Keesokan harinya ketika di sekolah dan jam belajar sedang berlangsung, Reagan terpaksa harus keluar dari kelas karena ada yang mencarinya. Reagan masuk ke ruang BK, ia sempat terkejut karena harus masuk ke ruang BK sedangkan seingatnya ia tidak memiliki kesalahan apapun.
Reagan duduk di kursi yang sudah ditentukan untuknya. Reagan menatap seorang pria dengan setelan formal nya masuk ke ruangan BK dan langsung duduk di depan Reagan.
"Jelaskan, kenapa Fany bisa nangis semalam." Ucap Ardhan sambil membenarkan jas nya yang berwarna abu-abu.
Ardhan dan Reagan menoleh ke arah pria baya yang baru masuk ke dalam ruangan dan duduk di sebelah Reagan.
"Kamu yang bikin Stefany sampai nangis, Reagan?" Tanya pria tersebut.
"Enggak, Pi." Jawab Reagan.
"Jadi siapa?" Tanya Ardhan.
Reagan menghela napas. "Saya gak bisa ngasih tau."
Jawaban Reagan membuat Ardhan menggeram.
Ardhan menatap pria yang ada di sebelah Reagan.
"Bilang aja Re, jangan dirahasiakan kayak gitu." Ucap Richard.
Reagan kembali menghela napas.
"Di sekolah ini ada bullying."
Ardhan yang semula bersandar di kursi menegakkan tubuhnya meminta penjelasan lebih dari Reagan.
"Fany ketakutan karna dia masuk ke daftar orang yang bakal di bully yang ada di sekolah ini." Kata Reagan.
Ardhan mengepalkan tangannya.
"Sejak kapan ada bullying di sekolah ini? Kenapa Papi baru tahu?" Tanya Richard kepada Reagan.
"Udah lama. Banyak yang tau soal bullying itu tapi gak ada yang berani bilang karna mereka gak mau ikutan di bully kalau mereka ngadu ke guru apalagi ke orangtua."
Richard mengusap wajahnya.
"Siapa-siapa saja orang itu?" Tanya Ardhan tidak sabar melihat wajah orang-orang yang sudah membuat Fany menangis.
Reagan menatap Ardhan lalu beralih menatap Richard.
"Anak dari donatur sekolah ini."
Ardhan langsung meminta Richard memberi tahu mengenai profil donatur sekolah, bukan profil orang-orang yang sudah membuat Fany takut.
"Kamu tahu mereka?" Tanya Richard.
Ardhan mengangguk dengan mata yang memperhatikan tiga map berisikan profil donatur sekolah. Tiga orang donatur itu adalah orangtua dari orang-orang yang suka melakukan bullying.
"Mereka bertiga bekerja sama di bawah perusahaan saya, mereka bertiga pengusaha yang sukses karna bantuan saya." Ardhan menutup map-map tersebut sambil menatap Richard.
"Tolong panggil mereka bertiga ke sini, ke hadapan saya." Kata Ardhan yang tentunya dapat disanggupi oleh Richard.
Satu jam kemudian ruangan yang tadinya hanya berisikan tiga orang sudah bertambah dengan hadirnya tiga orang pria yang sedang menatap bingung ke arah Ardhan, mereka bingung kenapa Ardhan ingin bertemu kepada mereka di sekolah anak-anak mereka.
"Saya yang akan menggantikan posisi kalian di sekolah ini." Ucap Ardhan tidak memikirkan lagi soal ketiga pria yang memiliki umur jauh lebih tua darinya, Ardhan merasa tidak harus hormat kepada pria-pria baya itu.
"Maksud kamu?" Tanya pria yang memakai jas berwarna hitam.
"Mungkin pak Richard bisa menjelaskan."
Ketiga pria tersebut langsung menatap Richard.
"Anak-anak kalian sudah melakukan bullying di sekolah ini. Mereka sudah bertindak di luar batas dan ketentuan sekolah. Dengan berat hati saya harus mencabut jabatan kalian sebagai donatur dan mengeluarkan anak kalian dari sekolah."
"Permintaan dari Ardhan." Lanjut Richard ketika salah satu mulut pria baya itu terbuka hendak mengajukan protes.
"Mungkin karna anak kalian berasal dari keluarga yang kaya raya, keluarga terpandang, dan berasal dari pengusaha yang sangat sukses sehingga tidak ada yang berani melawan anak-anak kalian. Termasuk anak saya, mungkin anak saya tidak bisa melawan anak-anak kalian, tapi sayangnya saya tentu bisa. Jangankan untuk melawan anak-anak itu, untuk melawan orangtua dari anak-anak itu saja saya bisa. Bahkan untuk menghancurkan orangtua serta anaknya bisa saya lakukan dengan mudah. Kesimpulan, jangan mencari masalah dengan saya, apalagi sampai mengganggu anak saya." Ucap Ardhan memberikan senyuman di akhir kalimat nya.
"Oh iya, dan satu lagi. Saya memutuskan kontrak kerja sama kita, saya tidak keberatan jika harus membayar penalti karena bagi saya tidak masalah jika harus kehilangan uang daripada kehilangan perusahaan. Kalian mendapatkan uang saya, dan saya mendapatkan perusahaan kalian. Tiga perusahaan sekaligus. Jadi, silahkan kalian mencari profesi dan pekerjaan baru."
Ketiga pria itu tidak bisa mengucapkan apapun selain diam, lidah mereka terasa kaku, mulut mereka sangat berat untuk terbuka.
Ardhan menelepon seseorang dan tak lama laki-laki bertubuh tegap berpakaian hitam datang sambil membawa tas. Ardhan membuka tas hitam miliknya dan mengeluarkan buku kecil berukuran panjang yang tak lain adalah Cek.
Ardhan menaruh cek tersebut di meja membuka tutup pulpennya yang terlihat begitu mahal hanya untuk sebuah pulpen. Ardhan menatap ketiga pria yang hanya bisa diam memperhatikan nya.
"Berapa penalti yang harus saya bayar? Three billion five hundred million, right?"
Tanpa perlu menunggu balasan pertanyaan nya Ardhan langsung menuliskan nominal yang sudah ia ucapkan barusan dan menyodorkan selembar cek kepada ketiga pria tersebut.
"Senang bekerja sama dengan Anda." Ucap Ardhan sambil tersenyum.
Reagan yang masih berada di ruangan tersebut menatap Ardhan, Reagan hanya diam menyaksikan perbuatan Ardhan yang jauh dari kata sopan. Dalam diamnya Reagan mengagumi sosok Ardhan, terlihat masih sangat muda tapi sudah sangat berkuasa.
***
Darren berlari keluar dari gedung sekolah ketika melihat Fany berdiri sendirian di depan pintu masuk sekolah.
"Woy!" Fany menoleh memperhatikan Darren yang sedang berbungkuk mengatur napasnya yang terengah-engah.
"Kamu kenapa? Kok lari-lari?" Tanya Fany sambil memegang bahu Darren.
Darren memegang tangan Fany yang berada di bahunya.
"Gue takut lo pergi." Fany menundukkan kepalanya.
"Maksud kamu? Aku gak pergi kemana-mana kok."
Darren menegakkan tubuhnya tanpa melepaskan tangan Fany.
"Pulang bareng gue ya." Ajak Darren.
"Tapi aku udah di jemput, ini lagi nunggu jemputan."
Bahu Darren merosot turun.
"Mau ke kantin bareng selalu gak jadi, mau pulang bareng selalu gak bisa." Gerutu Darren sambil memainkan jemari Fany.
"Kamu gak mau izin ke Papa sih."
"Emang kalo gue izin langsung dibolehin gitu?"
Fany menggeleng sembari menyeringai.
Darren menoleh ke samping seolah-olah sedang ngambek.
"Ck, lo lagi lo lagi. Udah dua kali lo ganggu gue sama Fany yang lagi berduaan. Sama yang ini udah tiga kali, mau lo apa? Lo sengaja apa gimana nih?"
Fany menatap Reagan yang sedang berdiri di dekat mereka. Reagan menatap malas Darren mengacuhkan ucapan laki-laki itu.
"Kalo orang nanya dijawab!" Ucap Darren berlagak seperti seorang bapak kepada anaknya.
"Terserah." Mata Darren membulat mendengar balasan ucapan Reagan.
"Eh lo-"
Tin..tin...
Ketiga orang itu langsung menoleh ke arah mobil sedan berwarna silver terparkir di depan pintu masuk ke sekolah.
Darren langsung berdiri tegap di sebelah Reagan yang selalu terlihat stay cool dalam situasi apapun.
Seorang anak remaja laki-laki keluar dari mobil sedan tersebut dengan pakaian seragam sekolah. Anak laki-laki itu adalah Nevan.
Nevan berjalan mendekati Fany dengan satu tangan yang ia masukkan ke kantong celana dan satu tangannya lagi memegang ponsel.
"Kak ayo pulang." Ucap Nevan kepada Fany.
"Papa mana?"
"Di kantor, ada urusan penting katanya. Pulang cepetan." Nada suara Nevan terdengar seperti memerintah membuat Fany langsung mengangguk. Semakin beranjak dewasa Nevan malah terlihat sangat mirip dengan Ardhan, bukan dari wajah tapi dari sikap. Nevan memiliki sikap yang overprotektif sama seperti ayahnya.
"Kenapa kalian deketin kakak gue?" Tanya Nevan mengangkat tinggi kepalanya.
"Dih, gue. Masih kecil lo tong, sopan dikit." Ucap Darren.
Nevan berdecak sambil mengibaskan tangannya.
"Gak ada yang boleh deketin kak Fany, ya. Awas aja kalian, gue bilangin Papa."
Darren menutup mulutnya yang sedang menyunggingkan senyum lebar.
"Gue kira lo yang bakal bertindak, eh gak tau nya bokap lo. Anak Papa ya gini nih." Darren sudah tertawa membuat pipi Nevan yang merah sejak ia masih bayi terlihat semakin merah.
"Ih, pipi lo merah. Kok bisa merah gitu? Lo pake blush-on yaaa?" Tawa Darren pecah ketika melihat semburat merah di pipi Nevan.
Darren tertawa cukup keras sampai memukul lengan Reagan seperti mereka sudah saling kenal dan akrab. Reagan menatap Darren tanpa ekspresi ketika lengannya di pukul oleh Darren.
"Darren," panggil Fany menegur Darren untuk berhenti tertawa karena wajah Nevan sudah merah.
Nevan yang sudah tidak tahan dengan mulut Darren menarik tangan Fany untuk masuk ke dalam mobil. Tapi langkah Nevan terhenti membuat Fany juga menghentikan langkahnya.
Nevan mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan kamera ponselnya kepada Darren dan Reagan yang masih berdiri bersebelahan. Merasa jika Nevan memotret mereka, Darren tersenyum sedangkan Reagan terus memasang wajah tanpa ekspresi.
"Gue bakal bilang kalo kalian berdua udah deketin kak Fany, siap-siap aja kalian ketemu sama Papa gue besok. Liat aja!" Nevan memberikan pelototan kepada Darren dan Reagan lalu kembali menarik Fany masuk ke dalam mobil.
Kaca mobil terbuka memperlihatkan Fany yang sedang tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Darren dan Reagan. Darren langsung membalas melambaikan tangan dengan senyum yang tersungging lebar sedangkan Reagan tetap sama seperti tadi-tadi, tidak memberikan ekspresi apapun selain ekspresi datar.
***
Seorang laki-laki duduk sendirian menatap ke arah wanita yang sedang tertidur.
Laki-laki itu tersenyum.
"Re mau cerita dikit ke Bunda. Kelas Re ada kedatangan murid baru, perempuan. Dia cantik, baik, lembut, gampang senyum, persis kayak Bunda. Setiap liat dia Re selalu keinget sama Bunda."
Reagan, laki-laki itu menundukkan kepala menatap tangannya yang sedang mengelus tangan ibunya.
Reagan kembali menatap ibunya.
"Bunda doain ya, semoga Re bisa bawa dia ke sini, ketemu sama bunda. Gak tau kapan, tapi Re bakal bawa dia ke sini." Reagan tersenyum kecil. Ia menghela napas mengeluarkannya dari mulut.
Reagan menggaruk hidungnya yang mancung, pandangan Reagan terbagi antara genggaman tangannya dan wajah pucat ibunya.
Kali ini Reagan menatap ibunya, ia menggenggam erat tangan ibunya, Reagan mendekatkan tubuhnya kepada wanita berwajah pucat tersebut.
"Re tertarik sama dia, Bunda."