Chapter 4

1526 Kata
Malam ini, di kediaman Adrian Danawangsa ramai dengan teriakan dan umpatan yang keluar dari mulut tiga remaja yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Ruang tamu bergaya modern klasik yang biasanya tertata rapi kini tampak seperti ruangan yang baru saja terkena bencana angin topan. Beberapa bantal sofa berserakan di lantai bercampur dengan bungkus snack yang berceceran beserta isinya. Tak ada yang berani menegur, karena mereka adalah anak beserta keponakan dari sang pemilik rumah. "Jangan diserang bego! Argus kalau udah ngeluarin skill ultimate, HP-nya nggak akan berkurang, malah lo yang bakal mampus," celetuk pemuda pemilik eyes smile kepada saudara kembarnya, "Tunggu sampe skill ultimate-nya berakhir." Bukannya mendengarkan saran dari orang yang memiliki paras yang hampir sama dengannya, pemuda itu justru semakin brutal dalam menyerang hero tersebut dan tentu saja usahanya sia-sia karena tak berselang lama terdengar suara, 'You has been slain'. Yang sontak langsung mengundang gelak tawa dari kedua manusia segenerasi itu. "Ahahaha kasihan jangan?!" suara tawa mereka terdengar sangat menyebalkan di telinga pemuda bernama lengkap Enzico Febian Danawangsa hingga membuat cucu Danawangsa itu mencak-mencak tidak terima. "Diem lo, bodat!" umpatnya kesal sambil melemparkan isi snack kepada sepupu dan saudara kembarnya. "Ya elo sih bego! Udah tau gimana sakitnya skill tiga Argus, tapi tetep aja di lawan,"timpal Aska atau yang memiliki nama lengkap, Askara Kiano Danawangsa. "Ya gue kesel, anjir!! Dari tadi dia kill gue mulu." "Ya itu sih lo nya aja yang noob," saut Enzio Fabian Danawangsa santai. Dan gelak tawa kembali terdengar dari ruang tamu yang sudah tak terbentuk lagi bagaimana rupanya. Namun seketika tawa mereka terhenti saat mendengar suara bel yang terus ditekan hingga menimbulkan bunyi yang cukup menganggu pendengaran. "Siapa sih yang bertamu malam-malam? Bar-bar banget," gumam Aska lalu pandangannya jatuh pada Zico, "Buka gih pintunya." "Dih, ogah! Lo aja sono!" tolak Pemuda itu mentah-mentah membuat Aska berdecak. "BIBI, ADA TAMU. TOLONG BUKAIN PINTUNYA! AKU SAMA SI KEMBAR LAGI SIBUK," teriak sang tuan rumah menggema di seluruh ruangan. Dan tak berselang lama, terlihat seorang wanita paruh baya berusia 55 tahun berlari tergopoh-gopoh dari arah dapur menghampiri anak majikannya dengan serbet yang masih bertengger di pundak kanannya, "baik, den." Pekerja rumah tangga itu berlalu dari hadapan mereka dan tak lama kemudian, muncul lah bi Inah bersama seorang pria yang mengekor di belakangnya. "Bang Kee?" celetuk Zico terkejut saat mendapati sepupunya sudah berdiri dihadapannya, "ngapain lo di sini?" "Loh emang ada masalah gue di sini?" "Kirain ada tamu penting. Pakai acara pencet bel segala. Biasanya tanpa dipersilahkan masuk aja langsung nyelonong ke dalam," nyinyir Aska tanpa beralih dari layar gadgetnya. "Allegra mana?" tanya Keenan menghiraukan sindiran adik sepupunya itu. Matanya mengedar ke segala penjuru mencari subjek yang sedari tadi mengganggu pikirannya. "Kak Alle lagi keluar," jawab Aska santai. Dia melirik Keenan sebentar lalu kembali fokus pada game online-nya, "Lihat turret atas, bego! Kosong itu kosong! Jangan jungling ae lo!" "Lo nggak liat? Level hero gue masih 14 sedangkan kalian udah di level max. Gimana nggak kalah kalau di panah sama si Miya Khalifa yang udah pro?" "Sejak kapan?" tanya Keenan tidak merasa puas dengan jawaban Aska. Dia mengabaikan umpatan-umpatan yang terus keluar dari mulut sepupu-sepupunya itu. Mereka benar-benar tidak memiliki sopan santun berbicara kasar di depan orang yang lebih tua. "Udah lama." "Pergi kemana?" tanya Keenan sekali lagi yang hanya ditanggapi kedikan bahu acuh oleh pemuda itu. "Sama siapa?" Aska menghentikan permainannya sejenak. Dia menatap sebal sepupunya. Mendapatkan pertanyaan runtut seperti itu, tak ayal membuat konsentrasinya buyar. Bahkan hero yang digunakannya untuk war hampir saja mati gara-gara kurang fokus. "Ada apa sih, bang?!! Ganggu aja sumpah!" hardik Aska menatap abang sepupunya kesal. Bagaimana tidak kesal, kalau sejak tadi Keenan selalu saja melempari pertanyaan yang menurutnya sama sekali tidak berfaedah, "Lagian kak Allegra bukan bayi lagi. Dia udah besar dan tau jalan pulang. Nggak usah lebay deh!" "Gara-gara lo ini bang, turret kita kebobolan satu," saut Zico yang ikut merasa jengah dengan pertanyaan-pertanyaan Keenan. "Fokus push rank aja lah, dikit lagi kita menang." Keenan mendengus dia tidak lagi membuka suara melainkan berlalu dari hadapan mereka. Dia mengambil tempat duduk yang lumayan jauh dari ketiga sepupunya. Seketika dia berdecak saat melihat beberapa kantung snack beserta isinya yang berceceran dan mengotori lantai juga sofa. Allegra pasti marah kalau lihat kondisi ruang tamunya. Pikir Keenan. Pria itu menyibukkan diri dengan membuka ponsel miliknya. Niatnya ingin menghubungi nomer Allegra, tapi setelah dicoba beberapa kali tak ada satupun panggilan yang dijawab oleh perempuan yang dicintainya dan itu membuat kekesalannya semakin memuncak apalagi setelah teringat dengan ucapan Allegra tadi siang. Sial!! Apa dia benar-benar sedang makan malam dengan lelaki bau kencur itu? "Emang ada apa sih, bang nyariin kak Allegra? Kayaknya penting banget ya?" tanya Zio yang memang paling waras diantara mereka berempat--termasuk Daffa, abang si kembar--. Dia merasa heran dengan sikap sepupunya itu. Keenan sudah seperti seorang kekasih yang tengah khawatir kepada kekasihnya karena pergi tanpa memberi kabar. Keenan mendongak dan tatapannya terfokus pada Zio yang masih sibuk dengan gawainya, "Ada kontrak pekerjaan yang harus di bahas," jawabnya tenang tanpa menimbulkan kecurigaan, "Allegra nggak ngasih tau dia mau pergi kemana?" tanyanya lagi kali ini kepada Zio bukan kepada Aska yang notabene adik kandung Allegra. Zio mengalihkan pandangannya dari layar ponsel dan menatap Keenan sepenuhnya, "Nggak. Kak All cuma bilang kalau dia mau pergi keluar." "Ada yang jemput?" Zio terlihat berpikir lalu menggelengkan kepala, "Kayaknya nggak ada." Helaan nafas gusar keluar dari mulut Keenan. Pandangannya menyorot lurus kearah para sepupunya, namun pikirannya terus berkelana memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang sedang dilakukan Allegra. Keenan mengumpat dalam hati. Perempuan itu selalu saja membuatnya frustasi. Di sisi lain. Zio yang berada di jarak yang lumayan dekat dengan Keenan, menyadari sepenuhnya keanehan yang terjadi pada pria itu. Tapi dia mencoba tak ambil pusing dengan terus mengabaikannya. Oh iya ... Ngomong-ngomong mereka semua memang Sepupuan. Jadi begini silsilah keluarga Danawangsa. Ganendra Zero Danawangsa dan sang istri memiliki 3 orang anak dan semuanya adalah lelaki. Anak pertama mereka bernama Pratama Syahreza Danawangsa. Dia memiliki dua orang anak, yaitu Edelin Maura Danawangsa dan Keenan Alterio Danawangsa. Anak kedua bernama Adrian Mardinata Danawangsa yang merupakan papi dari Allegra Kiana Danawangsa dan Askara Kiano