Barrium tengah berkemas memasukkan barangnya ke dalam bagasi kabin di atas tempat duduknya. Seseorang menyenggol lengannya membuatnya menoleh. seorang wanita tua dengan sorot mata bersalah menyambutnya.
" Oh maafkan saya tidak sengaja, Nak." barry tersenyum menampakkan guratan ketampanan di wajahnya.
" Ibu mau dimasukkan barangnya?" Tanya Barrium ramah.
" Ya, kalau tidak merepotkan," Jawab ibu tua itu. Barry tersenyum ramah dan menunduk mengambil barang milik ibu tua itu dan memasukkannya ke dalam lemari barang.
" Terima kasih ya Nak, " ucap ibu itu dengan tulus. Barrium mengangguk.
" Ibu tenang saja, nanti jika sudah sampai saya akan bantu menurunkannya." Ibu itu pun menganggukkan kepala.
Satu jam empat puluh lima menit lamanya waktu penerbangan dipakai Barry untuk istirahat. Seminggu dengan kegiatan seminar dan lokakarya serta kunjungan kerja di rumah sakit milik keluarganya di Cheiz membuatnya memiliki waktu tidur yang minim. Roda pesawat yang menyentuh landasan membuatnya tergugah. Digelengkan kepalanya menghilangkan sedikit pengar di kepalanya. Dia harus segera bersiap.
Lima belas menit kesulitan menghubungi supir yang menjemputnya membuat Barry hilir mudik di beranda kedatangan. Suara notifikasinya berbunyi, dibukanya aplikasi WA dan membaca chat terbaru.
Maaf pak mobil barusan diserempet truk, jadi mungkin akan terlambat menjemput bapak.
Barrium segera menelpon balik.
“ Pak Sukri nggak apa-apa?” Tanyanya.
“ Nggak apa-apa Pak, tapi mobil lumayan penyoknya. Ini baru selesai urusan di kantor polisi. Mau dibawa ke bengkel pakai mobil derek.”
“ Oh ya sudah Pak Sukri ke bengkel saja, biar saya pulang sendiri dengan taxi.” Setelah menutup teleponnya Barry berjalan menggeret kopernya.
“ Barry ?” Barrium menegakkan badannya lalu berbalik.
“ Ardila? Kok ada di sini?” Gadis itu memasang senyum terindahnya
“ Mau jemput Omaku. Kamu baru landing juga?”
“ Ya, begitulah. Oma kamu kemana?” Barrium mengedarkan pandangan mencari sesuatu.
“ Oma masih ke toilet.”
“ Oooh...”
“ Dijemput pak Sukri?”
“ Hem..nggak. Aku mau panggil taxi. Sampai bertemu lagi. “ Barry membalikkan badannya dan berjalan. Ardila adalah wanita yang berusaha dia hindari. Bukannya sok tahu, tapi wanita itu sudah menyatakan terus terang kalau sudah jatuh hati padanya. Berulang kali dia menolak secara halus, namun perempuan itu tak pernah menyerah. Beberapa kali Sayda dibuat cemburu dan timbul masalahdi antara mereka akibat ulahnya, bahkan Mama dan Tantenya sempat naik pitam akibat tingkahnya. Bersama dalam satu kendaraan adalah sebuah petaka, jadi lebih cepat dia angkat kaki dari hadapannya itu jauh lebih baik. Barry mengabaikan teriakan Ardila di belakangnya. Dia terus melangkah.
Barry menghela nafas begitu keluar dari bandara. Dipijat kepalanya yang sedikit pening, dia menyebutkan alamat pada supir taxi. Apartemennya terlalu jauh sementara tubuhnya sudah tidak bersahabat lagi, terlalu lelah. Diputuskan untuk beristirahat di apartemen mewah milik kakaknya yang tidak terlalu jauh dari bandara. Diambilnya ponsel dan dicobanya menghubungi kakaknya, namun panggilannya tertolak. Tak lama kemudian sebuah notifikasi pesan berbunyi, Barry membaca pesan itu lalu tersenyum. Di lobby apartemen dia berpapasan kembali dengan Ardila.
“ Kamu mau ke mana? Ini kan bukan apartemenmu Bar.”
“ Aku capek sekali, jadi mau istirahat di tempat Radi, lagian nanti sore ada perayaan ulang tahunnya di sini. Daripada aku bolak-balik. Lebih baik di sini saja.”
“ Kamu, kenapa ada di sini?”
“ Oma aku tinggal di sini bersama tanteku. “
“ Oke, sampai bertemu lagi Ardila.” Barry membalikkan badannya, menggeret kopernya lalu berjalan menuju elevator, pria yang bertugas di depan elevator membantunya.
“ Barry tunggu.” Ardila menyelinap ikut masuk ke dalam elevator.
“ Ada apa lagi Dila? Aku capek sekali, kita bisa membicarakan ini besuk di rumah sakit.”
“ Aku mau bantu kamu Bar.” Barry terkekeh dan menggelengkan kepala.
“ Mana ada orang tidur aja butuh bantuan, Dil.” Terkadang Barrium heran dengan wanita ini yang katanya cerdas, dokter muda, model iklan juga host acara kesehatan di salah satu televisi swasta tapi tingkahnya aneh seperti ini.
“ Kata orang, pertemuan tidak sengaja dalam sehari itu namanya jodoh, Bar.” Barry tertawa lalu melemparkan pandangan sinis.
“ Aku nggak percaya, Dil.” Pintu elevator terbuka dan Barry keluar diikuti Ardila. Barry berjalan dan tak mempedulikan wanita itu. Dia menekan tombol bel dan asisten rumah Radi membukanya dengan tersenyum.
“ Silahkan masuk Pak Barry, saya sudah menyiapkan kamar untuk anda. “ Lasmi, asisten apartemen Radi menyilakan Barry.
“ Apakah bapak mau saya buatka teh atau kopi?”
“ Teh saja, antarkan ke atas ya.”
“ Siap Pak.” Barry tidak mempedulikan Dila dia menuju ke kamar tau yang ada di lantai dua. Dia memasuki kamar, menutup dan menguncinya.
Barry terlelap selama hampir dua jam sebelum pintu kamarnya diketuk. Dia bangkit dan membukanya. Ardila di hadapannya membawa nampan berisi makanan dan kudapan . Barry mengerutkan kening.
“ Ardila, ngapain kamu di sini?”
“ Tadi Bik Lasmi mengantarkan teh katanya kamu tidur, jadi sekarang aku buatkan lagi. Aku taruh dimana nih?” Barry hendak mengambil nampan itu namun bahu dan lengan Ardila sedikit mendorong pintu hingga terbuka lebar dan dia melangkah masuk meletakkan nampan di meja kecil dan mengambil cangkir berisi teh dan menjulurkannya di depan Barry. Barry menerimanya.
“ Aku heran apa yang dilakukan perempuan egois itu mengejar karier hingga membuat tunangannya tidak terurus dan berantakan.”
“ Maksud kamu apa Dil? Sayda belum jadi istriku. Kami baru bertunangan, jadi tidak ada kewajibannya mengurusku.” Ardila menampakkan wajah kesalnya akan jawaban Barry.
“ Minum deh tehnya, kalau dingin nggak enak.” Barry menuruti meminum teh itu.
“ Sebaiknya kamu pulang Dila. “ Barry meminum teh itu lagi. Lama Ardila menantapnya lalu membalikkan badannya berjalan perlahan menuju pintu. Ardila sadar pintu itu bisa dikunci otomatis dengan remote jika tertutup rapat. Wanita itu keluar dan menutup pintu hampir rapat karena ujung sepatunya disangkutkan untuk mengganjal pintu biar tidak tertutup rapat. Ardilla menunggu.
.
Barry membuka ponselnya dan mengirim pesan pada kekasihnya. Selama beberapa saat dia tersenyum dan sibuk berbalas pesan dengan Sayda. Tiba-tiba dirasakan kepalanya pusing dan pandangannya tiba-tiba memudar dan berputar. Ketika kesadarannya menipis, tampak di hadapannya Ardila terkekeh dengan wajah puas penuh kemenangan. Wanita itu mulai melucuti pakaian yang dikenakannya, namun kesadaran Barry tiba-tiba menghilang.
Barry membuka ponselnya dan mengirim pesan pada kekasihnya. Selama beberapa saat dia tersenyum dan sibuk berbalas pesan dengan Sayda. Tiba-tiba dirasakan kepalanya pusing dan pandangannya tiba-tiba memudar dan berputar. Barry memilih kembali ke ranjang dan menutup badannya dengan selimut. Ketika kesadarannya menipis, tampak di hadapannya Ardila terkekeh dengan wajah puas penuh kemenangan. Wanita itu mulai melucuti pakaian yang dikenakannya, namun kesadaran Barry tiba-tiba menghilang.
Ketika kesadarannya mulai kembali dirasakan tubuhnya memanas membuatnya menggeliat. Ada bagian tubuhnya menegang, hasratnya pun meningkat namun dicoba untuk menahannya. Barry berkeringat dan dia mencoba beringsut untuk duduk dan berdiri dan kaget mendapati tak ada satu pun benang menempel pada tubuhnya. Belum sampai dia memahami apa yang sedang terjadi, seseorang mendorongnya berbaring, mulai menindihnya dan menyerangnya. Barry membelalakkan mata dengan lebar. Ardilla? Gila, apa yang dilakukannya. Seperti menghadapi perang antara menahan hasrat yang menggebu, sementara serangan ciuman dan jalaran tangan Ardila yang membelainya kemana-mana begitu dahsyat. Menahan nafas, mencoba menarik nafas panjang sambil berusaha menghalau keberadaan Ardila di atasnya adalah sesuatu keniscayaan. Ardila melancarkan kembali serangan mautnya sembari merayu. Barrium tidak dapat mengelak lagi, dia pasrah pada kuasa Ardila.
Barry tidak sadar berapa lama dia dikuasai oleh Ardila. Hingga lengkingan suara Pruistin seperti petir yang menyambar kesadarannya. Didorongnya Ardila hingga rubuh. Matanya terbeliak menatap wajah dengan tatapan luka dan pancaran sendu ditujukan padanya. Dia, wanita yang paling diinginkannya untuk menemaninya selama sisa hidupnya. Cuma Sayda yang ada dan bersemayam dalam hatinya. Melihat wanita yang dicintainya itu tersedu dan kecewa, membuat jantung Barry seperti tertusuk. Sayda dan Mono memalingkan wajahnya begitu Barry berdiri. Lelaki itu tidak menyadari jika dia tidak mengenakan pakaian. Pruistin melemparkan selimut padanya. Dia segera membalut tubuh polosnya dengan selimut dan mencari keberadaan pakaiannya. Ardila melemparkan baju Barry ke sembarang arah, membuat Barry kelimpungan memunguti dan mengenakannya.
Sayda sudah berderai air mata menyatakan bahwa dia terluka dan memutuskan hubungan. Barry panik ketika Sayda berlari meninggalkannya, bahkan dia belum sempat mengancingkan kemeja dan mengenakan celana panjang dengan benar. Ardila berupaya menghentikan langkah Barry untuk mengejarnya, namun dengan kalap barry mendorongnya hingga terjelembap. Barry berlari mengejar mengejar Sayda namun gadis itu bergerak sangat cepat. Pandangan akhir wajahnya yang berlinang air mata dan bahu yang berguncang sebelum pintu elevator tertutup benar-benar membuat hatinya terkoyak. Barry tahu bahwa setelah kejadian ini tak akan mudah untuk mendapatkan cinta Sayda kembali.
*****
Ketukan suara sepatu Barrium bergema ke sekeliling lorong yang dilewatinya. Beberapa orang menganggukan kepalanya dan dibalasnya dengan senyum. Ketika kakinya baru saja berbelok ke bangsal perawatan VIP, dilihatnya seorang pria memasuki ruang peerawatan Sayda. d**a Barry bergemuruh, dipercepat langkahnya. Tirai jendela sudah dibuka, dua buah tas sudah ada di atas brankar dan meja. Barang-barang Sayda sudah rapi dimasukkan ke dalamnya. Barry mengedarkan pandangannya berkeliling, tak ditemukan Sayda di sana.
" Sayda masih di kamar mandi dan aku disuruh menunggu, kalau kamu tanya," ucap lelaki yang menjadi sahabat Pruistin dan Sayda.
" Ngapain kamu di sini Dan?" Ramdan mendecak sebal ke arah Barrium.
" Sayda menelepon minta dijemput, jadi aku dan Pru diijinkan menjemputnya hari ini."
" Siapa yang mengijinkan Sayda pulang hari ini? Aku ini dokter yang merawatnya dan aku tidak mengijinkan dia pulang."
" Aku yang ingin pulang. Kondisiku sudah membaik dan rasanya lebih baik jika berada di rumah. Di sini rasanya kondisiku sulit untuk menjadi sehat." Sayda berkata tegas.
" Kamu masih lemah sayang dan masih butuh perawatan lebih lanjut," bujuk Barrium.
" Aku sudah lebih baik Kak, dan ijinkan aku pulang. Aku nggak betah lama-lama di sini."
" Kalau kamu pulang, siapa yang merawatmu?" Tanya Barry lagi.
" Aku bisa mengurus diriku sendiri Kak Barry, aku telah pulih. Ayo Dan kita pergi, Mana Pru?"
" Dia di bawah sedang mengurus administrasi."
" Apa? Untuk mengurus itu? Ini rumah sakitku dan tidak perlu membayar biaya perawatan untuk calon istriku."
" Aku bukan calon istrimu lagi, Kak. " Sayda berkata sengit dan melayangkan tatapan tajam padanya.
" Dida, kita perlu bicara..."
" Selamat pagi, lho Sayda pulang hari ini? Kok kamu nggak aksih tahu Mama dulu to Bar?" Nisrina tiba-tiba muncul di hadapan mereka semua.
" Iya Ma, Dida minta pulang paksa. Mama nggak keberatan kalau Barry titip Sayda di rumah kan Ma?"
" Ya nggak lah, justru Mama senang ada yang menemani."
" Mama mau mengurus Sayda hingga nanti benar-benar pulih kan?"
" Kok pakai tanya lagi sih, ya mau banget lah Bar."
" Kalau begitu, ayo kita pulang Ma. " Barry menggamit tangan Sayda dan setengah memaksa membuat gadis itu berjalan di sampingnya. Cengkraman tangan Barry terasa sangat kuat di lengan Sayda membuat gadis itu meringis sakit. Ramdan tak bisa berbuat apa-apa, menatap nanar kepergian sahabatnya itu.
Nisrina melepon untuk disediakan mobil di depan lobby rumah sakit. Tak sedikitpun Barrium melepaskan cengkeraman tangannya dari Sayda. Barry mendorongnya masuk ke bagian pojok elevator.
“ Sakit Kak,” Sayda meringis. Barry melepaskan cengkramannya pada lengan kiri Sayda tetapi melingkarkan tangannya lalu memeluk lengan kanannya tak kalah kuat. Sayda menghembuskan nafas dengan kesal. Mau seberapa banyak alasan yang dilontarkannya, Barry tidak akan terpengaruh lalu melepaskannya. Sayda harus memikirkan startegi lainnya.
“ Aku nggak akan membiarkan kamu lepas lagi kali ini Da.” Bisik Barry pelan di telinga Sayda. Ucapannya membuat Sayda merinding. Gadis itu menatap pria yang dulu dicintainya, rasanya dia sudah tak mengenal lagi. Sayda tahu kalau saat ini dan nanti dia akan terkurung dan terbelenggu oleh kuasa dan pengaruh Barrium dan keluarganya.
*****