"Enak sekali steak daging ini."
Steven menyukai hidangan di restoran yang tidak jauh dari pemandian air panas.
"Kamu benar. Aku tidak mengira ternyata sup ayam ini terasa lezat. Kaldunya sangat khas. Sepertinya restoran ini memiliki resep pribadi."
Ini pertama kali dirinya menilai hidangan enak. Selama ini masakan ibunya yang paling terbaik. Sejak kecil Louis sering membantu ibunya saat memasak dan membuat kue. Bagi Louis waktu yang dilewati bersama dengan ibunya di dapur sangat menyenangkan. Karena sering membantu membuat Louis tahu bagaimana cara memasak dan membuat kue. Walaupun pekerjaan itu sering di lakukan oleh wanita tetapi Louis tidak mempedulikannya.
"Aku akan meminta koki restoran untuk mengajariku membuat hidangan yang seperti ini."
Steven kemudian menghentikan tangannya yang ingin mengambil steak daging. Dia terkejut mendengar perkataan dari Louis.
"Apakah kamu yakin?"
"Tentu saja. Aku sangat ingin membuat hidangan yang lezat seperti ini."
Melihat kedua mata Louis yang berbinar membuat Steven mempercayai perkataan temannya.
"Baiklah kalau begitu. Malam ini kita akan mencari penginapan di sekitar sini."
"Iya."
Louis menyetujui perkataan Steven. Setelah selesai makan kemudian mereka berdua mencari tempat penginapan. Tidak lama kemudian mereka menemukan tempat penginapan tersebut.
"Kenapa aku merasa kalau penginapan ini berhantu?"
Steven merasakan dingin di tubuhnya. Mereka berdua sekarang sedang berdiri di depan penginapan. Bangunan itu terlihat tua dan bahkan di sekitarnya terdapat pohon yang besar.
"Kamu ini memang pria yang penakut. Ayo kita masuk!"
Louis berkata kepada Steven. Dia kemudian melangkahkan kakinya.
"Tunggu dulu Louis."
Steven mencoba untuk mencoba untuk menghadang Louis. Wajahnya terlihat pucat.
"Tenang saja. Tidak ada namanya hantu. Lihatlah hari sudah malam. Kita tidak mungkin menginap di luar."
Louis berusaha menghibur temannya. Setelah beberapa saat berdiri di luar akhirnya Steven bersedia masuk ke dalam penginapan. Dia berjalan tepat di belakang dengan memegang ujung pakaian Louis. Mereka berdua kemudian masuk. Di dalam penginapan ruangan tamu Louis dan Steven tidak melihat ada orang. Saat Louis menekan bel kemudian ada seseorang pria tua yang datang. Penampilannya sangat aneh. Bahkan dapat membuat semua orang terkejut ketika pertama kali melihatnya.
"Selamat datang ke penginapan Hoshi Ryokan."
"Kenapa wajah pria itu menyeramkan sekali."
Steven mengatakannya dengan suara yang pelan. Tubuhnya bergemetaran karena takut.
"Kami ingin memesan satu kamar."
Louis berkata kepada penjaga penginapan.
"Ini kuncinya. Kamar kalian berada di nomer enam."
Pria itu kemudian memberikan kunci kamar.
"Terimakasih."
Segera Louis menerima kunci tersebut dan berjalan pergi menuju ke kamarnya.
"Bahkan pria tua itu memberikan nomer kamar berhantu. Enam merupakan angka ketidak keberuntungan."
Steven kembali mengeluh. Louis hanya diam. Dia tidak menjawab perkataan temannya hingga tiba di depan kamar. Louis kemudian membuka pintu dengan kunci yang telah diberikan oleh penjaga penginapan. Ruangan kamar terlihat kotor. Banyak debu di jendela, meja, dan kursi. Dinding kamar juga retak. Steven merendahkan tubuhnya di tempat tidur dan Louis duduk di kursi.
"Sepertinya malam ini aku tidak akan bisa tidur."
Steven berkata kepada Louis. Setelah selesai mengatakannya kemudian terdengar suara dengkuran. Steven telah tertidur pulas.
"Padahal dia baru saja mengatakan jika tidak bisa tidur. Tetapi sekarang dia sudah mendengkur."
Louis berkata kepada dirinya sendiri mengenai sikap temannya. Malam ini dia terjaga. Louis kemudian mengambil handphone yang berada di dalam tas. Dia mencoba mencari tahu mengenai penginapannya melalui situs online.
"Hoshi Ryokan merupakan salah satu penginapan tertua di dunia. Penginapan ini telah di dirikan sekitar 1300 tahun. Di dalam bangunan penginapan terdapat sumber mata air yang dulunya dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit."
Louis membaca informasi mengenai penginapan Hoshi Ryokan. Dia kemudian membuka jendela kamar.
"Kalau tidak salah informasi tersebut menyebutkan jika penginapan ini memiliki sumber mata air. Sepertinya besok aku akan memeriksa secara langsung."
Ketika sedang bermain handphone kemudian Louis melihat seseorang yang berdiri di depan penginapan. Orang itu menatap penginapan lalu pergi. Sikapnya sungguh aneh. Louis merasa orang itu terlihat sangat mencurigakan. Segera Louis menutup jendela. Jika orang itu memiliki niat yang buruk dan akan lebih baik jika Louis menjauh darinya. Ada satu kursi panjang di dekat tempat tidur. Louis membaringkan tubuhnya di kursi tersebut. Dia tidak bisa tidur di samping Steven yang sering mendengkur.
Ketika tengah malam terdengar suara handphone berbunyi.
"Halo?"
"Bagaimana dengan rencana kita besok Sena?"
Aku kemudian terbangun dari tidur.
"Jangan bilang kamu telah melupakannya."
"Aku tidak lupa kok."
"Baik. Kalau begitu aku akan datang ke rumahmu besok pagi."
Kate menutup teleponnya. Aku kemudian meletakkan handphone di dalam bantal dan kembali tidur. Keesokan harinya terdengar ketukan pintu di kamarku.
"Siapa disana?"
Aku bertanya kepada orang yang telah mengetuk pintu kamarku dengan ketakutan.
"Selamat pagi. Ini aku."
Suara yang terdengar tidak asing.
"Akira."
Aku menyebutkan namanya.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu."
Akira berkata kepadaku.
"Tunggu sebentar."
Aku lalu menemuinya. Sebelum keluar aku merapikan pakaianku yang terlipat saat tidur.
"Maaf, karena sudah membangunkan mu."
Akira meminta maaf kepadaku.
"Tidak masalah. Ada apa?"
Aku kemudian bertanya. Akira pasti memiliki alasan telah membangunkan di pagi hari.
"Kate datang kemari. Dia sedang mencari mu."
"Baiklah. Aku akan menemuinya setelah selesai mandi."
"Kalau begitu aku akan menyampaikannya kepada Kate."
Akira kemudian menghampiri Kate. Segera aku menyiapkan pakaian dan mandi.
"Sena akan segera menemui."
Akira menyampaikan pesan kepada Kate.
"Iya. Aku akan menunggunya."
Kate lalu menjawabnya. Dia kemudian duduk di kursi tamu dan menunggu. Tiga puluh menit kemudian aku datang menemui Kate di ruang tamu.
"Selamat pagi Kate."
Aku menyapa temanku.
"Selamat pagi."
Kate lalu menjawabnya. Tidak lama kemudian Akira datang.
"Bagaimana kalau sekarang kita pergi?"
Kate berkata kepadaku.
"Kalian akan pergi kemana?"
Akira bertanya kepada Kate. Aku mengalihkan pandangan ke arah Kate yang sedang berdiri dari kursi.
"Aku ingin mengajak Sena pergi ke Cafe Zero. Kebetulan tempat itu dekat dengan rumahku."
Kate menjawabnya kemudian tersenyum.
"Aku mengerti. Sekarang kalian boleh pergi. Semoga menyenangkan."
"Terimakasih."
Aku mengatakannya kepada Akira. Senang sekali karena Akira mengizinkan ku pergi bersama dengan Kate. Sebenarnya aku sedih karena harus meninggalkan Akira. Tetapi aku tidak dapat menolak permintaan Kate. Dia merupakan temanku.
Di luar ada mobil berwarna merah. Itu adalah mobil Mercy milik Kate.
"Ayo kita pergi."
Kate menarik tanganku menuju ke mobil. Dia yang akan mengemudikannya. Aku memasang sabuk pengaman sebelum mesin menyala. Tidak lama kemudian mobil berjalan pergi. Akira keluar dari rumah. Dia melihat mobil mercy hingga sosoknya menghilang.