandangan Zelen bergulir ke arah Sean, "Padahal, kamu sendiri adalah wanita pertama untuknya."
Sean yang mengerti maksud istrinya, segera menarik wanita itu ke dalam pelukannya. "Kita sudah sepakat untuk tidak membahasnya lagi."
Allegra yang melihat itu ikut tersenyum, meski dalam hatinya terbesit rasa iri dengan kisah mereka.
Pernikahan Sean dan Zelena memang sempat di tentang oleh orang tua Sean karena alasan yang klise. Namun pada akhirnya, orang tua Sean luluh dan menerima Zelena sebagai menantunya karena melihat perjuangan keduanya.
"Kalau ada masalah apa-apa, kamu bisa cerita ke aku atau ke Zelena. Pasti kami akan membantumu," Allegra yang mendengar itu hanya mengangguk.