"Sena."
Akira memanggil teman masa kecilnya. Dia melihat ke samping. Sena sedang tertidur pulas. Akira lalu berjalan menuju kamar Sena dan mengambil selimut. Tidak lama kemudian Akira keluar dari kamar. Dia menyelimuti tubuh Sena.
"Selamat tidur Sena. Semoga mimpi yang indah."
Akira membelai rambut teman masa kecilnya. Sinar matahari mengenai wajahku. Aku perlahan membuka kedua mata. Akira tidak ada di sampingku. Sekarang aku baru teringat jika kemarin malam sedang menonton anime dengan Akira.
"Dimana Akira?"
Aku kemudian berjalan mencarinya. Saat membuka pintu rumah dan aku melihat Akira sedang berolahraga.
"Selamat pagi Sena."
Akira kemudian menyapaku.
"Selamat pagi."
"Bagaimana kalau kita lari pagi?"
Kenangan saat berusia sepuluh tahun kembali teringat. Saat itu ayah mengajakku berolahraga. Aku bertemu Akira yang sedang berlari. Walaupun dia tidak pandai bermain basket ataupun permainan yang lain. Tetapi dia sangat rajin dalam lari pagi. Karena itu Akira memiliki tubuh yang bagus.
"Baiklah. Aku akan mengganti pakaian."
Sudah lama aku tidak lari pagi bersama dengan Akira. Kalau di ingat terakhir kalinya saat masuk SMU. Aku melepaskan pakaian tidur dengan pakaian olahraga. Setelah beberapa saat kemudian aku keluar dari rumah. Akira menungguku di halaman.
"Maaf sudah menunggu."
Aku berkata kepada Akira.
"Ayo sekarang kita lari."
Akira berlari meninggalkan halaman rumah. Aku mengikutinya dari belakang. Tidak terasa satu jam telah berlalu. Nafasku mulai tidak beraturan. Sepertinya aku kelelahan. Aku kemudian berhenti. Akira melihatku yang tidak berlari. Dia kemudian menghentikan larinya.
"Lebih baik kita beristirahat."
Aku menganggukkan kepala. Akira melihat sekitar. Dia kemudian berjalan menuju mesin minuman. Mengambil minuman kaleng dengan koinnya.
"Ini minuman untukmu. Rasa jeruk dapat membuat tubuh menjadi segar kembali."
Dia memberikan minuman kaleng rasa jeruk. Aku kemudian menerimanya. Segera minuman itu aku buka kemudian di minum. Suasana yang panas dan setelah berlari sesuai dengan minuman dingin. Tenggorokan yang tadinya kering sekarang menjadi segar. Perkataan Akira memang benar.
"Aku merasakan lebih baik."
"Tentu saja. Aku tidak mungkin berbohong kepadamu."
Aku kemudian tersenyum kepadanya. Akira menatapku dengan aneh.
"Apakah ada sesuatu di wajahku?"
"Tidak."
Dengan cepat Akira menjawab perkataanku. Dia kemudian membalikkan badannya.
"Kalau tidak ada sesuatu kenapa telingamu memerah?"
Aku kembali bertanya kepadanya. Hatiku menjadi penasaran dengan sikapnya. Akira tidak pernah bersikap seperti sekarang.
"Sudah waktunya kita pulang."
"Bukankah hari ini merupakan akhir pekan dan sekolah libur."
Akira kemudian berlari meninggalkanku sendirian. Terlihat sangat mencurigakan. Aku berjalan menuju ke rumah dengan seribu pertanyaan.
Di dalam kamar Louis terjatuh dari tempat tidurnya. Dia kemudian melihat jam di meja kamarnya. Waktu menunjukkan sembilan. Louis berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah keluar dari kamar mandi kemudian dia melihat temannya yang sedang duduk dan menikmati snack.
"Selamat pagi Louis."
Steven menyapa Louis. Kain handuk yang dibawa Louis terbang dan menutupi wajah temannya. Steven kemudian mengambil kain handuk tersebut.
"Apakah ini caranya melayani seorang tamu?"
"Aku tidak pernah mengundangmu untuk menginap di rumahku."
"Dasar pria menyebalkan!"
Jawaban Louis membuat Steven menjadi kesal. Temannya selalu bersikap dingin. Steven kemudian menatap Louis.
"Kenapa wajahmu menjadi bengkak?"
"Bukankah ini semua karena seorang pria yang menguasai tempat saat tidur bahkan menimbulkan dengkuran yang sangat keras."
Steven tertawa lepas mendengar perkataan dari Louis. Dia tidak pernah tahu saat tidur karena selalu tidur sendirian. Steven adalah anak tunggal dari kedua orang tuanya. Dia tidak memiliki saudara. Berbeda dengan temannya yang memiliki satu adik perempuan cantik. Louis kemudian menatap wajah Steven dengan tajam seakan ingin membunuh. Hawa dingin mengelilingi sekitar tubuh.
"Maaf. Aku tidak menyadarinya."
Steven segera meminta maaf kepada Louis. Satu jam telah berlalu. Louis dan Steven sudah mempersiapkan diri untuk pergi berlibur ke pemandian air panas. Mereka berdua pergi dengan mobil.
"Kemana kita akan berlibur?"
Louis memulai pembicaraan. Rencana ini adalah ide dari Steven. Dia tidak mengetahui tempat pemandian air panas yang akan dikunjunginya.
"Hakone."
Steven kemudian menjawabnya. Louis mengetahui tempat tersebut. Kawasan Hakone memang populer sebagai pusat pemandian air panas. Banyak turis lokal maupun wisatawan asing yang datang. Setiap spot pemandian air panasnya mempunyai konsep yang sungguh menarik. Berendam dengan air yang biasanya di sajikan atas meja.
"Bukankah tempat itu merupakan pemandian air panas campuran pria dan wanita?"
Louis bertanya kepada Steven.
"Kamu benar sekali Louis. Disana Kita bisa mandi bersama dengan gadis yang masih muda dan cantik."
Seketika Louis memukul dahinya. mendengar perkataan dari Steven. Dia menyesal karena telah ikut pergi ke pemandian air panas. Louis hanya mengira akan pergi bersama Steven ke pemandian air panas khusus pria. Melepaskan rasa lelah saat air panas menyentuh kulitnya. Menghirup aroma terapi sehingga menjadi lebih santai.
Kawasan Hakone tidak jauh dari tempat tinggalnya. Perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam. Mobil berhenti di tempat parkir. Setelah mesin dimatikan kemudian Steven turun dari mobilnya. Louis menghela nafas. Dia tidak menyukai tempat ini.
Steven masuk ke dalam dengan ekspresi kebahagiaan. Sebagai pria yang belum memiliki kekasih dan tempat ini sesuai untuknya. Dia bisa berkenalan dengan beberapa gadis cantik. Louis membawa tas di punggungnya. Berbeda dengan temannya dan Louis hanya membawa beberapa pakaian. Mereka berdua pergi ke ruangan ganti.
"Wah, banyak sekali gadis yang cantik?"
Steven terpanah melihat pemandangan yang berada di depan. Louis menata rambutnya yang terkena angin. Para gadis histeris melihat ketampanan dari Louis.
Steven kemudian masuk ke dalam kolam pemandian. Dia merendamkan seluruh tubuhnya. Louis juga ikut masuk. Para gadis berjalan mendekati Louis dan membuat Steven jatuh. Air gelembung keluar dari mulut Steven. Separuh wajahnya terendam air. Dia kemudian menatap punggung para gadis. Melihat keindahan tubuh wanita membuat Steven ingin memegangnya.
"Kenapa kamu bersembunyi di sana?"
Louis bertanya kepada Stevan. Kemudian Steven menghentikan aksinya.
"Aku hanya menikmati suhu air."
Steven membuat alasan supaya perbuatannya tidak ketahuan. Louis mengetahui isi kepala temannya. Dia kemudian menghampiri Steven. Waktu berlalu dengan cepat. Tidak terasa sudah hampir malam. Louis pergi meninggalkan kolam. Dia kemudian mengganti pakaian. Steven masih berada di dalam kolam bersama dengan seorang gadis.
"Akhirnya kamu datang."
Louis telah lama menunggu Steven. Banyak hidangan yang di atas meja. Segera Steven duduk di tempatnya. Ruangan untuk makan terlihat sederhana. Mereka menikmati hidangan dengan tradisional. Steven menyilangkan ke dua kakinya. Hidangan di sajikan secara langsung. Dia kemudian mengambil peralatan makan. Satu mangkuk kecil berisi nasi berada di hadapannya.
"Selamat makan."
Steven menikmati potongan daging. Louis meminum kuah sup ayam.