Hari ini akhirnya tiba. Malam ini keluarga Galuhpati akan datang. Walau tidak semuanya, antusiasme di rumah terasa seperti menyambut rombongan besar. Sejak pagi, dapur tak pernah benar-benar sepi. Ibunya bergerak dari satu panci ke panci lain, menakar rasa dengan ingatan, menolak bantuan dengan senyum yang tegas. Katanya, masakan harus keluar dari tangannya sendiri, aroma dan rasanya harus sama seperti yang ia kenal, seperti yang ingin ia bagikan. Marsha memperhatikan dari ambang pintu, menghela napas pelan, lalu memilih mundur. Ada kebahagiaan yang tidak perlu disentuh agar tetap utuh. Ia membiarkan ibunya menyalurkan kegembiraan itu dengan caranya sendiri. “Kemana, Sha?” Tanya sang Papa yang baru saja kembali dari kebun belakang membawa cabe hijau. “Gak mau bantuin Mama?” “Mama bilang

