Bagus's Statement

2013 Kata
Suara kendaraan baru memasuki halaman, membuat Nisrina dan Pasya beranjak cepat mendekati mobil itu. Radium anak sulungnya keluar dari pintu kemudi dan berputar. Dua orang petugas keamanan mendekati mereka dan berupaya mengeluarkan seseorang dari sana."Kamu temukan dimana dia, Rad?" " Di night club tempat biasanya Ma." " Ya Tuhan..." Nisrina mulai menangis saat melihat anak bungsunya dalam kondisi mabuk berat dengan baju berantakan, wajah babak belur, rambut berantakan dan aroma alkohol yang menguar dari mulutnya. " ANAK KURANG AJAR....bikin malu orang tua saja. Sudah tua seperti ini masih saja bertindak kekanakan. Seperti orang kurang kerjaan saja." Pasya sudah melayangkan tamparan ke pipi Barrium membuat Nisrina menjerit. Ketika hendak melayangkan tangannya kembali Nisrina menghalanginya.  " Papa, sudah Pa... dia sudah babak belur. Papa jangan menambahinya lagi."  " Iya, tapi dua Minggu dia menghilang meninggalkan tugas dan pasiennya. Aku nggak pernah mengajarinya sembrono dan tidak bertanggung jawab seperti ini," ucap Pasya Latief keras. Nisrina memeluknya.  " Sabar Pa..sabar... Radi cepat bawa adikmu ke kamar atas." Beberapa orang dengan cepat memapah Barry membawa ke kamarnya.  " Mau apa sih anak itu. Masak hanya ditinggal perempuan saja dia jadi kacau seperti itu." Pasya masih tampak jengkel dan mengomel pada istrinya.  " Papa nggak bisa ngomong seperti itu. Dulu yang sempat dirawat di rumah sakit jiwa gara-gara mama pergi ke Lioness sama tunangan mama yang dulu itu siapa ya?"  " Sudahlah Ma...nggak usah ungkit-ungkit lagi cerita lalu deh. " Pasya membalas ucapan istrinya dengan muka sebal.  " Iya..iya... ayo kita istirahat saja. Besuk Papa harus kerja kan. Biar Radi yang mengurusi adiknya. Besuk baru mama yang mengurusi Barry. " Nisrina menarik tangan suaminya.  " Ayo Pa, tunggu apa lagi?"  " Kenapa Mama kok santai sekali lihat anaknya seperti itu?"  " Mama sudah tenang karena dia sudah pulang dan ditangani oleh orang yang tepat. Nggak mungkin Radium merawat adiknya sembarangan Pa." Nisrina menarik tangan Pasya sekali lagi namun lelaki itu tak bergeming. " Papa, Mama ini sudah ngantuk loh." Nada suara Nisrina mulai meninggi. Akhirnya Pasya mau mengikuti langkah istrinya. Matahari bersinar cerah, Nisrina membuka semua tirai jendela yang ada di kamar anak bungsunya, berikut jendelanya.  Perlahan didekatinya ranjng anak bungsunya.  Dicium kening anaknya. “ Sayang...sayang...ayo bangun. Kamu nggak ke rumah sakit sayang?” barrium hanya menggeliat dan berbalik memunggungi mamanya. “ Barry pasienmu banyak yang mencari di rmah sakit lho.” “ Tugasku sudah aku serahkan sama Anwar dan Wina Ma.” Barry menjawab dengan malas. “ Baiklah kalau kamu tidak mau ke rumah sakit tidak apa-apa. Tapi paling tidak kamu mandi dan temani Mama sarapan ya Nak.” “ Barry...” Barrium masih tak bergeming. “ Barrium Manggalasani Latief, kamu dengar Mama tau tidak. Perlu Mama hitung.” “ Aku bukan anak kecil lagi lho Ma, kok pakai dihitung segala sih?” Ucap Barrium yang sudah duduk tegak di pinggir ranjangnya. " Habis kamu sih dikasih tahu dua tiga kali nggak bergerak juga. Mandi dulu sana!" Sembari merengut Barrium berjalan menuju kamar mandi. " Mama? Kok Mama masih di sini sih?" Barrium terkejut ketika mendapati mamanya masih di dalam kamarnya dan sedang membenahi tempat tidurnya yang berantakan. " Ya beresin ranjang kamu lah, berantakan kaya gini." " Kan ada Mbok Jah dan Tutik yang bisa mengerjakan." " Ya biarlah sekali-kali Mama yang bereskan, nggak masalah to?" " Aku mau ganti baju Ma." " Biasanya juga kamu gantinya di walk in closet  kan? " Barrium sudah hendak melangkah namun tangannya ditahan oleh Nisrina. " Sayang, ayo ikut Mama..." Nisrina menariknya kembali ke dalam kamar mandi. " Mau apa lagi sih Ma?" " Lihat wajah kamu itu lusuh berantakan seperti pakaian nggak disetrika. Rambut gondrong, kumis sama janggut nggak beraturan seperti perompak saja. Ayo cukur!" Nisrina membuka lemari dinding dan mengeluarkan alatcukur dan krim. Bari mengikuti instruksi ibunya. Dia segera mengoles krim pada wajahnya dan mulai mencukur. " Nah, gitu loh cakep. Toh nggak butuh waktu lama kan? "  Ucap Nisrina begitu mendapati wajah Barry bersih setelah bercukur, sementara Barrium diam saja. Dia malas berdebat dengan mamanya. " Mama tunggu kamu di bawah ya. Kita sarapan bersama." " Kenapa Mama nggak ikut sarapan tadi barenag Abang dan Papa sih?" " Mama mau sarapan sama kamu. Sudah lama kita nggak sarapan bersama kan Nak? Ini sudah jam sembilan dan Mama belum makan sama sekali. Kamu mau maag Mama kambuh lagi?" " Iya....iya...Ma, sebentar lagi aku turun." *****   Siang yang terik tanpa awan yang memayungi tak menghalangi ibu dan anak itu berlomba untuk berenang. Hari ini Nisrina berhasil membajak waktu anaknya. Dia prihatin dengan kondisi psikis Barry putra bungsunya yang mulai depresi karena diputuskan hubungan pertunangannya lalu muncul gadis lain yang mengklaim hamil karena ulahnya. Meskipun Barrium tidak ceria kembali, namun dia berupaya untuk mengalihkan beban pikirannya.  “ Ayo Ma, satu putaran lagi. Lumayan lho buat membakar lemak.” “ Nggak ah...Mama capek.”  “ Tadi kan Mama yang maksa buat temani berenang, sekarang  malah Mama yang mundur duluan.” “ Kamu aja yang lanjutin renangnya gih, Mama istirahat dulu.” Nisrina yang sudah keluar dari kolam renang berjalan santai mengambil handuk dan memakai bathrobe lalu duduk pada kursi malas di bawah pohon kelengkeng. Dia tersenyum melihat Barry sudah mulai berenang kembali. " Tante, apa kabar?" Nisrina menoleh ke arah suara yang menyapanya, lalu dibukanya kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. " Bagus? Apa kabar, lama nggak ketemu. Lamu kemana saja sih?" " Biasa Te, urus proyek dan masa depan. Tante sendiri bagaimana kabarnya? Pakai skincare apa sih kok tetap awet muda?" " Halah pinter ngerayu kamu Gus, pantes aja banyak cewek yang mati kutu kena gombalan kamu.  Ya...seperti yang kamu lihat kan Tante sehat." " Itu yang berenang Barry, Radi atau Om ya?" " Barry, Gus. Radi dan Om sudah dari pagi tadi berangkat kerja." " Kamu ada perlunya sama siapa?"  " Barry Tante." " Kok kayaknya ada hal yang penting sih?" " Ya begitu lah." " Kamu mau minum apa? " " Terserah tante saja. Jus buah mau?" "  Oke." Nisrina segera beranjak masuk ke dalam rumah. Sementara Barry yang sedang menaiki tangga kolam terkejut melihat Bagus. " Hei anak hilang, apa kabar?" Teriak Bagus yang disambut tawa Barium. " Tumben datang ke rumah, ada apa Gus?" " Kangen sama Tente." " Halah...nggak usah pura-pura. Ada apa sebenarnya, kamu punya masalah? Siapa tahu aku bisa bantu." Barrium terus menatap Bagus yang wajahnya mendadak murung. Sejenak bagus menarik nafas panjang lalu menghadap ke arah Barry dan memandangnya lama mencoba menilai. Barrium menaikkan sebelah alisnya tanda heran. " Kamu sudah lihat video yang viral itu?" " Video? Video apa?" " Jadi kamu nggak tahu video tentang kamu beredar?" Barry menggeleng dan menerima gadget yang diulurkan Bagus.  Tanpa mereka sadari,  Nisrina yang telah berganti pakaiannya telah hadir di belakang mereka ikut menyaksikan adegan ranjang lengkap dengan suara desahan da lenguhan. Mata Nisrina mendelik, terlebih saat matanya menangkap tulisan di bagian bawah video itu : " Hubungan panas direktur RS SM dengan anchor host acara sehat televisi Ayo Sehat". Lalu terdengar suara pembawa acara gosip membacakan narasinya.  Seorang dokter ternama yang merupakan direktur rumah sakit Sanus Metro dengan inisial BML kedapatan sedang berasyik masyuk dengan teman sejawatnya yang sama-sama berprofesi sebagai dokter AM di rumah sakit yang sama. BWL yang merupakan anak dari konglomerat ternama PL ini menjalin hubungan gelap dengan AM yang merupakan dokter muda yang cantik dan memiliki tubuh yang memikat ini merupakan host acara kesehatan ternama. Diduga AM merupakan orang ketiga yang menjadi penyebab putusnya hubungan antara dokter BML dengan tunangannya yang cantik Sayda Arundati.  Kabar terakhir menyebutkan bahwa dokter AM telah mengandung anak dari BWL, namun yang bersangkutan menolaknya. Perselisihan kian meruncing karena AM yang berang hendak membawa masalah ini ke ranah hukum ....... PRANG Bagus dan Barry  terkejut lalu menoleh ke belakang. Nisrina sudah tersungkur ke lantai dengan pecahan beling yang bertebaran di sekelilingnya. Tangan dan kening Nisrina terluka. Barry dan Bagus melompat dan bergerak mendekati Nisrina yang sudah tegeletak tak sadarkan diri. " Ma...Mama...Mama..." Barrium segera membopong ibunya dan bergerak masuk ke dalam rumah. Dia berteriak minta diambilkan peralatan medis. Dengan wajah cemas, Barrium melakukan pemeriksaan tanda vital dan melakukan pertolongan pertama pada ibunya yang sudah terlihat pucat. Bagus membantu membersihkan luka Nisrina.   " Boy, Inu cepat siapkan mobil. Kita ke rumah sakit." " Bar, kamu ganti pakaian dulu. Nggak mungkin kan kau ke rumah sakit pakai bathrob dan celana renang begini? Biar Tante aku yang jaga."  Tanpa pikir panjang Barry berlari menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan mengambil ponselnya. Dia kembali berlari menuruni tangga menuju kamar ibunya. Tepat dia masuk ke kamar, Nisrina mulai sadar. Dia merintih dan nafasnya terasa berat. Dengan sigap Barry mengenakan masker oksigen pada ibunya. Setelah ibunya cukup stabil, dia menggendongnya menuju mobil yang sudah tersedia.  Barry segera menghubungi rumah sakit untuk menyiapkan ruangan untuk ibunya. Barrium memeluk erat ibunya sepanjang perjalanan dia mengecup kening ibunya berulang kali.  " Pakai masker ini Bar, di lobby banyak wartawan, " ucap Bagus yang juga menutup wajahnya dengan masker dan topi. Bagus memasang topi pada Barry untuk memudahkan penyamaran. ****** Mona datang tergesa dan segera menuju kamar perawatan VVIP di lantai paling atas rumah sakit megah ini. Begitu pintu ruangan itu terbuka, kakinya lemas melihat Nisrina sudah tergeletak tak berdaya dengan berbagai kabel dan peralatan yang dipasang pada tubuhnya.  Air mata sudah tergenang di pelupuk matanya.  " Mama Nisrina kenapa Bang?" " Sepertinya serangan jantung ringan." Barry merengkuh bahu Mona menguatkan. Tak lama kemudian pintu kembali terbuka Ratih, ibu Pruistin datang dengan nafas masih memburu bersama Radium. " Apa yang terjadi pada Mama Barry?" Tanya Radium.  Bagus menarik lengan Radium dan Ratih mengikuti kemudian menceritakan semua, melihat sahabatnya yang sudah terduduk lesu sambil memegang tangan ibunya. Pintu kembali terbuka, Pasya Latief memasuki ruangan dan menarik anak bungsunya. " Anak tidak tahu diri, terus-terusan membuat malu orang tua," Pasya Latief sudah menampar dan meninju anak bungsunya.  " Pukul saja Barry Pa. Barry rela mati di tangan Papa, nggak ada gunanya lagi Barry hidup Pa." Barrium Latief sudah tersedu di lantai. Ratih dan Mona memeluknya, sementara Radi dan Bagus menahan pasya Latief yang akan kembali menyakiti anaknya.  "Kamu harus tanggung jawab Barry, kamu harus menikah dengan Ardilla." " Barry tidak mau menikah dengan Dilla Pa. Itu bukan anak Barry. Lebih baik Barry mati saja dari pada harus menikahinya." " Tapi kamu pernah melakukannya kan?" Tanya Pasya. " Aku sudah bilang berkali-kali Pa kalau aku dijebak." Teriak Barry. " Lalu siapa ayah janin yang dikandung Dilla, Barry?" Semua terdiam dan Barry tertunduk. " Saya ayah dari janin yang dikandung Ardilla Om, saya yang menghamilinya." Ucap Bagus pelan setelah beberapa menit tidak ada yang menanggapi pertanyaan Pasya. Semua mata beralih menatap Bagus. " Tolong jangan menyalahkan Barry. Saya...saya mencintai Ardilla seja lama. Saya pikir dia berubah karena mau berhubungan dengan saya. Ternyata saya salah, saya hanya dijadikan alat untuk menjebak Barrium. Maafkan saya. Saya yang akan bertanggungjawab. Saya yang akan  menikahi Ardilla. " Barrium menutup wajahnya. Dia sama sekali tidak mengetahui hubungan Ardilla dan Bagus sahabatnya.  " Kalian harus mengadakan press conference untuk menjernihkan ini semua. Bagus, kamu berjanji akan menikahi Ardilla dan menjauhkannya dari Barry?" " Siap Om, saya berjanji. "   "  Maafkan aku Bar. " Bagus menepuk bahu Barry yang sedang meremas rambutnya. " Kita pindah ke ruang kerjaku saja Gus. " Barry berdiri, menggunakan maskernya kembali dan berjalan keluar ruangan diikuti Radi dan Bagus. " Jadi, apa yang akan kalian lakukan? Tanya Radium. " Aku sudah menghubungi Rima dan Tony pengacaraku." Ujar Barrium. " Aku juga sudah menghubungi pengacaraku, mereka sedang dalam perjalanan ke sini." Bagus berkata pelan. " Orangtua Ardilla tidak akan tinggal diam melihat anaknya tersudut. Kalian harus bersiap menghadapi serangan balik. Tapi kita bisa diskusikan solusi terbaiknya nanti. " Radium berkata sambil berjalan keluar ruangan. " Abang mau kemana ? Tanya Barry. " Mau menghubungi Mona dan WO untuk memundurkan tanggal pernikahan kami." " Nggak usah lah Bang. Lanjut saja, kasihan Mona."  " Mama sakit dan kamu sedang dalam masalah, biar keadaan pulih dahulu  baru kami akan melangsungkan pernikahan. " " Maafkan aku Bang. gara-gara aku Abang harus menunda pernikahan dengan Mona." " Nggak apa-apa Barry, Mona pasti mengerti. Aku keluar dulu ya, kamu selesaikan masalahmu dulu dengan tenang." " Baik Bang." BERSAMBUNG.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN