Chapter Ke Enam Belas : Murid Ke Dua

1009 Kata
Kate menghentikan mobilnya. Dia kemudian turun. Aku membuka jendela. Melihat ke arah sebuah bangunan. "Jadi ini Cafe Zero." Cafe itu terlihat sangat unik. Di samping pintu ada dua pahlawan. Spiderman dan Batman. Sedangkan pintu masuk bertulisan kantor kepolisian. Sesuai dengan namanya Zero. Aku menemani Kate masuk ke dalam. "Selamat datang di Cafe Zero." Dua pria berpenampilan seragam kepolisian memberikan salam hormat kepada tamu. Mereka kemudian mempersiapkan kursi untuk aku dan Kate duduk. "Terimakasih." Aku mengatakannya kepada pelayan Cafe. Ada dua buku menu hidangan, kertas kosong, dan pena di atas meja. Aku melihat buku tersebut. Terdapat jenis makanan dan minuman beserta daftar harga. "Kamu boleh bebas memilih hidangan. Kali ini aku yang akan membayarnya." Kate berkata kepadaku dan tersenyum. Aku menganggukkan kepala. Sebenarnya ada perasaan tidak nyaman. Kate melihat buku menu hidangan. Tidak lama kemudian dia memanggil pelayan Cafe. "Apakah tidak ada menu spesial? Aku mendengar kabar jika Cafe Zero setiap hari selalu membuat menu spesial." "Maaf. Hari ini tidak ada menu spesial karena kokinya hari ini sedang libur kerja." Pelayan itu menjawabnya. Ekspresi wajah Kate terlihat sedih. Aku kemudian memegang tangannya. "Kapan kokinya akan kembali bekerja?" "Seharusnya besok sudah mulai bekerja. Tetapi jika anda ingin datang kemari lebih baik dua hari kemudian." Setelah mengatakanya kemudian pelayan itu pergi. "Bagaimana kalau kita datang ke Cafe Zero saat akhir pekan?' "Iya." Jawaban singkat keluar dari mulut Kate. Suasana yang tadinya sepi dan perlahan menjadi hangat. Bahkan aku dapat melihat Kate yang tersenyum. Hari mulai sore. Air hujan mulai turun. Segera aku dan Kate pulang. Ketika dalam perjalanan aku melihat papan bertuliskan diskon harga. Aku kemudian memberitahu kepada Kate. Dia mengendarai mobilnya ke tempat yang terdapat papan tersebut. Tidak ada seorang wanita yang menolak namanya diskon harga. Apalagi potongannya mendekati separuh harga sekitar empat puluh persen. "Wah, keren." Aku terpanah melihat banyak diskon di dalam toko. "Sepertinya kita tidak salah masuk. Padahal aku kira tas itu saja yang mendapatkan harga diskon." "Kamu benar. Semua barang di toko ini mendapatkan harga diskon. Bahkan tidak terkecuali aksesoris." Aku memegang hiasan yang berkilauan indah. "Lihatlah! Gaun ini sangat cocok untukmu." Kate memperlihatkan sebuah gaun pesta kepadaku. Gaun yang terlihat imut. Sesuai dengan usia remaja seperti kita. Aku mencoba untuk memakai gaun itu dan masuk ke dalam ruang ganti. Tidak lama kemudian aku keluar dengan gaun yang di pasang dalam toko. "Kamu terlihat sangat cantik, Sena." Kate memberi pujian kepadaku. Aku kemudian berdiri di depan kaca yang besar dan panjang. "Ini aku?" Melihat diri sendiri yang sekarang membuatku terkejut. Sungguh tidak percaya jika sosok yang ada di depan cermin adalah aku. "Bagaimana? Cantik, kan." Aku memegang wajahku kemudian membalikkan tubuh. Gaun ikut berputar dengan indah. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli gaun tersebut. Kate melihat tas yang sangat cantik. Dia kemudian memegang tas tersebut. "Tas ini sesuai dengan gaun yang kamu beli pekan lalu." Aku berkata kepada Kate. Dia tersenyum kepadaku. Kami berdua kemudian pergi ke kasir dengan membawa barang yang telah di beli. "Sepertinya kita pulang terlambat. Akira pasti sedang menunggu mu." "Menungguku?" "Iya. Apakah kamu tidak merasa jika Akira menyukaimu?" Kate bertanya kepadaku. Aku tidak tahu perasaan Akira. Tetapi aku hanya ingin selalu bersamanya. "Bagaimana jika aku mengatakan perasaanku kepada Akira?" "Itu keputusan yang baik. Jangan sampai suatu hari kamu menyesal karena tidak mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya." Tidak lama kemudian kami telah tiba di depan rumahku. Karena sudah malam akhirnya Kate segera pulang. Rumah terlihat sepi. Aku kemudian mencari Akira di kamar tamu. Ketika membuka pintu dan aku melihat Akira yang sedang belajar. "Selamat malam Akira." "Selamat malam Sena. Kamu sudah pulang." "Iya." Aku berjalan mendekatinya. Ada buku mengenai nada musik. Akira sangat pandai memainkan alat musik apapun. "Bagaimana kalau kita memainkan piano bersama? Kebetulan aku baru saja selesai membuat lagu baru." Akira bertanya kepadaku. Kenangan sepuluh tahun yang lalu kembali teringat. "Akira. Kamu sedang apa?" "Apakah piano ini milikmu?" "Benar. Ayah sering memainkan piano untukku." "Bolehkah aku memainkan pianonya?" "Iya. Boleh." Akira kemudian duduk di kursi. Sepuluh jarinya memegang alat piano. Dia melihat buku yang berada di depannya. Perlahan jarinya mengikuti tangga nada yang berada di dalam buku. Lagu terdengar sangat indah. Aku merasa terpesona melihat Akira yang sedang memainkan piano. Dia dan pandai melakukannya. Aku kemudian memejamkan ke dua mata. Menikmati setiap nada piano. "Baiklah kalau begitu kita segera kesana." Akira kemudian meraih tanganku. Dia berjalan menuju tempat dimana piano itu berada. Aku duduk di sampingnya. Akira menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan perlahan. Musik piano berbunyi. Louis belajar membuat hidangan melalui koki restoran. Dia berangkat pada jam sembilan pagi. Hingga malam hari semangatnya masih menyala. Banyak percobaan hidangan yang gagal. Semua di bayarnya melalui gaji tambahan dari pemilik Cafe Zero. "Selamat akhirnya kamu dapat membuat hidangan dengan sempurna." Koki restoran mengucapkan selamat kepada Louis. Mulai hari ini Louis telah menjadi murid resminya. "Terimakasih guru." Louis kemudian menjawabnya. Koki tersebut memukul ke dua bahu murid barunya dengan perlahan dan tersenyum. Dia merasa senang karena ada seorang pria muda yang memiliki sikap yang baik dan rajin. "Kamu adalah orang yang kedua telah menjadi murid ku." Koki itu berkata kepada Louis. "Apakah aku boleh bertemu dengannya?" "Tentu saja. Dia sering datang kemari. Kamu bisa menemuiku kapanpun." "Terimakasih guru. Saat waktu libur nanti aku akan menemui guru dan belajar membuat hidangan yang baru." Louis menemui Steven yang sedang menunggunya di depan restoran. Steven tidak berani kembali ke penginapan saat malam hari. "Apakah yang sedang kamu bawa?" Steven bertanya kepada Louis setelah melihat temannya yang membawa dua kantung plastik putih. "Kantung plastik di sebelah kiri adalah hidangan yang telah gagal aku buat. Sedangkan sebelah kananku adalah hidangan pertama kali berhasil aku buat setelah belajar dari koki restoran." Louis lalu menjawabnya. "Kalau begitu aku akan mencoba hidangan pertama yang berhasil telah kamu buat." Mereka berdua segera kembali ke penginapan dengan berjalan kaki. Tidak lama kemudian Louis dan Steven tiba di penginapan. Jarak restoran dan penginapan hanya membutuhkan waktu sepuluh menit. Steven membuka pintu kamar. "Bagaimana dengan perkenalan mu dengan beberapa gadis di daerah ini?" "Darimana kamu bisa tahu?" Steven terkejut mendengarnya. "Tentu saja aku mengetahuinya. Itu karena terlihat sangat jelas." Louis menjawab dan tersenyum. Steven kemudian tertawa lepas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN