Setelah terjadi drama pertikaian antar para remaja Danawangsa yang berakhir karena mendapatkan teguran tak terbantahkan dari bapak Keenan Alterio, kini ruang makan kembali sunyi dan senyap. The Danawangsa Teenagers itu sudah kembali ke habitatnya, ke mana lagi kalau bukan ke kamar anak bungsu dari sang pemilik rumah.
Sekarang tinggal Allegra dan Keenan yang masih betah berdiam diri di meja makan. Oh jangan lupakan asisten rumah tangga Allegra yang senantiasa berlalu lalang untuk membereskan sisa makan malam dari sang tuan rumah.
"Bibi, istirahat aja. Biar aku yang beres-beres," ucap Allegra ketika melihat bi Inah datang menghampirinya.
"Nggak usah non. Ini sudah tugas bibi," tolak wanita tua itu yang ingin kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Aku aja. Bibi pasti capek kan karena seharian udah bersih-bersih rumah?
"Tapi non--" Allegra segera menyela sebelum sang asisten rumah menyelesaikan ucapannya.
"Udah sana bibi kembali ke kamar," ujar Allegra sambil mendorong lembut punggung rentan itu.
Dengan perasaan tak enak, wanita berusia 55 kembali meletakkan peralatan makan yang hendak dibawanya ke wastafel itu.
"Terima kasih, non," ucapnya yang dibalas senyum manis Allegra.
Setelah melihat bi Inah berlalu dan berjalan menuju kamarnya yang terletak di belakang. Allegra bangkit dan melanjutkan tugas asisten rumah tangannya yang sempat tertunda. Tak lupa mencepol rambutnya menjadi satu bagian sebelum memulai pekerjaan.
Allegra meletakkan peralatan makan itu ke atas wastafel. Lalu mengambil sarung tangan khusus dan mulai menghidupkan keran air. Dia membasuh setiap peralatan menggunakan air lalu mulai mencuci peralatan makan tersebut dengan telaten.
Allegra tidak terlalu terkejut ketika mendapati sebuah lengan kekar yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Keenan. Tidak sampai di situ, bahkan pria itu dengan berani memberikan kecupan-kecupan basah pada leher
Allegra yang membuat si empu merinding dibuatnya.
Allegra berdecak, "Aku lagi cuci piring, Kee. Bisakah kamu menyingkir dulu?" pintanya yang tentu saja diabaikan oleh Keenan.
"Itu hukumanmu, sayang," sahutnya tidak jelas. Rambut Allegra yang tercepol keatas, memudahkan Keenan dalam menjelajahi leher putih itu menggunakan lidah dan bibirnya.
"Keenan ..." desah Allegra dengan tubuh menggelinjang saat merasakan hisapan kuat pada bagian sensitifnya. Allegra meremas spons di tangannya. "Kamu salah paham."
Keenan tak menghiraukan ucapan yang keluar dari mulut itu. Dia mematikan keran lalu membalik tubuh Allegra. Tangannya terjulur melepaskan simpul ikatan pada ujung kemeja putih berlengan pendek Allegra yang sengaja dibiarkan terbuka hingga memperlihatkan tank top yang perempuan itu pakai.
Setelah berhasil, Keenan meloloskan kemeja tersebut dan membuangnya ke sembarang arah. Sekarang, Allegra hanya mengenakan tank top ketat yang melekat di tubuh rampingnya.
"Kamu sudah membuatku frustasi dan marah, sayang," bibir Keenan turun ke bahu Allegra. Dengan sengaja dia menurunkan tali tank top itu dari tempatnya.
Gigitan dan hisapan yang Allegra terima membuat darahnya seperti sedang dialiri arus listrik. Tubuhnya meremang kala tangan
besar itu mengelus punggung telanjangnya dengan gerakan seduktif. Perlahan bergerak naik, menyusuri setiap inci kulit halus nan lembut itu, hingga akhirnya berhenti pada gundukan kenyal miliknya.
"Ahh ... Kee," lirih Allegra mengerang kala tangan Keenan meremas payudaranya dan sesekali memberikan pijatan pada putingnya yang telah mengeras. Dia memejamkan mata. Merasakan sensasi menggelikan yang terasa nyata dan mampu membuat tubuhnya menginginkan hal lebih.
Namun, teringat dimana posisinya sekarang. Allegra mati-matian menggali akal sehatnya yang tertimbun hasratnya sendiri. Ia berusaha melepaskan diri dari pria itu dan berhasil.
"Kamu salah paham," ucapnya memburu, menatap Keenan yang tengah mengatur nafas. Tangannya bergerak membenarkan tali tank top-nya yang merosot. "Aku nggak pergi makan malam dengan cal--"
"Berhenti menyebut bocah itu dengan sebutan calon suamiku!" potong Keenan tegas sebelum Allegra menyelesaikan penjelasannya.
"Ya. Maksudku itu. Aku nggak makan malam dengannya. Aku berani bersumpah, " ucap Allegra terdengar sangat menyakinkan,
"Aku pergi dengan Seren. Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanyain langsung ke dia."
"Kenapa nggak bilang?"
Keenan melepas benda silikon yang membungkus tangan Allegra dan menggiring perempuan itu untuk kembali ke meja makan.
Meninggalkan pekerjaannya yang belum terselesaikan.
Dia duduk di kursi dan menarik Allegra membuat perempuan itu jatuh ke pangkuannya.
"Sengaja."
"Kenapa?" tanya pria itu terdengar menggeram.
"Kamu nggak tahu, seberapa muaknya aku melihat interaksi kamu dengan perempuan itu tadi siang," ungkap Allegra mengeluarkan apa yang dia rasakan, "Aku memang selalu tersenyum, tapi hatiku benar-benar terasa sangat panas."
"Aku tahu kamu lebih dari siapapun. Makanya secepat mungkin aku nyuruh dia pulang."
Helaan nafas gusar terdengar dari mulut perempuan berusia 24 itu . "Apa aja yang udah kamu lakuin ke dia? Dia terlihat sangat berani," ucapnya mengingat tingkah Raina yang menyentuh bibir Keenan, "Jangan buat dia terlalu berharap sama pernikahan kalian.
Aku takut kamu jatuh cinta sama dia."
"You trust me, alright?" Keenan menangkup wajah Allegra dan mengecup singkat bibir mungil itu, "i still love you so much and i believe, it's never change forever."
"But, she's so beautiful," sanggah Allegra membuat Keenan tertawa geli.
"Apa ini? Seorang Allegra merasa insekyur?" tanyanya tak percaya, "Sayang, dengar aku baik-baik. Kalau aku memang memandang semua perempuan dari kecantikan. Mungkin sudah sejak dulu aku berkhianat dari kamu."
Keenan menatap lekat Allegra. Menelusuri wajah paripurna yang membuatnya tergila-gila selama hampir 12 tahun, tepatnya saat dirinya menginjak usia ke-16.
"Aku justru takut kalau kamu lah yang akan berpaling dariku. Aku takut kamu jatuh cinta sama dia."
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Allegra tak mengerti.
'Aku nggak akan pernah ninggalin kamu, kalau bukan kamu sendiri yang mendorongku pergi,' lanjutnya dalam hati.
"Kamu udah menang dari awal Kee. Kamulah pemilik hatiku sepenuhnya."
"Kita nggak tau bagaimana kedepannya, Allegra. Termasuk perasaan seseorang. Mungkin hari ini kita saling mencintai, tapi nggak tau bagaimana kedepannya, bahkan besok," ucapan bernada serius itu sesaat membuat Allegra termenung.
"Kamu jangan buat aku takut."
"Makanya, jangan buat ketakutan itu menjadi kenyataan, Allegra. Bisa jadi ketakutanmu itu lah yang nantinya akan menjadi boomerang kehancuran dirimu di masa depan."
Menyadari Allegra yang sepertinya terlalu menanggapi serius perkataannya. Tangan Keenan bergerak merapikan helaian rambut yang mencuat keluar dari cepolannya. "Jangan takut. Kamu percaya kan?" Allegra mengangguk, walau ragu. Tanpa sadar, dia menggigit bibir bawahnya sendiri.
"Keep your lips close to mine, sweetheart," bisik Keenan karena Allegra hanya menatapnya sedari tadi.
Gadis itu menurut. Dia memiringkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Keenan. Hanya menempel lalu tak berselang lama, Keenan mengambil alih segalanya. Dia menarik tengkuk Allegra memperdalam pagutan mereka. Menyesap bibir manis yang selalu membuatnya candu, sesekali memberikan gigitan kecil pada bibir itu.
Semakin lama, ciuman mereka semakin dalam dan menuntut. Tangan Allegra kini sudah berpindah pada rambut Keenan. Meremasnya, kala belitan lidah itu saling membelai dalam menjelajahi rasa manis yang tidak akan mereka dapatkan dari manisnya gula. Keduanya memejamkan mata menikmati sensasi menyenangkan yang memberikan rangsangan pada titik-titik tertentu.
Keenan meremas lembut pinggang ramping Allegra, lalu menyingkap pakaian ketat yang perempuan itu kenakan. Tanyannya mulai aktif bergerak dan merayu bagian sensitif Allegra membuat erangan lagi-lagi lolos dari mulut manis itu.
"Kee..." bisik Allegra dengan nafas tersengal. Dia melepaskan tautan bibirnya saat merasakan pasokan udara di rongga dadanya semakin menipis. "Jangan di sini. Ada Aska sama si kembar." Dia sengaja menahan tangan Keenan yang ingin melepaskan tank top dari tubuhnya.
Keenan berdecak. Dia menghentikan kegiatannya. Mengatur nafasnya yang memburu untuk meredakan hasratnya yang lagi-lagi
terpancing keluar. Berada di dekat Allegra benar-benar menguji libidonya.
Karena terlalu larut, mereka tak menyadari, jika sedari tadi ada seseorang yang melihat dan mendengar langsung setiap ucapan juga perbuatan mereka. Lelaki itu menatap tak percaya pemandangan di depannya dengan tangan yang mengepal kuat.
"Mereka? ... Nggak! Nggak mungkin mereka ..." ucapnya tak mampu meneruskan pemikiran yang terus berseliweran di otaknya. Dia terlalu shock dengan fakta yang barusan dia dapatkan.
Kedua sepupunya ... ?
Lelaki itu keluar dari persembunyiannya dengan jantung yang berdetak cepat. Dia pergi dari tempat itu dan kembali ke kamar.
Melupakan tujuan awalnya datang ke dapur, yaitu untuk mengambil es batu guna mengompres bagian kepalanya yang benjol.
Setiap langkah Zio menginjakkan kakinya ke lantai, pikirannya selalu tertuju pada adegan yang barusan dia lihat. Bagaimana Keenan memeluk mesra Allegra dari belakang lalu melabuhkan ciuman-ciuman di leher kakak sepupunya. Bahkan tak sampai di situ, semua ucapan yang keluar dari mulut mereka, terekam jelas di otaknya.
Gila! Benar-benar gila. Mereka berhubungan secara diam-diam di belakang semua orang? Tapi sejak kapan?
Karena terlalu sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri. Lelaki itu tak sadar kalau dirinya sudah berada di depan pintu kamar milik Aska. Menghembuskan nafas dalam-dalam, Zio--lelaki yang memergoki Allegra dan Keenan yang tengah b******u di dapur-- membuka pintu di depannya.
"Loh bang, es batunya mana?" tanya Zico heran melihat saudaranya yang datang dengan tangan kosong.
"Hah? Oh ... Nggak jadi. Kepala gue udah nggak papa," jawabnya sedikit linglun. Dia berjalan masuk dan mendudukkan diri tepat di samping Aska. Matanya mengamati sepupunya itu. Apa Aska tahu hubungan mereka? Batinnya bertanya-tanya.
"Ka, yang lo bilang tadi emang bener ya kalau bang Keenan setiap hari dateng ke sini?" tanya Zio membuat si empunya nama mengalihkan perhatian dari layar ponsel.
Aska merasa aneh dengan pertanyaan yang tiba-tiba terucap dari mulut Zio. Namun, tak ayal dia pun menjawabnya, "Ya nggak setiap hari juga, tapi lumayan sering lah. Seminggu bisa 4-6 kali. Itu pun kalau seminggu full kak Allegra pulang ke rumah. Kalau dia nginep di apartemennya ya bang Keenan jarang dateng."
"Sering juga ya? Emang mau apa?" pancing Zio. Dia penasaran, sudah sejauh mana hubungan kedua sepupunya itu.
Aska mengedikkan bahu tak acuh, "Nggak tau. Katanya mau bahas pekerjaan sama kak All. Ya nggak heran, kak All kan salah satu model di agensinya," Aska menjeda ucapannya. Dia semakin menatap curiga Zio, "Ngapa dah lo tanya-tanya kayak gitu?" selidik Aska penasaran apalagi saat mendapati wajah sepupunya yang tak biasa.
"Ah ... Nggak papa."
"Aneh lo."