08

1987 Kata
Fany tersenyum senang hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Fany sedang menatap tiga temannya yang tengah memegang sebuah piala. “Yeeay, kita menang.” Maya bersorak kegirangan karena mereka berhasil memenangkan perlombaan pentas seni mendapatkan juara satu. “Eh, kita foto-foto dulu dong.” Irene mengeluarkan ponselnya dari tas. “Re, Reagan!” pekik Maia saat melihat Reagan. “Fototin kita dong, kelas kita menang lho.” Maia menunjukkan piala yang ia pegang. Reagan mengangguk sambil mengangkat kameranya bersiap untuk memotret Maia dan teman-temannya. “Eh woi, foto dulu ayok!” seru Irene pada teman-teman sekelasnya. Mereka langsung berhambur berdiri di depan papan tulis. Fany dan tiga temannya berdiri di tengah sambil memegang piala sedangkan yang lainnya duduk dan ada juga yang berdiri, mereka bergaya dengan bebas untu merayakan kemenangan atas nama kelas mereka. *** Fany duduk di kursi meja belajarnya sambil menatap beberapa foto yang di kirim Maia. Foto yang di kirim oleh Maia adalah foto yang diambil melalui ponsel Maia sendiri, sedangkan foto yang diambil oleh Reagan belum di kirim. Mata Fany menatap ke bagian status bar yang menunjukkan sebuah notifikasi. Reagan added you as a friend. Mata Fany mengerjap beberapa kali untuk memastikan apa yang baru ia lihat. Fany langsung keluar dari room chat grup nya bersama teman-temannya. Reagan sent a photo. Dengan ragu-ragu Fany membuka room chat nya denga  Reagan. Reagan mengrimkan foto kepadanya dengan jumlah yang cukup banyak, alis Fany terangkat karena setelah selesai foto terkirim Reagan tidak mengucapka apapun. Reagan Miler Maaf Re, kenapa isi fotonya muka aku semua, ya? Foto-foto yang sama temen-temen mana? Udh di kirim. Oh, ini tinggal foto aku sendiri, ya? Iya. Ya udah, makasih ya. Iya. Dan chattingan mereka pun berakhir. “Kan, aku gak ada minta di fotoin, kenapa malah di fotoin?” Fany kembal membuka ruang obrolannya dengan Reagan untuk melihat foto-foto yang baru saja di kirim. Fany melihat foto dirinya yang sedang berada di kelas waktu dirinya berfoto bersama teman-teman sekelasnya, kebanyakan foto yang diambil adalah candid. Fany terus menggerakan jempolnya untuk melihat foto yang lainnya, jempol Fany menjauh dari layar ponsel ketika ia melihat foto nya saat berada di atas panggung, hanya dirinya yang terlihat. Awalnya Fany tidak percaya jika Reagan benar-benar memotretnya ketika berada di atas panggung tadi karena Fany yakin bukan hanya dirinya yang di potret melainkan ketiga temannya juga. Tapi nyatanya, Reagan benar-benar memotretnya, hanya dirinya. Fany menatap lama foto terakhir dimana di foto itu Fany tengah tersenyum ke arah kamera. Fany bersumpah jika senyum itu bukan di tujukan ke arah kamera. Cerita mengapa Fany bisa sampai tersenyum ke arah kamera adalah saat Fany sudah selesai bernyanyi Fany menyunggingkan senyumnya yang cukup lebar kepada orang-orang yang sedang bertepuk tangan. Senyum Fany terus mengembang hingga ketika Fany ingin tersenyum ke arah penonton yang ada dibagian kanan tanpa sengaja mata Fany malah tertuju ke arah laki-laki yang sedang memegang kamera dimana senyumnya masih mengembang lebar. *** “Pagi, Fany.” Fany berhenti berjalan lalu menoleh ke samping. “Pagi juga, Darren.’ Mulut Darren yang terbuka kembali tertutup saat melihat tatapan demi tatapan tertuju ke arah Fany. Ada yang tersenyum bahkan ada yang menyapa Fany dan itu membuat Darren tidak menyukainya. “Apa lo liat-liat calon cewek gue?” Darren melotot pada laki-laki yang sedang menatap sambil tersenyum. “Masih juga calon, saingan lo banyak, bos. Harap bersabar,” balas laki-laki yang mendapatkan pelototan dari Darren seraya pergi. “Udah ayok gue anter ke kelas,” Fany mengangguk berjalan berdampingan dengan Darren. Ketika sudah sampai di kelas Fany tidak langsung masuk melainkan berdiri di depan pintu bersama dengan Darren. “Istirahat ke kantin bareng, ya? Mau ya?” Fany diam sejenak membuat Darren semakin penasaran dengan jawaban Fany. Senyum Darren mengembang lebar melihat Fany mengangguk. “Gue tunggu di sini, di depan kelas lo.” Kata Darren. “Udah selesai?” Darren dan Fany sama-sama menoleh. “Reagan,” kata Fany saat melihat Reagan berdiri di samping mereka. Fany berdiri menghadap Reagan yang sedang menatap lekat Darren, begitu juga dengan Darren. “Minggir,” kata Reagan dengan dingin, mata Reagan menatap pintu kelas yang terhalang oleh Fany. “Gak bisa ngomong yang baik-baik lo?” tanya Darren seraya melipat kedua tangan di depan d**a. Reagan hanya diam menatap datar Darren. “Bisu?” Rahang Reagan mengeras. Fany memperhatikan sekelilingnya dimana siswa-siswi yang ada di koridor sudah memperhatikan ke arah mereka, memprhatikan Reagan dan Darren yang sedang adu pandang.  Yang ada di pikiran mereka mengenai adu pandang antara Reagan dan Darren disebabkan oleh gadis yang sedang berdiri diantara dua laki-laki tampan itu, mereka pikir bahwa Reagan dan Darren sedang memperebutkan gadis bertubuh mungil tersebut. Fany menarik tangan Darren agar menjauh dari hadapan Reagan karena jarak tubuh mereka tidak kurang dari stu meter. “Udah mau bel, kamu masuk aja.” Fany mendorong pelan d**a Darren dengan kedua tangannya. Darren menatap Fany kemudian beralih memperhatikan Reagan yang masih menatapnya, setelah itu Darren un pergi. Reagan masuk ke dalam kelas saat Darren sudah pergi meninggalkan Fany yang masih bediri di depan kela. Tak lama orang9orang yang ada du koridor juga mulai pergi seraya menatap ataupun melirik Fany. *** Fany menatap teman-temannya yang sedang melihat-lihat foto mereka ketika mengikuti lomba kemarin. “Kok kebanyakan muka lo ya yang keliatan, Fan.” “Masa sih?” Fany ikut menatap layar ponsel Irene dan baru menyadari jika foto-foto yang dikirim olen Reagan kebanyakan memperlihatkan wajah Fany. “Kebetulan aja mungkun, Ren.” Kata Fany sambil tersenyum. Irene mengangguk kecil. “Mungkin Irene lagi mikir yang aneh-aneh nih,” kata Maya. “Mikir apa emang gue?”  “Wajar sih mikir yang enggak-enggak, apalagi mikir Reagan suka sama lo, Fan.” sahut Maia. “lho kok bisa mikir kayak gitu?” Irene mendelik pada Maya dan Maia seperti memberi peringatan untuk tidak berbicara apapun. “Irene suka sama Reagan!” seru Maya langsung mendapat bekapan tangan dari Irene. “Wah Irene suka Reagan,” “Sssttt!” Irene menaruh telunjuknya di bibir.  “Udah lama ya Irene suka sama Reagan?” tanya Fany dengan sangat pelan. Irene menjauhkan tangannya dari mulut Maya. “Maya bohong, gue gak suka tuh sama Reagan.” “Perlu gue bocorin nih ke satu kelas? Atau ke satu sekolah bair lo langsung terkenal?” Irene melempar Maia menggunakan stabilo miliknya namun tidak kena karena Maia langsung menghindar dan berlari ke depan kelas mentertawakan Irene dimana wajah temannya itu sudah merah. Melihat kelakuan kedua temannya Fany tertawa memperhatikan Irene dan Maia yang sedang bertengkar kecil. “RE! REAGAN!” panggil Maia dengan kuat membuat seisi kelas langsung menatap Maia dengan waktu yang tidak lama kemudian kembali asyik dengan kegiatan mereka masing-masing di jam kosong. Fany menoleh ke belakang dimana Reagan duduk tepat dibelakangnya. Fany beralih menatap ke arah depan saat matanya dan mata Reagan saling bertemu. *** “Kayaknya aku gak ke kantin deh,” ucap Fany saat bel istirahat sudah berbunyi. “Lah kenapa? Lagi diet lo?” tanya Miya. “Enggak, Mi. Aku mau ngerjain tugas aja soalnya pulang sekolah nanti aku les, pulangnya malem jadi takut gak sempet ngerjain tugas nya di rumah. Aku di kelas aja kalian ke kantin sana.” “Lo mau nitip makanan gak?” tawar Irene. “Enggak, aku bawa bekal kok. Kalian makan ntar jam istirahanta keburu habis lho,” Dan ketiga teman-teman Fany pergi ke kantin. Yal lama mereka pergi ada seseorang yan datang dan duduk tepat di sebelah Fany. Fany menoleh. “Rajin amat?” Fany tersenyum. “Gak ke kantin?” tanya Darren. “Enggak soalnya mau ngerjain tugas dulu, lagian kan nanti masih ada jam istirahat kedua. Kamu gak ke kantin?” Darren menggeleng seraya mengeluarkan ponselnya. “Lo cari apa?” tanya Daren melihat Fany tengah mencari sesuatu dari kotak pensilnya. “Stabilo aku, kayaknya tadi masih ada deh.” “Paling di maling,” Fany memasukan kotak pensil nya ke dalam laci lalu menoleh ke belakang menatap Reagan yang sedang membaca buku. “Reagan,” Reagan menatap Fany. “Boleh gak aku pinjem stabilo kamu?” tanya Fany dengan hati-hati karena ekspresi datar Reagan membuatnya takut. Reagan memasukkan tangannya ke dalam tas kemudian memberikan stabilo nya kepada Fany dan setelah itu ia lanjut membaca buku. “Biar gue yang balikin,” Darren mengambil stabilo dari tangan Fany saat Fany sudah selesai memakainya. “Aku aja, kan yang minjem aku.” tolak Fany karena tidak ingin Darren dan Reagan adu pandang lagi. “Udah gue aja,” Darren berbalik ke belakang, “thanks, bro.” Kata Darren sambil meletakkan stabilo di depan Reagan. Reagan mengangguk tanpa menatap Darren. “Thanks,” ulang Darren mampu membuat Reagan langsung menatapnya. “Gue gak tuli,”  Darren tersenyum, “tapi bisu.” “Darren,” tegur Fany. Darren tersenyum ke arah Fany lalu menghilangkan senyumnya ketika kembali menatap Reagan. “Suara lo itu mahal ya sampe lo gak mau ngomong? Tapi kalo gue denger-denger masih bagusan suara gue sih,’ Reagan lebih memilih untuk mengacuhkan Darren, laki-laki itu bangkit berdiri dan keluar dari kelas. “Dih laki-laki apaan kayak gitu, lemah banget.” cibir Darren seraya tertawa. “Kamu gak boleh kayak gitu, Darren.” Darren menatap Fany, “gue kan cuma bercanda aja, emang dia aja yang baperan kayak cewek.” Fany hanya bisa menggelengkan kepala lali kembali lanjut mengerjakan tugasnya. *** Fany dan Irene sedang berjalan menuju ke perpustakaan seraya berbicara dan tertawa. Irene mengerutkan dahi ketika Fany berhenti berjalan secara tiba-tiba. “Lo kenapa?” “Kamu gak denger kayak lagi ada yang ribut-ribut gitu, Ren?” Irene menyelipkan rambutnya ke belakang telinga untuk mendengarkan apa yang sempat Fany dengar. Terdengar suara teriakan dan tawa dari arah koridor ujung, lebih tepatnya dari arah belakang ruang komputer yang sudah tidak terpakai lagi. “Nah, kamu denger kan Ren? Kayaknya lagi ada yang di bully deh.” Irene langsung menggeleng dan menarik tangan Fany untuk pergi. “Lho kok kita malah pergi? Kita harus liat dulu kenapa malah pergi?” Irene diam terus menarik tangan Fany membawa Fany menuju kantin. Irene menjauhkan tangannya dari pergelangan tangan Fany ketika mereka sudah berada di kantin. Telinjuk irene berada di bibir Fany saat Fany ingin berbicara. Irene merapatkan tubuhnya ke tepi meja melipat kedua tangan di meja memperhatikan ke kanan dan kiri yang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang makan ataupun nongkrong karena saat ini jam istirahat sedang berlangsung. ‘Lo dengerin gue,” kata Irene dengan pelan dan serius. Fany mengangguk. “Tadi itu bener lagi ada yang di bully,” Mata Fany terbelalak lebar, “serius, Ren? Tapi kata Papa aku di sekolah ini jauh dari yang namanya bullying.” Irene langsung menggeleng. “Bokap lo salah, bokap lo belum tau aja. Gue rasa hampir di setiap sekolah pasti ada kasus bullying ada yang ketauan dan ada yang gak ketauan aja. Untuk kasus bullying di sekolah ini belum ketauan sama sekali,” “Lho kok bisa? Kenapa belum ketauan? Kalo gitu ayo kita kasih tau guru-guru, Ren. Biar mereka kapok dan biar gak ada kasus kayak gini lagi di sekolah kita,” “Ih jangan cari masalah! Justru kalo kita ngadu kita bakal kena imbasnya, Fan. Apalagi lo masih anak baru otomatis lo belum banyak ngerti gimana kelakuan mereka.” Irene berdehem sebelum kembali bercerita. “Kalo lo denger kasus bullying di sekolah ini lo gak boleh kasih tau atau ngadu ke siapapun! Mau guru atau orang tua lo gak boleh ngadu kalo lo mau aman, karena kalo lo bocor dikit aja gantian lo yang bakal jadi korban mereka dan lo bakal di bully habis-habisan. Selama di sekolah lo gak bakal tenang karena lo bakal terus di teror sama mereka. Makanya, lo diem aja Fa kalo lo tau lagi ada yang di bully demi kemanan lo juga, jadi jangan cerita ke siapapun, oke?” “Tapi itu salah, Irene.” Irene berdecak, “iya gue tau tapi dengerin apa yang gue bilang!” Fany langsung diam seraya menunduk, tangannya mulai bergerak memainkan jemarinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN