Chapter Ke Sembilan Belas : Tersenyum Penuh Arti

1020 Kata
"Hachim." Louis mengeluarkan bersin. Dia lalu menggosokkan hidungnya. "Sepertinya aku terserang flu." "Kalau begitu lebih baik kita segera kembali ke kamar." Steven keluar dari pemandian air panas. Tidak lama kemudian Louis juga meninggalkan tempat tersebut. Saat pergi keluar dia masih menggosokkan hidungnya. Mereka berdua telah tiba di kamar. Steven membuka lemari. Dia mengambil jaket bulu miliknya. "Pakailah ini!" Louis menerima jaket pemberian temannya. Segera dia memakai jaket tersebut. Steven mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Dia kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Louis pergi ke dapur yang masih berada dalam kamar. Dia menyalakan mesin pemanas air. Cangkir berada di sampingnya. Menaruh gula dan teh ke dalam cangkir. Mesin pemanas air berbunyi. Dia memasukkan air panas ke dalam cangkir yang berisi teh dan gula lalu melarutkannya dengan sendok. Teh telah jadi. Louis berjalan mendekati jendela dengan membawa cangkir teh. Dia kemudian membuka tirai jendela. Melihat bulan yang bersinar dengan terang. Teh hangat di minumnya dengan perlahan. "Bukankah orang itu yang aku lihat dua hari lalu. Sebenarnya siapa dia?" Ketika menikmati indahnya malam dan Louis melihat kembali seseorang. Kejadian yang sangat tidak asing baginya. Rasa ingin tahu membuat Louis meninggalkan kamar. Dia menghampiri orang tersebut walaupun dirinya takut. Louis sekarang berada di pintu penginapan. Orang itu menyadari Louis mendekatinya kemudian berlari pergi. "Aku harus mengejarnya." Sebelum menghampiri orang itu terdengar suara handphone berbunyi. Louis mengambil handphone di saku celananya dan menerima panggilan tersebut. "Halo?" "Apakah besok kamu sudah mulai bekerja? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadamu." Orang yang menghubungkannya adalah pemilik Cafe Zero. "Iya pak. Besok saya akan berangkat bekerja." "Kalau begitu aku akan menunggumu. Sampai bertemu besok Louis." Sambungan handphone kemudian terputus. Louis menaruh handphone ke sakunya. Dia melihat arah orang yang lari itu. Tetapi sayang sosoknya sudah menghilang. "Ah, aku kehilangan jejaknya." Louis menendang kaleng yang berada di depannya. Kaleng itu terbang jauh. Karena sudah tidak mungkin mengejar akhirnya Louis kembali ke penginapan. Ketika membuka pintu kamarnya Louis melihat Steven yang duduk di tepi ranjang. "Kamu dari mana saja? Aku tadi mencari mu." Steven bertanya kepada Louis. Dia kemudian menghampiri temannya. "Aku hanya pergi keluar sebentar untuk mencari udara." "Bukankah kamu sedang sakit? Angin malam tidak baik untuk tubuh." "Kenapa kamu menjadi seperti ayahku?" Louis menatap wajah Steven dengan tajam. Ekspresi menunjukkan tidak menyukai Steven yang mengaturnya. "Aku tidak bermaksud untuk melarang. Kamu ikut pergi karena aku yang mengajakmu. Jika ada sesuatu aku tidak akan memaafkan diriku." Steven menenggelamkan wajahnya. Dia mengatakan dengan sedih. Louis menghela nafasnya kemudian dia memegang kedua bahu Steven. "Tenang saja. Aku bisa bela diri. Selain itu ketika libur bekerja Tuan pemilik Cafe Zero mengajakku untuk berlatih menembak. Jadi kamu tidak perlu mengkhatirkanku." "Baiklah kalau begitu. Tapi kamu harus berhati-hati. Aku merasakan penginapan ini terlihat sangat aneh. Tidak tahu kenapa aku memiliki firasat yang buruk." "Apakah itu karena hantu?" Louis mengatakannya kemudian tersenyum. Steven menjawab dengan menggelengkan kepalanya. "Bukan. Ini lebih buruk dari pada hantu." Seketika wajah Louis terkejut mendengar perkataan dari Steven. Ternyata temannya bisa merasakan keanehan dari penginapan ini seperti dirinya. "Iya. Beberapa saat yang lalu aku mendapatkan telepon dari Tuan pemilik Cafe Zero. Dia memintaku untuk kembali bekerja." "Terimakasih." "Kenapa kamu mengatakan terimakasih kepadaku. Bukankah sudah seharusnya kita pulang." Steven menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Dia tahu walaupun temannya merupakan orang yang dingin tetapi hatinya sangat baik. Hari sudah larut dalam. Mereka berdua kembali tidur. Jam lima sore Louis dan Steven pulang. Louis yang menjadi pengemudinya. Mereka berdua berangkat lebih awal karena harus berangkat ke sekolah. Liburan akhir pekan telah selesai. "Akhirnya kita pulang." Steven turun dari mobil dengan wajah yang bahagia. Liburan kemarin sangat menegangkan. Louis mengetuk pintu rumah. Seseorang membuka pintunya. "Aku pulang." "Selamat datang kakak." Adik Louis menarik tangan kakaknya masuk ke dalam rumah. Steven tertawa melihat kedekatan kakak beradik itu. "Selamat pagi bibi." "Selamat datang Louis dan Steven." Louis melihat meja yang penuh dengan hidangan. Apakah ibu mengetahui jika aku akan kembali? Padahal aku tidak memberitahunya jika hari ini pulang. "Wah hidangan ini sangat harum." Air liur keluar dari mulut Steven. Kebetulan dia belum sarapan. "Aku baru saja selesai membuat hidangan. Kalian pasti sedang lapar. Lebih baik kita makan bersama." "Terimakasih bibi." Steven berlari menghampiri meja tersebut. Dia kemudian menarik kursi dan duduk. Louis menghela nafas melihat sikap temannya. Di dalam hati Louis berkata sebenarnya siapa pemilik rumah ini. "Ayo kita segera makan kakak!" Adiknya mengajak untuk makan. Louis sangat menyayangi adiknya. Dia tidak pernah bisa menolak keinginan adiknya tersebut. Louis duduk di samping Steven. Adiknya sangat senang karena melihat dia dan Steven telah kembali pulang. "Bagaimana dengan liburan akhir pekan kalian berdua?" Ibunya bertanya kepada dirinya dan Steven. "Sangat menyenangkan bibi." "Benarkah?" "Sepertinya tadi malam aku melihat seseorang yang sedang ketakutan dan minta untuk segera pulang." "Louis sedang bercanda bibi. Benarkan, Louis?" "Ah!" Louis mengerang kesakitan setelah kakinya di injak oleh Steven. "Benar." Dengan terpaksa Louis menjawabnya dan tersenyum. Dia kemudian menatap wajah temannya dengan tajam. "Syukurlah. Aku sempat khawatir dengan kalian." Louis dan Steven menghabiskan hidangannya. Setelah selesai makan kemudian mereka berangkat ke sekolah bersama. "Minggir!" Aku berlari kencang menuju ke gedung sekolah. Secara tiba-tiba langkah kakiku terhenti. Aku melihat Kate yang memegang tasku. "Cepat lepaskan aku!" "Kenapa kamu berlari seperti itu?" "Bukankah sekarang sudah jam setengah sembilan? Kita datang terlambat." Kate kemudian melihat jam tangannya. "Sena. Sebenarnya dari mana kamu melihatnya? Lihatlah sekarang baru pukul setengah delapan. Waktu masuk masih setengah jam lagi." Kate menunjukkan jam kepadaku. Segera aku melihat jam tangan. Padahal aku yakin tas melihat jam dengan benar. "Ini trik psikologi." Aku melihat jam tanganku tidak berpindah. Masih tetap menunjukkan angka setengah sembilan. Sepertinya jam tanganku telah berhenti. "Bukan trik psikologi. Tetapi jam tanganmu yang rusak. Mungkin batunya sudah habis." Aku mengacak rambutku. Siapa yang berani melakukan hal itu? Tidak mungkin jam tangannya rusak. Aku batu saja membeli batunya beberapa hari yang lalu. Di lorong sekolah ada Akira sedang tersenyum penuh arti. Dia berjalan dengan mengingat kejadian sebelum berangkat ke sekolah. Akira melihat teman masa kecilnya yang sedang tidur. Ekspresinya saat tidur seperti seekor beruang. Melihat wajah yang terlihat imut dan membuat Akira memiliki ide untuk mengerjai teman masa kecilnya. Akira memutar jam tangan milik teman masa kecilnya tersebut dengan memajukan waktu satu jam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN