Chapter 5

1492 Kata
Suasana di ruang makan ramai dengan kericuhan yang ditimbulkan oleh mulut-mulut lemes The Danawangsa Teenagers. Ah lebih tepatnya hanya Aska dan Zico saja yang mendominasi keramaian itu. Sedangkan yang lainnya hanya menyimak dan sesekali menimpali ocehan tak berbobot mereka. "Cie yang mau nikah," ucap Zico yang langsung mendapatkan dukungan penuh dari saudara seperjulitannya itu. "Kenapa acara nikahan kalian nggak diberengin aja? Biar hemat gitu biayanya," kali ini Aska lah yang berbicara dan ucapannya itu sukses menghantarkan Allegra pada batuk yang berkepanjangan hingga membuat wajah cantiknya memerah. Allegra menepuk pelan dadanya sendiri. "Hati-hati, sa--" Keenan menghentikan ucapannya. Menyadari jika dirinya hampir kelepasan memanggil Allegra dengan sebutan 'sayang'. Dia segera meralat perkataannya, "Hati-hati, Allegra." Pria itu menyerahkan gelas yang langsung diterima Allegra tanpa banyak kata. Tenggorokan dan dadanya terasa sakit karena tersedak makanan yang dimakannya sendiri. "Dek, kamu mau bikin kakak meninggal?" tanya Allegra setelah meletakkan gelas di atas meja. Dia menatap tajam adiknya. Aska mengernyit bingung, "Loh emang ada yang salah sama ucapanku?" Dalam hati Allegra mengggeram mendengar penuturan Aska. Ada yang salah? Ya jelas ada! Cih! Sampai mati pun Allegra tidak akan pernah mau menikah di waktu dan tempat yang sama dengan Keenan. Allegra tidak bisa membayangkan betapa sakit hatinya nanti ketika melihat orang yang sangat dicintai akan terikat dengan seseorang yang pasti bukan dirinya dalam ikatan pernikahan yang sakral. "Apa kamu lupa di keluarga mana kamu dibesarkan? Di keluarga Danawangsa yang nggak akan semudah itu jatuh miskin meski kita mengadakan pesta pernikahan selama tujuh hari tujuh malam sekalipun," ujar Allegra santai namun terdengar menyebalkan di telinga yang mendengarnya. Aska berdecak. Dia kembali menyuapkan makanan yang ada di piringnya. "Seharusnya kalian ngajak pasangan masing-masing. Biar kita bisa saling mengenal. Lagian aku belum pernah lihat calonnya kak Alle," saran Zio tanpa melihat perubahan ekspresi yang terjadi di mimik kedua insan yang saling mencintai itu. "Jangankan elo, Zi. Kak Alle yang calon istrinya aja nggak pernah lihat gimana wajah calon suaminya," timpal Aska. "Serius?!!" kaget Zico, ah bukan hanya Zico, tapi mereka semua yang ada di meja makan. Terkecuali Allegra pastinya. "Emang tampang gue ini tampang-tampang pembohong?" tanya Aska pura-pura tersinggung, namun diabaikan sepupu kembarnya. "Kok bisa?" "Dijodohin kayak bang Keenan ya?" Tanya Zico dan Zio bergantian. Allegra hanya diam tanpa berniat membuka suara. Dia menoleh saat merasakan aura tak mengenakan dari pria di sampingnya dan matanya langsung menangkap mata Keenan yang tengah menatapnya lekat. Secara impulsif, tangan Allegra bergerak mengelus genggaman tangan Keenan yang berada di bawah meja. "Kayaknya sih iya," jawab Aska sok tahu, padahal dia mah tidak tahu apa-apa. Yang ia tahu hanya Allegra yang akan menikah dan itu dengan seorang lelaki yang masih duduk di bangku perkuliahan. "Dih, amit-amit deh! Jangan sampai gue dijodoh-jodohin kayak mereka. Kayak yang nggak laku aja. Bener-bener gila tuh orang tua!" ungkap Zico menggebu-gebu. Diantara The Danawangsa Teenegers—termasuk Daffa—, memang Zico lah yang sedikit memiliki sifat pemberontak. Dia tidak suka diatur oleh siapapun. Apalagi menyangkut masa depannya. Seperti yang terjadi dengan Keenan ini. "Dan yang lebih gilanya lagi. Umur calon suaminya kak All itu lebih muda dari dia," tambah Aska berniat menggiring kedua sepupunya untuk masuk ke acara pergibahannya. Dia berbicara begitu santai seakan Allegra adalah makhluk tak kasat mata yang tak memiliki telinga. "Demi apa?!!" sentak Zico menatap Aska tak percaya. "Demi Enzio Fabian Danawangsa yang masih jones sampai sekarang," ledek lelaki itu menatap Zio yang juga tengah menatapnya. Namun sang empu hanya tersenyum kecil menyerupai sebuah seringaian. "Sorry ya. Gue bukan jones, tapi single dan kenapa gue masih single sampai sekarang? Karena gue terlalu berharga buat dimiliki oleh seseorang, " saut Zio santai. Tidak merasa tersinggung dengan ucapan sepupunya, "Apalagi modelan kayak lintah yang suka nempelin lo berdua yang kalau dandan suka mirip boneka Annabelle," ucapnya penuh ejekan. Aska dan Zico membulatkan matanya. Ciwi-ciwi mereka disamakan dengan boneka Annabelle? Apa mata Zio sudah katarak? Ck! Saudaranya yang satu ini benar-benar sialan! Sepertinya karena keseringan bergaul dengan Arjuna—teman sepergengan mereka— mulut Zio jadi ikut-ikutan berapi. Kalau ngomong suka bikin telinga orang panas. Ya walaupun hampir semua yang diucapkan Zio adalah kebenaran, tapi bagaimana lagi? Mereka tampan, bahkan sangat tampan. Jadi untuk apa menyia-nyiakan anugerah yang sudah Tuhan berikan? 'Hidup cuma sekali, bro!! Jadi nikmati aja! Mumpung masih muda jadi mari kita berpetualang untuk menemukan tambatan hati yang sejati. Sebelum benar-benar tobat dan setia pada satu istri.' Itulah prinsip yang selama ini selalu mereka agung-agungkan. Yang tentu saja langsung mendapatkan penolakan Zio. 'Cowok b******n akan sulit merubah tabiatnya yang b******n,' ucap Zio kala itu. Sedangkan ketiga remaja itu sibuk berdebat dan menggosipkan seseorang yang jelas-jelas ada di depan mata mereka, Allegra justru diam menikmati perdebatan mereka. Dia mengulum bibirnya saat mendengar ucapan nylekit Zio. Apalagi melihat wajah Aska yang berubah masam rasanya Allegra ingin menertawakan adiknya. "Dasar mulut sampah. Mau gue cium?!!" ancam Zico bercanda yang langsung di hadiahi tatapan super menjijikkan dari saudara kembarnya. Dih! Mending ciuman sama tembok sampai bibirnya jontor dari pada dicium sama kembar setannya!! "Ew..." Zio berjengit ngeri. Melihat reaksi Zio, Aska dan Zico saling berpandang dan saling melemparkan senyum penuh arti. Mereka yang melihatnya langsung paham pasti ada hal buruk yang sedang direncanakan dua mantan embrio itu. Apalagi Zio, alarm siaga satunya langsung berbunyi menandakan akan ada bahaya yang siap menerjangnya. Dan benar. Sedetik kemudian, Zico mendekatkan wajahnya ke wajah saudara kembarnya dengan bibir yang sengaja dimonyong-monyongkan. Hal itu tentu membuat Zio membulatkan mata dan spontan menjauhkan wajahnya dari wajah yang hampir mirip dengannya itu. "Zico, mau gue pukul lo?!" geram Zio panik. Dia berusaha menghindar. Namun bukannya menjauh, Zico justru semakin mendekat. Bahkan dia nekat bangkit dari duduknya dan mengungkung saudaranya di kursi. "Zico!" "Apa, Bang?" jawabnya dengan suara yang sengaja dibuat seperti om-om m***m. Zio semakin bergidik ngeri. Tubuh dan wajahnya terus mundur dan Zico juga semakin menekan kursi yang diduduki kembaranya membuat kursi itu berjengit. Satu-satunya topangan yang kursi itu miliki hanya dua kaki bagian belakang. Semua orang yang melihat tingkah kembar Danawangsa itu mati-matian menahan tawa kala melihat wajah pucat Zio dan wajah genit Zico yang sudah mirip seperti om-om m***m. Apalagi Aska. Bocah itu sudah ngakak sedari tadi, bahkan dia beberapa kali harus menghapus air mata yang mengalir di pipinya karena banyak tertawa. "Zico, gue tekankan sekali lagi. Menjauh dari gue sebelum gue hilang kesabaran!!" lagi-lagi Zico tak mengindahkan ancaman Zio. Tingkahnya justru semakin menjadi untuk menggoda kakak kembarnya. Karena punggung Zio terus menekan ke sandaran, kursi itu akhirnya hilang keseimbangan. Bahkan sekarang Zico pun tak mampu lagi dalam menyeimbangkan tubuhnya. Sedetik kemudian dia ikut terjun mengikuti kursi yang terjungkal ke belakang. Brak!! Bruk!! "ADAW!!" Cup! Waktu seolah berhenti sejenak. Semuanya terdiam layaknya sebuah patung pameran seni yang tidak bisa bergerak. Bahkan, Aska yang sedari tadi tertawa terbahak-bahak langsung kicep dengan bola mata yang seperti ingin menggelinding keluar setelah melihat adegan menjijikan secara live antara kedua sepupunya. Dan tak lama kemudian, kesunyian rumah Allegra melebur setelah tawa membahana kembali terdengar dari mulut lelaki itu. Saking banyaknya tertawa, Aska sampai harus memegang perutnya yang tiba-tiba keram. Sedangkan Allegra dan Keenan, dia menatap adik sepupunya dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan. Antara ingin tertawa juga prihatin. Bagaimana tidak? Posisi Zio dan Zico yang sekarang benar-benar tidak pantas untuk dilihat. Zio terjatuh dan terlentang di lantai dengan Zico yang menimpa tubuhnya. Dan lebih parahnya lagi, bibir mereka saling bersentuhan satu sama lain. Allegra meringis. Kasian mereka. Apalagi tadi dia sempat mendengar sesuatu yang menghantam lantai. Itu pasti kepada Zio dan dia tidak bisa membayangkan betapa pusingnya lelaki bermata sipit itu saat ini. "Sialan!!! Gue bunuh lo setelah ini Enzico Febian Danawangsa!!!" geram Zio dengan wajah memerah. Dia segera mendorong adiknya hingga lelaki itu jatuh menyungsang ke belakang. "AMPUN, BANG!!!" teriak Zico kalap saat melihat wajah kembarannya yang memerah seperti habis makan Naga Viper. Jika diilustrasikan sebagai tokoh kartun, mungkin saat ini telinga dan hidung Zio sudah dipenuhi oleh kabut asap yang mengepul keluar. "BALIKIN FIRST KISS GUE, ANJING!! ATAU GUE TEBAS BURUNG LO SEKARANG!!!" Zio bangkit sambil memegangi kepala bagian belakangnya yang benjol. Amarahnya sudah diujung tanduk. Dia berjalan ke meja makan dan mengambil sebilah pisau lalu mengarahkan ujung pisau itu ke kembarannya. Zico membelalakkan mata takut. Dia segera berlari dan bersembunyi di tubuh Allegra, "GUE NGGAK SENGAJA, BANG. SUMPAH!!" panik Zico semakin menenggelamkan wajahnya pada leher Allegra, "Kak All, tolong. Kalau Zio sampai potong anuku, aku nggak akan bisa gapai cita-citaku buat praktekin pelajaran biologi bab 9 di masa depan," rengek Zico membuat Allegra terkekeh. Beda halnya Allegra yang menanggapi tingkah Zico dengan santai. Pria disampingnya justru menatap tajam tidak terima. "Lepasin Allegra, Zico!" geram Keenan tak suka saat melihat sepupunya yang terus memeluk miliknya. "Nggak! Sebelum Zio buang pisaunya." Keenan menghembuskan nafas. Sekarang bukan hanya Zio yang marah, tapi juga dirinya. "Jangan main-main, Zio! Letakkan kembali pisaunya!" perintah pria berusia 28 tahun itu tak terbantahkan. "Dia harus dikasih pelajaran," tolak Zio santai dan berjalan ke arah kembarannya. Hal itu membuat Zico semakin berteriak panik, "Aska sialan ini juga salah lo ya, anjir!!" "AHAHAHAHA!!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN