05

1832 Kata
Fany melambaikan tangan ke arah teman-temannya yang baru saja melewatinya menggunakan mobil milik Irene. Fany memperhatikan mobil berwarna merah itu dimana didalamnya ada ketiga teman-temannya, hingga mobil itu tidak terlihat lagi barulah Fany meluruskan pandangannya. "Hei," Fany mendongak saat merasakan usapan lembut di puncak kepalanya. Fany tersenyum kepada Papa nya. "Gimana sama sekolah barunya?" "Not bad." Ardhan menatap Fany yang sedang menatap laki-laki yang melewati mereka. "Sejak kapan Fany mau ngeliat laki-laki sampe segitunya." kata Ardhan sambil mencubit pipi Fany. "Ih Papa sakit! Udah ah yuk pulang. Fany gak enak diliatin temen-temen tuh. Pasti mereka pikir Fany pacaran sama om-om."  Ardhan terbelalak menatap Fany yang sudah berjalan menjauhinya. "Pah, Ma." panggil Fany sambil membuka kulit jeruk. Ardhan dan Rara kompak menatap Fany. "Di sekolah baru Fany ngadain lomba pentas seni. Terus Fany ikut." "Bagus dong, Mama dukung!" "Fany ikut lomba apa?" tanya Ardhan. "Nyanyi." Ardhan mengangguk menatap makanan lalu kembali menatap Fany. "Duet?" "Enggak kok, grup. Fany sama temen-temen baru Fany."  Ardhan masih menatap Fany merasa belum puas dengan ucapan gadisnya. "Cewek semua." lanjut Fany dan Ardhan kembali mengangguk. "Kalo mau latihan di rumah aja." ujar Ardhan. "Emang kalo di sekolah gak boleh, Pah?" Ardhan menggeleng. "Oh, oke." "Kenapa kakak gak ikut drama? Ada kan drama?" tanya Nevan. "Ada," "Kenapa gak drama aja?" tanya Nevan lagi. "Gak bisa akting." jawab Fany. "Padahal kalo drama kakak pasti menang." "Nevan sok tau." "Tau dong. Kalo kakak ikut drama Nevan saranin drama nya tentang Bawang Putih dan Bawang Merah. Kakak jadi bawang putihnya, karakter bawang putih cocok banget untuk kakak. Lemah lembut, kalo dimarahin selalu diem, selalu nurut, gampang di suruh-suruh, gak bisa marah. Karakter bawang putih tuh kakak di dunia nyata banget." ucap Nevan sambil tertawa. Fany menatap Nevan yang masih tertawa lalu menatap kedua orangtuanya yang sedang senyam-senyum. "Tapi kakak udah ikut nyanyi kok, gak mau ikut drama." Kata Fany seraya menusuk-nusuk kulit jeruk menggunakan garpu. *** Fany melihat jam tangannya yang masih menunjukkan pukul enam lewat dan sekolah pun masih sepi. Fany mengecek ke dalam kelas, karena tidak ada siapa-siapa Fany pun duduk di bangku besi persis seperti bangku-bangku untuk menunggu yang ada di rumah sakit. Fany menatap ketua kelasnya yang baru datang. Fany bernapas lega karena dirinya tidak sendirian. "Pa..." Fany mengatupkan bibirnya yang terbuka saat ia ingin menyapa Reagan malah mengacuhkan nya masuk ke dalam kelas. "Lagi ada masalah kali ya." gumam Fany karena ia sempat melihat raut wajah masam Reagan. Fany menundukkan kepalanya untuk melihat sepatu baru pemberian Papa nya. Fany pun menggoyangkan kedua kakinya sambil bersenandung kecil. Gerakan kaki Fany berhenti ketika melihat sepatu berukuran lebih besar dari sepatunya menyentuh ujung sepatunya. Fany pun mengangkat kepala untuk melihat si pemilik sepatu. "DARREN!!" pekik Fany langsung berdiri dan memeluk Darren. Darren tertawa membalas pelukan Fany, jujur saja Darren sangat merindukan teman kecilnya itu, begitupun dengan Fany. "Sekolah tempat belajar, bukan tempat pelukan." Pelukan Fany dan Darren terlepas ketika mendengar suara itu. "Eh, Reagan." kata Fany. Reagan masih diam berdiri di ambang pintu kelas menatap datar Fany. "Minggir!" Fany pun menyingkir karena ia memang menghalangi jalan Reagan. "Songong banget, siapa sih?" tanya Darren tidak suka melihat sikap Reagan. "Reagan, temen sekelas aku."  "Oh." Darren yang semula menatap ke arah Reagan beralih menatap Fany. "I found you, again!" Darren tersenyum dan mencolek dagu Fany. Fany tersenyum dengan kedua tangan berada di balik punggung nya. Darren sangat suka melihat senyum Fany hingga mata gadis itu menyipit. "Tapi tunggu, Darren seragamnya samaan sama aku, berarti..." Darren menaik turunkan alis nya. "Kita satu sekolah, mulai hari ini aku sekolah di sini!" kata Darren sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Darren meraih tangan Fany dan menggenggamnya. "Gue udah janji sama diri gue sendiri kalo gue gak akan kehilangan lo lagi, gue gak mau buang rasa yang ada sejak gue kecil. Gue bakal pertahanin rasa itu, walaupun harus berhadapan sama bokap lo sekalipun."  Fany membalas genggaman tangan Darren. "I always support you." Fany mendongak untuk bisa menatap Darren karena tinggi tubuh Fany hanya sebatas d**a Darren. *** "Kita latihannya dimana nih?" tanya Maia sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. "Di rumah aku aja, yuk."  Maia dan dua temannya menatap Fany. "Serius di rumah lo?" Fany mengangguk. "Gini Fan, gue sama dua orang ini tuh mulutnya gak bisa diem. Recok banget, takutnya ntar ganggu ketenangan rumah lo." Irene cengengesan. "Gak papa kok, lagian Papaku yang bilang kalo mau latihan di rumah aja." "Wah, bokap lo baik banget. Gak kayak bokap nya Miya, galak!" "Gak papa galak yang penting banyak duit." ucap Miya sambil meminum s**u kotaknya. "Tapi aku pisah mobil sama kalian." "Lah?" "Gue bawa mobil kok, Fan. Sama kita aja." kata Irene. "Bentar deh." Fany mengeluarkan ponselnya dari saku untuk menelpon Papa nya. "Halo, Pah. Fany sama temen-temen mau latihan." "...." "Iya latihannya di rumah kok." "...." "Gak, gak ada laki-laki." "...." "Fany boleh gak pulang ke ruang bareng temen-temen Fany? Naik mobil temen Fany?" "...." Fany menatap Irene, "Papaku mau ngomong." Irene terkesiap. "Halo," kata Irene. "...." Irene menatap ketiga temannya secara bergantian. "Iya om, iya." "...." "Iya." "...." "Iya om." "...." "Iya." Setelah selesai berbicara Irene pun memberikan ponsel yang ia pegang kepada Fany. "Bokap Fany bilang apa? Kok dari tadi lo, iya om, iya. Gitu-gitu terus." Irene menggeleng tidak mengeluarkan suara. Fany meremas ponselnya, ia yakin jika Papa nya mengatakan hal yang membuat Irene takut. "Irene," panggil Fany. "Maafin Papa aku ya kalo misalnya dia ngomong yang enggak-enggak, Papaku orangnya baik kok." Irene tersenyum, Fany merasa lega karena Irene masih mau tersenyum kepadanya. "Ya udah yuk keluar, ntar sore gue mau jemput adek gue les." kata Irene dan kemudian mereka keluar bersama-sama dari kelas yang sudah kosong. *** "Coba Fan sekarang giliran lo." Fany mengangguk karena hanya dia lah yang belum mengeluarkan suara, ketika mulut Fany sudah terbuka ada seseorang yang berbicara membuat mulutnya kembali terkatup. "Fany udah makan?"  Fany pun menatap Papa nya yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan setelan kerjanya. Fany mengangguk. Ardhan menatap teman-teman Fany menyunggingkan senyum kecil lalu naik ke lantai atas. "Abang lo?" tanya Miya. "Eh enggak, itu Papa aku." "HA-" Maia membekap sendiri mulutnya ketika ia refleks ingin berteriak. Sedangkan Irene dan Miya menganga. "Se-serius, Fan? Bokap lo?" Miya menunjuk ke arah tangga. "Iya, serius. Itu Papa aku. Kenapa? Keliatan baik kan?" Fany tersenyum. "Gue kira itu Abang lo, Fan." "Bukan Miya, itu Papa aku." "Kok keliatan masih muda banget? Beda jauh sama bokap gue." kata Irene. "Udah punya anak segede lo aja tua nya masih tetep ganteng, gimana pas muda ya. Ya Allah, gue siap jadi Mama lo, Fan."  Fany tertawa mendengar ucapan Miya. "Gue udah nyangka sih bokap lo ganteng, kedengeran dari suaranya pas di telfon jadi." kata Irene. Miya merapatkan tubuhnya ke dekat Fany. "Hati-hati Fan, banyak pelakor. Lo mau kalo Papa lo di rebut sama pelakor? Masih muda plus tajir siapa yang gak mau." Fany menaikkan alisnya, "apa itu pelakor?" "Eng... Itu, pelakor itu perebut laki orang. Sejenis perusak hubungan rumah tangga orang." ucap Maia barulah Fany mengangguk. "Gak mungkin Papaku tertarik sama perempuan lain selain Mama. Papa itu setia." "Tapi di deket rumah gue, seorang ustadz ketauan punya selingkuhan. Ustadz lho." ucap Irene. "Serem banget. Punya Papa ganteng kayak Papa lo itu mesti hati-hati, Fan." ujar Miya membuat Fany langsung mengangguk. "Ya udah deh lanjut nyanyi nya. Gue jam lima nanti mau jemput adek gue." Dan mereka pun lanjut bernyanyi sempat membuat Irene, Miya, Maia melongo ketika mendengar suara Fany. *** "Assalamualaikum," Nevan mengurungkan niat untuk memasukkan makanan yang ada di sendok ke dalam mulutnya ketika mendengar suara seorang laki-laki. "Tumben salam?" tanya Nevan. Nathan duduk di sebelah Nevan menyenggol lengan anak itu sambil mengambil jeruk. "Mau ngapain? Numpang makan?" tanya Nevan. Nathan menjejalkan mulut Nevan dengan kulit jeruk. "Woi ah! Pah, liat nih kembaran nya, rese banget." Nevan meremas kulit jeruk yang sempat masuk ke dalam mulutnya. "Sama yang lebih tua sopan dong." Nevan mencibir dan kembali memakan makanannya. "Kayak Fany dong, kalem, baik, sopan, pinter, cantik lagi." Fany tersenyum sebagai balasan dari ucapan Nathan. "Apa? Gue adek lo muji anak lo sendiri gak boleh?" tanya Nathan saat mata Ardhan langsung menatapnya ketika Nathan memuji Fany. Ardhan menundukkan kepala lebih memilih menatap makanannya daripada menatap Nathan. "Om, bawa ke sini lagi dong Tante Alena, baru tiga kali lho ke sini." kata Nevan. "Liat yang bening dikit langsung mode on, kayak bapaknya banget nih." balas Nathan. "Seru tau Tante Alena, gak kayak om ngeselin!" "Dih, bocah!" Seperti itulah sikap dan kelakuan Nevan dan Nathan jika sudah bertemu. Selalu ada saja yang dipermasalahkan dan menjadi bahan perdebatan mereka. "Lagian Nevan bingung kenapa Tante Alena mau sama om." Nathan menatap Nevan dengan sinis, "karna ganteng lah!" "Iya ganteng, tapi gak banyak duit." Nathan ingin sekali menjejalkan mulut Nevan dengan sepatunya saat ini juga. Anak itu kalau bicara sesuka nya saja membuat objek yang menjadi bahan pembicaraan Nevan hanya bisa bersabar mengelus d**a. "Kayak Papa dong, duitnya banyak. Cita-citanya jadi pilot eh ternyata gak jadi, lari nya jadi pengusaha. Terus udah sukses sekarang. Lah om, gagal jadi pilot lari nya jadi anak buah Papah. Di gaji nya sama Papah." Nevan tertawa membuat Nathan semakin geram. "Ya kamu pikir bisa langsung sukses gito? Semuanya butuh proses, hari ini om emang jadi anak buah Papa kamu, tapi siapa tau suatu saat nanti Papa kamu yang jadi anak buah om?" Nathan memejamkan mata membayangkan apa yang ia ucapkan dimana Ardhan menjadi anak buahnya dan dialah yang menjadi bos. "Mimpi nya ketinggian, bosku." Nevan mencolek lengan Nathan. "Gak papa om Nathan gagal jadi pilot, kan masih ada Nevan." ucap Ardhan. Nevan menoleh ke arah Ardhan. "Gak mau." Balasan Nevan membuat mereka semua menghentikan kegiatan makan mereka. Termasuk Ardhan. "Gak mau?" ulang Ardhan. Nevan langsung mengangguk. "Gak mau jadi pilot?" tanya Ardhan. Nevan kembali mengangguk. "Alasannya?" tanya Ardhan dengan wajah yang serius. Nafsu makan Ardhan menghilangkan seketika. Nevan menatap makanannya, "Nevan gak mau jadi pilot." "Iya, kasih tau Papa alasan Nevan gak mau jadi pilot." "Nevan gak mau mati, jadi pilot serem gak mau. Rentan bahaya." Selama Nevan berbicara Nevan terus menggeleng. Ardhan diam menatap Nevan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, diam nya Ardhan membuat suasana di ruang makan menjadi mencekam karena tidak ada yang berani membuka suara. Ardhan mengangguk. Nevan menatap Ardhan yang sudah kembali makan. "Makanya dong, Nevan punya adik. Adik laki-laki, ntar adik Nevan aja yang di suruh jadi pilot. Kalo kak Fany yang di suruh jadi pilot kan gak mungkin, Papa pasti gak bakal ngizinin kak Fany jadi pilot. Makanya Nevan punya adik, banyak tuh temen-temen Nevan yang udah punya adik baru. Nevan juga pengen punya adik." "Jangan pernah bahas soal adik, gak akan ada adik buat kamu!" Nevan terkejut mendengar ucapan Ardhan yang terdengar begitu dingin kepadanya. Nevan terkejut karena Ardhan belum pernah berbicara sedingin itu kepada dirinya. Ardhan pergi dari ruang makan, meninggalkan mereka yang diselimuti keheningan. Nevan menghela napas panjang karena matanya terasa memanas akibat ucapan dingin Ardhan. Nevan menatap Rara yang duduk di depannya, wanita itu diam tidak menyentuh makanannya lagi. Nevan bingung melihat sikap kedua orangtuanya pada malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN