Marsha berganti pakaian di kamar mandi kolam renang dengan gerakan cepat tapi hati-hati. Pintu dikunci. Dia menempelkan dahi ke cermin, menghela napas panjang, berharap ketika keluar nanti dunia sudah kembali normal, tanpa batalyon, tanpa peluit, tanpa sepasang mata yang menilai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Air dari wastafel mengalir, dingin, membantu menenangkan pipinya yang masih panas oleh malu. Dia membuka pintu perlahan. Dan tangannya langsung ditarik dari belakang. “Eeh—!” Marsha tersentak, hampir memukul refleks, tapi bau maskulin dan suara yang sangat dikenalnya membuat gerakan itu terhenti di udara. “Ih, Bapak kok masih di sini sih?” protes Marsha, jantungnya masih berdegup kencang. Kalandra berdiri terlalu dekat, bahu lebar menutup sebagian lorong. Dia mendengus pela

