14. Damian Dalam Aksinya

1564 Kata
Brak! Damian menendang gerbang dari Corlyn Suite. Membuat seluruh penjaga hotel terpaksa menyeret Damian untuk menjauh dari gerbang. Mereka memaksa Damian pergi dari sana sebelum pihak hotel melaporkan Damian atas tindakan tidak menyenangkan dan juga perusakan. Damian berteriak, dia memanggil nama Meechella berkali-kali. "Tuan, kami mohon dengan hormat Anda pergi dari sini. Nona wakil direktur tidak ada di sini," jelas salah satu pengawal itu. "Hubungi Meechella dari telepon hotel, aku benar-benar ingin menemuinya. Berapapun, aku akan membayar kebaikan kalian untuk itu!" ucap Damian pasrah, otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Yang ada di pikirannya hanya bagaimana cara bertemu dengan wanita yang telah lama ini dia rindukan. Dia ingin meminta maaf, setidaknya dia ingin memastikan bahwa Meechella telah memaafkannya. "Tuan, kami tidak bisa melanggar kode etik profesi kami demi uang. Silahkan Anda meninggalkan hotel sebelum kami mengusir Anda," jawab security hotel kepada Damian. Gaji yang pimpinannya berikan sudah lebih dari cukup. Perlakuan mereka yang sangat baik terhadap bawahan membuat siapapun akan betah bekerja di bawah Corlyn Company. Rasanya sangat tidak sopan jika mereka melanggar kode etik hanya untuk sebuah tip dari tamu yang datang ke sana. Tamu? Entahlah, lelaki di depan mereka begitu aneh dan mencurigakan. Huhhh, Damian kembali menghembuskan napasnya frustasi. Dia berjalan menuju mobil, mengambil sesuatu untuk Meechella. "Berikan ini untuknya," ucap Damian akhirnya. Dia meninggalkan boneka, buket bunga dan juga satu crown berlian yang dari dulu ingin sekali Damian berikan Meechella. Meskipun tidak mampu bertemu langsung dengan Meechella, tapi dia masih bisa memberikan hadiah untuk Meechella. Damian meninggalkan Corlyn Suite dengan perasaan kecewa. Seharusnya dia tahu, tidak akan mudah untuk bertemu Meechella setelah apa yang dia lakukan terhadap wanita itu. Dengan pekerjaan dan juga tanggung jawab atas jabatannya, Damian melukai wanita yang selama ini dia cintai. Namun inilah yang harus Damian hadapi. Apapun hasilnya, dia akan tetap memperjuangkan wanita itu. Karena Damian yakin, wanita itu masih sendiri dan tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Mereka pasti akan bertemu lagi. Mobil Damian dan mobil yang ditumpangi Meechella berpapasan. Meechella melihat dari kaca mobilnya, lelaki itu benar-benar Damian. Astaga, bagaimana jika nanti mereka bertemu apa yang akan Meechella ucapkan. 'Aku membencimu?' ataukah 'Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi?' Tidak, itu pernyataan menyakitkan karena dua tahun tidak bertemu itu sudah sangat menyakitkan. 'Aku merindukanmu?' Tidak, bagaimana mungkin Meechella mengucapkan hal itu? Jika lelaki yang ingin sekali dia temui adalah lelaki yang telah mematahkan hatinya untuk pertama kali. Haruskan Meechella menanyakan kabar? Apakah dia baik-baik saja setelah melukai perasaan seorang wanita? Ya dia harus mengucapkan itu. Ck, jahat sekali pemikiran wanita yang tengah sakit hati. Para penjaga hotel menunduk hormat dan membukakan pintu gerbang untuk Meechella. Raphael melajukan mobil itu hingga loby hotel. Penjaga disana membantu Meechella untuk turun dari mobil. "Siapa tadi yang ingin menemuiku?" tanya Meechella memastikan penglihatannya tidak salah. "Seseorang yang ingin menemui Anda, dia menitipkan ini untuk Nona." Meechella menerima titipan Damian. Ada senyuman kecil muncul di bibirnya, itu boneka yang tidak bisa Damian dapatkan ketika mereka di timezone. "Sepertinya dia mengenal Anda, saya mendapat kabar dia hampir merusak gerbang kita. Bahkan seluruh penjaga di sini tidak mempu melakukan itu," ucap Raphael Meechella tersenyum. "Tentu saja dia bisa Raphael, dia kapten pasukan khusus tentara internasional," jawab Meechella membuat semua orang disana yang mendengarnya menganga karena takjub. "Untung saja kami tidak terlibat perkelahian, bisa-bisa kami semua masuk UGD," kekeh penjaga hotel. Meechella mendongak ke atas, melihat bintang-bintang disana yang terlihat sangat terang. Mereka seakan ikut tersenyum bersama dengan hati Meechella yang tengah berbunga untuk malam ini. "Damian, kamu selalu sukses meluruhkan pertahananku," gumam Meechella sambil menatap boneka line yang kini berada di pelukannya. . Raphael menggaruk kepalanya, tiba-tiba saja mobil yang akan mengantarkan Meechella ke acara pertunangan Salma dan Kapten Zafran mogok. Padahal setiap bulannya ada montir yang datang ke hotel mengecek kondisi mobil-mobil hotel. Raphael menelpon montir langganan hotel mereka. Menyuruh mereka segera datang sebelum Meechella mengetahuinya dan akan melayangkan pemutusan kontrak kerjasama dengan bengkel tersebut karena dianggap tidak becus melakukan pekerjaannya. "Apa sudah tidak ada mobil lagi?" tanya Raphael pada penjaga di sana. "Semua mobil hotel digunakan pengunjung, Pak. Lagipula hanya mobil ini yang biasa digunakan VIP ketika menginap di sini." Raphael berdecak kesal, kenapa mobil ini bermasalah di waktu yang tidak tepat. "Mobilnya kenapa?" tanya Meechella.  Mereka terdiam, saling pandang satu sama lain. Tidak tau harus menjawab apa. "Em ... Nona, ini-" "Sudahlah, aku sedang tidak ingin marah malam ini. Ini malam yang baik untuk sahabatku, aku tidak akan merusak moodku," ucap Meechella memotong perkataan Raphael. "Pesankan aku mobil online," lanjut Meechella. Kini dia memakai gaun tanpa lengan berwarna putih kesukaannya. Rambutnya dia biarkan terurai, menambah kesan elegan khas dirinya. Raphael menemani Meechella untuk menunggu pesanan mobil onlinenya. Mobil fortuner mewah berhenti tepat dihadapan mereka. Raphael memandang bingung dan juga heran, benarkah mobil semewah ini digunakan untuk ojek online? Ah mungkin saja si pemilik mobil mencari tambahan pendapatan untuk membayar cicilan mobil. "Aku pergi dulu, jangan lupa kabari jika ada hal penting yang mendesak," ucap Meechella. Raphael mengangguk, dia membukakan pintu mobil untuk Meechella. Mobil itu segera melaju meninggalkan hotel. Meechella memandang keluar jendela. Sedangkan si sopir diam-diam mencuri pandang ke arah Meechella. "Tuan Raphael?" Hampir saja Raphael masuk, namun suara itu membuatnya menoleh ke belakang. "Mobil online, Tuan." Mata Raphael terbelalak, jika ini mobil yang dia pesan. Lalu tadi mobil yang membawa Meechella siapa? Apakah dia penculik? "Alihkan pandanganmu dariku pak, atau saya melaporkan Anda ke perusahaan ojek online," tegur Meechella ketika menangkap sopir yang tengah mengambil orderannya diam-diam memperhatikan dirinya. Meechella memandang sinis seseorang yang wajahnya tertutupi kacamata bulat dan juga topi hingga menutupi sebagian wajahnya. Meechella mencium aroma parfum yang sama dengan milik Damian. Namun pikiran itu segera dia tangkis, mungkin kejadian kemarin membuat alam bawah sadarnya sedikit terganggu hingga membayangkan jika Damian ada di sana bersamanya. Mobil itu sampai di titik lokasi pertunangan Salma dan Letnan Zafran. Meechella keluar dari mobil, "Non tunai ya Pak, terimakasih banyak," ucap Meechella sebelum dia masuk ke dalam gedung acara. Damian melepaskan topi dan kacamatanya, dia tersenyum geli mengingat Meechella merasa risih ketika dia mencuri pandang kearahnya. Lelaki itu turun dari mobil dan mengikuti Meechella secara diam-diam. Damian bisa melihat Meechella menyapa tamu lainnya yang dia kenali. Meechella memilih duduk sendirian dan mengeluarkan ponselnya, seakan mengabari seseorang. Tak lama kemudian, ada wanita yang menghampiri Meechella dan mengajaknya masuk. Damian berjalan di belakang mereka. "Dia penggemarmu?" tanya wanita itu, "Siapa Debora?" tanya Meechella balik merasa bingung. "Lelaki yang mengantarmu ke mari, dia tadi mengikutimu," jawab Debora. "Kamu salah lihat, aku tadi pakai mobil online," jawab Meechella. Debora mengangguk, mungkin saja dia memang salah lihat. Mana mungkin sopir mobil online bisa masuk ke dalam acara yang harus menunjukkan undangan sebelum mereka masuk.  Mereka berdoa berfoto, mengabadikan moment pertemuan teman sekolah yang sudah lama sekali tidak berjumpa. "Bagaimana saudaramu Ello?" tanya Debora penasaran. "Dia lagi sibuk dengan perusahaan Carollino," jawab Meechella tersenyum. "Kamu harus cari suami Chell, aku akan mengenalkanmu dengan teman-temanku." 'Beraninya kamu mengenalkan wanitaku dengan lelaki lain, dasar nenek sihir,' umpat Damian ketika mendengar ucapan Debora. "Aku sibuk Deb, tidak berpikir ke arah sana." Meechella menatap Debora penuh penyesalan. "Makanya, kamu harus cari suami. Biar dia yang ngurus perusahaan keluargamu. Kamu terlihat buruk sekali, lihat saja bintik hitam di bawah matamu." 'Ah sialan nenek sihir ini, bisa-bisanya dia mengatakan hal buruk seperti itu. Meechellanya yang tercantik malam ini!' pekik Damian dalam hati. "Chel, Deb, kok kalian di sini? Acara mau mulai." Salma, si empunya acara menghampiri mereka. Mengajak mereka semua segera masuk ke pusat acara.  "Kapten di sini?" Letnan Zafran tercengang melihat atasannya datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Damian langsung menutup mulut Zafran. "Jangan keras-keras bodoh!" "Kamu bersembunyi? Dari siapa? Kamu menguntit ya?" tanya Zafran Damian menunjuk Meechella lewat matanya.  "Jaga bicaramu, aku ini atasanmu," tegur Damian, lalu melanjutkan ucapannya, "Dia tercantik malam ini," ucap Damian takjub. Zafran menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan jalan pemikiran kolonelnya. Dia seperti penguntit, cara anak SMA mengikuti pujaan hatinya. "Kapten." Zafran mengikuti Damian yang berjalan menuju Meechella dengan tergesa-gesa. "Hei Bung, dia kekasihku!" ucap Damian menarik kasar lelaki yang duduk di samping Meechella Damian melihat lelaki itu mencolek Meechella, merayu wanitanya hingga Meechella merasa tidak nyaman duduk di sana. Meechella membulatkan matanya, melihat siapa yang kini ada didepan matanya. "Da-damian?" lirih Meechella, tenggorokannya tercekat hingga suara yang keluar dari mulutnya terdengar seperti bisikan. Damian menarik Meechella mendekat kearahnya, membawa wanita itu ke pelukannya. Sontak itu membuat seluruh tamu undangan memandang mereka dengan takjub dan histeris. "Maafkan aku baru bisa menemui sekarang," lirih Damian memeluk erat Meechella, mencium puncak kepala wanita itu. Menghirup aroma menenangkan yang selama ini membuatnya gelisah setiap detiknya. Para wanita di sana berteriak histeris dengan keberanian Damian memeluk Meechella didepan umum. Damian memang lelaki yang romantis dan juga hangat. "Ish, mereka merebut title kita menjadi pasangan teromantis malam ini," cibir Salma kepada Zafran. Zafran menarik pinggang Salma. "Ini pertemuan kekasih, acara kita menjadi moment bersejarah juga untuk romansa cinta pasangan lain," ucap Zafran tersenyum melihat Damian dan Meechella. Ternyata wanita yang membuat kolonelnya mabuk kepayang adalah Meechella. Seandainya dia tahu sejak lama. Mungkin dia bisa membantu mereka untuk bertemu lebih awal. Hingga mereka tidak tersiksa atas rindu yang berkepanjangan. Zafran sering mendengar, bahwa kaptennya itu pernah berkencan dengan seorang wanita ketika bertugas di Iraq. Tapi Zafran tidak mengetahui, tentang siapa, dan bagaimana rupa wanita yang mampu membuat dunia Kapten Damian Delrico luluh-lantah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN