Chapter 7

1487 Kata
Setelah mengetahui Keenan dan si kembar sudah pulang ke rumah masing-masing, Allegra berniat untuk berkunjung ke kamar saudaranya yang terletak persis disebelah kamarnya. Ada sesuatu yang ingin dia diskusikan dengan Aska. Dan ini menyangkut hidup dan matinya. Allegra berdiri di depan pintu bercat putih itu. Matanya menatap sebuah tulisan aesthetic berbahasa Inggris yang dibuat oleh tangan sang pemilik kamar. 'Shut the door after you open damn it, dude. If you breach it, I'm gonna kick your f*****g ass!!!' Allegra menggeleng. Tak terlalu terkejut dengan tulisan kasar yang sudah hampir 1 tahun ini menempel di sana. Tanpa mengetuk pintu, tangannya bergerak menyentuh knop itu lalu memutarnya pelan. "Dek, kakak boleh masuk?" izin Allegra dengan kepala yang menyembul di sela-sela pintu. "Masuk aja, kak," jawab suara dari dalam kamar. Allegra membuka pintunya lebih lebar dan melangkah masuk ke dalam. Ruangan berdominan abu-abu langsung tersaji di depan mata dengan aroma citrus sekaligus fresh spicy yang juga menyambut indra penciumannya. Sangat rapi dan bersih untuk ukuran anak remaja lelaki. Apalagi yang modelan seperti Aska. "Kamu nggak belajar?" tanya Allegra saat melihat adiknya hanya tengkurap sambil memainkan ponsel. Dia sampai heran. Setiap melihat Aska, bocah itu pasti selalu tengah memegang ponsel. Entah itu sedang main game atau hanya men-scroll media sosial. Dia jadi berpikir, apakah Aska sudah terkena sindrom Nomophobia? "Aku udah pintar sejak dalam kandungan, kak. Kecerdasan intelektualku itu hampir setara dengan Albert Einstein dan Bapak Habibie," jawabnya asal. Dia merubah posisi menjadi berbaring menghadap Allegra. "Kalau begitu, kenapa nggak bisa ngalahin Zio?" Aska berdecak menatap kakaknya sebal, "Bukannya nggak bisa ngalahin, tapi aku emang sengaja mengalah. Kakak kan tau, gimana ambisiusnya bonyok mereka yang selalu nuntut si kembar atau seenggaknya salah satu dari mereka biar jadi nomer 1. Apalagi tante Gisel. Kalau aku juga ambisius, Zio pasti nggak bakal ada di posisinya saat ini." Allegra mencibir omong kosong adiknya, "Alasan aja, kamu!" "Yee ... dibilangin nggak percaya." Allegra mengabaikan celotehan adiknya. Dia teringat akan tujuan awalnya datang ke sini. "Dek, ajarin kakak masak dong," ujarnya singkat dan sederhana, namun mampu membuat Aska terperanjat kaget. Remaja itu segera bangkit dan mendekati kakaknya, "Apa? Ajarin kakak masak?! ...pftt ..." Aska mati-matian manahan tawa. Dia menatap kakaknya terkejut. Bagaimana tidak terkejut? Kakaknya ini anti banget sama yang namanya masak-memasak. Dulu ketika disuruh memasak, ada saja alasan Allegra untuk menolaknya. Seperti takut kukunya rusaklah, takut wajah dan tubuhnya terkena cipratan minyaklah, takut jari lentiknya teriris pisaulah. Pokoknya ada saja alasan Allegra ketika di suruh pergi ke dapur. Dan hari ini entah apa yang merasuki kakaknya, bisa-bisanya perempuan itu meminta dia untuk mengajarinya memasak. Apa Aska tidak terkejut? "Serius?" "Serius!" jawab Allegra yakin. Melihat adegan tadi siang, membuatnya bertekad untuk belajar memasak. Memangnya hanya perempuan itu saja yang bisa membuat makanan enak? Dia juga bisa kali, bahkan Allegra yakin. Makanannya tidak akan kalah dengan restoran bintang lima. Dan untuk mencapai itu, dia harus belajar dari ahlinya, yang tak lain adalah Aska. Walaupun Aska itu jahilnya minta ampun, dia sangat pandai dalam urusan dapur. Bahkan, terkadang dia lah yang memasak makan malam untuk keluarga mereka. "Oke! Tapi ada biaya khursusnya ya?" balas remaja itu dengan menarik turunkan kedua alisnya. Allegra menatap adiknya jengkel. Namun, tatap menyetujuinya. "500 ribu perbulan?" "Wah, pelit banget! Katanya super model? Uang segitu mah nggak ada apa-apanya. Buat beli es teh aja cuma sampe tenggorokan," protesnya dengan majas diakhir kalimat. Tentu saja hanya perumpamaan. Mana ada sih, uang 500 ribu cuma dibuat untuk beli es teh? Es teh 500 ribu mah bisa buat mandi orang sekampung. Kecuali kalau es tehnya ditaburi bubuk emas atau daun tehnya yang super duper langkah dan harus memetik langsung dari puncak Everest. "7 juta perbulan, deal?" tawar Aska sambil mengulurkan tangannya. "Gila! Kamu mau meras kakak?!!" Allegra menatap tajam saudaranya. "Kakak ini kerja harus berdiri selama berjam-jam di depan kamera, bukan cuma ongkang-ongkang kaki sambil nunggu si babi selesai keliling." "Ck! Yaudah. 5 juta per bulan gimana? Udah paling rendah itu." "1,5 juta!" tekan Allegra menatap adiknya sinis "Tambahin atuh, kak. Di mana lagi coba khursus masak dan guru masaknya seganteng aku. 4 juta ya?" Allegra menggeleng tegas, "2 juta! Lagian kakak nggak setiap hari juga." "3,5 juta." "2,3 juta atau nggak sama sekali!" "Tanggung itu. Tambahin 200 ribu biar jadi 2,5 juta," rayu Aska tidak menyerah. "Nggak ada." "Dih, dasar pelit!" cibir Aska, "kalau beli barang branded seharga puluhan juta, bahkan ratusan juta aja langsung dijabanin." "Bodo!" jawab Allegra acuh tak acuh, mengabaikan tatapan memelas adiknya, "Kalau kamu nggak mau, ya kakak tinggal ngambil khursus di luar sana yang lebih ahli dan profesional." "Eh, jangan!" sergah Aska tidak menyetujui usulan terakhir Allegra. "Oke 2,3 juta," putusnya menyerah lalu mengulurkan tangannya, "deal?" Allegra membalas jabatan tangan adiknya dan mengangguk. "Deal," Dia tersenyum puas, "Jadwalnya nggak harus konsisten. Menyesuaikan jadwal kakak aja biar nggak bertubrukan. Kalau dihitung ya paling sebulan cuma 2-4 kali." Aska mengangguk, tapi dia masih penasaran mengapa tiba-tiba Allegra ingin belajar memasak, "Kenapa tiba-tiba pengen belajar masak sih kak?" "Pengen aja," jawabnya tak acuh. Dan Aska tak bertanya lagi, karena saat ini yang terpenting dia akan mendapatkan uang jajan tambahan dari kakaknya.Teringat sesuatu. Aska mendekati Allegra dan berbaring dengan menjadikan paha Allegra sebagai bantalan kepalanya. "Kak, ternyata ya calonnya bang Keenan ... siapa itu namanya? Reana? Rina? Rani? Rania?--" "Raina," ucap Allegra membetulkan. "Nah itu!" Aska berseru senang, "Ternyata dia kakaknya si Tino. Oh my God! Kenapa dunia bisa sesempit ini?" lanjutnya heboh, "Berarti aku bakal sodaraan sama dia nih?" "Tino?" tanya Allegra heran. Setahu dia, teman Aska tidak ada yang namanya Tino. "Ck! Itu si Arjuna!" "Kok bisa dipanggil Tino?" Allegra semakin tak paham. "Tino itu pelesetan dari kosa kata bahasa Inggris, Tiny yang artinya mungil. Sesuailah sama postur tubuhnya yang kecil," Aska tertawa membayangkan wajah Arjuna yang memerah saat dipanggil Tino, apalagi saat mendengar alasannya, "tapi karena Arjuna itu laki-laki nggak mungkin kan kita panggil Tini, jadi tercetuslah nama Tino itu." Allegra terkekeh dengan penjelasan itu, "Ah, kamu ini ada-ada aja!" tangannya membingkai wajah tampan adiknya yang dibawa dari gen sang papi. Memang ya, bibit Danawangsa ini tidak bisa diragukan lagi kualitasnya dalam mencetak generasi manusia yang tampan, cantik dan mempesona. Semua sudah terbukti dan teruji keklinisannya. Allegra menghentikan gerakan tangannya ketika mendengar ringisan tertahan dari seseorang di pangkuannya."Mukamu kenapa lagi?" tanyanya saat tak sengaja melihat lebam samar di pipi putih adiknya. Perempuan itu semakin menekan lebam pipi Aska yang membuat si empu semakin meringis kesakitan. "Biasa," jawab Aska santai. Allegra menghela nafas. Tanpa dijelaskan, dia sudah hafal di luar kepala. Aska pasti baru dihajar oleh kekasih dari salah satu gadis yang selalu menempelinya. "Mau sampai kapan kamu kayak gini?" "Sampai puas," jawabnya lagi masih dengan nada yang sama. "Kamu lupa? Kamu punya saudara perempuan. Gimana perasaan kamu kalau saudara perempuan kamu di sakiti sama laki-laki di luar sana?" wajah Allegra terlihat serius. "Itu nggak akan terjadi!" tukas Aska tegas. "Kenapa kamu bisa seyakin itu? Karma pasti ada." tutur Allegra, "Entah itu datang ke kamu sendiri atau melalui orang yang kamu sayang." Aska hanya diam. Kali ini dia tak membalas ucapan kakak yang paling disayanginya itu. Allegra menghela nafas, "Kakak tau kamu marah, kecewa, bahkan benci sama mami. Kakak juga ngerasain itu. Tapi, bisakah kamu berhenti bermain-main dengan para gadis itu? Berhenti mempermainkan perasaan mereka, Aska!" hardiknya dengan tatapan memohon, "Mereka sama sekali nggak ada sangkut pautnya sama semua yang kamu alami. Jangan jadikan mereka ajang balas dendammu. Jangan lampiaskan rasa sakit hatimu akibat pengkhianatan mami pada mereka," Allegra menjeda ucapannya dan menatap adiknya lekat. "Kakak tau, kalau mereka yang lebih dulu mendekati kamu, tapi kamu juga jangan kasih harapan ke mereka. Kakak takut kamu akan menuai apa yang kamu tanamkan di masa depan." Aska tersenyum. Dia tahu akan kekhawatiran kakaknya. Dia bangkit dari pangkuan Allegra dan mengecup pipinya, "Iya kakakku sayang." "Jangan iya iya aja kamu!" wajah Allegra berubah garang dan senyum di wajah Aska semakin melebar. Dia memeluk kakaknya erat seolah takut kehilangan. "Ini nih yang buat aku semakin sulit lepasin kakak ke laki-laki lain," gumam Aska yang masih bisa didengar Allegra. "Kak, kenapa aku nggak rela ya kalau kakak mau nikah?" akunya terdengar sedih. "Astaga, dek! Kamu incest? Ingat! Kakak ini kakak kandungmu. Kakak tau kakak cantik, tapi jangan bikin takut lah!" panik Allegra bermaksud bercanda untuk mengalihkan kesedihan Aska. Dan dia terkekeh melihat wajah cemberut adiknya, "Bukan ih! Aku cuma nggak rela harus kehilangan kasih sayang kakak secepat ini. Kalau kak All udah nikah, aku pasti jarang disayang kayak gini lagi." "Udah cukup ya aku kesel sama sikap bang Keenan yang suka nempelin kakak mulu. Jangan tambah lagi." Allegra tersenyum. Menepuk kepala adiknya, "Dengar ya. Walaupun kakak udah nikah, punya anak, bahkan punya cucu. Kamu tetap adik kakak. Nggak akan ada orang yang ngelarang kamu buat manja-manja ke kakak." Aska diam. Dalam hatinya tidak terima jika Allegra menikah. "Gimana ya kalau para gadis itu tau, siswa yang selalu mereka puja-puja nggak lebih hanya bocah manja yang suka merengek ke kakaknya?" lanjut Allegra yang langsung dihadiahi tatapan cemberut Aska.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN