Chapter Ke Tuju Belas : Belajar Kepada Koki

1014 Kata
Segera Louis membuka kantung plastik bawaannya. Air liur Steven menetes melihat hidangan. Sebenarnya dia belum makan dari siang. Perutnya juga berbunyi. Louis pergi ke dapur untuk mengambil mangkuk dan peralatan makan. Steven menunggu temannya kembali dengan penuh kesabaran. Tidak lama kemudian Louis kembali. Dia memberikan mangkuk dan peralatan makan kepada Steven. "Terimakasih." Steven menerima pemberian dari Louis. Dia segera menikmati hidangan yang di buat oleh temannya. Louis menatap wajah Steven dan menunggu penilaian rasa hidangan. "Bagaimana?" Karena temannya hanya menikmati hidangan tanpa mengatakan sesuatu kepada Louis akhirnya dia memutuskan untuk bertanya. Steven kemudian menatap wajah temannya. "Makanan ini sangat enak." Louis tersenyum bahagia mendengar penilaian dari Steven. "Syukurlah kalau begitu." "Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." "Apakah itu?" "Aku ingin mengetahui apa alasanmu belajar kepada koki restoran disana." Steven bertanya kepada temannya dan mengayunkan sendok. "Itu karena ibuku." "Ibumu?" "Iya. Ibu sangat pandai memasak dan membuat kue. Saat masih kecil aku menghabiskan waktu bersama ibu karena ayah yang sibuk bekerja. Aku tidak bisa menyalakan ayah karena tidak ada waktu untuk menemaniku bermain. Ayah bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami. Keluarga kami bukan berasal dari keluarga yang kaya. Ketika ibu sedang berada di dapur dan aku pernah mengikutinya. Ibu sering tersenyum ketika jika sedang memasak ataupun membuat kue. Aku pernah bertanya kepada ibu kenapa sangat menyukai memasak. Dia lalu menjawab jika hatinya bahagia karena telah membuat sesuatu untuk keluarga yang dicintainya. Sejak saat itu aku selalu membantu ibu di dapur." Louis menceritakan tentang keluarganya. Sekarang Steven mengetahui kenapa temannya ingin belajar memasak. Hal ini membuat Steven merasa senang sekaligus iri kepada Louis. Berbeda dengan temannya. Walaupun Steven anak tunggal tetapi dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang. Ayah dan ibunya telah bercerai saat dia berusia tujuh tahun. Waktu itu ayah tidak pernah pulang karena tahu ibu menikahinya bukan karena cinta. Mereka menikah karena perjodohan. Ayah dengan bangga memperlihatkan wanita cantik yang merupakan sekertaris pribadinya ke media sosial. Ibu yang tiap hari berbelanja dan menyibukkan diri dengan temannya. Setelah bertemu dengan Louis kemudian Steven merasakan kasih sayang. Kedua orang tua Louis sangat baik kepadanya. Bahkan mereka berdua telah menganggap dirinya sebagai putranya sendiri. "Kalau begitu saat pulang nanti kamu harus membuat hidangan yang enak untuk bibi." Steven mengatakanya kepada Louis kemudian tersenyum. "Tentu saja." "Oh ya, saat aku berjalan di sekitar penginapan dan aku melihat pemandian air panas." "Benarkah? Di mana tempatnya." Steven terkejut setelah mengetahui ada pemandian air panas di penginapan. "Di belakang penginapan ini." "Bagaimana kalau besok kita ke sana? Aku ingin sekali melihatnya." "Iya. Besok pagi aku akan menunjukkan tempat itu kepadamu." "Terimakasih." Steven senang karena Louis bersedia menunjukannya. "Karena sekarang sudah larut malam dan lebih baik kita segera tidur. Kalau tidak kita pasti besok akan bangun kesiangan." Louis berkata kepada Steven. Dia mengajak temannya untuk tidur lebih awal. Sebenarnya tubuh Louis juga terasa lelah. Dia ingin membaringkan tubuhnya di kursi. Steven mematikan lampu kamar. Keesokan harinya Louis bagun dari tidurnya. Dia melihat Steven sedang menyisir rambut. Ini pertama kali Steven bangun lebih awal darinya. "Kamu sudah bangun." Steven berkata kepada Louis. "Iya. Baru saja bangun." Louis kemudian duduk dengan memegang kepala. Dia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah beberapa saat Louis keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian baru. "Bagaimana jika kita pergi ke pemandian air panas sekarang?" Steven mengajak Louis. Sebagai teman Louis harus menerima permintaan temannya. Mereka berdua kemudian meniggalkan kamar. Saat berjalan Steven melihat petugas kebersihan dengan wajah yang pucat. Suasana terlihat sepi padahal ini merupakan penginapan. "Apakah tidak ada orang yang menginap di sini selain kita?" Steven berkata kepada Louis. Sesaat kemudian Louis melihat kamar penginapan. Semua pintu tertutup. Tidak ada yang berjalan di lorong. Hanya ada beberapa petugas kebersihan yang menatap Louis dan Steven ketika bertemu. Ini memang terlihat mencurigakan. "Sepertinya perkataan mu benar, Steven." "Bagaimana kalau kita pulang saja?" "Siapa yang tadi malam bersikeras ingin melihat pemandian air panas di penginapan ini?" "Iya. Memang benar sih. Tapi sekarang sudah tidak ingin melihat." Louis tidak menghiraukan perkataan temannya. Dia tetap berjalan menuju pemandian air panas. Akhirnya tidak lama kemudian mereka berdua tiba. Sesuai dengan namanya. Air pemandian berwarna merah. Louis mencoba rasa air tersebut. "Ini?" Melihat Louis yang terkejut membuat Steven mendekati temannya. Dia ikut mencoba seperti yang di lakukan oleh Louis. "Whisky." Steven secara alami mengatakannya. Dia kemudian mencoba merasakan kembali air pemandian. "Tidak salah lagi. Ini minuman Whisky." Sekarang Steven yakin dengan perkataannya. Dia kemudian mengalihkan pandangan ke temannya tersebut. Ekspresi wajah Louis terlihat tegang dan menganggukkan kepala seolah mengiyakan perkataan dari Steven. "Apakah tidak apa-apa jika kita mandi di sini?" "Menurut informasi jika air ini tidak berdampak buruk. Justru sebaliknya akan membuat kulit menjadi lebih halus dan sehat." "Kalau begitu bagaimana kalau kita mencobanya?" Steven meminta pendapat kepada Louis. "Boleh juga. Aku yang akan mencobanya terlebih dahulu." "Tunggu dulu Louis." Steven mencoba mencegah Louis masuk ke dalam terlebih dahulu. Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada temannya. Perlahan kaki kiri Louis masuk ke dalam air. Setelah itu di teruskan dengan kaki kanannya hingga kemudian sebagian tubuh. Steven melihat temannya dalam ekspresi wajah yang khawatir. "Lihatlah! Tubuhku baik-baik saja." Melihat Louis yang tidak terluka akhirnya Steven memberanikan diri untuk ikut masuk ke dalam air. Dia masuk dengan ke dua mata yang tertutup. Louis lalu menarik tangan Steven hingga membuat jatuh. Steven segera membuka matanya. Dia terkejut ketika tubuhnya jatuh ke dalam air. "Louis!" Seketika Louis tertawa lepas. Sikap temannya terlihat sangat lucu. Steven kemudian membasahi wajah temannya dengan air. Louis lalu membalasnya. Mereka berdua saling bermain air. Suara tawa meramaikan suasana pemandian air panas di penginapan. Di tempat yang jauh ada Akira yang sedang memainkan piano dengan hebat. Jari Akira kemudian berhenti. Nada dan lagu yang baru saja beberapa waktu yang lalu dibuatnya telah berhenti. Dia menatapku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya. "Bagaimana dengan Cafe yang kalian kunjungi?" Akira bertanya kepadaku. "Kami bersenang-senang disana. Nama Cafenya sungguh menarik." "Benarkah? Kalau begitu apa nama Cafe itu." "Namanya adalah Cafe Zero." "Zero?" Akira terlihat terkejut mendengarnya. Aku sudah menduga jika dia pasti akan memasang ekspresi wajah seperti itu." "Benar. Zero. Selain namanya juga bangunan dan bahkan pakaian pelayan yang berbeda dengan Cafe lain."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN