Chapter 8

1343 Kata
Setelah mendapatkan sebuah pesan singkat mendadak dari sang papi tercinta yang memerintahkan Allegra untuk bertemu dengan calon suaminya. Mau tak mau wanita itu harus segera pergi ke kafe yang sudah dijanjikan untuk menuruti titah dari Tuan Adrian Mardinata Danawangsa. Lagian dia juga penasaran dengan rupa sang calon suami. Apakah dia tampan seperti Kim Soo Hyun, Song Jong Ki atau Lee Min Ho? Semoga saja iya. Dan sekarang di sinilah dia berada, duduk di meja pojok Kafe Lentera seorang diri. Allegra berdecak. Sudah hampir 20 menit dia menunggu. Tapi selama itu, dia tidak menemukan tanda-tanda akan kemunculan lelaki itu. Setiap pintu berdenting yang menandakan ada pelanggan yang masuk, mata Allegra selalu tertuju ke sana. Berharap calon suaminya lah yang datang. Namun, harapannya harus pupus ketika melihat lelaki itu ternyata berjalan ke meja lain. Allegra berdecak. Dia tak tahu bagaimana wajah calon suaminya dan itu semakin menyulitkan dirinya untuk mengenali lelaki yang baru akan ditemuinya kali ini. Salahnya juga sih yang tidak meminta fotonya pada sang papi. Dalam hai Allegra tertawa lucu. Bagaimana bisa dia tidak mengetahui satupun tentang lelaki yang akan menjadi suaminya? Bahkan nomor telepon lelaki itu pun Allegra tak punya. Kalau seperti ini kan jadi dirinya yang repot. Dia tidak bisa menghubungi lelaki itu untuk menanyakan dimana posisinya sekarang atau menanyakan kenapa dia bisa terlambat. Allegra berdecak. Kepada siapapun, tolong nanti ingatkan dirinya untuk meminta nomor telepon lelaki itu agar meminimalisir kejadian seperti ini terulang lagi. "Maaf terlambat." Suara bernada lembut namun tegas secara bersamaan itu berhasil membuat Allegra yang tengah menyeruput minumannya langsung mengalihkan pandangan ke sumber suara. Dia memicing, merasa pernah melihat sosok yang menjulang tinggi dihadapannya itu. Tapi, dimana ya? Dia lupa. "Kamu ... Elsaka?" tanya Allegra tak percaya. "Ya, saya Elsaka." Allegra tak henti-hentinya menilai penampilan seorang pemuda yang mengaku sebagai calon suaminya itu. Astaga! Ini calon suaminya? Sangat berbanding terbalik dengan Keenan. Tampan sih, bahkan sangat tampan. Allegra mengakui itu. Tapi cara berpakaiannya benar-benar sangat nerdy. Kemeja biru-putih bermotif kotak-kotak yang dimasukkan ke celana jeans-nya. Seluruh kancing kemeja tersebut pun turut dikaitkan semua tak terkecuali kancing bagian atas. Rambut hitam kecoklatan yang sengaja di sisir rapi ke depan. Jangan lupakan cara menggendong tas ranselnya yang mirip seperti kura-kura ninja. Ditunjang dengan penampilannya yang memang menggunakan kacamata. Benar-benar cara berpakaian yang tidak sesuai dengan kriteria Allegra. Gadis itu menghela nafas. "Duduk!" titah Allegra membuat lelaki bernama Elsaka itu menurut. "Sebaiknya kamu pesan dulu," lanjut Allegra menawarkan. Kasihan juga mendengar nafas lelaki itu yang sedikit ngos-ngosan. Elsaka mengangguk. Dia memanggil salah satu waitress dan segera menyebutkan pesannya. "Kenapa kamu terlambat?" tanya Allegra buka suara setelah pelayan restoran itu pergi. "Saya minta maaf. Tiba-tiba saja ada rapat organisasi mendadak yang harus saya hadiri," jawabnya lugas dan jujur. Elsaka ini memang mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kampus dan dia adalah anggota BEM yang menjabat sebagai Kepala Departemen Keilmuan. Allegra mengangguk. Memaklumi alasan Elsaka yang cukup masuk akal. Walaupun dia dulu adalah mahasiswi kupu-kupu karena pekerjaannya sebagai model, tapi dia tahu bagaimana kesibukan para aktivis kampus seperti Elsaka ini. Kesibukan mereka hampir mengalahkan bapak presiden. "Bisakah kamu memperkenalkan diri? Kita belum saling mengenal satu sama lain kan? Apalagi aku yang baru pertama kali melihatmu," saran Allegra membuat sudut bibir Elsaka sedikit tertarik ke atas. 'Ini bukan yang pertama kalinya kamu melihatku,' ucap Elsaka yang tentu hanya bisa diucapkan dalam hati. "Oke dimulai dari aku. Mungkin kamu sudah mengenalku entah sudah sejauh mana, aku tidak tahu, tapi aku akan tetap memperkenalkan diri," Allegra mengulurkan tangannya yang disambut ragu oleh lelaki itu. "Namaku Allegra Kiana Danawangsa. Tanpa perlu menjelaskan panjang lebar pasti kamu sudah mengenalku," lanjut Allegra. "Saya Elsaka Antariksa Naraga. Kamu bisa memanggil saya Saka dan saya berusia 20 tahun--" "Tapi sepertinya, aku lebih suka memanggilmu El. Boleh kan?" tanya Allegra memotong ucapan Saka. Entah kenapa dia suka dengan nama El. Saka mengangguk tanpa ragu. "Saya seorang mahasiswa arsitektur semester 5." Dan ucapan selanjutnya Saka barusan semakin menyadarkan Allegra bahwa dirinya akan benar-benar menikah dengan seseorang lelaki yang berusia 4 tahun dibawanya. Wajah Allegra berubah. Raut santai itu berganti serius. Keheningan tiba-tiba menyelimuti mereka yang sesaat kemudian terpecahkan oleh suara waitress yang mengantarkan pesanan Saka. "Dan untuk seorang mahasiswa, kamu punya nyali juga untuk melamarku," celetuk Allegra menatap lekat lelaki dihadapannya setelah waitress itu berlalu dari meja mereka. "Apa alasanmu nekat melamarku?" lanjut Allegra karena lawan bicaranya seperti tak mau membuka suara. "Kita tidak saling mengenal, bahkan bisa dikatakan kalau kita cuma orang asing." "Itu menurut pendapat kamu, tapi tidak untuk saya," tutur Saka akhirnya buka suara, "It's been long time, I have a great interest to you." Allegra menganga mendengar penuturan lelaki itu, "Really? just that? Are you insane?" tanyanya tak percaya. "Kamu terlihat menyeramkan. Apa semudah itu? Kamu tertarik dengan seseorang, lalu kamu akan langsung melamarnya?" cerca Allegra. "Tidak! Saya tidak akan melamarnya kalau itu bukan kamu." Allegra semakin terdiam syok. Lelaki ini, entah yang dia ucapkan benar-benar kebenaran atau hanya bualan, tapi dia sangat pandai dalam memainkan kata-katanya. "Beri alasan yang jelas agar aku semakin yakin untuk menerima lamaran ini," ucap Allegra pada akhirnya. Dia sudah pasrah. Menolak pun percuma, karena sang papi sudah menerima lamaran dari Elsaka. "Saya sudah tertarik padamu sejak masih SMA. Hampir 4 tahun, sebelum kamu terkenal seperti sekarang," jelas Elsaka tenang membuat Allegra sulit membaca pikiran lelaki itu lewat ekspresi wajahnya. "Kalau kamu punya perasaan denganku, kenapa tidak datang padaku dan menyatakannya secara langsung? Kenapa harus lewat orang tuaku?" tanya Allegra tak habis pikir. "Apa kamu akan menerima saya, jika tiba-tiba saya masuk ke kehidupanmu?" tanya Elsaka membuat Allegra terdiam. Ya, lelaki itu benar. Dia jelas akan mendorong Elsaka pergi karena dia sudah memiliki Keenan di hidupnya. "Aku yakin, kamu pasti akan menolaknya. Namun, ketika mengetahui papa saya dan papa kamu bersahabat, saya seolah melihat peluang itu. Jadi, saya memberanikan diri untuk berbicara dengan papamu," lanjut Elsaka membuat Allegra mengernyit. "Semudah itu?" "Mungkin karena kami sudah saling mengenal, maka papamu langsung percaya pada saya." Allegra mengusap wajahnya. Tak habis pikir dengan jalan pikiran sang papi. Hanya karena dia sudah mengenal Elsaka, maka dengan mudah dia menerima lamaran dari lelaki itu? Benar kata Zico. Papinya ini sepertinya sedikit gila. Allegra menghela nafas. Oke ... sekarang lupakan masalah ini. Ada satu lagi permasalahan yang lebih penting dan itu menyangkut masa depannya, kehidupannya. "Tapi kamu masih kuliah," ucap Allegra. "Punya apa kamu?" tanyanya menatap Elsaka remeh. "Aku tahu keluargamu sangat kaya. Tapi aku tidak mau, ketika kita sudah menikah, kamu masih bergantung dengan keluargamu. Terutama masalah keuangan." "Untuk masalah itu kamu tidak usah khawatir. Walaupun masih kuliah, saya punya beberapa usaha yang saya rintis bersama teman-teman saya, yaitu sebuah kafe yang bisa dibilang cukup sukses," jelas Saka membuat Allegra menatap tak percaya. "Kamu punya kafe?" "Ya, Kafe The Bro Brothers yang salah satu cabangnya ada di depan kantor agensimu," ujar Elsaka tanpa berniat pamer. Dan itu semakin membuat Allegra terdiam kaku. Pasalnya dia tahu seberapa sukses dan berhasilnya kafe itu. Baru 3 tahun beroperasi, tapi The Bro Brothers Cafe sudah memikiki 3 cabang yang tersebar di berbagai daerah di ibukota. Karena keunikan tema yang diusung juga variasi menu yang disediakan dengan harga yang cukup terjangkau. "Saya yakin, saya bisa memenuhi kebutuhanmu." "Kamu yakin? Kalau aku tidak akan merasakan kelaparan atau kekurangan uang setelah menikah denganmu?" tanya Allegra memastikan yang dibalas anggukan mantap oleh lelaki itu. "Aku pegang ucapanmu. Aku tidak mau hidup susah karena aku tidak terbiasa hidup serba kekurangan," ucap Allegra berusaha menerima keputusan ini. Lagian jika dipikir-pikir, banyak keuntungan yang akan dia dapat setelah menikah dengan Elsaka. Selain untuk membuat Keenan merasakan apa yang dia rasakan dan ternyata berhasil. Pernikahan ini juga bertujuan untuk menutupi hubungan mereka. Dan yang pasti, mulai sekarang papinya juga tidak akan bisa membatasi dirinya untuk menerima tawaran menjadi brand ambassador produk luar negeri. Allegra menghembuskan nafas gusar dan kembali menyeruput minuman saat merasakan tenggorakannya yang tiba-tiba sakit akibat banyak berbicara. Dan tanpa sepengetahuan Allegra. Elsaka yang sedari tadi memperhatikannya, diam-diam mengepalkan kedua tangan di bawah meja. Dia menghela nafas gusar. Mengeluarkan beban yang sejak tadi dipendamnya. Dia tersenyum sinis. Sepertinya dia sudah cocok masuk nominasi Oscar kategori aktor terbaik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN