Kalandra berdiri tegak di sisi buritan yacht, satu tangan bertumpu pada pagar baja yang dingin, matanya mengamati satu sosok yang tak pernah benar-benar bisa ia abaikan. Marsha. Perempuan itu berpindah dari satu sisi ke sisi lain dek, kameranya menggantung di leher, jemarinya cekatan mengatur fokus, lensa, sudut. Rambutnya tergerai diterpa angin laut, sesekali menampar pipinya sendiri tanpa ia pedulikan. Ia jongkok, berdiri, melangkah cepat, bahkan hampir memanjat kursi kecil demi mendapatkan sudut terbaik. “Pelan,” gumam Kalandra, yang mungkin tidak terdengar oleh Marsha. Yacht bergerak halus, tapi ombak kecil tetap membuat dek bergoyang samar. Marsha nyaris kehilangan keseimbangan saat berdiri di ujung sisi kanan, tubuhnya condong terlalu jauh ke luar. Kalandra menghela napas panjan

