Chapter Ke Delapan Belas : Biro Keamanan Publik

1028 Kata
"Sepertinya sangat menarik. Apakah kamu dapat menceritakan semuanya kepadaku?" Akira memintaku untuk menceritakan tentang Cafe Zero. Aku menganggukkan kepala dan menyetujui permintaannya. "Seperti namanya Zero. Bangunan restoran seperti kantor kepolisian. Pelayan Cafe memakai seragam. Hanya ada satu nama kepolisian yang tidak terlihat yaitu PSB. Menarik kan?" Akira kemudian memegang ujung dagunya. Memang benar nama Zero untuk anggota kepolisian rahasia. PSB singkatan dari Public Security Bureau. Bisa disebut juga dengan nama Biro keamanan publik. Dalam organisasi kepolisian Jepang, hanya Departemen Kepolisian Metropolitan yang menjadi "biro" di mana cabang polisi keamanan menjadi independen. "Di pasukan polisi Bagian Keamanan Publik dan Divisi Urusan Luar Negeri ditempatkan di Departemen Keamanan. Tokyo dipandang sebagai pengecualian karena telah bekerja dengan Badan Kepolisian Nasional Jepang untuk waktu lama sejak mereka berbagi lokasi yang sama." "Ternyata Akira memang keren. Bisa mengetahui tentang organisasi PSB." Aku memuji teman masa kecilku ini. Dia pantas menjadi pria idola sekolah." "Aku hanya pernah meminjam buku mengenai kepolisian Jepang dari teman." Akira kemudian meneruskan perkataannya dan tersenyum kepadaku. Aku juga sedikit mengetahuinya dari anime Detective Conan. Salah satu tokohnya adalah Rei Furuya, Amuro atau Bourbon. "Kalau tidak salah PSB bukan padanan Jepang dari Biro Investigasi Federal AS , meskipun ada beberapa klaim bahwa itu adalah. Ini tidak berkaitan dengan kegiatan kriminal biasa. Fokus utama dari PSB adalah kegiatan yang mengancam keamanan nasional dan karena itu, pekerjaan mereka mirip dengan Cabang Khusus dari Inggris dan Persemakmuran pasukan polisi." "Kamu juga tidak kalah pandai dariku. Hanya saja kamu malas belajar." Aku tertawa lepas mendengar perkataan dari Akira. Semua yang dikatakannya benar. Belajar merupakan hal yang membosankan. "Bagaimana kalau kita belajar mengenai Biro keamanan publik?" "Kalau hanya itu aku pasti bisa menjawabnya." "Bukankah kamu terlalu percaya diri?" "Aku Sena. Tidak akan kalah dari Akira." "Baiklah kalau begitu. Aku akan memberikan pertanyaan. Kapan PSB mulai di dirikan?" Aku tersenyum kepada Akira. Pertanyaan itu sangat mudah untuk di jawab. "Pembentukan PSB dimulai pada tahun 1946 dengan staf kerangka Bagian Intelijen Sipil yang disediakan oleh GHQ di bawah Panglima Tertinggi Sekutu di bawah G2. CIS berperan penting untuk menciptakan kembali organisasi dari awal setelah lembaga penegak hukum kependudukan dibubarkan." Akira menggabungkan jari telunjuk dan ibu jarinya sehingga membentuk lingkaran. Sedangkan tiga jari lainnya lurus ke arah atas. Aku senang karena jawabanku benar. "Tetapi kenapa Cafe itu diberikan dengan nama Zero?" Akira berkata kepadaku. Dia masih tidak memahaminya. "Mungkin saja pemilik Cafe sangat menyukai biro keamanan publik." Aku kemudian menjawabnya. "Apakah hanya itu alasannya?" Akira kembali berkata. "Tentu saja." Aku telah beranggapan sepertinya Akira terlalu banyak berpikir. Dua orang menggunakan jas hitam dan memakai kaca mata berjalan menghampiri seorang pria tua yang sedang berdiri di depan Cafe Zero. "Selamat malam pak." "Lama tidak bertemu dengan kalian berdua." Pria tua itu menyambut kedatangan dua orang tersebut. "Sebenarnya kami datang kemari karena ada sebuah laporan dari pemerintah." "Laporan?" Dua orang itu menganggukkan kepala secara bersamaan. "Baiklah. Kalian masuk ke dalam." Perkataan yang seperti sebuah perintah. Dua orang itu masuk ke dalam. Mereka mematuhinya. "Duduklah!" Pria itu kembali memberikan perintah kepada dua orang yang berdiri di depannya. "Ceritakan semua yang kalian berdua ketahui." "Sebenarnya ada teroris yang berasal dari Inggris masuk ke Jepang. Pemerintah mengirimkan surat kepada Biro keamanan publik untuk menangkap teroris tersebut." "Apakah kalian membawa dokumen dan foto anggota mereka?" Salah satu orang yang memakai kacamata mengeluarkan sesuatu dari belakang jas. Benda itu adalah dokumen dan foto anggota teroris. "Anggota teroris terdiri dari empat orang. Itu yang kami dapatkan dari pemerintah." "Itu berarti kemungkinan masih ada anggota teroris lain." Pria tua itu mengambil dokumen tersebut. Dia melihat foto empat anggota teroris. Tiga pria dan satu wanita. Salah satu pria di foto memegang sniper. "Sepertinya anggota mereka ada yang seorang sniper hebat." "Tidak mungkin." Dua orang itu menjawabnya kemudian mereka berdua saling menatap satu sama lainnya. "Lihatlah yang di bawanya! Senjata api ini bernama CheyTac M200 Intervention. Apakah kalian tahu tipe sniper ini?" "Iya. Sniper yang memiliki berat 31 lb (14 kg) tanpa alat bidik optik (M-200). Panjang 53 in (1.34 m) (popor dibuka), 46¾ in (1.18 m) (popor digeser / ditutup) (M-200). Panjang laras 29 (73.7 cm) twist standar 1:13 (M-200), 26 in (66 cm) opsional. Salah satu orang berkacamata hitam menjawab. Peluru .408 Chey Tac or .375 Chey Tac Mekanisme Bolt-action Jarak efektif 2000+ m – M-200 2000+ m – M-200 Carbine 1500+ m – M-200 CIV (Civilian) 1800+ m – M-310 SS (Single Shot) ) 1800+ m – M-310 R (Repeater) Amunisi Magazine box isi 7 butir. Orang yang satunya kemudian ikut meneruskan jawaban dari temannya. "Kalian benar. Tetapi ada satu hal yang kalian tidak ketahui. Sniper ini memiliki alat bidik optik siang dan malam." "Itu berarti meraka bisa melakukan kejahatan saat kapanpun dan dimana yang di inginkan." "Benar. Mereka bukan orang yang sembarangan. Karena itu bisa kabur dari Inggris dan masuk ke Jepang dengan mudah." "Jadi apa yang harus kami lakukan, ketua?" "Kalian cari informasi keberadaan mereka. Kalau sudah mendapatkannya segera beritahu aku. Ingat jangan gen gegabah untuk melakukannya sendirian." "Baik ketua. Apakah bapak akan kembali?" "Itu tidak mungkin. Aku sudah memiliki usaha. Menjadi pemilik Cafe Zero adalah impianku. Kalian tidak perlu khawatir. Aku sudah memikirkan penerus ku." "Penerus. Apakah orang itu juga anggota Biro keamanan publik?" "Tentu saja teman. Yang menjadi pemimpin biro keamanan publik harus anggota sendiri." "Kalian salah. Orang itu bukan anggota Biro keamanan publik. Dia masih anak SMA. Aku yang akan merekomendasikannya untuk menjadi pengganti ku." "Tetapi pak?" Salah satu temannya menepuk bahu orang berkacamata tersebut kemudian menggelengkan kepalanya. Pemimpin adalah orang yang memiliki pendirian kuat. Jika itu sudah menjadi keputusan dan tidak ada yang bisa mengubahnya. "Baiklah pak. Kami akan segera menyelidiki kasus ini." Dua orang itu kemudian menundukkan kepalanya dan pergi. Tinggal pria tua itu sendirian di dalam Cafe Zero. Dia lalu berjalan menuju ruangannya yang selalu di kunci saat pergi. Bahkan tidak ada pegawai yang berani masuk ke dalam ruangan. Dia membuka laci mejanya. Disana terdapat foto dirinya yang menggunakan seragam biro keamanan publik bersama dengan anak didiknya. Siapa sangka ketua dari Biro Keamanan Publik/PSB selama ini menjadi pemilik Cafe Zero. Pria itu duduk di kursinya. Dia memandang atap langit. Sosok Louis berdiri tegak dan memberikan hormat kepadanya. "Louis. Aku ingin kamu yang akan menjadi penerus ku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN