"Akhirnya sudah selesai."
Aku merenggangkan ke dua tanganku ke atas.
"Sepertinya aku pulang terlambat."
Sinar matahari yang masuk kedalam kelas telah berubah warna. Dengan segera aku merapikan buku dan memasukkannya kedalam tas. Ketika berjalan pulang aku melihat suara bola dari gedung olahraga. Aku kemudian berjalan menuju kesana.
Ada seorang pria yang sedang bermain basket. Melihat punggungnya seperti atlet profesional. Permainannya sangat menawan. Aku terpesona melihatnya. Ketika dia membalikkan badan seketika tas yang aku pegang terjatuh. Ternyata atlet profesional itu adalah Louis.
Aku lalu mengambil tasku yang berada di lantai. Kemudian meletakkannya ke bahu. Dengan segera aku meninggalkan gedung olahraga. Sepertinya Louis tidak mengetahui kedatanganku. Aku berhenti di bawah pohon yang besar. Nafasku tersengal setelah berlari.
"Dasar bodoh. Kenapa jantungku berdetak dengan kencang?"
Aku mendengar tiap jantungku yang berdetak. Semakin lama semakin kencang. Wajahku juga menjadi demam. Aku kemudian menggelengkan kepala. Tidak mungkin aku jatuh cinta kepada musuhku. Kaki ini kembali melangkah pergi.
"Aku pulang."
"Selamat datang kembali. Kenapa kamu pulang terlambat?"
Ibu bertanya kepadaku. Aku kemudian masuk kedalam rumah.
"Tadi aku belum selesai mencatat pelajaran."
"Kamu tidak makan dulu?"
Ibu bertanya kepadaku.
"Tidak. Aku mau tidur. Nanti saja setelah bangun."
Aku menjawab perkataan ibu kemudian berjalan menuju ke kamar. Nyonya Hudson melihat sikap putrinya yang terlihat aneh tidak seperti biasanya. Segera aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Saat sedang ingin memejamkan mata kemudian handphone berbunyi. Nada dering anime pembuka Moriarty the patriot. Aku meraih handphone yang berada di bawah bantal kemudian membaca pesan di line.
"Akira."
Setelah mengetahui jika pesan tersebut dari Akira seketika aku berdiri dan berjalan menuju ke jendela. Akira melambaikan tangannya ke arahku. Dengan segera aku berlari meninggalkan kamar dan turun kebawah melewati tangga.
"Kamu mau pergi kemana, Sena?"
Ibu bertanya kepadaku tetapi aku tidak memperdulikannya dan terus berlari menemui teman masa kecilku.
"Aku tadi berada di halaman dan melihatmu pulang sekolah. Karena banyak aku mengirim pesan untukmu. Apakah kamu mau pergi bersamaku?"
Akira bertanya kepadaku. Jantungku berdetak dengan kencang seakan ingin pecah ketika mendengar Akira ingin mengajakku pergi. Tanpa berpikir kemudian aku menganggukkan kepala.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang."
Akira berkata kepadaku lalu menaiki sepedanya. Dengan perasaan malu kemudian aku duduk di belakang. Dia mengelola sepedanya perlahan. Udara di sore hari sungguh sejuk. Aku melihat banyak pegawai kantor yang pulang.
"Sena. Apakah aku boleh tahu yang akan kamu lakukan setelah lulus sekolah?"
Aku menatap punggungnya setelah mendengar perkataan dari Akira.
"Aku ingin menjadi perias."
Akira kemudian menghentikan ayunan sepedanya.
"Perias?"
"Benar. Sejak kecil aku sangat menyukai make up."
"Kalau begitu aku akan menjadi model. Dengan ini kita bisa selalu bersama."
Akira mengatakannya dengan senyuman yang indah. Aku kemudian menganggukkan kepala dan menyetujuinya. Kami menghabiskan waktu bersepeda mengelilingi jalan di dekat rumah. Ada mesin minuman. Tenggorokanku terasa haus.
"Akira. Aku ingin minum."
Aku berkata kepada Akira dan menunjukkan mesin minuman dengan jari telunjukku. Akira mengayunkan sepeda mendekati mesin minuman tersebut. Dia kemudian turun dari sepeda.
"Kamu ingin minuman yang mana?"
Akira kemudian bertanya.
"Minuman rasa jeruk."
Aku menjawab pertanyaannya. Akira lalu memasukkan uang koin ke dalam mesin minuman dan menekan tulisan minuman rasa jeruk. Tidak lama kemudian minuman keluar dari tempat mesin. Akira memberikan minuman kaleng kepadaku.
"Terimakasih."
Aku kemudian menerimanya. Dia lalu menaruh koin kembali dan minuman kaleng kopi dipilihnya.
"Segarnya."
Rasa jeruk memang pilihan terbaik. Perasaan menjadi lebih segar. Aku kemudian menyadari Akira sedang menatapku. Aku tersenyum kepadanya. Dia membalasnya dengan senyuman.
"Sepertinya awan sudah mulai gelap. Lebih baik kita pulang."
Akira berkata kepadaku. Kami berdua segera kembali sebelum matahari terbenam.
Louis menghapus keringat di wajahnya dengan kain handuk. Dia kemudian menaruh bola di pangkuannya.
"Pertandingan basket akan segera diadakan. Aku harus bisa membagi waktu dengan baik."
Louis berkata kepada dirinya sendiri. Dia kemudian berjalan pergi meninggalkan gedung olahraga. Pakaian yang di gunakan saat bermain basket telah berganti. Penampilannya sekarang terlihat berbeda. Louis yang menggunakan pakaian seragam pelayan cafe.
"Kamu sedang buat apa Louis?"
Seorang gadis cantik berambut pendek dan bermata biru bertanya kepada Louis. Terdengar suara oven berbunyi. Louis menggunakan sapu tangannya. Dia kemudian mematikan oven dan membuka pintu. Mengambil sesuatu yang berada di dalam oven.
"Lapis legit. Kue berasal dari Indonesia. Terbuat bahan dasar tepung terigu, mentega, dan telur. Keunikan kue ini dapat dilihat dari bentuknya yang berlapis. Rasanya yang manis dan tekstur yang lembut, serta lapisannya yang bisa mencapai 18 sampai 22 layer membuatnya masuk dalam barisan kue favorit dunia."
Gadis itu mengangguk kepala. Wajahnya kemudian memerah. Dia tersipu mendengar jawaban dari Louis. Gadis yang bernama Rui menyukai Louis. Seorang pria yang tampan dan pandai membuat kue. Jam telah menunjukkan pukul tujuh. Cafe mulai ramai karena kedatangan pengunjung.
Sejak Louis melamar pekerjaan di Cafe Zero dan banyak pelanggan wanita yang datang. Mereka membeli minuman ataupun kue hanya karena ingin bertemu dengan Louis. Wajahnya yang tampan membuat para wanita terpesona. Manager jarang datang ke Cafe. Karena itu Louis menjadi lebih nyaman saat bekerja.
"Apakah hari ini ada menu yang baru?"
Salah satu pelanggan setia bertanya.
"Tentu saja. Ini adalah menu terbaru kami. Namanya adalah Lapis Legit."
Louis kemudian menjawabnya. Dia memperlihatkan kue yang baru selesai dibuatnya. Pelanggan terpaku karena baru pertama kali melihat kue tersebut. Dengan penuh keraguan pelanggan mengambil satu Lapis Legit. Kue itu kemudian perlahan masuk ke dalam mulut pelanggan.
"Bagaimana nona?"
Semua orang yang berada di dalam cafe bertanya. Nona itu hanya mengunyah kue tanpa berbicara. Hal itu membuat pelanggan menjadi lebih penasaran. Mereka ingin mengetahui rasa Lapis Legit yang dibuat oleh Louis. Kedua mata wanita itu kemudian terbuka lebar dan mengeluarkan air mata.
"Sangat enak."
Semua orang kemudian tertuju kepada kue setelah mendengar pujian sangat enak dari pelanggan. Loui kemudian memberikan segelas air putih kepada wanita itu.
"Terimakasih."
Pelanggan mengucapkan terimakasih dan menerima gelas yang berisi air putih dari Louis kemudian meminumnya. Setelah itu semua pelanggan memesan Lapis Legit. Rui membantu Louis menyerahkan kue yang sudah matang kepada pelanggan. Tidak lama kemudian kue itu habis terjual. Tetapi masih ada menu yang lainnya. Pelanggan yang baru datang tidak bisa menikmati menu hidangan baru buatan Louis. Dua jam kemudian Cafe tutup. Semua menu makanan dan minuman telah habis.
"Akhirnya kita bisa pulang lebih awal."
Rui berkata kepada Louis. Wajahnya terlihat sangat senang.