Marsha hanya bisa pasrah tatkala Kalandra mengangkat salah satu kakinya. Ombak disekitarnya mungkin kuat, Marsha tidak akan bisa menahannya sendirian jika saja Kalandra tidak mendekap pinggangnya. Pria itu berdiri dengan kokoh seolah pasak yang tertancap pada pasir. Layaknya jangkar, pria itu bahkan dengan santai terus mengecap rasa dari bibir istrinya. Tangan Marsha gementar tatkala merasakan gesekan dibawah sana, pakaian dalamnya entah kemana, bahkan sudah tidak bisa berfikir lagi bagaimana nanti keluar dari lautan ini. “Ahhh… Bapak… pelan….” “Kalau pelan, nanti kamu merasakan perih,” bisik Kalandra dengan lidah yang nakal menjilat telinga Marsha. “Oh… Ahhhh! Ahhhh!” Tubuh Marsha tersentak tatkala dorongan kuat itu. Otot-otot panggulnya sempat menegang secara refleks, lalu perlahan

