6. Ritme Jantung

1505 Kata
Dinginnya angin malam tidak membuat keduanya beranjak meninggalkan tempat itu. Semakin malam, malah semakin banyak orang yang duduk-duduk di sana dan bercengkrama membicarakan banyak hal. Seakan sungai itu memang menjadi icon di kota yang kini Meechella dan Damian tempati. Terlihat jika mereka bukan hanya berasal dari Iraq. Namun mereka banyak juga yang berasal dari luar negeri seperti Meechella dan Damian. 'Dia sungguh cantik, oasis di padang pasir sekalipun takkan mampu menyainginya,' batin Damian berdecak kagum atas keindahan paras Meechella. Damian memandangi Meechella dengan perasaan entahlah. Dia seperti tidak ingin berpisah dengan wanita yang sudah dia klaim sebagai kekasihnya. "Chel, ke marikan ponselmu," pinta Damian pada Meechella. Meechella menatap bingung dengan permintaan Damian. Namun melihat wajah serius lelaki itu, Meechella hanya menurut saja untuk menyerahkan ponsel itu pada Damian. "Bagaimana polanya?" tanya Damian. Meechella menekan pola yang menjadi kunci membuka ponsel miliknya. Di sana menampilkan wallpaper dirinya bersama Marchello dan juga Rebecca. "Dia saudaramu?" tanya Damian penasaran, sekaligus merasa tergelitik Meechella mengangguk, foto terakhir yang dia ambil sebelum Rebecca berangkat ke China dan terperangkap di Kerajaan France. "Dia sama cantiknya denganmu," puji Damian menatap takjub kedua wanita di dalam foto itu. Apakah semua keluarga Meechella wanita secantik itu? "Jangan berpikir kamu akan mendekati adikku Damian," hardik Meechella. Damian terkekeh, dia mengacak rambut Meechella dengan gemas. "Mana mau aku sama dia, masih kecil, karbitan lagi," kekeh Damian menggoda Meechella. "Hah? Kamu menyamakan adikku dengan buah? Astaga mulutmu itu pengen aku tampol," cibir Meechella. Damian membuka kontak di WA Meechella, sebenarnya Meechella curiga kenapa lelaki itu seperti stalker yang ingin tau isi ponsel orang. Damian menekan tombol video call di layar ponsel Meechella. Mommy. "Kamu kenapa telepon mommyku Dam? Di sana masih jam empat pagi," tanya Meechella bingung. Jika di Iraq pukul dua belas malam, maka di Indonesia akan menunjukkan pukul empat pagi. Perbedaan sekitar empat jam di antara kedua negara tersebut. "El? Kenapa nelpon jam segini? Memangnya pesawatmu sudah mau berangkat?" Di sana menampilkan wajah sang mommy dengan wajah masih basah setelah wudhu. "Mommy Meechella?" Damian menyapa Nayna di sana. Mata Nayna terbelalak ketika ponselnya menampilkan sosok lelaki. Nayna mengecek kembali panggilan yang masuk ke ponselnya. Benar ini adalah nomor putrinya, disana tertera nama 'Baby Ella'. Lalu bagaimana bisa ponsel Meechella dipegang lelaki? Apakah ponsel Meechella hilang? Apa jangan-jangan putrinya menganut ajaran one night stand? Namun pemikiran Nayna buyar ketika di sana Damian menampilkan wajah Meechella di sampingnya. Di belakangnya pemandangan sungai di malam hari dengan bintang-bintang di atas langit sebagai hiasan malamnya. "Mommy Meechella, saya Damian Delrico. Calon menantu Anda," ucap Damian memperkenalkan dirinya. Mulut Nayna menganga, dia menjauh dari kamarnya. Tidak ingin sampai Chiko mendengar percakapan mereka. Apalagi menyangkut putri tunggal mereka. Bisa-bisa Chiko menyeret Meechella untuk segera pulang detik itu juga. "Maksud kamu? Kalian pacaran? Sejak kapan? Mommy tidak pernah tau tentang dirimu Nak. Ella, kamu harus jelaskan kepada Mommy!" ucap Nayna memborondong pertanyaan kepada Meechella. "Dia bukan pacar Ella, Mommy," jelas Meechella jujur apa adanya. "Kalian ini bikin Mommy pusing deh, terus Damian ada apa nelepon Mommy selarut ini? Bukankah di sana tengah malam?" tanya Nayna penasaran. Mungkin anak tunggalnya sedang kencan, begitulah pikir Nayna saat ini. "Damian meminta izin kepada mommy Meechella, bisakah Ella tinggal di sini lebih lama lagi?" pinta Damian membuat Meechella menoleh ke arahnya. Apa-apaan lelaki ini? Bagaimana bisa dia meminta hal seperti itu kepada mommynya tanpa ada rasa takut sedikitpun. Nayna tersenyum, mungkinkah lelaki itu seperti Chiko jilid ke 2 nya? Dulu Chiko juga sangat agresif kepadanya. Bahkan Chiko tidak segan-segan mengakuinya sebagai pacar didepan keluarganya. "Jika Ella mau, Mommy tidak melarang. Nanti Daddy biar Mommy yang atur, kalian bersenang-senanglah," kikik Nayna geli. Akhirnya, penantiannya untuk melihat putrinya jalan dengan lelaki sudah terbayar lunas. Artinya putrinya wanita normal. Dia tidak perlu mengadakan ritual ataupun mencarikan jodoh untuk Meechella lagi. Di usia 23 tahun, Meechella tidak pernah sekalipun jalan dengan lelaki. Tentu saja itu membuat Nayna sedikit cemas jika putrinya punya kelainan. Padahal banyak lelaki yang ingin mendekati putrinya. "Yessss," teriak Damian senang membuat sekelilingnya menatap ke arah mereka. Meechella menutup wajahnya malu, sedangkan Damian meloncat-loncat kegirangan membuat Nayna tertawa. "Siapa itu Queen?" Panggilan kesayangan Chiko untuk Nayna. Nayna gelagapan, dia menutup panggilan itu sepihak agar suaminya tidak mengetahui apa yang tengah dia rencanakan. "Em itu, Ella dapat pacar," jawab Nayna spontan. Waduhh, gawatt mulut aku kayak ember bocor nih. "Siapa? Besok dia pulang kan?" tanya Chiko menatap istrinya curiga. Nayna terlalu memanjakan anak dan keponakan-keponakannya hingga membuat mereka kebal hukuman dari orang tua mereka. Karena ketika ada masalah dengan para orangtua, tentu saja Nayna berada di garis depan untuk membela anak-anaknya. Meskipun mereka telah dinyatakan salah. "Bukan, maksudku Ella mumpung di sana aku suruh dia nyari pacar gitu Hubby," elak Nayna mencari-cari alasan. Chiko memeluk Nayna dari belakang, menghirup aroma rambut sang istri yang menjadi kesukaannya. "Sekarang Ello jarang nginep di sini ya semenjak Rebecca ke Perancis. Ella juga sibuk, apalagi dia semakin dewasa cepat atau lambat pasti menikah," ucap Chiko sedih. Seandainya saja dia punya banyak anak. Mungkin masa tuanya tidak akan sepi. Sayang sekali Nayna tidak mau mengandung lagi karena katanya sakit saat melahirkan. "Queen kita buat adik buat Ella yuk?" ajak Chiko manja. "Ih apaan sih Hubby, udah kepala lima juga. Nanti tuh anak masih kecil kita udah jadi kakek nenek," cibir Nayna. Chiko menenggelamkan wajahnya di rambut legam milik Nayna. Meskipun umur mereka tak lagi muda. Namun tidak ada yang tau jika umur mereka sudah kepala 5. Penampilan mereka seperti umur 40 tahun. Tentu saja karena olahraga rutin dan juga kebugaran yang mereka utamakan. "Yaudah, kalau gitu Ella nggak boleh nikah biar bisa sama kita terus!" Keluarlah sikap overprotectif Chiko sebagai ayah dari satu putri. Nayna melipat tangannya di depan d**a. "Terus kamu mau putri kita perawan tua?" "Habisnya dia kan anak kita satu-satunya Queen. Aku nggak rela dia pergi ninggalin kita," rengek Chiko mencium lekuk leher istrinya dengan mesra. "Ya kita ajukan satu syarat, nanti kalau ada lelaki yang melamar Ella kita bilang harus tinggal di sini bersama kita," usul Nayna. "Tapi kamu kalau sudah punya menantu jangan berpakaian seperti ini," keluh Chiko tidak suka. Lihat saja penampilan Nayna, seperti anak gadis yang masih dengan PDnya memakai hotpants dan t-shirt tanpa lengan. Menampilkan kulit putih mulusnya dan kakinya yang jenjang. "Sudah tua masih aja main cemburu-cemburuan," cibir Nayna meninggalkan Chiko yang masih merajuk disana. Akhirnya, Nayna menuruti kemauan Damian untuk tinggal di Iraq lebih lama lagi. Perpanjangan waktu satu minggu yang diberikan Chiko untuk liburan Nayna di Iraq. Awalnya Chiko enggan memberikan izin, karena Chiko tidak enak dengan adik sepupunya Alena jika Meechella terus saja mangkir dari pekerjaannya. Rencanya, hari ini Meechella dan Damian akan pergi ke Benteng Erbil yang menjadi icon bersejarah di negara Iraq. Tentu saja Meechella sangat bahagia bisa berkunjung ke tempat bersejarah yang hanya bisa dia lihat lewat youtube saja. Bangunan yang berdiri di area perbukitan itu sudah tercatat sebagai situs warisan dunia. Bangunan itu berbentu oval dan berdiri kokoh hingga sekarang. Sungguh bangunan yang luar biasa indahnya.  "Di sini pusat pertahanan jaman periode Asiria Baru, ini pusat pentingnya agama Nasrani," jelas Damian ketika mereka sudah sampai disana. Meechella mengaktifkan kamera vlognya. Dia akan mengabadikan moment ini untuk dia pamerkan nanti di media sosialnya. "Pada abad ke dua puluh, fungsinya merosot karena penghancuran besar-besaran di wilayah ini. Baru kemarin dua ribu tujuh, Komisi Revitalisasi Erbil dibentuk untuk memulihkan fungsi Benteng Erbil yang dulunya sangat berpengaruh bagi negara ini sebenarnya," jelas Damian pada Meechella. Meechella mengarahnya kameranya kearah Damian. Dia terus merekam apa yang dilakukan dan diucapkan lelaki itu ketika menjelaskan tentang Benteng Erbil. "Dulu pasukanku pernah berlatih seni perang di sini," jelas Damian. "Oh aku kira kamu tour guide," jawab Meechella terkekeh. Damian tersenyum melihat Meechella nampak nyaman bersama dengannya. Wanita itu terus merekahkan senyumannya melihat tingkah lucu Damian. "Kita foto-foto dari sini, pemandangannya bagus," ajak Damian. Damian mengajak Meechella untuk merapatkan dirinya. Mungkin foto dan vidio yang mereka abadikan mampu menjadi kenang-kenangan nanti. Mereka saling bergantian untuk berfoto, tidak ketinggalan juga Meechella dan Damian berfoto bersama. "Damian tolong foto aku dari sini," pinta Meechella. Namun ketika mereka asyik berfoto,ada laki-laki yang menabrak Meechella dengan keras hingga kamera milik Meechella jatuh. "Kamu punya mata nggak? Ada orang main tabrak," ucap Damian marah.  Meechella memegangi tangan Damian. "Tidak apa, kameranya hanya lecet sana Damian," ucap Meechella. "Bisa minta maaf nggak bro? Nabrak cewek kayak nggak ada rasa salahnya," marah Damian. Lelaki itu hanya menatap mereka berdua dengan songongnya. "Orang gila," ucap lelaki itu dengan bahasa sana. "You can go now," pinta Meechella. Lelaki itu pergi meninggalkan Damian yang kesal. "Sudahlah, ini bukan wilayah kita," pinta Meechella. "Gimana bisa semudah itu, dia nabrak kamu tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sini lihat ada yang terluka apa tidak?" Damian meneliti Meechella dari atas ke bawah. Darah Meechella berdesir hebat, ketika tangan Damian menyentuh bahunya. Lelaki itu terlihat sangat marah. Wajahnya memerah seperti menahan amarah. "Jangan sampai terluka, mengerti?" pinta Damian diangguki Meechella. 'Kenapa ini jantungku? Kenapa berdetak seperti ini?' ringis Meechella dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN