13. Meechella Aku Merindukanmu

1624 Kata
WARNING !!! Pasal 72 ayat {1} Undang-Undang Hak Cipta: Plagiarisme : penjara paling singkat SATU BULAN dan atau denda SATU JUTA RUPIAH, atau paling lama TUJUH TAHUN dan atau LIMA MILIAR RUPIAH !! - Riuh antusias dari puluhan pegawai dari Corlyn Suite, karena malam ini sang Wakil Direktur mereka akan mengadakan makan malam di restaurant ternama yang berada di Jakarta, sekaligus memberikan para pegawai hiburan yang jarang sekali mereka dapatkan, hanya bonus tambahan di akhir bulan dan hari-hari tertentu. Dan malam ini merupakan kali pertama mereka mengadakan makan malam bersama apalagi dengan hadirnya Wakil Direktur dari perusahaan induk 'Corlyn Company'. Selama satu minggu ini bekerja di bawah pengawasan Meechella, mereka lebih giat dan lebih semangat lagi bekerja. Karena kehadiran Meechella di tengah-tengah mereka menjadi stamina sendiri. Meechella tak segan-segan membela para pegawainya yang terlibat masalah dengan tamu dari Corlyn Suite. Namun Meechella juga tak segan-segan dengan keputusannya ketika pegawainya membuat kesalahan fatal. "Berani-beraninya kamu mengusir aku dari sini, aku bahkan tahu siapa pemilik dari hotel ini!" teriak wanita yang umurnya dipastikan berada di akhir tiga puluh tahunan. Meechella menaikkan alisnya, menatap dengan lekat wanita yang kini berani berteriak di depannya. Memangnya seberapa dekat wanita itu dengan pemilik hotel yang tak lain adalah keluarganya sendiri. Sangat tidak mungkin keluarga Corlyn mau berinteraksi dengan wanita semacam itu. "Anda hanya mengaku-ngaku saja, mana mungkin keluarga Corlyn mengenal wanita bar-bar tidak punya sopan santun seperti Anda!" seloroh Meechella membuat beberapa pegawai hotelnya menahan tawa, takjub atas ucapan dari Meechella. Wanita itu melangkah ke arah Meechella, namun para penjaga hotel dengan sigap memegangi wanita itu. "Lepaskan aku, kalian belum tahu siapa diriku!" teriak wanita itu tanpa malu dikerubungi banyak orang, bahkan banyak dari tamu hotel lainnya merekam kejadian itu. Meechella memberi tanda kepada Naomi. Naomi yang mengerti isyarat dari pimpinannya langsung menunjukkan profil data dari wanita pembuat ulah yang merusak suasana tenang hotel mereka. Meechella menunjukkan senyum sinisnya, lalu dia melangkah mendekati wanita yang menyombongkan identitasnya meskipun wanita itu sudah jelas-jelas bersalah karena menampar pegawainya yang salah membawakan menu sarapannya dengan tamu di sebelah kamarnya. "Ah, rupanya Anda istri dari pengusaha karet yang tidak mampu membayar upah para pegawainya selama lima bulan ini?" tanya Meechella dengan nada tenang khas dirinya. Like father like daughter. Tatapan mata Meechella menusuk lawan bicaranya. Wanita itu tercengang, dia menatap penasaran Meechella yang kini berdiri dengan menyilangkan tangannya di depan d**a. Menelisik siapa wanita muda yang tahu rahasia perusahaannya yang sebentar lagi akan dilelang. Dan hanya beberapa orang yang tahu tentang itu. "Raphael, pastikan barang-barangnya tidak ada yang tertinggal. Antarkan dia dengan hormat agar mulutnya yang berbisa itu tidak menyebarkan isu buruk tentang hotel kita," perintah Meechella diangguki Raphael. Meechella berjalan meninggalkan kerumunan itu di ikuti Naomi yang beberapa hari ini telah ditunjuk menjadi asisten pribadinya selama dia bertugas di sana. Naomi tersenyum bangga, pimpinannya yang satu ini tidak banyak bicara namun sangat tegas. Dia masih muda, cantik, berkelas, sekaligus punya jiwa pemimpin yang kuat. Siapapun yang nanti akan mendapatkan atasannya akan sangat-sangat beruntung. "Naomi jangan lupa boking restaurant untuk malam ini," ucap Meechella mengingatkan tugas Naomi. "Sudah beres Nona," jawabnya. Meechella mengangguk, dia berbalik menatap Naomi. "Wajahmu sangat pucat hari ini, kamu boleh beristirahat sekarang," ucap Meechella. "Tapi Anda masih ada satu pertemuan lagi." Naomi merasa tidak enak terhadap Meechella. "Aku bisa menanganinya, kamu beristirahatlah," ucap Meechella dengan senyum simpulnya. Naomi mengangguk. "Saya pasti akan datang malam ini." "Tentu saja kau harus datang," jawab Meechella ramah. Naomi berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Beberapa dari pegawai hotel memiliki kamar pribadi khusus pegawai. Biasanya kamar pegawai berisi dua sampai tiga orang, tergantung jabatan mereka di sana. Meechella menghampiri penjaga hotel, meminta mereka menyiapkan mobil untuknya. "Saya ada pertemuan penting, sampaikan ke yang lainnya untuk datang tepat waktu karena saya sangat benci orang yang telat," perintah Meechella. "Siap Nona Cantik," jawab security pada Meechella. " Nona, Anda akan menyetir sendiri?" tanya security hotel penasaran. "Saya ingin menyetir sendiri, tidak masalah," jawab Meechella sebelum dia memasuki mobil dan melaju meninggalkan hotel. ❣️❣️❣️❣️ Pertemuan Meechella dengan salah satu klien berjalan dengan lancar. Mereka sempat makan siang bersama dan juga mengobrol ringan tentang kehidupan pribadi. "Kalau anak saya seumuran Anda, sudah saya jodohkan kalian," kekeh klien dari Australia dengan bahasa inggris latinnya. Pujian seperti itu bukanlah kali pertama bagi Meechella. Setiap kali bertemu dengan kliennya maupun rekan bisnis keluarganya, mereka selalu membahas hal yang sama. Menyayangkan wanita secantik itu dan sangat berbakat masih sendiri di umurnya sekarang. "Saya kurang beruntung untuk menjadi menantu Anda, Sir," kekeh Meechella menanggapi candaan dari kliennya. "Papamu lelaki yang baik, semoga kamu mendapatkan lelaki sepertinya juga," ucapnya sirat akan doa. Amin. Meechella mengamini setiap doa baik yang tertuju kepada dirinya. Lelaki baik seperti daddynya? Untuk membuka diri dengan lelaki selain kisah lalunya saja sangat sulit bagi Meechella. "Terimakasih atas doanya," jawab Meechella tersenyum. Mereka berjabat tangan, Meechella mengantarkan kliennya sampai ke mobil. Meechella sendiri bahkan tidak tanggung-tanggung membukakan pintu penumpang untuk kliennya. Totalitas dalam bekerja, itulah prinsip keberhasilan Meechella. "Hati-hati di jalan, Sir." Meechella membungkuk hormat, dia melambaikan tangannya ketika mobil yang membawa kliennya itu telah melaju. Ketika Meechella hendak membuka mobilnya, seseorang memegang tangannya. Meechella menoleh. "Zafran? Salma?" Meechella membelalakkan matanya, tidak menyangka melihat mereka ada di sana. "Chel ini elo?" pekik Salma ketika mengetahui teman sebangkunya sewaktu SMA dulu kini berada di depan matanya. Padahal Salma baru saja ingin mengirimkan undangan ke hotel di mana Meechella berada. Beruntunglah mereka bertemu di sana. Salma memeluk Meechella dengan erat. "Kita udah lama banget nggak ketemu!" keluh Salma saking antusiasnya. "Iya, kenaikan kelas kamu pindah ke Malang," jawab Meechella tidak kalah antusiasnya. "Kamu di Jakarta, berarti kamu bisa hadir di pertunangan kita dong Chel?" Meechella mengangguk. "Aaaa sumpahh aku nggak nyangka kamu nyempetin waktu buat acara kita," teriak Salma dengan senangnya. Zafran mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam restaurant, karena tidak lucu jika mereka mengobrol di parkiran mobil. "Kok kalian bisa di Jakarta?" tanya Meechella penasaran. "Aku tugas di sini Chell, kebetulan juga usaha Salma di sini maju pesat." Zafran menjawab. "Oh gitu, nggak kepikiran banget kalian bisa balikan," ucap Meechella mendapat jitakan dari Salma. "Terus Chell, kamu ke sini khusus buat acara kita atau?" Kalimat Salma menggantung. "Ngecek usaha keluarga di sini, maklum lah bokap nyokap udah males pergi keluar kota," jawab Meechella. Segala urusan bisnis ke luar kota sudah Nayna limpahkan pada Meechella. Salma mendengkus. "Udah ketebak, UUB," seloroh Salma. "UUB?" tanya Meechella bingung. Kalau UUD jelas Meechella tahu, Undang-Undang Dasar tahun 1945. Tapi ini UUB, jelas saja sangat asing di telinganya. "Ujung-ujungnya bisnis," jawab Salma membuat mereka bertiga tertawa. Ponsel Zafran berdering, tertera nama 'Bosque' di sana. "Aku angkat telepon sebentar," pamit Zafran. Pandangan Meechella dan Salma mengikuti kemana Zafran pergi. "Zafran sekarang udah jadi seorang letnan. Alhamdulillah banget," ucap Salma bahagia. "Letnan?" tanya Meechella tersedak minumannya. Kilasan balik tentang beberapa tahun yang lalu kembali muncul di ingatan Meechella. Tentang bagaimana seorang perwira angkatan darat menyelamatkan nyawanya dari anggota mafia. Tentang seorang perwira yang hadir hanya beberapa hari namun membekas bertahun-tahun dalam ingatan Meechella. Dia Kapten Damian Delrico, yang mungkin telah naik pangkat karena keberhasilannya. "Kapten?" panggil Zafran ketika wajah kolonelnya seperti menampakkan keterkejutan. "Arahkan ponselmu ke arah jam dua belas!" ucap Damian membuat Zafran bingung. "Arahkan saja!" teriak Damian frustasi mau tak mau membuat Zafran mengikuti kemauan dari Kolonelnya. Zafran mengarahkan kameranya ke arah jam dua belas seperti perintah Damian. Namun betapa bingungnya Zafran ketika kamera itu menunjukkan dua wanita yang sangat dikenalnya. Siapa yang menarik perhatian Damian? Meechella ataukah Salmanya? "Kau, kau di mana sekarang?" tanya Damian di sana. "Di restauran Jepang, kenapa Kapt?"  "Wanita itu, apa dia Meechella?" tanya Damian nampak gusar. Zafran menyipitkan matanya, dari mana Damian mengenal teman sekolahnya? "Jawab aku! Iya atau tidak!" teriak Damian tidak sabar. "Dia benar Meechella, teman sekolah kami SMA dulu," jawab Zafran sontak membuat Damian menghembuskan napas lega. Akhirnya, ada titik terang tentang keberadaan Meechella. "Mintakan aku nomor ponselnya!" "Kamu gila? Mana berani aku, di sana ada Salma dia bisa salah paham," pekik Zafran. "Bilang saja seniormu yang minta nomornya, soal Salma aku akan menjelaskannya." Karena menurut Damian, percuma jika dia menemui Meechella sekarang juga. Kemungkinan besar Meechella sudah meninggalkan restaurant. "Oke, aku akan mintakan nomor ponselnya. Lalu ada masalah apa kamu menelponku?" "Sudahlah aku lupa mau bicara soal apa, yang jelas tugasmu jangan sampai gagal. Nomor ponsel Meechella dan tanyakan di mana dia tinggal. Aku tunggu sekarang juga!" "Oh s**t!" umpat Zafran ketika Damian memberinya tugas yang tidak masuk akal dan memutuskan panggilannya secara sepihak. Zafran menoleh ke belakang menatap Meechella, mata dari kolonelnya ternyata sangat jeli. Dia tidak bisa melihat barang mewah terlewatkan begitu saja. Zafran kembali ke meja mereka, Salma menatap Zafran seakan ingin tau apa yang mereka bicarakan. "Em Meechella kamu di Jakarta tinggal di mana?" tanya Zafran basa-basi. "Aku berada di Corlyn Suite, kalian bisa datang kapan saja untuk bermalam di sana. Aku akan mengaturnya untuk kalian," jawab Meechella menggoda. "Honey, kamu sudah punya nomor ponsel Meechella?" tanya Zafran. "Kita saling kabar lewat DM sih, untung kamu ingatkan. Oh ya Chell, berapa nomor ponselmu?" Meechella menyebutkan nomor ponselnya, dan kesempatan itu digunakan Zafran untuk diam-diam mengirimkan voice note suara Meechella kepada Damian. . "Saya ingin bertemu Meechella!" ucap Damian ketika dia sudah sampai di depan gerbang Corlyn Suite. Security itu menahan Damian. "Nona Wakil Direktur tidak ada di tempat Tuan, ada acara makan malam bersama dengan para pegawai hotel," ucap penjaga menjelaskan. Damian mengeluarkan ponselnya, menekan tombol panggilan di kontak Meechella. "Hallo?" "Meechella, aku merindukanmu!" teriak Damian tanpa basa-basi. "Kamu apa? Maaf di sini bising sekali. Bisa tinggalkan pesan saja, makasih." Di sana, Meechella mati-matian menahan gejolak dalam tubuhnya. Jantungnya berdetak tidak karuan, satu kalimat itu mampu membuat Meechella menahan napasnya untuk beberapa saat. Benarkah itu dia?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN