Nafsu yang Mendamba

2702 Kata

Marsha masih berusaha merapikan pikirannya sendiri ketika tubuhnya disentuh berulang kali oleh tangan-tangan profesional di ruang persiapan pengantin, ruang transisi yang tenang setelah janji suci, tempat pengantin berganti busana, meneguk minuman hangat, dan menurunkan denyut jantung sebelum kembali menghadapi dunia. “Ganti baju buat resepsi ya, Non. Sekalian kita ganti gaya rambut. Non juga sambil ngemil aja gapapa, pasti capek abis ketemu banyak tamu,” ucap sang perias. Kain gaun barunya jatuh menyusuri tubuh dengan warna biru laut yang lebih dalam, berkilau lembut seperti permukaan samudra di sore hari. Rambutnya kini diurai, ditata bergelombang ringan, menyentuh punggung dengan kesan basah angin pantai. Di ruangan itu, bukan hanya ada dirinya saja. Kerabat dan juga staff. “Mbak, to

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN