Di Ujung Rindu

1979 Kata
Dering ponsel lamat-lamat memasuki gendang telinganya membuat Sayda merasa di antara sadar dan tidak sadar. Belum berhenti dering ponselnya, suara bel di depan pintu sudah berdentang bertubi-tubi tanda tak sabar orang yang memencetnya. Dibukanya mata namun pandangan dihadapannya seolah berputar dan semua benda seperti akan jatuh menimpanya. Sayda menjerit pelan dan menutup matanya kembali. Suara dering telepon dan bel kamar kemabli menerornya membuat telinganya pengang. Tangannya meraba ke arah nakas dan merampasnya lalu dengan tergesa ditekannya tombol.  " Hallo..." " Selamat siang putri tidur, udah jam berapa nih?" " Dan..Danny...kamu dimana?" " Di depan kamar kamu. Nih ada yang mau ketemu..." " Tante Dida...bukain pintunya. katanya kita mau balapan jetski." Celoteh Titania membuat Sayda membuka mata, sergapan pusing melandanya. Dia mencari remote lalu menekan dua tombol untuk membuka kunci dan pintunya. Kepalanya bagai berdentum, dipegangi kepalanya lalu dibaringkan tubuhnya kembali. "  Udah siang Da. Eh, kamu kenapa?" Sayda masih meringkuk dengan tangan yang memegangi kepalanya. " Kepalaku pusing Dan, rasanya seperti muter kalau buka mata." Sayda menjawab sambil meringis. Dani meraba kening Sayda. " Kamu agak panas Da." " Aku kan belum mandi jadi wajarlah masih panas." " Tante Dida sakit ?" Tanya Titan dengan ekspresi khawatir. Dengan senyum yang dipaksakan Sayda membuka mata dan meskipun pusing menderanya. “ Tante nggak sakit, Cuma sedikit pusing aja sayang.  Titan sementara main dulu sama Om Ramdan dan Mama ya. Tante Dida minta waktu buat istirahat sebentar aja.  Nanti sore deh baru kita main jetski ya. “ “ Iya Tante, Titan sayang sama Tante Dida. “ Gadis kecil itu mencium dan memeluk Sayda. Sayda tertawa pelan. “ Da, ini aku buatkan teh jasmine sama ada biskuit dan roti keju kesukaan kamu. Apa kamu mau aku buatkan s**u coklat atau kepengin apa gitu? Setelah kamu sarapan, kita cari dokter ya.” “ Nggak usah lebay deh Dan. Aku Cuma butuh istirahat aja kok. “ “Tapi badan kamu hangat loh Da.” “ Hangat kan, bukan panas?” “ Iya sih, tapi...” “ Aku baik-baik saja Ramdan, kalau sekarang kepalaku sakit itu karena kurang tidur. Please deh tinggalin aku istirahat nanti sore aku akan menemani kalian main jetski. Oke?” Potong Sayda. Ramdan melihatnya lama sekali smencoba menimbang perkataan Sayda. “ Jangan kecewakan Titan Dan. Ajak dia main dulu bersamamu.” “ Iya...iya tuan puteri. Beneran nih nggak butuh apa-apa lagi?“ “ Nanti kalau aku butuh, aku telpon kamu kok.” “ Beneran? Janji ya Da.” “ Iya..Iya... Udah sana  pergi.” “ Oke.oke...jangan lupa kunci pintunya ya Da. Kalau ada apa-apa hubungi akau atau bu Florin loh.” Ramdan menggiring Titan keluar. “ Siap kapten.” “ Daag Tante Dida, cepat sembuh ya.” Ucap Titania. “ Daag sayang, selamat bersenang-senang.”    Sayda mengenakan pakaian renang kuning one piece yang dibungkus dengan bathrobe dari bahan satin berwarna senada melangkah santai di pasir pantai. Topi lebar dan kaca mata hitam bertengger di kepala dan wajahnya yang ayu. Dia mendekati kursi pantai dengan payung lebar di atasnya tempat beberapa orang sedang berbaring santai. “ Tante Dida...ayo ke sini.” Teriakan Titan membuatnya menjadi pusat perhatian banyak orang. Sayda membalas lambaian tangannya. Titan dengan tidak sabar lari mendekati dan menarik tangannya. “ Ayo kita naik jetski Te.” Sayda tersenyum pada gadis cilik itu. “ Iya..iya Titan, kita naik jetski.” “ Te tadi aku main sama temen Mama yang baru namanya Tante Pu.” “ Hai Da, aku dengar kamu tadi sakit. Tadinya mau nyamperin buat lihat kondisi kamu, tapi syukurlah kamu udah sehat.” Sayda hanya tersenyum canggung menanggapinya. “ Ehem... aku siapin jetskinya dulu ya.” Ramdan memilih berlalu dari hadapan mereka. “ Kamu beneran sudah baikan Da?” “ Sudah Bu Florin, nggak usah khawatir.” “ Jangan karena nggak enak udah janji sama Titan lho lalu kamu maksakan diri.” “ Nggak kok Bu, saya benar-benar sudah baik kondisinya.” “ Ma, belikan es krim...” sela Titan memotong pembicaraan mereka. “ Sama Tante Dida yuk, kita beli es krim.” “ Eh, nggak usah biar saya saja. Kalian ngobrol dulu aja berdua, saya antarkan Titan beli es krim. Tunggu di sini saja ya,” cegah Florina lalu bangkit dan menggandeng tangan anaknya. Sayda memperhatikan keduanya pergi bergandengan tangan untuk beberapa lama hingga suara Pruistin menyapanya. “ Dida, sepertinya kita perlu bicara berdua deh.” Sayda menoleh pada Pru dan menggangguk tanda menyetujui. Pru menghela nafas panjang. “ Da, selama ini kita dekat dan kamu sudah seperti saudara perempuan yang selalu aku dambakan. Aku cuma ingin kamu tahu kalau aku selalu ada di pihak kamu, walau Barrium itu adalah kakak sepupuku yang aku sayang.” “ Kamu juga tahu kalau aku adalah saksi yang menyaksikan kebrengsekan tingkahnya dengan Ardila. Aku mengutuk kelakuannya Da. Aku mau minta maaf sama kamu walau aku tahu sih itu nggak berarti apa-apa buat kamu. Aku perempuan dan kita punya hati yang sama. Aku marah dengan pengkhianatan kakakku. Kalau kamu memang mau memutuskan hubungan kalian, aku dukung Da. Buat apa dipaksakan nyambung kalau kamu sakit dan tidak nyaman. Hidup cuma sekali dan harus bahagia.” Sayda tersenyum masam. “ Makasih Pru.” “ Aku nggak peduli meskipun harus menentang seluruh keluargaku yang menginginkan kamu tetap di samping Barry.” Sayda menunduk. “ Terserah kamu Pru. Buatku hubunganku dengan Kak Barry sudah berakhir. Aku sudah maafkan dia, meskipun hatiku masih kecewa.” “ Lho, mana Titan?” Tanya Ramdan heran karena yang ngotot minta naik jetski sudah menghilang. “ Tuh, beli es krim sama mamanya.” Pru memberi kode dengan dagunya ke arah ibu dan anak yang berjalan mendekati mereka. “ Titan abisin es krimnya dulu baru kita main jetski. Nanti Titan sama Tante Pru ya, Om Ramdan sama Tante Sayda.” “ Nggak mau Oomm... Titan mau sama Tante Dida aja, “ rengek Titan. “ Eh, Tante Dida masih pusing biar sama Om Ramdan. Nanti kalau jatuh ke laut bagaimana?” Buju k florin kepada putirinya. “ Iya deh.”    Cakrawala mulai menampakkan semburat kuningnya dan dua buah jetski saling berkejaran. Mereka tampak gembira. Mereka tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi kegiatan mereka. " Dan, balik ke darat yuk. Kok aku keringat dingin begini sih. " Teriak Sayda. " Kalau balik rugi dong, aku nyewanya buat dua jam. " " Dan...kok aku agak sesak ya, kepalaku pusing." " Oke...oke... satu kali putaran trus aku antarkan kamu ke darat ya. Pegangan yang kuat Da." Ramdan membuat manuver memutar dengan kecepatan tinggi. " Dan aku nggak kuat lagi..." Pegangan Sayda pada pinggang Ramdan melemah dan terlempar ke udara dan jatuh ke laut. Suara pekikan kaget berkumandang menaytu dengan suara angin dan ombak. Sayda tak sadarkan diri. Ramdan menghentikan laju jetskinya kemudian terjun ke laut menyelamatkan Sayda. Beruntung Sayda menggunakan pelampung, jika tidak maka dia pasti sudah tenggelam. Dengan susah payah tubuh Sayda diangkat ke atas jetski.  Tak lama berselang, sebuah kapal patroli menghampiri mereka dan membantu evakuasi Sayda. Hidung gadis itu mengeluarkan darah membuat Pruistin dan Ramdan khawatir, sementara Titan yang melihat kondisi Dida yang tak sadarkan diri mulai menangisa dan memanggil gadis itu. Begitu kapal patroli menepi, tampak Barry dengan tampang khawatirnya dia menggendong Sayda dan memasukkannya ke dalam mobil dan segera pergi. Florina yang lari menghampiri harus melongo melihat Sayda yang dibawa pergi lalu menatap Rtamdan dan Pruistin. “ Kenapa  Dida? Apa yang terjadi sebenarnya? “ Florina melemparkan pandngan menyelidik pada dua stafnya itu. Sementara Ramdan menatap tajam pada Pruistin. " Jangan bilang kalau kamu bersekongkol dengan Barry ya.” “ Kamu jangan main tuduh gitu Dan. Aku aja nggak tahu kalau ada Barry di sini. Kami pikir dia masih di Liones” "  Sudah...sudah... Ayo kita ke rumah sakit, " Ucap Florina menengahi adu mulut bawahannya itu. " Sekarang aku mengerti kenapa Dida ngotot minta pulang tadi malam. Rupanya tempat ini milik keluarga kamu ya Pru?" Ucap Florina yang membuat Pru gelagapan. ******    Digenggamnya tangan gadis yang masih tak sadarkan diri itu. Ditepuk pipinya perlahan. " Dida...Dida...Dida..." Tak ada tanggapan. Diliriknya monitor, tekanan darahnya drop, detak jantung melemah, namun laju pernafasannya masih normal. Dipandanginya wajah pucat  perempuan pengisi hatinya itu dengan penuh sayang. “ Dida maafkan aku. Sadarlah sayang, kita bisa mulai semuanya dari awal. “ Tak ada reaksi dari gadis itu. Diangkatnya tangan gadis yang dalam genggaman tangannya lalu dikecup punggung tangannya. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Florina, Pruistin dan Ramdan masuk dengan wajah cemas. “ Apa yang terjadi dengannya?” Tanya Florina. “ Apa dia baik-baik saja? Tadi soalnya hidungnya megeluarkan darah.” Tanya Pruistin. “ Dia belum sadar? Ya Tuhan...semalam memang badannya sudah panas.” Tanya Ramdan. “ Aku pikir dia terlalu gila kerja, aku mengajaknya liburan tapi mengapa dia masih gila kerja saja.” Florina berkata pelan. “ Kamu kan atasan Sayda, tahu kalau dia tidak dalam keadaan baik, mengapa kalian ijinkan dia naik jetski dan berenang. Itu bisa fatal akibatnya.” Barrium berkata sinis pada Florina. “ Hei, jangan salahkan orang. Lihat apa yang telah kamu lakukan pada Sayda? Dia seperti ini karena kamu.” “ Aku dijebak Pru, Ardila memasukan obat perangsang ke dalam minumanku saat di bandara. “ “ Tapi kamu juga menikmati kan?” “ Siapa yang bilang aku menikmati? Aku hanya tidak bisa berkutik. Aku di bawah pengaruh obat, Pru.” Pru tertawa sinis. “ Nggak bisa berkutik karena enak kan? Dasar bajingan...” “ Pru jangan bersikap kurang ajar pada kakakmu ya.” Barry sudah berdiri dan menunjuk pada Pruistin. “ Kamu tahu, karena perbuatanmu aku malu jadi adikmu.” Pruistin menantang dengan mata melotot. “ Kamu ini ya...” “ Eh, sudah...sudah...sudah jangan disini kalau mau ribut. Sayda butuh istirahat.” Ramdan menahan tubuh Barry yang akan menyerang Pruistin. Matanya masih nyalang marah. Suara erangan menerpa pendengaran mereka. Segera keduanya menghentikan pertikaian dan mendekati brankar tempat Sayda berbaring. Barry membuka maskernya, suara erangan kesakitan semakin terdengar jelas. “ Sayda...kamu sudah sadar? Bisa buka mata?” Lama diam tak ada reaksi lalu sebuah gerakan pada mata yang tertutup terlihat. Barry masih terlihat memeriksanya beberapa saat. “ Aku pikir sebaiknya kalian pulang saja. Sayda butuh istirahat.” Barrium menatap serius pada Florina, Ramdan dan Pruistin. Ketiganya saling melempar pandang  dan beranjak ke arah pintu, namun Pru tiba-tiba berbalik dan memperhatikan kalau kakak sepupunya itu telah menempati tempat duduk di samping brankar Sayda dan menggenggam tangan gadis itu. “ Kamu mengusir kami sementara kenapa kamu juga masih di sini?” Pru mulai melancarkan cibiran. “ Aku dokter Pru, kalau kamu lupa. Dida pasienku, dan aku berhak di sini mengawasi pasienku.” “ Kalau begitu, aku juga mau di sini karena aku adalah sahabatnya.” Ucapku menantang. Sejenak keduanya saling melemparkan tatapan tajam. “ Terserah, “ ucap Barry keras dan mengalihkan tatapannya dari Pru. Florina dan Ramdan saling menatap dan mengangkat bahu lalu keluar dan menutup pintu.   ****** Seorang wanita cantik terpaku menatap jendela kamar rawat inap VVIP yang terbuka.  Tampak Barrium tengah menatap wanita yang tengah tertidur dengan penuh cinta dan kerinduan. Barry membelai kepala perempuan itu dengan mesra dan mengecup kepalanya dengan sayang.  Lelaki itu tidak beranjak pergi, melainkan tetap menemani di dalam kamar. Dia berjalan ke sofa dan mulai membuka laptop. Sesekali diliriknya brankar tempat gadis itu terbaring dan tersenyum melihatnya. Sungguh dia cemburu. " Sedang apa kamu di sini?" Suara wanita yang membuatnya terkejut dan reflek membalikkan badan. Dua wanita paruh baya yang masih cantik walau usianya telah lanjut berdiri menatap tajam padanya. " Ardila, kamu camkan kata-kata saya ya. Jangan pernah ganggu Barry dan Sayda lagi, atau kamu tahu akibatnya," Ucap wanita yang lebih muda dari yang menegurnya tadi. " Sampai kapanpun saya tidak akan pernah memberikan restu kamu menjadi pendamping hidup anak saya. Ingat itu, jadi jangan berani membuat sensasi. " Ucap wanita yang pertama menegurnya. Keduanya lalu mengetuk pintu kamar dan masuk ke dalamnya.   Barrium mendorong pelan kursi roda menuju halaman belakang rumah sakit dimana terdapat taman yang asri. Dua orang wanita tampak menghampiri mereka dan duduk di bangku taman lalu asyik bercerita diselingi tawa. Ardila mengenali dua wanita itu, Nisrina dan keponakannya Pruistin. Cara Nisrina dan Pruistin memperlakukan wanita di kursi roda itu sudah seperti keluarga sendiri, begitu istimewa. Barry menerima uluran kotak plastik yang dijulurkan mamanya. Rupanya kotak makanan. Lelaki itu terlihat membujuk dengan penuh sayang agar wanita di kursi roda itu mau makan. Dia menyuapi wanita itu dengan penuh sayang.   Empat hari sudah Ardila selalu menyaksikan dengan sedih dan menatap cemburu kedekatan Sayda dan Barrium. Barry tidak pernah mau jauh dari Sayda dan melupakan semua tugas yang diembannya di rumah sakit ini. Barry selalu menatap penuh kerinduan pada Sayda. Dia berlaku seolah merayu dan mengharap cinta dari gadis itu.  Wajah Ardila memerah, rasanya dia sudah tak sanggup menyaksikan pertunjukkan yang memuakkan di hadapannya.     Dia berbalik dan berjalan menjauh. Hatinya sibuk mengumpat. "  Apakah tidak ada pekerjaan lain yang dilakukan dokter  spesialis bedah dengan jadwal padat seperti Barry selain terus berada di samping orang yang tampak baik-baik saja. Mengapa dia tidak bisa jauh dari pasien yang tidak apa-apa seperti Sayda?" *****            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN