9. Kecurigaan Keluarga

1269 Kata
"Dear passengers, we beg your attention for a moment! In accordance with civil aviation safety regulations we must demonstrate to you how to use seat belts, oxygen masks, emergency doors and windows, life jackets, and safety cards." Suara pramugari dalam memberikan arahan 'safety' untuk keselamatan semua penumpangnya. Semua penumpang diharapkan mengecek semua perlengkapan sebelum pesawat lepas landas menuju tempat tujuan. Meechella melepaskan masker dan topi hitam yang sedari tadi dia pakai. Hembusan nafas lelah keluar dari indra penciuman wanita yang kini telah memilih mengakhiri hubungan tanpa statusnya. Maafkan aku Damian, kita harus berakhir seperti ini, batin Meechella. Meechella mengeluarkan headset dalam saku jaketnya, memasangkannya ke ponsel. Memutar lagu kesukaannya Meechella. Menemani perjalanan sunyinya menuju negara asalnya. Setelah mengaktifkan mode airplane, Meechella memasukkan ponselnya ke dalam aku jaketnya. Menikmati alunan lagu yang menggema di telinganya. Inilah pilihan yang diambil Meechella. "Ladies and Gentlemen, we shortly will be landing at Soekarno-Hatta International Airport in Jakarta. The local time now is 20 minutes past 11 a.m. The time in Jakarta is 5 hours ahead of Iraq." Bersamaan dengan pengumuman itu, Pesawat yang ditumpangi Meechella telah terbang meninggalkan seseorang yang menatap kepergian wanita yang dicintainya dengan malang. Damian menatap ke arah langit, di mana pesawat yang membawa wanitanya pergi dari sisinya. "Selamat jalan Meechella, semoga takdir berbaik hati mempertemukan kita sekali lagi," lirih Damian dengan mata berkaca-kaca. Apa yang telah Damian lakukan kepada wanita itu nampaknya sudah tidak bisa lagi termaafkan. Lelaki itu hanya mampu berdoa, semoga Tuhan memberikannya kesempatan sekali lagi untuk menyelesaikan kisah cintanya bersama dengan Meechella. - Meechella menarik kopernya menuju pintu keluar dari Bandara. Kini dia sudah sampai di Bandung, setelah melakukan penerbangan ke dua transit dari Jakarta-Bandung. Meechella memanggil taksi, karena ponselnya yang hilang ketika dia berjalanan di antara kerumunan Bandara Soekarno-Hatta. Karena itu pula, Meechella tidak bisa mengabari keluarganya untuk menjemput atau bahkan memberi kabar dia telah sampai di Indonesia dengan selamat. "Ke jalan Arteri, Pak," ucap Meechella diangguki sopir taksi itu. "Siap Non, mari saya bawakan kopernya," jawab sang sopir taksi. Sopir taksi itu mengambil alih koper yang dibawa Meechella, memasukkannya di dalam bagasi mobil. Meechella masuk ke dalam taksi untuk melanjutkan perjalanannya menuju rumah tercintanya. Semua keluarga Corlyn dan William kebetulan menetap di Bandung. Kecuali Zio-Velove, mereka tinggal di Bangkok bersama keluarga Amberley. Sedangkan Varo dia berada di Jakarta menghandle perusahaan dari pihak keluarga Racka (Memories of love). "Pagar abu-abu Pak," ucap Meechella. Taksi itu berhenti tepat di depan rumah Nayna-Chiko. Meechella keluar dari taksi dan memberikan ongkos taksi. "Terimakasih Pak, kembaliannya diambil saja. Selamat bekerja," kata Meechella sebelum keluar dari mobil. Sopir taksi itu mengangguk dan tersenyum berterimakasih. Setelah mengeluarkan koper Meechella, taksi itu melesat meninggalkan Meechella. Meechella membawa kopernya masuk ke dalam rumah. "Sepi sekali, mana rumah tidak dikunci lagi. Mommy ini kebiasaan!" cibir Meechella memasuki rumahnya. "Mom ... Mommy? Daddy?" teriak Meechella memanggil mommy dan daddynya yang tidak kelihatan batang hidungnya. Suara air di kolam renang membuat Meechella melangkah ke sana. Mungkin saja orang tuanya sedang berenang bersama di sore hari seperti sekarang. "Auuhh ... uhh ... emhh." Suara desahan-desahan semakin kencang saat Meechella sampai di sana. "Kya! Mommy, Daddy!" pekik Meechella saat mommy dan daddynya making love di dalam kolam renang. Chiko dan Nayna spontan langsung menoleh mendengar teriakan dari putrinya. "Tutup matamu El! Berbalik sana, Daddy lagi nanggung ini!" Perintah Chiko tidak ingin kegiatannya diganggu. Meechella enggan melihat adegan p***o mommy dan daddynya yang tanpa malu kepergok anaknya yang sudah dewasa making love di dalam kolam renang. "Oke baiklah, lanjutkan saja aktivitas kalian," jawab Meechella meninggalkan orang tuanya yang sedang memasuki masa puber ke 2. Ckckck, Meechella ingin sekali mengutuk orang tuanya. Bisa-bisanya mereka making love dengan pintu rumah tanpa terkunci? Bagaimana jika ada yang masuk dan melihat mereka b******a seperti itu? Astaga, mommy dan daddynya memang keterlaluan. "Daddy, nanti koper Ella bawa ke kamar ya? Ella capek," teriak Meechella memberi perintah pada daddynya. Sedangkan Chiko yang sedang menikmati permainan panasnya dengan Nayna menghentikan aktivitasnya. "Wah anak kurang ajar!" cibir Machiko menatap punggung putrinya menjauh dari sana. Nayna tertawa, namun tawanya lenyap begitu saja saat menyadari ada yang aneh pada Meechella. "Tunggu," ucap Nayna ketika Chiko hendak melanjutkan kembali aktivitasnya. "Waduh Queen, nanggung nih si dedekk," rengek Chiko memelas. "Hubby, kamu lihat nggak sih ada yang aneh sama Ella? Wajahnya bengkak kayak abis nangis, bukankah dua hari lagi dia baru pulang? Kok sekarang udah sampai sini aja?" tanya Nayna menyadari kejanggalan pada kepulangan Meechella. Machiko terdiam, mencerna ucapan dari istrinya. Rasanya aneh sekali, Ella merengek meminta diizinkan memperpanjang liburannya di Iraq. Lalu tiba-tiba wanita itu pulang begitu saja? "Iya juga sih, Queen," jawab Chiko. "Ada yang tidak beres, minggir," kata Nayna mendorong tubuh suaminya, melepaskan batang tegang dari dalam surga kenikmatan miliknya. Nayna keluar dari kolam renang dan memakai kimono mandinya. "Loh si dedek gimana Queen?" teriak Machiko dengan mata redup karena geloranya masih belum tersalurkan dengan benar. "Urus aja sendiri, anak lagi bermasalah masih aja mikir senjata buat anak!" cibir Nayna melenggang meninggalkan Chiko yang masih berada di dalam kolam renang. Nayna mengetuk pintu kamar Meechella, membukanya perlahan. Kini Nayna sudah berganti pakaian santai yang biasa dia pakai di rumah. "El?" panggil Nayna membuat Meechella menoleh. "Sudah selesai ritualnya Mom?" goda Meechella kepada mommynya. Nayna mengangguk geli, dia duduk di tepi ranjang putrinya. "Kamu pulang kok nggak ngabarin Mommy sama Daddy?" tanya Nayna mengelus rambut Meechella. "Mau ngabarin sih Mom, cuma ponsel Ella hilang di Bandara Soetta," jelas Meechella meringis. "Sudah membeli ponsel baru?" tanya Nayna. Meechella menggeleng. "Belum, nanti malam saja Ella minta Kak Ello nemenin buat beli baru," jawab Ella. "Ya sudah, nanti kamu, Mommy, Daddy, dan Kak Ello kita dinner di luar saja. Kamu nggak capek kan?" "Capek sih Mom, tapi enggak apa-apa lah daripada di rumah juga boring." Meechella terlihat menghela napasnya panjang. Nayna tersenyum, mengelus rambut putrinya. "Kok pulangnya Adek lebih cepet dari waktu yang sudah dijanjikan Daddy?" tanya Nayna mencoba mengulik apa yang terjadi pada putrinya di sana. Wajah Meechella berubah, ada kilatan kekecewaan di sana. Semua perubahan wajah Meechella tentu saja terekam jelas oleh penglihatan ibunya. "Ada kerjaan mendadak," jawab Ella diangguki Nayna. Nayna tahu, ada yang tidak beres dengan anaknya. Jika masalah pekerjaan, bukankah Chiko sudah memberitahu Alena bahwa putrinya sementara waktu tidak bisa bekerja. Nayna tidak ingin memaksakan bertanya lebih lanjut, dia akan memberikan waktu kepada Meechella sampai dia mau bercerita dengan sendirinya kepada Nayna. "Kamu istirahat saja dulu, biar mommy yang menghubungi kakakmu," ucap Nayna. Meechella menatap pintu kamarnya yang kembali tertutup bersamaan sang mommy beranjak meninggalkan kamarnya. Andai saja dia bisa berjata jujur pada mommynya,mungkin hatinya tidak akan sesesak ini. Dia tidak tau harus berkata apa, kegagalan dalam kencannya ataukah kesalahan memilih teman kencan? Yang Meechella tahu, kisah ini akan dia tutup sampai di sini saja. Dia tidak ingin memperparah suasana hatinya dengan mengingat-ingat lelaki itu setiap saat. ❣️❣️❣️ "Ellanya Mamaa!" pekik Valeria. Valeria, Erick dan Ello bersama-sama berjalan menuju meja makan yang sudah di pesan Nayna. "Mama?" panggi Ella antusias. Mereka saling berpelukan, Ella merupakan keponakan favorit bagi semua keluarga. Apalagi untuk Valeria-Erick, dia sudah menjadikan Ella anaknya sendiri. Terutama tentang cerita dahulu, ketika Nayna dan Chiko mengadopsi Ello yang dibuat menjadi skenario seakan-akan Ella dan Ello itu kembar (baca My Hope). "Adek." Ello memeluk Ella dengan erat. Ello memperhatikan wajah Ella yang murung, tidak seceria biasanya. Ada apakah dengan Negara Iraq hingga mampu membuat kepribadian ceria Ella berubah drastis menjadi seperti ini? Sepertinya aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, batin Ello. ------ JANGAN LUPA TAP LOVE UNTUK SIMPAN CERITA INI DI LIBRARY KALIAN, YA :* TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR KALIAN GENGSSS ;)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN