Jampi-jampi

2164 Kata

Siapa sangka, setelah kondangan sore itu, Marsha justru diajak ke rumah keluarga besar Galuhpati. Alasannya sederhana, karena adik Ayah Bimo dari Bandung sedang berkunjung, dan Ibu Rindiani, tentu saja, tidak mau melewatkan momen “keluarga lengkap”. Awalnya Kalandra menolak dengan nada datar, alasan klasik tentang waktu dan lelah. Tapi Marsha, yang masih memegang clutch kecil di pangkuannya, menoleh ragu dan berkata pelan bahwa ia tidak enak hati jika langsung pulang. Lagipula, mereka sudah sejauh ini memainkan peran. Satu kunjungan lagi tidak akan membunuhnya. Kalandra menatapnya sekilas, lama, sebelum akhirnya menghela napas pendek dan mengangguk. Mobil pun berbelok ke arah kawasan Menteng Lama, wilayah yang seolah tidak ikut menua bersama Jakarta. Pohon-pohon besar berjejer rapi, kano

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN