WARNING !!!
Pasal 72 ayat {1} Undang-Undang Hak Cipta:
Plagiarisme : penjara paling singkat SATU BULAN dan atau denda SATU JUTA RUPIAH, atau paling lama TUJUH TAHUN dan atau LIMA MILIAR RUPIAH !!
???
Suara dentuman musik dan bau rokok memenuhi ruangan kini menjadi pelarian putri tunggal Nayna dan Chiko itu. Dia bahkan tak segan-segan memesan beberapa botol minuman keras untuk menghilangkan sakit hatinya karena ditinggal begitu saja oleh lelaki b******n tak bertanggung jawab.
Isakan demi isakan masih terus saja keluar dari mulut Meechella. Tidak hanya sakit hati, namun juga kekecewaan yang begitu dalam. Rasanya seperti mau kentut tapi tidak jadi keluar, huaaaaa.
"Lelaki b******n, sialan, tidak bertanggung jawab! Beraninya dia mengajakku kencan tapi membatalkannya sendiri," umpatnya sambil meneguk wine langsung dari botolnya.
Tentu saja penampilan formal Meechella menjadi sorotan penghuni bar yang kebanyakan memakai pakaian kekurangan bahan. Tapi siapa yang akan menyalahkan penampilannya? Dia sangat fashionable, hanya tempat dan bajunya saja yang tak cocok. Karena baju yang dia pakai kini memang untuk kencan sialan yang berujung u*****n manis dari mulut Meechella.
"Boleh aku bergabung di sini cantik?" tanya seorang lelaki asing menyapa Meechella.
Meechella menatap gelas di depannya dengan nanar. Geraman yang keluar dari mulut Meechella membuat lelaki itu menautkan kedua alisnya. Mungkin dia berpikir untuk mencari kesempatan dalam kesempitan melihat raut wajah Meechella yang kini terlihat begitu frustasi.
"Pergi dari sini," usir Meechella tanpa mempedulikan siapa yang mengucapkan itu.
Dia tak peduli, yang dia pedulikan hanya rasa sakitnya ditinggal seperti tak berharga sama sekali. Seharusnya dia tidak menuruti kemauan lelaki b******n untuk tinggal lebih lama di negara itu.
Meechella meremas botol wine dalam tangannya, andai dia bertemu dengan lelaki itu. Atau lelaki itu masih berani menampakkan wajahnya dihadapannya, dia bersumpah akan menendang p****t lelaki itu.
"Wanita cantik sepertimu sayang duduk sorang diri di sini." Lelaki itu tak mau pergi, dia masih berusaha menggoda Meechella. Dia takkan mungkin melepaskan mangsa yang begitu menawan seperti Meechella.
Hei, Bung! Kau salah cari mangsa!
Meechella tersenyum sinis menatap lelaki bule yang kini berdiri menatapnya dengan tatapan lapar.
"Aku lesbian, masih tetap mau di sini?" tanya Meechella memicingkan matanya.
Lelaki itu menatap Meechella jijik. Wanita secantik itu penganut lesbian? Pantas saja dia kesulitan mencari teman ranjang.
"Oh s**t, dunia hampir punah. Wanita secantik dirimu seorang lesbian? Pantas lelaki sepertiku masih melajang hingga sekarang," umpat lelaki bule itu.
Lelaki itu meninggalkan Meechella yang tak mempedulikan ocehan-ocehan lelaki itu. Bukankah semua lelaki akan tertarik dengannya? Tapi kenapa Damian bisa-bisanya meninggalkannya sendirian? Apakah ada hal yang lebih penting dari dirinya?
Air mata Meechella meluruh, inilah yang sangat dia hindari. Menaruh hati dengan seseorang yang tidak tepat. Lelaki itu hanya menyanjungnya, lalu menghempaskannya begitu saja.
"Urus kepulanganku Siska!" kata Meechella dengan tangannya menggenggam benda pipih segiempat berlogo buah apple tidak penuh.
Meechella mengirimkan voice note kepada Siska yang notabennya asisten Nayna, sang mommy.
Tidak ada alasan baginya lebih lama berada di negara orang lain. Lebih baik dia kembali pulang menjalani rutinitasnya.
-
"Seratus kaki di atas permukaan," komando dari Damian.
Pasukan Damian langsung siaga, mereka berdiri mendekati pintu dari Helicopter menyiapkan diri untuk turun ke lokasi di mana dia ditugaskan.
"Kita akan menyelamatkan Duta Luar Negeri Swiss, dan kita diberi waktu dua puluh empat jam. Jangan sampai kalian terluka," ucap Damian diangguki semua pasukannya.
Helikopter itu telah mendarat, mereka menyebar mengepung gedung kosong yang digunakan para penghianat negeri itu untuk mengacaukan suaka politik antar kedua belah pihak. Mereka bahkan dengan beraninya menyiarkan secara langsung penyekapan Duta Luar Negeri di media sosial mereka. Tentu saja Damian tau, itu digunakan untuk menjebak pasukan Damian datang menyelamatkan Duta Luar Negeri Swiss.
"White, Green, Red, kalian berada di sisi utara. Yellow kamu bersamaku di sisi selatan, yang lainnya mengawasi dari sini siap-siap menembak sasaran jarak jauh," jelas Damian memberikan arahan tentang apa yang sudah mereka rancang di dalam helikopter.
Mereka berpencar sesuai posisi mereka masing-masing. Damian dan Garry, mereka melompat lewat tembok untuk memasuki gedung.

"Blacky di sini, aku dan yellow sudah memasuki gedung. Tunggu aba-aba dariku," ucap Damian di earphone bluethooth yang kini dia pakai.
Damian meneliti ke sekeliling, dia dan Garry berjalan mengendap-endap dengan pistol di tangan mereka.
Pandangan mereka tertuju dengan sebuah ruangan yang dijaga tiga orang berbadan besar. Damian yakin, jika di sanalah sandera ditahan.
Damian memberi isyarat Garry untuk mendekat ke arah objek. Mereka berdua bersembunyi di pilar dekat dengan para penjaga. Ketika itu juga, Damian dan Garry memukul kepala ketiga orang itu dengan pistol hingga mereka bertiga terjatuh pingsan.
Blacky dan Yellow berjalan masuk ke arah gedung, namun di sana ternyata kosong.
"Mundur, ini jebakan!" ucap Damian siaga.
Suara tembakan membuat keduanya bersembunyi, mereka berdua telah dikepung para penghianat dengan jebakan palsu.
"Three Collor, siaga di posisi kalian!" titah Damian.
"Laksanakan," jawab mereka lewat earphone.
Damian dan Garry membalas tembakan mereka, aksi tembak menembak tidak bisa dihindari.

Damian mengarahkan pistolnya ke arah seseorang yang sedari tadi di lindungi anggotanya
"Letakkan senjatamu," ucap Damian ketika mereka telah dilumpuhkan.

Lelaki itu wajahnya samar, dia tersenyum di balik kegelapan. Tangannya tak membawa senjata apapun selain pedang kuno, namun sangat tajam.
"Kapten, samping kiri Anda!"
Damian menoleh ke kiri, peluru telah diarahkan ke arahnya. Bayangannya langsung tertuju dengan wanita yang tadi dia tinggalkan, dia tidak boleh mati sebelum menemui dan meminta maaf wanita itu.
Damian menghindari peluru itu hingga telinganya tergores karena peluru itu menyerempet 1 cm ke arah telinganya.
Dorrrrrr!
Garry menembak lawannya yang hendak mengarahkan pelurunya lagi ke arah Kaptennya.
"Kau menyelamatkanku Garry," ucap Damian
"Tugasku Kapten," jawab Garry tersenyum.
"Semuanya tetap siaga, kami dalam misi masuk ke dalam menyelamatkan sandera," ucap Damian.
Damian berlari mendekati sandra, Duta Luar Negeri Swiss tersebut nampak pucat. Lelaki separuh abad duduk lemas dengan kaki dan tangannya terikat.
"Selamatkan aku," ucapnya lirih.
"Kami ke mari untuk menyelamatkan Anda, tenanglah," ucap Garry.
Damian mencegah Garry mendekat, disana seperti jubin yang sudah tertutup rapat namun masih terlihat seperti bongkaran.
"Peledak!" pekik Damian membuat Garry dan pasukannya yang lain di luar sana menyiapkan diri untuk eksekusi.
Damian menekan earphonenya.
"Red, bisakah kamu melihat bahan peledak jenis apa yang ada di depanku?" tanya Damian.
Pasukan dengan kode red melihat lewat teropong yang dia bawa. Dia melihat dengan teliti apa yang ada di sana.
"Sebuah peledak jenis bom pipa yang pernah diledakkan di Amerika Serikat," jawab Red di seberang sana.
"Aku bisa menjinakkannya, tunggu aku akan ke sana Kapten."
Red bersama temannya memasuki ruangan di mana sandera itu ditahan. Dia mencoba membuka bongkaran itu dengan perlahan.
"Bomnya melingkar mengelilingi sandera, lihat ini saling berhubungan, Kapten," tunjuk Red pada Damian.
Bom itu saling berhubungan, terdapat empat jenis bom di sana.
"Kalian semua menjauh dari gedung ini, cepatt!" perintah Damian membuat semua pasukannya menatap Damian tak percaya.
"Kapten?" Anak buah Damian nampak ragu meninggalkan Damian seorang diri di sana.
"Ini perintah!" teriak Damian tak terbantahkan.
Semuanya menggeleng, namun Damian kekeh menyuruh mereka pergi.
"Tidakkah kalian percaya pada pemimpin kalian? Aku yang akan menyelamatkan sandera!" ujar Damian meyakinkan.
Bahkan jika Damian mati, itu akan menjadi kehormatan bagi dirinya.
"Kapetn, kami tidak bisa meninggalkanmu sendiri."
"Cepat Garry, kalian pergi. Waktunya terus berjalan. Lima menit lagi, aku bilang pergi menjauhlah sekarang juga!" teriak Damian lagi.
Semua pasukannya mundur, Damian memberikan intruksi kepada Duta Luar Negeri Swiss untuk mempercayainya. Setelah memastikan pasukannya keluar dari gedung, Damian mencoba mencari akar dari bom itu.
"Tidak ada cara lain," gumam Damian.
Tanpa takut, Damian melompat memasuki lingkaran bom itu untuk membukakan tali ikatan dari Duta Luar Negeri Swiss.
"Kita lompat dari gedung," ucap Damian ketika melihat di belakangnya ada jendela yang tertutup.
Damian memecahkan kaca itu dengan kursi.
"Lompat," titah Damian itu kepada Duta Luar Negeri Swiss.
Duta Luar Negeri Swiss menggeleng, dia sama saja akan mati jika melompat dari lantai empat.
Lelaki itu menggeleng."Kita bisa mati, tidak."
"Lima belas detik lagi, bodoh. Kita akan mati," umpat Damian menarik Duta LN itu melompat dari gedung.
Blumm! Gedung itu meledak, ledakannya cukup kuat hingga sekitarnya mampu bergetar.
"Kapten Damian!" teriak para pasukannya ketika melihat gedung itu terbakar dengan hebatnya.
Semua pasukannya berlari memasuki gedung, mereka harus menyelamatkan kaptennya. Dia sosok pimpinan yang sangat peduli dengan anak buahnya.
"Kau tak boleh mati begitu saja idiottt!" teriak Garry marah, bagaimana mungkin Kolonelnya mengorbankan nyawanya untuk orang lain.
"Blacky di sini, ke belakang gedung sekarang juga."
"Kapten? Kau masih hidup?"
Terdengar suara angin di seberang sana.
"Kita ke belakang gedung sekarang juga," ucap Garry diangguki semua pasukannya.
Mereka melihat Damian bergelantung dengan tangannya yang satu memegangi duta luar negeri itu.
"Apa yang kalian lihat, tangkap kami!" teriak Damian menyuruh para pasukannya menyiapkan diri menangkap tubuhnya dan duta luar negeri itu.
Damian melepaskan pegangan tanggannya pada Duta Luar Negeri Swiss tersebut hingga para pasukannya menangkapnya terlebih dahulu. Kemudian Damian menjatuhkan diri dengan santainya. Pasukannya dengan sigap menangkap tubuh Kolonel idolanya.
"Aku akan menghukummu Garry!" ancam Damian ketika dia dikatai i***t oleh Gary.
"Siap laksanakan hukuman Kapten!"
Damian menepuk bahu Garry, dia berjalan meninggalkan pasukannya.
"Kalian bawa Pak Tua itu ke helikopter. Tanganku rasanya mau patah tulang bergelantungan seperti itu," ucap Damian meregangkan otot-ototnya.
"Hebat sekali Kolonel Damian." Para anak buahnya berdecak kagum atas keberanian dan juga kecerdasan Damian mencari solusi dalam setiap masalahnya.
Damian masuk ke dalam helicopter disusul pasukannya yang membawa Duta Luar Negeri Swiss dalam keadaan pingsan.
"A success mission, over," lapor Damian pada Jendral pemimpinnya
Pagi harinya ketika Damian telah sampai di Markas Tentara dan melakukan laporan kepada pemimpinnya. Damian melajukan mobil dinasnya ke hotel di mana Meechella menginap.
Damian tidak lupa membawakan bunga dan juga cake permintaan maafnya karena telah meninggalkan Meechella tiba-tiba.
Damian berkali-kali menekan tombol bel kamar Meechella. Namun lelaki itu tidak mendapatkan jawaban apapun dari dalam kamar.
"Chell, buka pintunya. Aku bisa jelaskan semuanya," teriak Damian dari luar.
Kebetulan cleaning service hendak masuk ke dalam kamar Meechella.
"Mohon maaf Sir, kamar ini sudah kosong. Tamunya sudah cek out satu jam yang lalu," ucap Cleaning Service kepada Damian.
Mata Damian terbelalak. "Cek out?" tanya Damian memastikan pendengarannya tidak salah.
Petugas cleaning servise itu mengangguk, Damian langsung berlari menuju lift untuk segera menyusul Meechella ke Bandara Internasional Iraq.
Damian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak boleh melepaskan Meechella begitu saja.
"Penerbangan ke Indonesia, terminal berapa?" tanya Damian pada security.
"Terminal empat Sir, lima belas menit lagi pesawat akan lepas landas."
Damian berlari tergesa-gesa hingga menabrak beberapa orang, Damian tidak peduli. Yang penting dia bertemu Meechella.
Matanya mencari ke sekelilingnya, namun sosok itu tidak juga dia temukan. Tangannya menekan tombol panggilan pada nomor Meechella. Namun panggilan itu tidak bisa diteruskan. Apakah Meechella sudah benar-benar meninggalkannya?
Damian menangkap sosok yang sedang duduk sendirian dengan koper besar berwarna merah. Damian bergegas mendekati wanita itu.
"Meechella," panggil Damian.
Meechella menoleh, lelaki itu menampakkan wajah lelah dan juga lega ketika melihat wanita itu kini di depannya.
Damian merengkuh Meechella kedalam pelukannya.
"Maafkan aku, maafkan aku," lirih Damian memeluk erat Meechella seakan tidak ingin melepaskan Meechella.
Suara pemberitahuan keberangkat sudah terdengar, Meechella melepaskan pelukan Damian dengan paksa.
"Aku harus pulang Damian, maafkan aku." Wanita itu menunduk, menyembunyikan genangan air mata yang siap tumbah kapan saja.
"Bagaimana dengan aku Chel?" tanya Damian lemah.
"Kamu sudah terbiasa dengan hidupmu. Kita berbeda Damian, kamu tahu itu," lirih Meechella, mulutnya seakan berat berkata-kata.
"Aku mencintaimu." Damian mengatakannya dengan tulus,meskipun waktunya tak tepat.
Meechella tertawa, wanita itu menertawakan omong kosong Damian yang dianggap sampah baginya.
"Kisah kita hanya layak disebut sebagai kenang."
Meechella menarik kopernya, namun tangannya dicekal oleh Damian.
"Tidakkah ada kesempatan kedua untukku Chel?" Mata Damian berkaca-kaca.
"Aku atau tugasmu?" tanya Meechella membuat Damian menatapnya tak percaya.
Wanita yang dianggapnya berwawasan luas bisa sebegitu egois itu dalam berkata-kata, tidakkah dia tahu pekerjaannya adalah mengabdi untuk negara?
"Kamu tidak bisa menjawabnya, aku tahu jawabannya. Maafkan aku, tapi aku tidak ingin dijadikan pilihan. Apalagi pilihan kedua. Maafkan aku, kita berhenti di sini. Selamat tinggal Damian, senang mengenalmu selama ini." Meechella tersenyum miris.
Dia menarik kopernya meninggalkan Damian yang menatap kepergiannya dengan mata berkaca-kaca. Lelaki itu terjatuh lemas, dia tidak tahu harus berkata apalagi untuk menahan wanita itu agar mau tetap di sisinya.
Di lain pihak, Meechella menangis dalam perjalanan pulangnya. Keberangkatannya ke Iraq malah membawa luka mendalam baginya. Biarlah semua orang mengiranya egois ataupun apa itu. Dia hanyalah wanita biasa yang ingin menjadi prioritas utama bagi lelakinya kelak. Dan itu, bukan Damian Delrico!