(Dua tahun kemudian)
One
Two
Three
"Cheerssss!" teriak pasukan bersenjata ketika suara gelas berdenting saling bersenggolan.
Hari ini adalah hari terakhir bagi pasukan khusus Tentara Internasional bertugas di Iraq. Mereka akan dipulangkan ke negara asalnya. Dan tentunya mereka akan mendapatkan promosi jabatan sekaligus kenaikan gaji ditambah hari libur untuk mereka gunakan bersama keluarga.
Tawa mereka tak terbendung lagi. Rasa rindu yang memuncak akan keluarga dan kampung halaman membuat mereka semakin tidak sabar ingin segera kembali.
"Perhatian sebentar." Jendral Tentara Iraq mengambil komando di acara perpisahan itu.
Semua pasukan langsung siap siaga, mereka memberi hormat kepada sang Jendral.
"Silahkan kembali duduk, saya tidak akan mengganggu waktu perpisahan kalian. Di sini saya mewakili negara, mengucapkan terimakasih untuk kalian semua yang turut andil menjaga kesatuan dan pertahanan di negara kami. Sekali lagi, atas nama Iraq saya ucapkan terimakasih," ucap Jendral Iraq.
Mereka di sana langsung bertepuk tangan, bagi pasukan yang berjumlah empat puluh orang itu tugas negara adalah nyawa mereka. Meskipun mereka berasal dari negara yang berbeda, namun nyatanya mereka semua mampu beradaptasi dibawah kepemimpinan PBB yang mengikat mereka.
"Selamat atas jabatan resmi Anda, Kapten Damian." Jendral Iraq menyalami Damian yang ikut bergabung bersama mereka.
Akhirnya, buah kesabaran Damian telah dia panen di waktu yang tepat. Sesuai janji pemerintahnya, Damian telah dipromosikan menjadi seorang kolonel.
"Terimakasih Jendral Arthan." Damian menunduk hormat.
"Saya pribadi salut dengan keberanian dan juga ketulusan Anda ketika mengabdi pada negara," puji sang Jendral kepada Damian yang nantinya ketika sampai di Indonesia akan dilantik sebagai Kolonel atas jasanya.
Tentu saja perjuangan itu tidak mudah, dia punya tanggung jawab yang besar. Dia juga punya tugas yang sangat berat untuk menjalankan amanat negara.
Siapa sangka di usia muda dia mendapatkan pangkat yang tinggi. Namun yang namanya hasil tidak akan mengkhianati usaha mengingat bagaimana Damian dulu memimpin pasukan di tengah kerusuhan yang bahkan petinggi-petinggi lainnya tak berani ambil resiko.
"Kenapa tidak bergabung dengan militer negara ini? Dirimu berpotensi menjadi Jendral suatu hari nanti," tawarnya.
Damian tersenyum, ada satu alasan yang mana Damian harus segera kembali ke tanah airnya, Indonesia.
"Tidak, sebelum seperti sekarang saya mengucapkan sumpah setia kepada negara saya. Setidaknya, kalaupun saya harus bergabung dengan pasukan khusus lagi itu karena perintah negara saya," jawab Damian.
Apalagi ada seseorang yang ingin aku temui, seseorang yang seakan hilang ditelan bumi tanpa bisa dihubungi, lanjut Damian dalam hatinya.

"Sayang sekali saya tidak punya anak gadis," kekeh Jendral Arthan membuat Damian kembali tersenyum.
Ada seseorang yang dalam waktu singkat telah memenuhi relung hatinya hingga beberapa tahun ini. Meskipun Damian tidak tahu bagaimana kabar dan keberadaan pujaannya. Yang dia tau hanya satu, wanita itu sudah menjadi miliknya sejak pertama kali matanya menatap mata wanita asal Indonesia itu.
Dia hanya ingin bertemu satu orang, Meechella.
❣️❣️❣️
"Meechella!"
Pemilik nama itu menoleh ke arah pintu. Ruangan bertuliskan 'Wakil Direktur' terbuka, menampilkan sosok Nayna yang datang dengan senyuman merekah khas dirinya.
Nayna melenggang masuk hingga suara high heelsnya yang menyapu lantai menampilkan bunyi khasnya.
"Ibu Wakil Direktur, sudah saatnya makan siang." Nayna memicingkan matanya.
Nyonya Machiko memandang anaknya yang duduk di kursi kebesarannya dengan tatapan takjub.
"Mommy yakin, kamu memiliki kemampuan meneruskan perusahaan keluarga kita," ucap Nayna bangga.
Meechella berdiri dari kursi kebesarannya, dia melipat tangannya menghampiri ibunya.
"Jika bukan karena Mommy, aku tidak akan meninggalkan profesiku," hardik Meechella kepada sang ibu.
"Kamu seharusnya berterimakasih kepada Mommy, siapa yang mau anaknya menghadapi orang-orang stress yang tidak jelas itu. Membahayakan sekali, Mommy tidak bisa membayangkan jika mereka melakukan hal-hal bodoh kepadamu," sahut Nayna membela dirinya.
Nayna mengingat kejadian mengerikan dulu, ketika Meechella mendapatkan pasien seorang ibu yang baru saja kehilangan putrinya. Meechella hampir dibunuh dengan pisau buah yang ada di meja kerja Meechella.
Meskipun sebagai seorang psikolog, tugasnya hanya melakukan pendekatan secara mental seperti mendengarkan curhatan dan juga melakukan terapi seperti hipnotis. Namun sama halnya dengan psikiater, psikolog juga mampu mendiagnosis masalah yang dialami pasien lewat kepribadian, tingkah polah, perilaku dan kebiasaan (seperti pola makan dan kebiasaan tidur), cara berbicara, dan lewat cerita yang pasien curahkan.
Yah, tentu saja Meechella hanya mampu untuk mendiagnosis gangguan-gangguan mental seseorang, yang nantinya akan dia konsultasikan kepada rekannya yang berada di bidang Psikiater untuk mendapatkan resep obatnya.
"Mommy saja yang terlalu serius, semua pekerjaan pasti punya resiko," cibir Meechella.
Nayna berdecak kesal dengan kelakuan anaknya yang suka sekali menyanggah ucapannya.
"Kakekmu akan berhenti menjadi Presiden Direktur sebentar lagi. Otomatis kursi Direktur Utama juga kosong. Sedangkan seluruh keluarga kita sudah sibuk dengan bidang kita masing-masing."
Gawat, bisa-bisa Meechella harus terperangkap dalam bisnis keluarganya.
"Kak Ello?" tanya Meechella.
"Dia nanti akan bertahta di Perusahaan Carollino. Sedangkan kedua anak Uncle Zio tidak berniat mencampuri perusahaan ini," jelas Nayna.
Bahkan Chiko sebagai menantu keluarga Corlyn tidak pernah memimpin perusahaan raksasa yang hampir seratus tahun itu berdiri. Chiko memiliki tugas sendiri dalam perusahaan keluarganya sendiri, William Company.
Sedangkan Valeria sibuk dengan acara amalnya, dan Frederick dia membangun perusahaan keamanan yang melahirkan bodyguard-bodyguard tangguh dan berpengalaman. Bahkan perusahaan Erick telah ditunjuk pemerintah untuk menyeleksi para pengawal Presiden dan sebagian dilantik sebagai anggota Badan Intelejen Negara.
"Untung Mommy dulu anaknya manis, nurut banget sama orang tua. Jadi Mommy mau-mau aja bantu ngurus perusahaan yang punya cabang di mana-mana," lanjut Nayna dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa.
"Kambuh lagi kan percaya dirinya," keluh Meechella membuat mommynya tertawa.
"Seharusnya Mommy dulu punya anak banyak, biar nggak bingung kayak gini," ucap Nayna.
Aneh sekali, di saat para pewaris tahta saling membunuh demi mendapatkan kekayaan, keluarga mereka nampak acuh dan tidak peduli karena mereka memiliki usahanya sendiri di bidang masing-masing.
"Warisan Ella dikit dong Mom kalau punya saudara banyak," jawab Meechella membuat Nayna menatap putri semata wayangnya tak percaya.
"Kamu nyumpahin Mommy dan Daddy mati gitu?" tanya Nayna kesal.
Meechella terbahak-bahak melihat ekspresi Nayna. Meskipun mereka ibu dan anak, namun mereka tak punya batas. Belanja ayok, liburan ayok, ngegosip ayok, serius juga ayok.
Contohnya saja sekarang, mereka berdua sudah berada di pusat perbelanjaan elit yang terkenal dengan barang-barang branded dan juga restoran-restoran mewah yang harga satu porsi makanannya mencapai 8 digit angka.
"Sepertinya minggu depan Meechella harus ke Jakarta," ucap Meechella kepada mommynya.
"Acara apa El? Kok Mommy enggak tahu jadwal kamu?"
"Mommy inget sama Salma?" tanya Meechella.
Nayna nampak berpikir. "Sebentar, temen kamu waktu SMA dulu?"
Meechella mengangguk. "Minggu depan dia tunangan, Meechella dapat undangannya."
"Bagus dong, artinya Salma normal," jawab Nayna yang terang-terangan menyindir Meechella.
"Jangan mulai deh Mom," gerutu Meechella memutar bola matanya kesal.
"Terus kapan kamu ngenalin cowok ke Mommy Daddy, El? Temen-temen Mommy ada yang sudah punya cucu loh."
Meechella menghembuskan napas lelahnya. Sejauh apapun dia melangkah, dan juga seberapa lama waktu terus berputar. Pertanyaan keluarganya pasti berujung tentang pernikahan.
Apakah mereka pikir pernikahan itu main-main?
"Atau kamu belum bisa melupakan dia?" tebak Nayna mencoba mencari tahu jawaban atas kesendirian putrinya selama ini.
Dia yang telah mematahkan hasrat Meechella bersama dengan seorang lelaki. Menyesal karena pernah menaruh perasaan kepada seseorang yang belum tepat.
Satu pertanyaan yang akhirnya keluar dari mulut Nayna. Membuat Meechella terdiam membisu tidak bisa mengatakan apa-apa. Apakah benar karena lelaki sialan itu dia tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki lain?
Rasa sakit karena kecewa dan juga amarah, membuat Meechella enggan membuka hatinya kembali setelah dirinya merasakan sakitnya dicampakkan seseorang. Salahkah jika dia menenangkan diri dari namanya cinta?