7. Tugas Darurat

1180 Kata
You're my destiny geudaen You're my destiny geudaen You're my everything byeonhaji anhneun geon geudaereul hyanghan naui sarang ibnida You're the one my love geudaen You're the one my love geudaen You're my delight of all Sesangi byeonhaedo Geudae man sarang haneun nareul anayo Nae unmyeong *** Lagu berjudul My Destiny mengalun indah di ponsel milik Meechella. Seharian ini pekerjaannya hanya memandangi ponselnya yang menunjukkan foto dirinya dan Damian kemarin. Rasanya seperti sudah tahunan mengenal Damian, padahal baru beberapa minggu ini mereka saling kenal dan dekat. Nayna, sebagai sang ibu selalu memantau keadaan Meechella. Tidak lupa juga dia menanyakan proses perkembangan hubungan Meechella dan Damian. Mendengar jika Damian seorang Perwira Satuan Khusus yang dipilih langsung anggora Perdamaian PBB membuat Nayna merasa terhormat jika menjadikan Damian sebagai mantunya. Pertama kali melihat wajah lelaki yang sedang mendekati putrinya, Nayna merasa ada point plus pada diri Damian sehingga membuat Nayna yakin jika mereka akan menjadi pasangan yang saling melengkapi. "Kamu di mana?" Pertanyaan Damian ketika panggilannya diterima oleh Meechella. "Di hotel, kenapa?" jawab Meechella. Seperti mendapatkan udara segar, Meechella merekahkan senyumnya tatkala melihat nama seseorang yang telah menyita perhatiannya tertera di layar ponselnya. "Ganti bajumu sekarang Chel, satu jam lagi aku akan menjemputmu." "Hah? Ke mana?" tanya Meechella bingung. "Kan aku sudah bilang, satu minggu ini kita habiskan untuk pendekatan. Siapa tahu minggu depan kita cocok langsung menikah," goda Damian. Tentu saja hanya bercanda, dunia militer punya aturan sendiri untuk perwiranya yang akan menikah. Tidak semudah warga sipil yang hanya mendaftarkan pernikahan di KUA. "Dasar gombal," cibir Meechella mati-matian menahan senyuman di wajahnya. "Bagaimana jika aku nanti melamarmu?" tanya Damian membuat degup jantung Meechella kian membahana. "Damian, jangan bercanda!" sahut Meechella merasa malu dengan kalimat Damian. Cukup, jangan buat Meechella semakin tersipu lagi di kamarnya. Wanita itu sudah sekuat tenaga menahan mulutnya agar tidak berteriak karena saking bahagianya dirinya mendengar kalimat manis yang terucap pada mulut Damian. "Aku tidak bercanda Chel," yakin Damian membuat Meechella mendengus kesal. "Sudahlah, aku butuh mandi dan bersiap. Bukankah kamu akan menjemputku satu jam lagi?" "Hemm, sampai jumpa nanti," jawab Damian. Huhh, jantung Meechella bahkan berdebar sangat kencang mendengarkan lelaki itu gemar sekali menggodanya. Mungkin Meechella harus melakukan cek up jantung nanti saat dirinya sudah masuk kerja. "Aaaa ... gila gilaa gilaaaa!" teriak Meechella melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil yang baru saja dibelikan balon ibunya.  Damian berjalan keluar menuju parkir mobil tempar markas Tentara Internasional berkumpul. Setiap hari Damian bekerja sementara di sana sebelum ada tugas negara yang mendesak. Meskipun dia baru empat belas tahun lamanya bekerja di dunia militer. Namun dia sudah mendapatkan jenjang karir yang sangat bagus. Bukan hal mudah mendapatkan pangkat yang dia miliki saat ini. Pangkat 'Kapten' dia dapatkan dengan bertaruh nyawa. Dan dia sekarang dalam masa uji jabatan, jika dia memang layak mendapatkannya maka gelar itu akan menempel terus padanya dan terus naik jabatan jika Damian mempertahankan eksistensinya dalam dunia militer. Dua tahun lalu, dari semua Pasukan Khusus Tentara Internasional mereka dipilih dalam satu tim untuk di kirim di Gibraltar. Negara yang waktu itu akan menjadi abu karena permusuhan dengan Kerajaan Spanyol vs Inggris Raya dan juga Irlandia Utara. Tidak ada yang berani menjadi ketuanya, karena mereka tau jika semua yang di sana pasti akan mati sia-sia. Meskipun Jendral dari Tentara Internasional pun seperti enggan bertanggung jawab akan pasukannya mati yang meninggal sia-sia di negara bersiteru tersebut. Memang benar, sudah jadi tugas Tentara Internasional ikut andil dalam menjaga keutuhan negara-negara yang tengah bermasalah. Namun mereka juga harus memikirkan peluang untuk misinya tersebut. Aneh rasanya jika sudah tau sampai di sana akan mati namun tetap ke sana. Sama halnya bunuh diri. Hingga akhirnya ketua PBB menunjuk Damian yang kala itu tengah dipromosikan jabatan untuk naik pangkat. Tidak tanggung-tanggung, ketua PBB saat itu menawarkan posisi Kolonel jika Damian mampu bertahan hidup bersama pasukannya hingga giliran pasukan tim lain menggantikan mereka. Bukan Damian namanya jika menyerah sebelum perang, Damian mengambil tanggung jawab besar. Mempertaruhkan nyawanya disana demi menolong warga di sana yang memang harus diungsikan sebelum musuh negara mereka kembali menyerang. "Kapten, Anda akan ke mana?" tanya Gary menyapa Damian. Matanya menatap penampilan kaptennya dengan seksama. "Bertemu Meechella, tiga hari lagi dia pulang ke Indonesia," jawab Damian seraya tersenyum hangat. Damian sendiri pribadi yang loyal, lucu, dan juga hangat. Tidak ada yang tidak menyukainya, dia bukan tipikal orang yang sombong meskipun punya harta dan pangkat yang menjanjikan. "Wah sepertinya serius nih kalian," goda Gary kepada Damian. "Dia beda sama yang lain Bro, aku juga tidak tahu apa yang berbeda darinya," kekeh Damian menepuk bahu Gary. "Kayaknya dari dulu Kapten bilang beda-beda terus nyatanya nggak jadi semua," sindir Gary mendapat tonyoran di perutnya. "Beraninya kamu sama atasan. Doain kek, nanti kalau lancar kamu aku traktir minum, kita mabok sampai teler. Bagaimana?" usul Damian. Mereka berdua seperti muatan satu perahu. Satu ke sana, yang satu ikut ke sana. Mereka berdua juga sering kabur dari asrama malam-malam untuk mabuk berdua sampai pagi menjelang. Dan mereka tidak pernah jera untuk mengulanginya lagi dan lagi.  Long dress berwarna putih, handbag bermerk Dior dan high heells hitam dipilih Meechella untuk memperindah penampilannya malam ini. Kali ini dia mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Sedari tadi, Damian sudah menunggunya di parkiran mobil hotel tempatnya menginap. Meechella memastikan sekali lagi penampilannya. "Iya-iya ini mau turun," jawab Meechella menutup teleponnya kesal karena lelaki itu terus saja menelponnya. Meechella menaiki lift untuk sampai di basement mobil. Meechella celingukan mencari mobil yang biasa Damian naiki ketika pergi bersamanya. "Meechella," panggil Damian. Meechella menoleh, Damian tersenyum ke arahnya. Lelaki itu sangat tampan dengan setelan jas hitam dengan kemeja putih. Damian terlihat sangat luar biasa malam ini. "Mari, Tuan Putri," ajak Damian menggombal lagi pada Meechella. Meechella tersenyum dalam hati, perlakuan lelaki ini ternyata bisa romantis juga. Tiba-tiba saja ponsel Damian berbunyi, dengan cepat Damian menggeser layar ponselnya. "Kapten Damian di sini?" ucap Damian mengerutkan keningnya. Raut wajah Damian berubah, dia menatap Meechella sejenak. "Baik, aku akan pergi ke markas sekadang juga," ucapnya di ujung panggilan. Damian memegang kedua tangan Meechella, menatap wanita itu penuh sesal. "Aku mendapatkan tugas, maafkan aku. Ini sangat mendadak," sesal Damian membuat Meechella menatapnya kecewa. "Pergilah," jawab Meechella lemah. Mata Meechella berkaca-kaca, dia tidak tahu harus berucap apa selain kata itu. Lelaki yang sedang dia kencani saat ini adalah abdi negara. Dia bisa mengorbankan nyawanya demi tugas. Dan tentu saja Meechella bukan bagian 'penting' dalam hidup lelaki itu. "Maafkan aku, secepatnya aku akan menemuimu," pamit Damian mencium kedua tangan Meechella sebelum dia berlari dan melajukan mobilnya tergesa-gesa. Meechella hanya mampu menatap kepergian Damian dengan segala sesak dalam dadanya. Bibirnya menyunggingkan senyum mirisnya, meratapi betapa naasnya nasib dirinya kini. Di sana, Meechella menumpahkan tangisannya. Percuma saja dia berada di negara orang lain jika seseorang yang menahannya lebih mementingkan pekerjaannya. "Sakit sekali rasanya," ucap Meechella dengan suara seraknya. Pandangan mata Meechella kabur karena air mata, dia menekan tombol di lift untuk sampai ke bar hotel di mana Meechella berada. "Lelaki b******n!" umpat Meechella di tengah-tengah tangisannya. Harusnya Meechella tahu, itu adalah salah satu resiko ketika dirinya nanti bersama dengan seorang perwira yang tunduk pada negara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN