12. Belum Beruntung

1416 Kata
WARNING !!! Pasal 72 ayat {1} Undang-Undang Hak Cipta: Plagiarisme : penjara paling singkat SATU BULAN dan atau denda SATU JUTA RUPIAH, atau paling lama TUJUH TAHUN dan atau LIMA MILIAR RUPIAH !! -- Kilatan blitz kamera menyambut kedatangan perwakilan dari Corlyn Company untuk melakukan penandatanganan MOU antara Corlyn Company dan Rumah Sakit Swasta Bratawijaya. Meechella sebagai perwakilan Corlyn Company nampak mengulas senyumnya menyapa para wartawan dan juga jajaran direksi yang kini menunggu kedatangannya. "Senang bisa bertemu langsung dengan keluarga Corlyn," ucap Direktur Utama RS Bratawijaya. "Saya juga demikian, Pak Samsul," jawab Meechella mengulum senyumnya. Mereka mengajak Meechella untuk masuk ke dalam. Menunjukkan tempat di mana mereka mengadakan pertemuannya. Meechella datang ke sana bersama dengan dua pegawai hotel yang bisa membantu pekerjaannya. Tidak ada pengawalan khusus, karena Meechella bukan tipe orang yang suka berlebihan. "Sebelumnya Anda seorang psikolog bukan?" Pak Samsul nampak tertarik dengan biodata Meechella. Meechella mengangguk mengiyakan. "Psikolog di sini sering menggunakan jurnal Anda untuk melakukan riset mereka," ucap Pak Samsul membuat Meechella berbinar. "Benarkah? Saya merasa bangga jika begitu," ucap Meechella membuat mereka mengangguk. Jauh dari bayangan para jajaran direktur di sana. Jika bayangan mereka perwakilan dari Corlyn Company pasti sangat kaku dan angkuh. Tapi Meechella mematahkan persepsi mereka. Meskipun tidak banyak bicara, dan terkesan cuek. Tapi dia selalu menampilkan senyuman di wajahnya. Dia juga sangat sopan terhadap orang lebih tua dari dirinya tanpa memandang harta dan strata sosialnya. Meechella berjabat tangan dengan para jajaran direksi yang ada di sana. Setelah menandatangani MOU dan juga berfoto bersama, Meechella akhirnya memilih untuk berpamitan karena jadwal kunjungannya di beberapa sekolah milik keluarganya yang berada di Jakarta. "Semoga kerjasama ini berjalan lancar ke depannya, terimakasih sudah menyempatkan waktu Anda, Nona Meechella." "Sama-sama Pak, saya dari perwakilan perusahaan mengucapkan banyak terimakasih sudah disambut dengan hangat di rumah sakit ini," ucap Meechella dengan penuh ketulusan. "Mari, saya antar ke bawah." Meechella menggeleng, menolak tawaran Pak Samsul dengan halus. "Tidak usah Pak Direktur, saya bersama pegawai saya sudah cukup. Anda pasti sibuk sekali, sampai ketemu di lain waktu," pamit Meechella disusul ketiga pegawainya keluar dari ruangan pertemuan antara kedua belah pihak. Meechella berjalan dengan anggun menuju lift, diikuti ketiga pegawainya dibelakangnya. Kebetulan sekali, tempat mereka melakukan MOU berada di lantai 9. Di sana menjadi bangsal VVIP, baik rawat inap, ICU, UGD, maupun ruang periksa tersedia di lantai 9. Tanpa sengaja, seseorang menabraknya ketika dia hendak keluar dari ruang periksa. Tablet penting yang berisikan berbagai informasi baginya kini terpental jatuh dua meter di depannya. "Nona Meechella," pekik salah satu pegawainya memegangi Meechella. "Maafkan saya Nak, saya buru-buru karena dokter pribadi saya sebentar lagi akan selesai jam prakteknya," ucap seorang ibu-ibu yang tadi menabraknya. Meechella mengangguk, kemudian dia memberi isyarat kepada pegawainya untuk mengambil tablet miliknya yang terpental. "Tidak apa?" tanya Meechella ikut mengecek tablet pribadinya.  "Touchscreennya masih normal, Nona," jawab pegawainya. Meechella mengangguk, kemudian dia menatap wanita paruh baya yang kini terlihat khawatir sekaligus merasa tidak enak. "Tidak apa Nyonya, bukankah Anda tadi bilang mau bertemu dokter?" tanya Meechella. Ibu itu mengangguk, dia menatap lekat Meechella seakan dia pernah melihatnya. "Ibu seperti pernah melihatmu,tapi kapan ya?" Wanita paruh baya itu berpikir, mengingat-ingat di mana dirinya pernah bertemu dengan Meechella. Meechella menyipitkan matanya, rasanya dia belum pernah bertemu dengan wanita di depannya. Wanita itu sangat anggun dan juga cantik dengan balutan hijab anggunnya. "Ibu pasti melihatnya di televisi, Nona Meechella sering mengisi acara TV untuk menjadi bintang tamu inspirasi muda," jawab pegawai lelaki Meechella, Raphael. "Meechella? Meechella?" tanya wanita itu mengulangi. Baik Meechella maupun ketiga pegawainya nampak kebingungan. "Nyonya Nisa?" panggil seorang suster menghampiri Faranisa. "Dokter Fredly masih di ruangannya?" tanya Nisa kepada suster yang berjaga. "Dokter sudah tidak menerima pasien lagi, ah itu Dokter Fredly," tunjuk suster itu kepada seorang dokter laki-laki memakai kacamata dengan tubuhnya yang kurus. Dokter Fredly menghampiri mereka. "Oh Nyonya Nisa, kenapa terlambat? Saya ada tugas lagi di tempat lain," ucap Dokter Fredly penuh sesal. "Maaf Dokter, saya terlibat kecelakaan kecil dengan ibu ini makanya beliau terlambat," jelas Meechella. Dokter Fredly mengangguk. "Dokter bisakan memeriksa ibu ini? Em, Ibu Nisa ya tadi namanya?" T tanya Meechella memastikan tidak salah menyebut nama. "Baiklah, karena ini perintah langsung dari Ibu Wakil Direktur maka saya tidak berani menolak, mari Nyonya Nisa silahkan masuk ke ruangan" ucap Dokter Fredly mempersilahkan. Nisa memandang Meechella kembali, dia ingat siapa Meechella ini. Dia wanita yang selalu dia lihat dalam mata putra semata wayangnya. Dia wanita yang ditunggu-tunggu oleh Damiannya. Inikah wanita yang membuat anaknya bertekuk lutut? Wanita muda yang sangat cantik, lembut, dan juga sangat sopan kepada orang tua. Nisa mengelus pipi Meechella, matanya bahkan berkaca-kaca. "Akhirnya aku melihatmu juga," lirih Nisa yang tak dimengerti oleh Meechella. "Kalau begitu saya permisi, semoga lekas sembuh," pamit Meechella begitu sopan. Meechella tersenyum ke arah Nisa, kini dia berjalan memasuki lift. Di sisi lain, pintu lift di sampingnya terbuka. Damian keluar dari lift dengan raut wajah khawatir ketika ibunya meminta dia datang ke rumah sakit menemani ibunya untuk periksa. "Mommy," panggil Damian menghampiri Nisa Nisa menunjuk ke arah lift yang sebentar lagi akan tertutup. Tubuh Damian terasa lemas, matanya menangkap sosok yang telah dua tahun ini dia nantikan. Wanita itu menunduk seperti mengecek gaun yang dia pakai. "Meechella!" Damian berlari untuk mencegah pintu lift agar tidak tertutup. Namun takdir tidak berpihak kepadanya. Pintu itu telah tertutup sempurna ketika tangannya hendak menyentuh tombol open. Damian memencet dua lift lainnya, berharap lift lainnya segera terbuka dan bisa mengantarnya turun bertemu dengan Meechella. "Lewat tangga, Damian!" teriak Nisa seakan menyadarkan putranya. Damian dengan sigap berlari menuruni tangga dari lantai sembilan hingga ke lantai satu. Berharap dia bisa bertemu dengan wanita pujaannya. "Anda melihat wanita yang baru saja keluar dari lift? Tiga wanita satu pria?" tanya Damian gugup. Security itu mengangguk. "Tamu dari Corlyn Company? Baru saja pergi naik mobil." Damian meremas tangannya, dia memukul tembok di sebelahnya dengan perasaan kesal, kecewa dan marah. Damian berjalan dengan lemas menuju ruangan dokter dimana ibunya berobat. Sebenarnya tidak ada masalah serius, ini hanya pengecekan rutin setiap tiga bulan sekali untuk memastikan tubuh ibunya sehat-sehat saja. Nisa yang baru saja keluar dari ruangan dokter ikut duduk disamping putranya. "Kamu tidak menemukannya?" tanya Nisa meskipun dia tahu jelas jawaban dari pertanyaannya sendiri. Nisa menyentuh kepala Damian, mengelusnya dengan lembut penuh kasih sayang. "Mommy yakin, kalian pasti akan di pertemukan di waktu dan keadaan yang tepat," ucap Nisa menghibur perasaan putranya. Damian mengangguk, dia merasa lebih baik jika sang ibu yang memberinya pencerahan. "Bagaimana kesehatan Mommy?" "Alhamdulillah, semua masih sehat. Suster sedang menyiapkan vitamin, faktor usia kali ya Dam, hehehe," kekeh Nisa tidak ingin putranya merasa khawatir. "Mommy dan Daddy harus menjaga kesehatan. Jangan sampai lupa cek kesehatan. Kalau perlu kita pakai jasa dokter pribadi untuk keluarga saja." "Iya-iya Kolonel, siap laksanakan," goda Nisa membuat Damian tertawa. * "Nona, Nona Meechella mengenal lelaki tadi?" tanya Raphael, pegawai asal China yang bekerja di hotel. Meechella mengalihkan pandangannya yang sedari tadi mengecek pesan-pesan yang masuk di ponselnya. "Siapa yang kamu maksud?" tanya Meechella balik, tidak mengerti arti pertanyaan Raphael. "Tadi ada lelaki, dia menatap Nona Meechella dengan pandangan ... entahlah! Dia bahkan hampir menerobos masuk ke dalam lift, untung saja pintu segera menutup," jelasnya. Meechella menghendikkan bahunya. "Aku tidak tahu," jawab Meechella acuh. "Ah aku pernah melihatnya di berita beberapa hari yang lalu," ucap Intana tiba-tiba. "Siapa dia? Penjahat?" tanya Naomi penasaran. "Bukan, mana ada muka bak artis Korean gitu jadi penjahat. Bukannya dia yang baru dilantik itu ya? Anggota TNI yang baru pulang dari bertugas," jelas Intana. "Daebakkkk, apa Nona Meechella mengenalnya?" tanya Naomi penasaran. "Ish cukup ya, aku tidak mengenal dan tidak mengerti siapa yang kalian bicarakan," jawab Meechella menghentikan pembicaraan dari ketiga pegawainya. Ketiganya hanya diam, mereka tidak berani membantah ucapan atasan apalagi Meechella adalah keturunan dari perusahaan yang memperkerjakan mereka. Meechella menatap keluar jendela mobil. Menyuguhkan pemandangan kemacetan khas ibu kota. Suara klakson motor dan mobil bagaikan alunan lagu bagi siapapun yang mendengarnya. Meechella tidak suka keramaian. Dia ingin jauhhhh dari keramaian, jauhh sekali. Dia ingin hidup di mana hanya ada ketenangan, suara kicauan burung alam, suara deburan ombak, dan juga suara hembusan angin. Tapi siapa yang bisa hidup senikmat itu? Ingin rasanya, Meechella menemukan pasangan yang benar-benar bisa melengkapi dirinya. Melihat dia bukan dari marga dan keluarganya. Meechella ingin ada seseorang yang menyentuh hatinya kembali, seseorang yang bisa membuat jantungnya berdebar sangat hebatnya bahkan hanya saat mata mereka bertemu. Meechella merasa dia tidak mampu berpaling dari kenangan singkatnya namun mematikan hati. Damian Delrico, lelaki satu-satunya yang pernah membuat Meechella merasakan semua itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN