"Kalian masuk ke semifinal."
Ketiga perempuan tersebut langsung berteriak, terkecuali gadis bertubuh mungil yang hanya tersenyum memperhatikan teman-temannya yang sedang bahagia.
"Duh, thanks banget, Re." kata Irene sambil tersenyum manis.
Reagan menaikkan sebelah alisnya. Seolah-olah bertanya, buat apa?
"Thanks, infonya." kata Maia yang hanya dibalas anggukan oleh Reagan lalu laki-laki itu pergi ke bangkunya.
"GIRLS!!! WE DID IT!" Miya memeluk ketiga temannya.
"Mari kita berjuang lebih keras lagi!" Irene mengangkat satu tangannya.
"Ck, bau b**o yang tinggi-tinggi."
Irene menatap tajam David yang baru saja melewatinya dan melemparkan kotak pensil milik Chaca bendahara kelas yang terkenal sangat dan paling cerewet di seluruh kelas sebelas jika sudah menyangkut soal uang kas ataupun pengutipan.
"IRENE LO APAAN SIH KENAPA KOTAK PENSIL GUE LO BUANG HAAH?" teriak Chaca sambil mengambil kotak pensilnya yang berada di meja David dan Reagan.
Dengan wajah yang ditekuk Chaca mengambil kotak pensilnya, senyum terbit di bibir Chaca saat matanya dan mata Reagan saling bertemu walaupun hanya sekedar.
"Udah ah, yuk kantin." Miya menyeret teman-temannya keluar kelas.
Sesampainya di kantin Fany duduk di bangku yang sudah ditentukan oleh Maia. Meja makan mereka yang ada di kantin berbentuk lingkaran dengan single chair berwarna krem mengelilingi meja tersebut. Fany memperhatikan teman-temannya yang sedang mengantri untuk mengambil jatah makan di kantin secara gratis dengan pilihan menu yang sangat banyak. Fany tidak ikut mengambil makan karena ia sudah membawa bekal.
"Yah, minumnya ketinggalan." gumam Fany lupa membawa minum yang berada di tas nya. Mau tidak mau pun Fany ikut mengantri di khusus bagian mengambil minuman karena di meja yang Fany tempati tidak disediakan minuman.
"Eh-eh," tubuh Fany terhuyung karena ada yang menabraknya dari samping. Fany menatap laki-laki yang ada di depannya, laki-laki yang baru saja menabrak nya menyalip antrian berdiri di depan Fany yang sedikit lagi dapat mengambil minuman untuknya.
Fany menggeser kan tubuhnya ke samping saat laki-laki yang menyalip antriannya ditarik kebelakang menjauh dari hadapan Fany.
"Belajar tertib,"
Fany menoleh ke belakang karena suara yang baru saja ia dengar berasal dari arahnya.
"Makasih, Reagan." ucap Fany sambil tersenyum.
Reagan menatap Fany yang sedang mendongakkan kepala untuk menatapnya. Hanya sekilas Reagan menatap Fany lalu pandangannya lurus ke depan tanpa membalas ucapan Fany, memberi respon pun tidak ada baik itu senyuman ataupun anggukan.
Fany kembali berbalik menghadap depan karena orang yang ada di depannya baru saja mengambil minuman lalu pergi.
"Lo dari mana?" tanya Irene ketika melihat Fany datang ke meja dan duduk di sampingnya.
"Ngambil minum, minum aku ketinggalan di kelas." jawab Fany sambil membuka kotak bekalnya yang berisikan nasi, ayam, nugget, dan sayuran.
Fany memasukkan makanan nya ke dalam mulut membuat mulutnya menggembung sebelah. Fany menoleh ke arah sekumpulan laki-laki yang duduk tidak jauh dari meja mereka, mata Fany fokus memperhatikan laki-laki yang tadi berdiri di belakangnya saat mengantri mengambil minuman, laki-laki itu adalah Reagan. Reagan terlihat tenang dengan buku yang ada di tangannya, sesekali Reagan meminum minumnya dengan tatapan fokus ke arah buku. Reagan tidak seperti teman-temannya yang sangat berisik, berbicara, tertawa, bahkan memukuli meja, Reagan terlihat sangat tenang asyik sendiri dengan buku yang ada di tangannya.
Fany terkesiap ketika Reagan menoleh ke arahnya, Fany langsung mengalihkan pandangan. Fany merasa sangat malu, malu karena ketahuan memperhatikan Reagan dan yang kedua, malu karena mulutnya menggembung sebelah akibat makanan yang berada di dalam mulutnya.
"Hai!!"
Fany dan ketiga temannya mendongak untuk menatap laki-laki yang sedang berdiri di antara Fany dan Irene.
"Pulangnya bareng gue ntar, yuk." ucap Darren kepada Fany.
Irene, Maia, dan Miya saling tatap melihat orang yang tidak mereka kenal tiba-tiba saja datang ke meja mereka.
Fany menatap teman-temannya yang terlihat kebingungan.
"Oh iya. Irene, Maia, Miya, kenalin ini Darren. Temen kecil aku."
"Darren, ini temen-temen aku."
Darren mengulurkan tangannya menjabat tangan mereka satu-persatu sambil menyebutkan namanya.
"Pulang sekolah bareng gue ya, Fan. Mau kan?"
"Emm... Kayaknya gak bisa Darren. Aku udah dijemput soalnya, aku kan emang selalu dijemput."
"Yaaah, sekali-sekali sama gue dong pulangnya." kata Darren sedikit memaksa.
"Gak bisa Darren, kamu kan tau gimana Papa aku."
"Iya gue tau, tapi... Eh-eh, sapa nih yang narik-narik gue???" Darren menggerakkan lengannya karena lengan baju di tarik.
"Apa kamu?"
Mulut Darren yang semula terbuka langsung tertutup.
Darren menggeleng.
"Om suka banget ngasih kejutan ke saya dengan dateng tiba-tiba." Darren terkekeh dan membungkukkan badan mencium punggung tangan Ardhan.
"Sana!" Ardhan menggerakkan dagu nya menyuruh Darren pergi. Tanpa mengucapkan apapun Darren langsung pergi hilang dari hadapan Ardhan.
Fany yang semula yakin dengan Darren, malah berubah menjadi tidak yakin jika Darren benar-benar ingin memperjuangkan nya. Melihat Darren yang langsung pasrah ketika berhadapan dengan Ardhan membuat Fany tidak mempercayai Darren lagi, tapi Fany tidak mau berpikir yang bukan-bukan mengenai Darren, dengan sedikit keyakinan yang tersisa Fany berharap Darren dapat membuktikan ucapannya bahwa Darren lah laki-laki yang akan melepas dirinya dari segala sikap overprotektif Ardhan.
Setelah selesai mengusir Darren, Ardhan pamit kepada Fany dan teman-teman Fany. Fany menatap Ardhan yang sedang berjalan ke arah meja yang jaraknya cukup jauh dari mejanya. Ardhan duduk bersama kepala sekolah berbincang bersama sambil sesekali tertawa.
"Bokap lo kayaknya gak suka sama Darren." ucap Irene.
Fany menggeleng, "enggak kok, bukan cuma ke Darren aja. Ke semua laki-laki yang pengen deketin aku juga Papa gak suka."
Mendengar ucapan Fany membuat mata Irene, Maia, dan Miya kembali saling bertemu.
***
Fany yang sedang mengerjakan tugas di meja belajarnya menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Nevan," kata Fany.
"Nevan mau ngapain? Tumben banget."
Nevan menarik kursi meja rias Fany dan duduk di sebelah Fany.
"Nevan mau ngapain? Ada pr matematika ya?"
Nevan menggeleng menumpukan pipinya di tangannya.
"Nevan masih ngambek ya gara-gara dimarahin Papa kemarin?"
Nevan menatap Fany dengan tatapan sendu.
"Papa lebih sayang sama kakak daripada sama Nevan." ucap Nevan.
Fany menggeleng, "enggak, Papa sayang sama Nevan. Papa gak pilih-pilih kasih gitu."
"Buktinya Papa gak pernah marahin kakak."
"Pernah kok, tapi Nevan aja yang gak tau. Kakak pernah dimarahin Papa." ucap Fany berbohong.
"Bener pernah?"
Fany langsung mengangguk, "iya pernah, kakak lupa gara-gara apa. Tapi serius kakak pernah dimarahin Papa."
Nevan menundukkan kepala menatap jemari nya yang sedang memainkan tutup pulpen Fany.
Fany menyentuh punggung Nevan dan mengusapnya.
"Papa marah bukan berarti Papa gak sayang, Papa marah karena Papa peduli. Nevan gak boleh ikutan marah kalo Papa marahin Nevan. Kalo Papa gak sayang sama Nevan gak mungkin kan semua keinginan Nevan diturutin sama Papa? Mungkin kemarin Papa lagi ada masalah kerjaan jadinya kebawa emosi pas ngomong sama Nevan." kata Fany sambil mengelus punggung Nevan.
"Tapi Papa marahnya pas Nevan bilang pengen punya adik."
"Gak usah dipikirin lagi, kakak yakin Papa marahnya cuma sebentar. Nevan kan tau Papa gimana, kalo emang Papa marah karena Nevan bahas soal adik lain kali jangan bahas soal itu lagi, ya."
Nevan mengangguk dengan kepala yang tertunduk.
"Kak, handphone nya Nevan rusak." ucap Nevan tanpa menatap Fany.
"Kok bisa? Rusak gimana?"
"Jatuh di sekolah, Nevan dorong-dorongan sama temen pas turun dari tangga, Nevan lagi megang handphone ya udah handphone nya jatuh." Nevan merogoh kantong celananya.
Fany mengambil ponsel Nevan yang sudah hancur di bagian depan dan sisi-sisi ponsel tersebut banyak terdapat goresan.
"Udah gak bisa hidup lagi?" tanya Fany.
Nevan menggeleng.
Fany membolak-balikkan ponsel Nevan yang sudah tewas.
"Mama udah tau?"
"Belum. Nevan mau bilang tapi Mama sama Papa terus."
Fany memberikan ponsel tersebut kepada Nevan. Kepala Nevan yang tertunduk ia angkat ketika Fany menyodorkan benda pipih berukuran 5,5 inchi berwarna rose gold.
"Nevan pake handphone kakak dulu ya."
"Terus kakak?"
"Kakak gak terlalu suka main handphone, gak masalah handphone kakak Nevan pake. Entar kakak yang bilang ke Papa soal handphone Nevan. Kalo kakak yang bilang pasti di kasih, Nevan kan selalu ngomong kayak gitu."
Nevan tersenyum seraya mengambil ponsel milik Fany.
"Makasih, kak."
Fany tersenyum dan mengangguk.
***
Fany membuka pintu besar berwarna putih dan menyembulkan kepalanya untuk melihat apakah ada Ardhan di dalam ruangan tersebut.
Fany masuk ketika melihat Ardhan sedang membaca beberapa lembar kertas yang ada di dalam map.
"Pah," panggil Fany sambil duduk di hadapan Ardhan.
Ardhan mengangkat kepalanya yang tertunduk untuk menatap Fany.
"Kenapa? Jangan ngomong yang Fany udah tau jawaban apa." Ardhan kembali menatap lembaran kertas yang dipenuhi oleh tulisan.
Fany mengerti apa maksud Ardhan, saat ini Fany sedang tidak ingin meminta izin keluar rumah. Ini menyangkut soal Nevan, Fany tidak tega melihat Nevan yang sedang sedih akibat marahnya Ardhan kemarin saat mereka sedang makan malam.
"Papa lagi marah ya sama Nevan?"
Ardhan menggeleng.
"Kasihan Nevan, Nevan jadi takut sama Papa."
Ardhan diam masih fokus memandangi kertasnya.
"Nevan merasa kalo Papa itu pilih kasih, Nevan bilang ke Fany kalo Papa lebih sayang sama Fany daripada sama Nevan."
"Itu gak bener."
Fany diam menatap Ardhan yang sibuk membolak-balikkan kertas.
"Pah, Nevan itu anak Papa."
"Fany juga anak Papa."
"Tapi Nevan anak kandung Papa."
"Gak ada yang namanya anak kandung, anak tiri, anak angkat. Fany sama Nevan sama-sama anak Papa."
Fany menatap jemari nya yang ada di atas meja kerja Ardhan.
"Kalo Fany pikir-pikir, apa yang dibilang sama Nevan bener. Papa lebih perhatian ke Fany daripada ke Nevan. Terus Papa marah sama Nevan cuma gara-gara Nevan pengen punya adik?"
Ardhan menghela napas menutup map berwarna merah menatap Fany yang sedang menunduk.
"Lagian gak masalah ada anggota baru di keluarga ini, Mama juga masih muda kok. Masih cocok untuk hamil."
Ardhan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Kalo emang bisa, Papa juga mau punya anggota baru di keluarga ini. Sayangnya gak bisa, Fany."
Fany mengangkat kepalanya menatap Ardhan.
"Gak bisa kenapa? Maksud Papa gimana?" Fany kurang mengerti.
Ardhan kembali menghela napas, mendekatkan tubuhnya ke tepi meja menautkan kedua tangannya.
"Mama, Mama gak bisa hamil lagi." kata Ardhan dengan lirih.
Fany terlihat terkejut mendengar pernyataan dari Ardhan. Fany diam membiarkan Ardhan berbicara lebih jauh.
"Waktu umur Nevan dua tahun Mama sering ngalamin pendarahan. Jadinya..." Ardhan menggantung kalimatnya untuk membahasi tenggorokannya yang terasa kering.
"...rahim Mama di angkat, ya Mama gak akan bisa hamil lagi." ucap Ardhan semakin lirih.
Fany menggigit bibirnya karena merasa sedih sekaligus bersalah karena sudah membuat Ardhan teringat dengan hal menyedihkan tersebut.
"Papa gak marah karena Nevan gak mau jadi pilot. Gak papa, gak masalah. Papa marah karena Nevan bahas soal adik, Papa gak suka karena Mama langsung sedih. Malam itu Mama nangis karena omongan Nevan, Mama ngerasa bersalah ke Nevan karena gak bisa wujudkan keinginan Nevan untuk punya adik. Sampel sekarang Mama masih suka nangis karena keinget kalo Mama udah gak punya rahim lagi yang artinya Mama gak akan bisa hamil, gak akan bisa punya anak. Papa gak suka liat Mama nangis, Papa cerita sama Fany karena menurut Papa Fany udah ngerti.”
Fany semakin merasa bersalah saat melihat mata Ardhan memerah. Fany menggenggam tangan Ardhan memberi kekuatan untuk pria itu.