Chapter 9

1878 Kata
"Gimana pertemuanmu dengan calon suamimu?" tanya seorang pria paruh baya tanpa perlu repot-repot mengalihkan pandangan dari pekerjaannya. "Berjalan lancar kan?" Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat Allegra yang tengah duduk sembari membaca majalah fashion mencebikan bibir mengingat pertemuannya dengan Elsaka beberapa jam yang lalu. Dia meletakkan majalah di atas meja yang berada di hadapannya. "Papi gimana sih? Kenapa papi jodohin aku sama lelaki yang berpenampilan cupu? Papi kan tau bagaimana standarku dalam memilih kekasih apalagi mengangkut penampilannya," ujar Allegra penuh permusuhan. Dia bangkit dan berjalan menghampiri Adrian yang masih sibuk dengan kertas-kertas yang tidak dia pahami, sebelum akhirnya mendudukkan diri tepat di hadapan pria paruh baya itu. "Boy crush-ku itu kayak Kai dan Sehun EXO, V BTS, Jackson GOT7 dan juga Cha Eunwoo Astro, Pi," aku Allegra dengan menyebutkan nama idolanya. Mendengar ucapan putri sulungnya, Adrian langsung mengalihkan pandangan dari pekerjaan dan menatap Allegra sepenuhnya, "Sudah berapa kali papi ingatkan kalau ini bukan perjodohan?" bantahnya menyangkal tuduhan Allegra. "Saka sendiri yang datang ke papi dengan niat ingin melamarmu," tambahnya yang membuat Allegra kembali berdecak. "Sama aja! Papi menerima El juga karena kalian sudah saling mengenal kan?" tanya Allegra tepat sasaran, "ini bisa dibilang nepotisme, Papi," ujar Allegra mengundang tatapan bingung Adrian. "Nepotisme?" tanya pria itu tak mengerti. Allegra memutar bola matanya malas, "Elsaka bisa nikah sama aku karena ada orang dalam yang memberi lampu hijau," dia menghentikan ucapannya lalu mencebikan bibirnya, "dan orang dalam itu ya papi sendiri," lanjutnya menahan kesal. Bukannya marah, Adrian justru terbahak mendengar penuturan putri sulungnya. "Nepotisme ya? Ahahaha! Kamu ini paling bisa membuat papi bahagia," tutur Adrian masih dengan suara tawanya, "tapi serius deh. Papi menerima Saka bukan asal nerima begitu aja. Sebenarnya papi udah suka sama dia sejak pertama kali bertemu. Dia anak yang sopan, baik juga pintar. Dan yang terpenting, kita tahu bibit, bebet dan bobotnya." "Kenapa nggak papi aja yang nikah sama dia?" tukas Allegra yang disambut decakan Adrian. "Kalau bisa papi malah ingin menukarkan Aska dengan Saka," saut pria paruh baya itu, "Melihat kelakuan adikmu yang sangat berbanding terbalik dengan sifat kalem Saka terkadang membuat jiwa Papi iri," Adrian berkata dengan wajah yang pura-pura menyedihkan. "Ya lihat dulu dari mana bibitnya?" tanya Allegra membuat wajah masam Adrian perlahan muncul, "Aska nggak akan punya sifat petakilan kalau nama panjangnya Askara Kiano Teguh, bukan Askara Kiano Danawangsa," cibir Allegra tajam. See, sebenarnya jika dikulik lebih jauh, tak ada bedanya antara Aska dan Allegra. Mereka sama-sama memiliki mulut cablak. Namun berbeda dengan Aska, Allegra begitu pandai dalam menutupinya. Ditunjang lagi dengan penampilan dan pembawaannya yang kalem. Jadi tak banyak yang tahu sifat Allegra yang satu ini. Mereka hanya tahu Allegra Kiana Danawangsa yang molek, anggun dan selalu tampil elegan. "Harusnya kamu bersyukur punya orang tua seperti papi," celetuk pria beranak dua itu. Dia menutup map berisi berkas yang sudah ditandatangani dan meletakkannya di atas map-map lain. Kemudian bangkit dan berjalan menuju sebuah filling cabinet yang terletak tak jauh dari tempatnya dengan membawa serta tumpukan map tersebut. Setelah sampai, pria setengah abad itu langsung membuka laci kemudian meletakkan tumpukan map tersebut ke laci paling atas. "Coba kamu anaknya Damian atau bang Tama, sudah tertekan sejak lahir kamu," ujar Adrian setelah mendudukkan dirinya di kursi kebanggaannya. Dalam hati Allegra menyetujui penuh ucapan sang papi. Diantara anak-anak Danawangsa yang lain, memang Adrian lah yang lebih santai dan longgar dalam mendidik anak-anaknya. Dia adalah tipe orang tua open minded yang lebih cenderung menempatkan diri sebagai teman, bukan papinya. Hal itu dia lakukan untuk menciptakan bonding yang lebih erat dan kuat di antara kedua anaknya, agar Allegra dan Aska tidak pernah canggung maupun sungkan untuk bercerita atau mengeluarkan pendapat pada dirinya. Apalagi setelah perceraiannya dengan sang mantan istri. Dia harus benar-benar bisa menempatkan diri untuk membuat keduanya nyaman dan tidak tertekan. Ya meskipun demikian, aturan kesopanan tetap ditegakkan dalam hubungan keluarga itu. Allegra dan Aska tetap memiliki batas yang tidak boleh dilewati oleh mereka. Dan sekarang terbukti, hubungan darah mereka benar-benar sangat menyenangkan. "Kenapa pembahasannya jadi kemana-mana?" tanya Allegra saat menyadari topik pembicaraan mereka jadi melenceng jauh. "Kamu yang mulai," jawab Adrian santai. Allegra tak menghiraukan dan menatap lekat sang papi, "sebenarnya aku nggak mempermasalahin umurnya ataupun dia yang hanya sebatas orang asing di hidupku, Pi, tapi yang buat aku nggak suka itu penampilannya. Cara berpakaiannya yang kampungan," ucap Allegra mengeluarkan keluh kesahnya. "Ya kamu harus merubah penampilan dia dong. Katanya supermodel yang jadi ikon dunia fashion?" "Tapi kalau dia-nya nggak mau ya percuma. Aku berusaha keras buat merubah penampilannya, tapi kalau dia stuck di tempat nggak mau berubah yang sama aja," sanggah Allegra dan Adrian mengangguk mengerti. "Terus kamu maunya bagaimana?" tanya pria itu membuat Allegra bungkam. Allegra juga bingung dengan dirinya sendiri. Dia selalu berkata jika menyetujui lamaran ini, namun sebagian hatinya yang denial membuat perasaannya kalut dan mencoba mencari-cari alasan untuk mendapatkan kepuasan hatinya yang tersisa. Menghembuskan nafas pelan, sebelum akhirnya meyakinkan diri sendiri tentang keputusan yang akan diambilnya. Ya, sesuai tujuan awal, dia akan menikahi Elsaka apapun kondisi lelaki itu. Allegra mengedarkan pandangan untuk mengalihkan beban pikiran. Dan matanya langsung disajikan oleh interior yang hampir semuanya bercat putih dengan dinding kaca besar berukuran 2,5×3 meter yang berada di tengah-tengah ruangan. Dari lantai 28 ini, kita bisa melihat secara langsung pemandangan jalan raya ibu kota yang padat dan sesak oleh kendaraan bermotor. Sedangkan di belakang kursi papinya, terdapat lemari kayu berwarna coklat dengan ornamen mozaik yang tampak pas dengan desain interior. Tak lupa satu set sofa berwarna putih turut melengkapi keindahan dari ruangan wakil direktur itu. Ya, Adrian adalah wakil direktur di perusahaan keluarga Danawangsa, lebih tepatnya di DNW Entertainment yang merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri hiburan. DNW sendiri memiliki 2 anak cabang, yaitu Loveliness Models yang sekarang dipegang oleh Keenan dan satunya lagi adalah Label GZ. Label GZ sediri merupakan perusahaan yang mengelola rekaman musik dan penjualannya, termasuk promosi dan perlindungan hak cipta. Label rekaman ini sudah banyak menghasilkan musisi berbakat yang karyanya telah banyak diminati dan diterima oleh masyarakat luas. Begitupun dengan DNW Entertainment yang sukses dalam melahirkan aktor dan aktris bertalenta yang tak bisa diragukan lagi bakatnya dalam berakting. Dan rencananya, setelah ini keluarga Danawangsa akan melebarkan sayap menjalin kerjasama dengan keluarga Syailendra untuk mendirikan sebuah perusahaan real estate yang akan dibangun di atas lahan milik keluarga Syailendra. Dan hal itu juga salah-satu alasan yang memprakarsai terjadinya perjodohan antara Keenan dan Raina. Juga satu lagi, beberapa bulan lalu putra sulung keluarga konglomerat itu, Pratama Syahreza Danawangsa dengan menggunakan DNW Entertainment telah berhasil mengakuisisi 30% saham Market Store senilai 3 triliyun. Dimana perusahaan retail itu merupakan anak perusahaan dari Atmaja Corp, yaitu perusahaan milik keluarga Sean Savero. Sahabat Keenan dan mantan kekasih Allegra. Jadi tak heran kan dengan ucapan Allegra tempo lalu yang mengatakan bahwa keluarga Danawangsa tidak akan semudah itu jatuh miskin? Namun dari seluruh anggota keluarga Danawangsa, hanya Allegra yang terjun ke dunia entertainment dan sepertinya Zico akan meniru jejak Allegra, bukan sebagai model tapi sebagai aktor. "Undangan siapa ini, pi?" tanya Allegra saat matanya tak sengaja melihat sebuah kertas yang dia ketahui sebagai undangan pernikahan. Dia mengambilnya dan membolak-balikan kertas itu. Sangat mewah dan elegan. Adrian mengalihkan pandangan ke sebuah kertas berwarna gold berukiran daun yang tengah di pegang putrinya. "Undanga pernikahan Keenan dan Raina," jawabnya singkat. Allegra mematung. Apa dirinya tidak salah mendengar? Undangan pernikahan ... "Keenan?" tanya Allegra lirih. Dia membeku sejenak, wajahnya berubah pias. Dia meneguk ludahnya kasar. Kekalutan yang tadi dia rasakan perlahan menguar kala mendengar berita mengejutkan dari mulut papinya. Dan satu anggukan mantap dari pria itu semakin membuat tubuhnya lemas tak bertenaga. "Kenapa sudah menyebar undangan? Bukannya pernikahan Mereka diadakan 1 bulan lagi?" Allegra mati-matian mempertahankan suaranya agar tidak bergetar. Dia tahu, pada akhirnya semua ini akan terjadi pada dirinya. Ketika harus menyaksikan orang yang dicintai berada di altar bersama wanita lain. Tapi, apakah dia sanggup melihatnya secara langsung? Sepertinya tidak. Adrian mendengus mengingat cerita dari sang kakak tertua yang mengungkapkan alasan mengapa pernikahan Keenan dan Raina dimajukan. "Sepupumu itu sepertinya sudah nggak tahan," ujarnya membuat Allegra mengernyit, bingung. "Kemarin Maura nggak sengaja lihat tanda merah di leher Keenan," Sesaat perempuan berusia 24 tahun itu mematung mendengar penuturan yang keluar dari mulut sang Papi. "Udah beberapa kali juga pembantu rumahnya menjumpai noda lipstik dan aroma parfum perempuan di kemejanya. Dan bang Tama menebak kalau anaknya pasti sudah berbuat diluar batas. Karena takut kebobolan, akhirnya pernikahan mereka dimajukan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan," jelas Adrian membuat wajah Allegra memucat. "Oh s**t!" umpatannya tanpa sadar. Jadi semua orang mengira kalau Keenan dan Raina telah berbuat ...? Sialan! Ini semua terjadi karena kecerobohannya sendiri. Dan dia yang telah membuat pernikahan itu dimajukan. Double s**t!! "Kamu mengumpat di depan Papi, Allegra?" Adrian bertanya pada Allegra, namun perempuan itu hanya diam. "Mau kemana kamu?" lanjutnya saat melihat putri sulungnya bangkit dari kursi. "Ada urusan penting." --oOo-- Allegra memarkirkan mobilnya secara asal di halaman luas sebuah rumah mewah berlantai tiga dengan gaya Mediterania Klasik. Dia bergegas membuka pintu mobil dan berjalan cepat ke arah pintu coklat yang tak jauh dari tempatnya berada. Allegra hendak membuka pintu tersebut, sebelum suara lembut seorang wanita masuk ke indra pendengarannya. Dia berbalik dan mendapati tantenya tengah berjalan menghampiri dengan sebuah kantong plastik di tangan. "Loh Allegra tumben kesini. Ada apa?" tanya wanita paruh baya itu. Dia menyerahkan kantong belanjaannya kepada sang asisten rumah tangga yang sedari tadi mengekori dari belakang, "Mau ketemu Om-Tante atau Keenan?" Allegra berusaha untuk tersenyum. Tidak susah, karena dia pandai dalam menyembunyikan emosinya, "Aku mau ketemu Keenan, Tante." Kening Athena, mama Keenan terlihat mengerut, "Ada masalah? Kamu terlihat berantakan," tangannya bergerak menyentuh tubuh Allegra. Masih dengan menampilkan senyum hangatnya, Allegra kembali berbicara seolah tak memiliki beban apapun dalam hidupnya, "Ada salah satu perancang busana terkenal yang menawari Allegra untuk datang ke pagelaran pekan mode di Paris Fashion Week, tapi desainer itu belum mengajukan kontrak kepada Agensi," penjelasan Allegra yang tidak sepenuhnya berbohong. "Papimu sudah memberi izin?" tanya Athena penasaran. Pasalnya semua anggota keluarga tahu, Rian tidak selalu memperbolehkan Allegra untuk menerima tawaran fashion show ke luar negeri karena alasan kesehatan Allegra. "Mulai sekarang papi nggak akan ikut campur mengenai perjalanan fashion ke luar negeri. Dia sudah membebaskan Allegra dan ini menjadi langkah awal aku untuk meraih cita-citaku sejak kecil," jawab Allegra membuat Athena tersenyum kecil. "Oh iya. Ngomong-ngomong kamu udah kasih tahu Keenan kalau mau datang ke sini?" tanya Athena yang dijawab gelengan Allegra. "Pantas," gumamnya yang masih bisa didengar Allegra. "Kenapa, tante?" "Baru aja sekitar 15 menit yang lalu dia pergi sama Rain buat fitting baju pengantin." "Fitting baju pengantin?" cicit Allegra mengulangi ucapan Athena. "Iya." Allegra kembali tersenyum, walau di dalam sana hatinya tengah menjerit pilu, "Oh ya udah kalau begitu. Allegra langsung pulang aja." "Loh kamu nggak mau nunggu sampai Keenan pulang?" Allegra menggeleng, "Nggak usah, Tan. Nanti tolong sampaikan ke Keenan kalau aku ke sini," ucap Allegra. Dia berbalik lalu berjalan meninggalkan kediaman putra sulung keluarga Danawangsa tersebut Dan seketika itu wajah ramahnya langsung berubah menjadi wajah datar dengan sorot mata yang kosong. Sebelum memasuki mobilnya, Allegra menyempatkan diri untuk menghubungi seseorang. Dia terlihat sibuk mengotak-atik hape lalu menempelkannya ke telinga. "Atur ulang jadwal pemotretan. Hari ini gue nggak bisa datang," tanpa membiarkan seseorang di sebrang sana melayangkan protes, Allegra segera mematikan sambungan telepon. Kemudian beralih ke nomer lain. "Kamu dimana?" "..." "Oke. Aku ke rumahmu sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN