Chapter Ke Lima : Ketua Kelas

1004 Kata
Di kantin sekolah ada Louis yang sedang menikmati kue dan mendengarkan lagu favoritnya. Siswa wanita menatap Louis dari kejauhan. Ada juga yang berteriak histeris memanggil namanya. Sedangkan siswa pria memasang ekspresi yang dingin karena merasa iri dengan Louis yang di sukai para gadis. Louis tidak menghiraukannya. Baginya ini sudah merupakan hal yang biasa. Menjadi pusat perhatian semua orang dimanapun berada. Steven berjalan menghampiri Louis. Dia melihat kue dan minum dingin cappuccino yang di atas meja. Steven kemudian memesan yang sama dengan temannya. "Louis?" Seorang siswa wanita memanggil nama Louis. Dia lalu menghampiri dua pria yang sedang duduk saling berhadapan. Karena sedang menggunakan earphone membuat Louis tidak mendengar panggilan tersebut. Siswa wanita itu kemudian memberikan sebuah kotak hadiah kepada pria idola di sekolah tepat didepannya. Louis kemudian menatap hadiah itu dan melepaskan earphone. "Namaku Ayumi dari kelas 1D. Aku jatuh cinta kepada kakak. Maukah kakak menerima perasaanku?" Siswa wanita itu mengutarakan perasaannya didepan orang banyak. Dia memberikan sebuah kotak hadiah. Louis kemudian berdiri dan berjalan mendekati siswa wanita tersebut. Pandangannya kemudian teralih ke sebuah kotak hadiah. Aku sedang berjalan menuju ke kantin. Setelah tiba di kantin aku melihat kerumunan. Apakah sedang ada menu hidangan baru? Karena merasa penasaran kemudian aku masuk kedalam kerumunan tersebut untuk melihat yang sebenarnya telah terjadi. "Apakah hadiah ini untukku?" Louis bertanya gadis itu. Aku baru mengetahui alasan banyak orang yang datang ke kantin. Mereka melihat seorang gadis yang sedang menyatakan cinta kepada Louis. Pertunjukan yang menarik. Aku ingin mengetahui apa yang akan di lakukan oleh pria itu setelah mendapatkan pernyataan cinta dari seorang gadis. "Aku tanya kepadamu. Apakah hadiah ini untukku?" Louis mengulangi pertanyaan karena tidak mendapatkan jawaban. "Benar. Hadiah ini untuk kakak." Gadis itu kemudian menjawabnya dan memberikan hadiah kepada Louis. "Terimakasih." Louis mengucapkan terimakasih dan menerima hadiah. Dia kemudian membalikkan badan dan pergi. Steven yang baru saja menghabiskan kue dan minumannya dengan segera berjalan menghampiri Louis. "Bagaimana dengan jawaban dari kakak?" Dengan mengumpulkan semua keberanian kemudian gadis itu bertanya kepada pria yang dicintainya. Louis membalikkannya kembali dan menatap gadis itu. Dia kemudian tersenyum manis. Wajahnya yang tampan sedang tersenyum membuat jantung para gadis yang berada di kantin berdetak dengan kencang. Mereka terpesona melihat senyuman yang diperlihatkan oleh Louis. "Maaf. Aku tidak bisa menerima pernyataan cinta darimu. Bukankah kita harus menjalani hubungan kekasih dengan orang yang dicintainya?" Sebuah jawaban dari Louis yang membuat semua orang terkejut. Louis kemudian berjalan pergi meninggalkan gadis itu. Steven ikut menemaninya. Aku kemudian menggigit bawah bibirku dan mengerutkan kening karena marah melihat sikap dari Louis yang telah keterlaluan. Dia menerima hadiah dengan senang tetapi kemudian menolak perasaan gadis itu. Aku baru mengetahui ternyata ada seorang pria yang jahat seperti dirinya. Louis berjalan menuju teras gedung atas sekolah. Earphone yang berada dalam saku di ambil. Kemudian memasang earphone pada kedua telinganya. Padahal saat berada di kantin Louis mendengarkan lagu kesukaannya tetapi terganggu. Dia ingin kembali mendengarkan kembali lagu tersebut. Steven menemui Louis dengan membawa kantung plastik yang berisi minuman dingin. "Mau minuman?" Steven menawarkan minuman tersebut kepada Louis. Ada tiga buah minuman. Mereka terdiri dari Ramune, Jeruk, dan Kopi. "Terimakasih." Louis mengatakan terimakasih dan meraih minuman Ramune yang berada didalam kantung plastik. Ramune adalah minuman berkarbonasi paling terkenal di Jepang karena bentuk botolnya yang khas. "Apakah kamu tidak ingin membuka hadiahnya?" Steven bertanya kepada Louis dan melihat sebuah kado yang digenggam temannya. "Tentu saja." Louis menjawabnya. Dia kemudian membuka kado tersebut. Didalamnya terdapat coklat mini yang tersusun rapi dalam kotak. Louis dan Steven kemudian saling menatap. Mereka berdua menyukai makanan coklat. "Musim dingin seperti sekarang sangat menyenangkan ketika berendam di air panas. Bagaimana jika kita berdua pergi ke tempat perendaman air panas?" Steven berkata kepada Louis. Sebenarnya Louis juga ingin menikmati liburan. Tetapi dia harus bekerja. Walaupun dirinya mendapatkan beasiswa dari sekolah tetapi dia juga harus mengeluarkan biaya untuk ekstrakulikuler basket. Menjadi pemain basket yang hebat dan terkenal adalah impiannya. "Baiklah. Aku akan meminta izin kerja." Louis menjawab pertanyaan dari Steven. Keinginan untuk pergi bersama dengan temannya sangat besar. Hingga jam istirahat berakhir. Louis dan Steven menghabiskan waktu di teras gedung atas sekolah. Aku keluar dari perpustakaan setelah mendengar bel masuk berbunyi. Dia membawa buku yang dipinjamnya. Novel kisah cinta remaja yang baru saja diterbitkan. Judul novel tersebut adalah Awal Musuh Menjadi Pacar. Aku tertarik dengan novel tersebut saat membaca halaman awal cerita. Kisah cinta seorang gadis yang jatuh cinta dengan teman masa kecilnya tetapi tidak berani mengungkapkan perasaannya tersebut. Saat aku berjalan di lorong sekolah kemudian aku menabrak tubuh seseorang. "Maaf tidak sengaja." Aku meminta maaf kepada orang itu. "Kalau hanya dengan meminta maaf bisa menghapus kesalahan seseorang dan untuk apa ada polisi." Seseorang berkata kepadaku. Aku kemudian mengangkat kepalaku. Louis berdiri di depanku dengan kesombongan. "Aku menyesal karena telah meminta maaf kepadamu." Tanpa perasaan takut aku menjawab perkataan darinya. Louis menatapku dengan tajam. Aku menegakkan wajahku dan menunjukkan perasaan tidak takut kepadanya. "Sudahlah Louis. Bagaimana kalau kita segera pergi?" Steven berusaha menenangkan hati Louis yang sedang marah. Mereka berdua kemudian berjalan pergi. Aku kembali melangkahkan kaki menuju ke kelas. Akira berdiri di depan pintu kelas. Dia segera menghampiriku setelah melihatku yang sedang berjalan. "Kamu darimana?Aku tadi mencari mu." Akira bertanya kepadaku. "Aku membaca buku di perpustakaan." Aku menjawab pertanyaan dari Akira. "Baiklah kalau begitu." Di dalam ruangan OSIS ada seorang siswa pria yang memakai kacamata sedang menulis. Siswa itu adalah Davin. Ketua OSIS. Louis dan Steven masuk kedalam. "Apakah kalian sudah membawanya?" Davin bertanya kepada kedua orang yang sedang berdiri dihadapannya. Louis kemudian memberikan kertas yang bertuliskan anggota kelompok basket yang baru. Semua nama anggota basket di tulis kedalam selembar kertas. Ketua team memberikan kertas bertuliskan nama anggota kepada ketua OSIS. Semua biaya perlengkapan olahraga basket berasal dari pihak sekolah. "Terimakasih karena telah menulis anggota baru." Ketua OSIS berkata kepada Louis dan Steven. "Kalau begitu apakah kami berdua boleh kembali ke kelas?" Louis kemudian bertanya. Ketua OSIS menganggukkan kepala. Setelah diperbolehkan kemudian Louis dan Steven berjalan pergi. Hari ini siswa pulang lebih awal. Akira mengajakku untuk kembali. Karena belum selesai menulis akhirnya aku menyuruh Akira untuk pulang. Dengan perasaan sedih Akira meninggalkan kelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN