Chapter Ke Sebelas: Hasil Nilai Ujian

1012 Kata
"Tentu saja. Kamu bisa tidur di kamar tamu." Aku menjawabnya. Setelah selesai sarapan kemudian aku dan Akira berangkat ke sekolah bersama dengan naik mobil pribadi milik Akira. Di rumah Louis ada temannya datang dengan membawa tas besar. "Selamat pagi Louis." Steven menyapa Louis yang sedang memakai sepatu. "Apa yang sedang kamu bawa di dalam tasmu?" Louis bertanya kepada temannya. Steven meletakkan tas di atas lantai papan. "Ini perlengkapan untuk pergi ke tempat pemandian air panas." Steven kemudian menjawabnya. Louis menghela nafas. Dia tidak pernah menduga jika temannya akan membawa barang yang banyak seakan ingin pergi jauh. "Baiklah kalau begitu. Kamu bisa menaruhnya di kamarku." Louis kemudian menunjukkan kamarnya. Steven membawa tas tersebut dengan sempoyongan. Akhirnya Louis tiba di kamarnya dan membuka pintu. Steven kemudian menaruh tasnya di samping tempat tidur. Melihat Steven yang kelelahan dan Louis mendekati temannya tersebut. "Boleh aku lihat isinya di dalam tasmu?" Steven menganggukkan kepalanya. Dia kemudian membuka tas tersebut. Ada pakaian ganti, handbody, handuk, dan bahkan banyak snack. Sekarang Louis tahu snack itu yang membuat tasnya menjadi penuh. "Sepertinya snack itu enak. Boleh aku memintanya?" Louis bertanya kepada Steven. Sebagai teman tentu Steven memperbolehkannya. Segera Louis mengambil banyak snack dan memasukkan ke dalam tasnya. Sekarang isi tas milik Steven berkurang banyak. Louis sengaja melakukannya karena merasa kasihan kepada temannya. Steven pasti akan kesulitan jika membawa tas besar pergi ke pemandian air panas. Saat berangkat ke sekolah Steven yang mengemudikan mobil. Dia terlihat senang karena sebentar lagi akhir pekan. Dia akan pergi ke pemandian air panas bersama dengan temannya. Selain itu dia juga dapat bertemu dengan gadis yang cantik dan imut. "Oh ya, Louis. Apakah ada seorang gadis yang bekerja di tempat kerjamu?" Louis kemudian melihat ke arah Steven yang bertanya kepadanya. "Tentu saja ada. Dia juga masih bersekolah di universitas Tokyo." "Apakah dia gadis yang cantik?" Steven kembali bertanya. Louis kemudian menutup kedua mata. Mencoba untuk mengingat kembali sosok teman kerjanya itu. "Dia gadis yang cantik dan dewasa. Sikapnya kadang tidak menunjukkan dirinya berasal dari keluarga yang kaya. Tetapi dia sangat pandai." Steven mendengarkan semua perkataan dari Louis. Ini pertama kali temannya membicarakan seorang gadis hingga menjelaskannya. "Kalau boleh tahu siapa nama gadis itu? Bagaimana kalau kamu kenalkan dia kepadaku." Louis kemudian melihat ke arah jendela. Untuk beberapa saat dia hanya diam tanpa menjawab. Tidak lama kemudian menjawab perkataan temannya. "Kenapa kamu gak berkenalan sendiri kepadanya?" "Bolehkah? Baiklah nanti aku akan menemanimu bekerja. Bukankah kamu juga mau meminta izin untuk liburan." Steven mengatakannya dengan penuh semangat. Dia ingin mengetahui sosok wanita yang membuat temannya terpesona. Berbeda dengan Louis yang tidak memperdulikan perkataan dari Steven. Dia kemudian memasang earphone di kedua telinganya. Louis sangat menyukai dengan lagu tersebut. Hari ini penyanyi Jepang yang bernama Tasuku Hatanaka merilis lagu terbarunya. Steven melihat temannya yang asik mendengarkan lagu menjadi penasaran. Dia kemudian menghentikan mobilnya dan mengambil satu earphone di telinga temannya. Sekarang dia mengetahui lagu apa yang sedang di dengarnya. "Twisted Hearts." "Kamu tahu lagu ini?" Louis kemudian bertanya Steven. "Tentu saja. Bukankah ini lagu terbaru dari Tasuku Hatanaka." Dia memahami jika temannya tidak menyukai lagu. Tetapi ini sungguh mengejutkan. Ternyata Steven juga mengetahui lagu berjudul Twisted Hearts. "Kamu benar. Lagu ini adalah milk Tasuku Hatanaka dan baru saja keluar." Louis kemudian menjawab. Sebuah senyuman lebar menghiasi wajahnya. Steven kembali menghidupkan mesin. Mobil berjalan menuju ke sekolah. Ketika tiba di depan parkir dan aku bertemu Louis. Dia turun dari mobil. "Selamat pagi Sena?" Steven menyapaku. Akira kemudian memegang tanganku dan menarik pergi. Berusaha menjauhi mereka berdua. Steven menggarukkan kepala dan tertawa. Suasana menjadi canggung. Aku melihat eskpresi wajah Akira yang sedang marah. Sepertinya dia tidak menyukai Louis dan Steven. Di dalam kelas terlihat ramai. Seorang siswa wanita datang menghampiriku. Dia merupakan temanku "Selamat pagi Sena." Kate menyapaku dan tersenyum manis. "Selamat pagi." Aku kemudian melepaskan genggaman Akira dan berjalan bersama dengan Kate. "Akhir pekan apakah kamu mau pergi bersamaku ke Cafe Zero?" Kate bertanya kepadaku. Aku lalu duduk di kursi. Nama Cafe Zero terdengar asing. Apakah itu sebuah nama cafe baru? Sebenarnya saat akhir pekan aku mau mengajak Akira menonton film di bioskop. Tetapi aku melihat Kate yang sedang menatapku penuh semangat. Jika aku menolaknya dan dia pasti sedih. "Iya. Sepertinya akhir pekan aku memiliki waktu luang." "Baiklah kalau begitu Kita akan pergi ke cafe Zero pada akhir pekan." Aku merasa sudah masuk ke dalam rencana Akira dan juga Kate. "Hari ini bapak akan memberikan hasil ujian." Pak guru meminta Louis untuk memberikan kertas ujian kepada semua siswa di kelas. Di ujung atas kertas ada tulisan nama siswa. Louis memberikan sesuai dengan nama. Perlahan Louis menatapku. Dia kemudian berjalan ke arahku. Apakah dia ingin datang kemari? Aku menundukkan kepala. Berusaha untuk tidak menghindar. Louis kemudian berjalan melewati mejaku. "Terimakasih." Seorang siswa wanita yang duduk di belakangku mengatakan terimakasih kepada Louis. Jadi dia tidak memberikan kertas ujian kepadaku. Tetapi mengapa aku merasa kecewa? Padahal seharusnya itu tidak boleh terjadi. "Ini kertas ujian milikmu." Selembar kertas ujian berada di hadapanku. Aku kemudian mengangkat wajahku dengan perlahan. Louis kemudian meletakkan kertas ujian di atas mejaku dan berjalan ke arah yang lain. Aku mengambil kertas ujian kemudian tersenyum. Akira melihat teman kecilnya yang sedang tersenyum melihat kertas ujian. Dia kemudian juga ikut tersenyum. Sepertinya teman kecilnya itu mendapatkan nilai yang baik. Tanpa berbicara apapun tiba-tiba Louis meletakkan kertas ujian kepada Akira. Pak guru menuliskan di papan. Hasil nilai ujian tertinggi didapatkan oleh dua orang yaitu Louis dan Akira. Mereka berdua masing-masing mendapat nilai sempurna. Kemudian di susul oleh Kate mendapatkan nilai sembilan. Setelah itu Sena dan Steven mendapatkan nilai delapan. "Bulan depan akan ada kompetisi antar SMU di seluruh Jepang. Karena itu setelah akhir pekan setiap kelas akan mengajukan dua siswa untuk mengikuti kompetisi." Pak guru mengatakan kompetisi sekolah kepada semua siswa yang berada di dalam kelas. "Akira. Bapak ingin kamu yang mencatat siswa yang akan mengikuti kompetisi dan memberikan catatan tersebut setelah selesai." "Baik pak." Akira segera berdiri dan menjawab perkataan dari pak guru. Setelah itu jam istirahat berbunyi. Akira berjalan menuju ke ruangan pak guru. Dia ingin meminta daftar untuk peserta dan nama pelajaran maupun olahraga apa saja yang masuk dalam kompetisi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN