Chapter Ke Dua Belas: Takut Dengan Kegelapan

1004 Kata
Steven mendekati Louis. Dia kemudian bertanya kepada temannya dengan suara yang pelan. "Apakah kamu juga akan mengikuti kompetisi?" "Bukankah kita berdua telah mengikuti kompetisi pertandingan basket." "Yang aku maksud adalah kompetisi selain pertandingan basket. Misalnya ada beberapa siswa yang mengikuti kompetisi lebih dari satu." "Mengikuti pertandingan basket dan menjadi ketua sudah melelahkan. Aku tidak ingin mengikuti kompetisi lain. Semua itu sangat merepotkan." Louis menjawab pertanyaan Steven kemudian merapikan bukunya dan memasukkan ke dalam laci meja. Dia lalu berdiri dari bangkunya. "Bagaimana kalau kita pergi ke gedung olahraga untuk latihan?" "Boleh juga. Aku juga sudah mulai bosan hanya berdiam diri di dalam kelas." Steven menyetujui perkataan Louis. Mereka berdua berjalan meninggalkan kelas. Ketika berada di halaman sekolah dan aku melihat Kate yang sedang duduk di kursi panjang. Dia sedang memainkan handphone. Bukankah sekolah melarang siswa untuk membawa handphone di sekolah. "Hai." Aku menepuk bahu kanan Kate. Dia terkejut saat aku memanggilnya. "Ternyata kamu Sena." "Maaf karena aku telah membuatmu terkejut." "Tidak apa-apa. Aku tadi sedang membalas pesan dari ayahku." Jadi Kate melamun karena sedang menulis pesan. Aku kemudian duduk di sampingnya. Ekspresi wajah Kate terlihat sedih. "Bagaimana keadaan ayahmu?" Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Kate. "Ayahku akan menikah kembali. Aku tahu ibu meninggal saat masih muda. Tetapi kenapa ayah menikah dengan seorang wanita yang usianya sama denganku?" Kate menceritakan mengenai ayahnya yang akan menikah. Air mata keluar dari kedua mata Kate. Aku kemudian memeluk tubuhnya. Ini mungkin pertama kali aku melihat Kate menceritakan kehidupan pribadinya. Padahal kami berteman sejak sekolah dasar. Sepertinya aku merupakan sahabat yang buruk. Tidak pernah memahami perasaannya. "Bagaimana kalau kita menyelidiki wanita yang akan menikah dengan ayahmu?" Aku kemudian memberikan sebuah pendapat. Kate menganggukkan kepala. Dia menyetujui dengan ide itu. Aku berjanji kepada Kate akan berusaha untuk membantunya. Setelah pelajaran berakhir dan seperti biasanya Akira mengajakku untuk pulang. Masa hukuman yang harus aku jalani selama satu minggu. Sedangkan baru kemarin aku melaksanakan hukuman. Aku kembali menolak Akira dengan alasan akan pulang dengan Kate. Untung saja Kate membantuku menyakinkan Akira. "Sebenarnya apa yang telah terjadi? Jangan bilang kamu ingin menyembunyikan sesuatu dariku." Kate mendesak ku untuk berkata jujur kepadanya. Akhirnya aku menceritakan semua yang telah terjadi. "Jadi kamu dan Louis saling bermusuhan." "Iya. Aku sangat membencinya." Aku menjawab perkataan Kate dan memukul meja. "Kalau begitu hari ini aku akan membantumu membersihkan toilet." Seketika kedua mata ini berkaca mendengar perkataan dari Kate. Perasaan bahagia karena memiliki sahabat yang ingin membantu. "Terimakasih Kate." Aku kemudian menggenggam kedua tangannya. Kate tersenyum kepadaku. Setelah beberapa saat kelas menjadi kosong. Sekarang hanya ada aku dan Kate. Kami pergi menuju toilet. Saat berjalan aku merasakan ada seseorang yang sedang menatapku. Aku kemudian menghentikan langkah kaki. Melihat di sekitar. Setelah memastikan tidak ada orang lalu kembali berjalan. Aku membersihkan toilet wanita. Sedangkan Kate membantuku membersihkan toilet pria. Terdapat sebuah kaca besar yang terpasang. Aku berdiri di depan kaca tersebut. "Wajahku terlihat lembab." Ada dua lingkaran hitam di bawah mata. Kemarin tidak bisa tidur dengan pulas karena takut kepada hantu yang aku lihat di sekolah. Aku kemudian membuka kran. Air keluar dan jatuh kebawah. Mencoba untuk membasuh wajah agar menjadi segar. Saat membasuh wajah secara tiba-tiba ruangan menjadi gelap. "Apakah ada orang di sana?" Tubuhku menjadi bergemetaran. Aku menggigit bibir. Sejak kecil aku sangat takut dengan kegelapan. "Tolong aku!" Kedua lutut ini menjadi lemas. Aku kemudian duduk dengan memegang d**a. Jantungku berdetak dengan cepat. Terjebak dalam kegelapan. Hanya dapat menunggu seseorang yang menolong. Lama sekali aku berada di dalam toilet wanita. Tidak tahu sudah berapa lama menunggu seseorang. Sekarang bahkan aku sulit untuk bernafas. Aku memegang d**a ini dengan erat. Rasanya sakit seperti tertusuk jarum. Kepala ini yang awalnya baik sekarang menjadi pusing. Perut ini terasa mula. Terdengar suara pintu yang terbuka. Aku melihat seperti ada sepasang dua kaki di depanku. Pandangan ini semakin memburuk hingga tidak terlihat sama sekali. "Sena." Seseorang sedang memanggilku. Aku kemudian membuka mata dengan perlahan. Kate dan Akira berdiri di hadapanku. "Kalian?" Aku mencoba untuk bangun tetapi tubuh ini terasa berat. Keningku juga sakit. "Apakah kamu tidak apa-apa?" Akira bertanya kepadaku. Dia memegang tanganku dengan erat. Aku melihat wajahnya yang sedang khawatir. "Aku sekarang ada dimana?" Ruangan ini terasa tidak asing. "Kamu tadi pingsan di toilet. Aku segera menghubungi Akira. Syukurlah kamu sekarang sudah siuman." Kate menjawab pertanyaanku dan menangis. Ternyata aku tadi sedang pingsan. Tidak lama kemudian aku kembali mengingat kejadian sebelumnya. Saat itu aku sedang membasuh wajah. Secara tiba-tiba ruangan menjadi gelap. Mungkin aku jatuh pingsan setelahnya. "Terimakasih karena sudah mengantarkan aku kemari." Aku berkata kepada Akira. Dia pasti orang yang telah membawaku. Kate menatap Akira. Dia lalu memegang tanganku. "Bukan Akira yang melakukannya. Sebenarnya ada seseorang yang membawamu kemari. Kebetulan saat itu dia sedang melewati toilet wanita." "Siapa orang itu? Aku ingin mengatakan terimakasih kepadanya." Aku bertanya kepada Kate. Dia menatapku dan menarik nafas yang panjang. "Orang yang telah menolongmu adalah Louis." Akira kemudian menjawab. Seketika aku terkejut mendengar perkataannya. Orang yang membawaku bukan Akira melainkan musuhku. "Itu tidak mungkin. Aku pasti salah menderanya. Benarkan Kate?" Aku berkata kepada Kate untuk meyakinkan diriku. Kate hanya diam. Akira juga tidak mengatakan sesuatu. Ternyata aku tidak salah mendengar. Kenapa dia menolongku? Padahal kami berdua tidak memiliki hubungan yang baik. Bahkan bisa dikatakan sebagai musuh. Seharusnya dia membiarkanku. Aku kemudian menutupi tubuhku dengan selimut. Akira dan Kare meninggalkanku di ruangan kesehatan. "Apakah tidak apa-apa jika meninggalkan Sena sendirian?" Kate bertanya kepada Akira. "Sena membutuhkan istirahat. Lebih baik kita membeli makanan siang untuk Sena setelah dia bangun." Akira kemudian menjawabnya. "Kamu benar Akira." Kate menyetujui perkataan Akira. Mereka berdua kemudian pergi untuk membeli makanan. Di Cafe Zero ada Louis yang berjalan masuk. Hari ini dia berangkat terlambat. "Siapa pria ini Louis?" Rui melihat Louis bersama dengan seorang pria. "Perkenalkan dia adalah temanku." Louis memperkenalkan temannya. "Steven." Steven mengulurkan tangan kepada seorang gadis. "Rui." Rui kemudian menjawab. Dia menerima uluran tangan Steven. Mereka berdua saling berjabat tangan. "Maaf. Aku terlambat datang." Louis memulai pembicaraan saat suasana hening. "Tidak seperti biasanya kamu datang terlambat. Apakah ada sesuatu?" Steven kemudian menatap wajah Louis setelah mendengar perkataan dari Rui.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN