Iring-iringan mobil negara yang akan menjemput salah satu putra bangsa yang telah membuat harum nama bangsa. Hari ini adalah hari kepulangan sang kapten. Pasukan khusus Tentara Negara Indonesia yang telah terpilih menjadi pasukan khusus internasional bersama dengan pasukan-pasukan khusus dari berbagai negara.
Ada dua mobil yang telah dikirim Jenderal TNI untuk menjemput Damian di Bandara Soekarno-Hatta.
"Kapten Damian!" panggil Kapten Zafran ketika melihat sosok kapten yang tengah mereka tunggu-tunggu.
Damian tersenyum ke arah rombongan TNI yang saat ini menantinya dengan setia.
"Letnan Zafran, Sersan Daud, lihat siapa ini yang menjemputku?" kekeh Damian merentangkan tangannya memeluk Letnan Zafran dan rekan-rekannya yang sudah menyempatkan waktu untuk menjemput dirinya.
"Lihat, bagaimana penampilan kapten kita," kekeh Letnan Zafran melihat penampilan Damian yang terlalu modis untuk ukuran tentara yang bergelut dengan berbagai macam situasi.
"Tentu saja, kapan lagi aku bisa memakai pakaian sesantai ini ditambah kalung ala boyband Negeri Gingseng itu," jawab Damian membuat mereka yang menjemputnya tertawa.
Damian melihat mobil negara dengan bendera merah putih yang khas.
"Siapa yang menyuruh kalian membawa mobil dinas ini?" tanya Damian merasa tidak pantas menaiki mobil milik negara yang terdaftar di sepuluh besar mobil negara termahal di Indonesia.
"Panglima Jendral kita yang menyuruhnya, Kapten," jawab Sersan Daud tanpa ragu.
Kini mereka semua menjadi tontonan orang-orang yang ada di bandara. Bagaimana tidak, mereka semua masih memakai seragam lengkap ditambah mobil negara dengan bendera merah-putih yang menambah rasa ingin tau semua orang.
"Silahkan Kapten, semua pasukan di markas besar telah menunggu Anda, selamat datang kembali di tanah air tercinta."
Letnan Zafran membukakan pintu penumpang untuk Damian. Mereka semua bersiap menuju markas besar TNI yang berada di Jakarta Timur untuk bertemu dengan Panglima Jendral guna memberi laporan bahwa tugas Damian telah selesai.
"Lapor, Satgas Konga PBB Iraq dengan nomor tugas C11098 telah selesai menjalankan tugas," ucap Damian memberi hormat kepada pemimpin upacara dalam rangka menarik kembali satuan tugas yang telah dibebankan kepada pasukan yang terpilih.
"Laporan diterima, harap para pasukan kembali ke posisinya masing-masing," ucap pemimpin upacara dengan tegas.
Damian memberi hormat kembali sebelum dia melangkahkan kakinya dengan tegap menuju tempat barisannya. Semua pasukan upacara militer menatap kagum kepada Damian. Berangkat dengan pangkat Letnan dan pulang membawa pangkat Kapten. Tidak semua orang bisa mendapatkannya.
"Pasukan diistirahatkan," teriak komandan upacara.
"Pertama-tama, selamat datang kembali untuk anggota TNI yang baru saja menyelesaikan tugasnya. Saya tahu benar jika tugas ini sangat berat, dua tahun jauh dari tanah air dan sanak keluarga pasti tidak mudah. Terimakasih sekali lagi, mereka yang bertugas kembali dengan selamat. Untuk Kapten Damian, selamat atas jabatan baru yang memang sangat pantas Anda dapatkan. Ini menjadi pembelajaran bagi anggota kita yang lainnya, supaya mencontoh keberanian dan kesetiaan mereka terhadap janji setia pada negara. Tepuk tangan untuk Kapten Damian dan pasukannya."
Tepuk tangan menggema dari semua pasukan upacara yang menyambut kepulangan Kapten Damian dan pasukannya. Kesetiaan dan keberanian mereka harus dicontoh agar Tentara Negara Indonesia lebih berkualitas dan menunjukkan taringnya ke negara lain.
Setelah upacara selesai, Kapten Damian menghadap Panglima Jendral TNI untuk mendapatkan tugas selanjutnya.
"Selamat datang kembali di Indonesia, dan selamat bergabung kembali bersama Tentara Nasional Indonesia, Kolonel Damian."
Damian menjabat tangan Panglima Jendral TNI dengan bangga. Apalagi dengan lambang tiga bunga melati emas yang telah disematkan Panglima Jendral TNI padanya.
"Kapten Damian Delrico siap menerima tugas negara," ucap Damian menaruh hormat kepada sosok didepannya.
Lelaki gagah itu menepuk bahu Damian. "Anda dilibur tugaskan selama dua minggu Kapten Damian, silahkan menikmati waktu libur Anda sebaik mungkin bersama keluarga dan orang tercinta," ucapnya tersenyum bangga atas prestasi Damian.
Letnan Zafran berlari menghampiri Damian yang baru saja keluar dari ruangan Panglima Jendral TNI.
"Kapten Damian, Anda tidak sibuk?" tanya Zafran kepada Damian.
Damian menggeleng, dia baru saja diliburkan selama dua minggu.
"Ini, undangan pertunanganku dengan Salma," ucap Zafran pada Damian.
Damian menerimanya. "Siapa sangka kalian akan ke jenjang ini" ucap Damian membuat Zafran tersenyum malu.
"Kapten akan datang kan?"
Damian menepuk bahu Zafran. "Tentu saja, Letnan Zafran," jawab Damian membuat Zafran bahagia.
"Hari ini Anda akan ke mana? Haruskah kita mengadakan acara penyambutan? Minum sampai pagi?" usul Letnan Zafran.
"Aku berencana mengunjungi orang tuaku, dan mencari sesuatu yang hilang," jawab Damian penuh arti.
Letnan Zafran nampaknya tidak mengetahui bagaimana perasaan Damian saat ini. Lelaki itu berusaha dengan sangat agar tugasnya selesai lebih cepat untuk kembali ke tanah air demi menemukan seorang wanita yang sampai detik ini masih menempati relung hatinya.
"Yang hilang?" Letnan Zafran terlihat bingung dengan kalimat Damian.
"Kau tak akan mengerti, aku pergi dulu," pamit Damian meninggalkan Zafran dengan wajah kebingungan.
-
"Siapa yang membuat putra Mommy ini begitu gelisah?"
Suara halus itu membuat Damian menoleh. Senyumnya terukir ketika bertemu dengan sorot mata teduh milik ibunya.
Anindhita Faranisa, ibunda Damian tengah penasaran akan wanita yang telah mencuri perhatian putranya sejak dua tahun lalu. Wanita yang pertama kali Damian ceritakan pada sang ibunda dari sekian banyak mantan pacarnya.
"Mommy, mengagetkan saja," cibir Damian karena tidak sadar kapan sang mommy datang ke dalam kamarnya.
Nisa duduk di sebelah Damian.
"Kapan kamu bawa dia ke rumah ini? Mommy sangat kesepian ketika daddymu bertugas," pertanyaan Nisa membuat Damian bertambah gelisah.
Daddynya seorang Perajurit Tentara Indonesia namun sudah pensiun satu tahun yang lalu. Setiap saat daddynya harus siap untuk mengisi materi dalam sekolah militer di Jepang.
"Boleh Mommy lihat wajahnya?" tanya Nisa kepada Damian.
Meskipun menginjak usia lima puluh lima tahun, Nisa tetap cantik dengan balutan hijabnya.

Damian menunjukkan sebuah foto yang dia dapatkan dari internet. Pewaris keluarga Corlyn dan William yang sering muncul di program TV untuk mengisi sebuah acara sosial atau motivasi dalam kepemimpinan disebuah perusahaan.
"Pantas saja dia kabur darimu, dia sangat cantik dan terlihat dari keluarga kaya raya," goda Nisa pada Damian.
"Damian tidak bisa mendapatkan kontaknya sejak dua tahun lalu. Dia bahkan tidak punya media sosial," ucap Damian kepada mommynya.
"Kalau dia jodohmu, kalian pasti akan ditemukan kembali," wejangan Nisa kepada Damian.
Dua tahun sudah, dia seperti seorang penguntit yang selalu mencari informasi tentang Meechella di internet. Setidaknya itu mampu mengurangi rasa rindu dan bersalahnya terhadap Meechella yang telah terluka olehnya.
Damian selalu mengamati perubahan pada diri Meechella. Dari wajahnya yang semakin terlihat matang diusianya, dan juga rambutnya yang kini dipanjangkan.
"Dia pasti bertambah cantik," gumam Damian tak lepas dari foto Meechella yang dia pandangi sedari tadi.
#Corlyn Suite, Corlyn Hotel and Restaurant
Seluruh pegawai dari Corlyn Suite berkumpul di lobby untuk menyambut kedatangan dari Meechella, putri pemegang saham terbesar Corlyn Company.
Mereka sudah mengirim mobil khusus VIP untuk menjemput Meechella. Mungkin kini mereka tengah menuju hotel.
Kabarnya, Meechella akan menginap disana untuk menghadiri pertunangan temannya dan juga mewakili Colyn Company dalam penandatanganan MOU di beberapa tempat.
"Jangan lupa tersenyum," peringat Manager Corlyn Suite terhadap para pekerjanya.
Mobil itu berhenti tepat di hadapan mereka, manager hotel membukakan pintu untuk Meechella.
Meechella membuka kaca mata hitamnya, menampilkan seluruh wajahnya hingga terekspos sempurna. Semua mata menatap Meechella dengan memuja.
"Selamat datang di Corlyn Suite, Nona Meechella," sapa mereka semua dengan ramah.
Meechella tersenyum. "Terimakasih sudah repot-repot menyambutku di sini."
"Itu tidak masalah Nona," jawab Manager Corlyn Suite. "Mari saya antarkan ke kamar Anda, Nona," lanjutnya.
Meechella mengangguk, koper-kopernya sudah diambil alih oleh office boy dari hotel.

"Kalian mengurus hotel ini dengan baik, pantas saja pendapatan hotel ini paling besar di antara hotel kita yang lainnya," ucap Meechella.
"Ketua sangat hebat dalam mengelola semua bisnisnya, kami hanya menjalankan perintah," jawab manager hotel.
"Pertahankan kinerja kalian, hotel ini telah menghidupi banyak keluarga dari para pekerja kita. Pak Saga, senang bisa bertemu anda secara langsung," seloroh Meechella.
Pak Saga sangat tersentuh dengan ucapan Meechella. Meskipun dia lahir dikeluarga kaya dan hidup dengan bergelimpang harta. Namun sikap dan juga sopan santun Meechella patut diacungi jempol. Meechella sangat ramah dan juga terkenal tidak pernah marah. Semua keturunan dari Keluarga Corlyn menunjukkan bahwa tidak semua keluarga kaya bersikap seenaknya dengan seseorang di bawah mereka. Justru mereka tidak akan bisa seperti sekarang tanpa bantuan dan dukungan dari para pekerjanya.