Danawangsa. Yang terakhir bernama Damian Agelio Danawangsa. Dan dia adalah orang tua dari Danawangsa's twins. Enzio Fabian Danawangsa dan Enzico Febian Danawangsa. Juga anak sulungnya yang bernama Daffara Abercio Danawangsa. --oOo-- 30 menit berlalu dan Keenan masih setia menunggu kedatangan Allegra. Walaupun selama itu, tak ada tanda-tanda akan kemunculan perempuan yang dinantinya. "Bang, lo nggak bosen apa tiap hari datang ke sini?" ucap Aska menyadarkan Keenan dari lamunannya. "Kenapa harus?" tanyanya memandang adik Allegra bingung. "Ya lo ke rumah gue mulu. Gue aja yang lihat muka lo sampe bosen." Keenan berdecih, "Ya sama. Gue juga bosen lihat muka songong lo, tapi gimana lagi? Pertemuan gue sama Allegra jauh lebih penting. Ya ... walaupun harus nahan mual setiap ketemu lo." Aska membulatkan mata. Niatnya ingin menghina sepupunya tapi justru sekarang dirinya lah yang merasa terhina, "Pergi lo dari rumah gue!" "Ini bukan rumah lo. Tapi rumah om Rian," jawab Keenan santai. "Tapi gue anaknya. Gue yang nantinya bakal jadi pemilik sah rumah ini," ucap Aska tak mau kalah. "Yakin banget bakal dapat warisan?" "Ya iyalah! Secara gue anak lelaki satu-satunya papi dan juga cucu kesayangan opa Ganendra." "Astaga Ka, bokap lo masih hidup tapi udah ngomongin warisan aja," saut Zico menatap sepupunya seolah dia adalah manusia paling berdosa di muka bumi ini. "Alah! Lo sama aja. Bahkan lo sama Zio--" "Ada apa ini rame-rame?" ucap seseorang yang baru saja masuk rumah menginterupsi perdebatan mereka. "Nah itu orangnya datang!" "Ada apa?" tanya Allegra bingung, karena sekarang semua pasang mata tengah menatap ke arahnya. "Ini bang Keenan dari tadi nanyain kakak mulu. Udah persis kayak anak ayam yang kehilangan induknya," jawab Zico menunjuk Keenan yang sejak kedatangan Allegra hanya diam. Pandangan Allegra jatuh sepenuhnya pada pria itu, "Kamu nyariin aku?" Alih-alih menjawab pertanyaan Allegra, mata Keenan justru sibuk menelusuri penampilan Allegra dari atas sampai bawah. Dan Allegra tahu apa yang sedang di pikirkan oleh sepupu yang juga menyandang gelar sebagai kekasihnya itu. Tak ada yang aneh mendengar Allegra berbicara dengan Keenan menggunakan aku-kamu. Karena memang, setiap berbicara dengan para sepupunya, Allegra akan menggunakan aku-kamu sama halnya dengan Maura, kakak Keenan. Sedangkan Keenan dan para cucu lelaki Danawangsa, mereka akan menggunakan aku-kamu ketika berbicara dengan sepupu perempuan dan akan menggunakan lo-gue saat berbicara dengan para sepupu laki-laki "Ada hal penting yang harus kita bicarakan terutama tentang ucapan kamu tadi siang." Allegra tahu yang dimaksud 'ucapan kamu tadi siang' adalah ucapan Allegra yang mengatakan pada pria itu bahwa dirinya memiliki janji makan malam dengan calon suaminya. Dan dia juga tahu, kalau Keenan tengah salah paham dengan dirinya. "Makan malamnya udah siap den, non," ucap bi Inah yang tiba-tiba datang mampu memutuskan tatap-tatapan antara Keenan dan Allegra. "Baik, bi." "Kita bahas itu nanti. Sebaiknya sekarang kita pergi ke ruang makan," putus Allegra. Mereka semua berjalan meninggalkan ruang tamu. Tak terkecuali sepasang kekasih yang mengikutinya dari belakang. Saat tak melihat bi Inah dan para sepupunya, Keenan menarik tangan Allegra hingga perempuan itu jatuh ke pelukannya. Dia mendekatkan bibir ke telinga Allegra lalu membisikkan sebuah kalimat yang mampu membuat tubuh Allegra menegang kaku "Siap-siap untuk hukuman kali ini, sayang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN